[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 332

08. KITAB NIKAH – 08.05. BAB PEMBAGIAN GILIRAN TERHADAP PARA ISTRI 01

0981

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْسِمُ لِنِسَائِهِ فَيَعْدِلُ، وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِي فِيمَا أَمْلِكُ، فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ» . رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ، وَلَكِنْ رَجَّحَ التِّرْمِذِيُّ إرْسَالَهُ

981. Aisyah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu membagi giliran terhadap para istrinya dengan adil. Beliau bersabda, “Ya Allah, inilah pembagianku sesuai dengan yang aku miliki, maka janganlah Engkau mencela dengan apa yang Engkau miliki yang tidak aku miliki”. (HR. Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim. At-Tirmidzi menilainya sebagai hadits mursal)

[Dha’if: Abi Dawud (2134)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Aisyah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu membagi giliran terhadap para istrinya dengan adil. Beliau bersabda, “Ya Allah, inilah pembagianku sesuai dengan yang aku miliki (bermalam di tempat istri yang telah dibuat jadwal gilirannya) maka janganlah Engkau mencela dengan apa yang Engkau miliki yang tidak aku miliki (At-Tirmidzi berkata, “Yakni, perasaan cinta dan kasih sayang terhadap mereka) HR. Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Al Hakim. At Tirmidzi menilainya sebagai hadits mursal.

Abu Zar’ah berkata, “Saya tidak mengetahui seseorang yang mengikuti Hammad bin Salamah memaushulkan [menyambung] hadits ini sampai kepada Nabi, namun hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban dari jalan Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Abi Qilabah dari Abdullah bin Yazid dari Aisyah secara maushul, yang meriwayatkan mursal adalah Hammad bin Yazid dari Ayyub dari Abu Qilabah. At-Tirmidzi berkata, “Yang paling tepat hadits ini adalah mursal.”

Saya katakan, “Setelah Ibnu Hibban menshahihkan bahwa hadits ini maushul, maka terjadi perselisihan apakah hadits ini maushul atau mursal.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu membagi giliran terhadap istrinya. Akan tetapi, apakah hal itu diwajibkan kepada Nabi atau tidak?

Ada yang berpendapat: pembagian giliran atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak wajib berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu).” (QS. Al-Ahzab: 51)

Sebagian ahli tafsir menerangkan: Allah Ta’ala membolehkan bagi Nabi untuk tidak membuat pembagian giliran dan bagian yang adil terhadap para istrinya, bahkan beliau dibolehkan untuk mengakhirkan giliran istrinya dan tinggal di istri yang bukan gilirannya dengan mengatakan bahwa itu adalah kekhususan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdasarkan dhamir dalam firman Allah “مِنْهُنَّ” (di antara mereka [istri-istrimu]) untuk para istri. Jika sudah ditetapkan bahwa tidak diwajibkan atas Nabi untuk membagi giliran atas para istrinya, menunjukkan pembagian giliran Nabi dalam hadits tersebut adalah cerminan dari mu’asyarah [pergaulan] baik dan kesempurnaan akhlak beliau, dan untuk menyatukan perasaan para istri-istri beliau.

Hadits ini menunjukkan bahwa cinta dan kecenderungan hati itu adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan seorang hamba. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya, “Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 63) setelah firman Allah di awal ayat, “Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 63), dan ayat ini adalah tafsir dari firman Allah, “Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” QS. (Al-Anfal: 24)

0982

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إلَى إحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَسَنَدُهُ صَحِيحٌ

982. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang memiliki dua orang istri dan ia condong kepada salah satunya, ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh (kaki) miring.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah dan sanadnya shahih)

[Shahih: Abi Dawud (2133)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya suami berlaku adil terhadap istri-istrinya, dan haram baginya lebih memihak atau condong kepada salah satu dari mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai).” (QS. An-Nisaa’: 129), maksud kecenderungan dalam ayat ini adalah melebihkan di antara mereka pada pembagian giliran dan nafkah, bukan dalam hal cinta [perasaan]. Sebagaimana yang telah kamu ketahui dahulu, bahwa bersikap adil dalam hal cinta atau perasaan tidak mungkin dapat dilakukan oleh hamba. Maksud dari firman Allah “Terlalu cenderung [kepada yang kamu cintai]” yakni boleh cenderung yang masih dalam batas normal [tidak berlebihan], akan tetapi pemahaman itu dibantah oleh keumuman hadits bab, dan mungkin hadits itu dikhususkan dengan pemahaman ayat tersebut.

0983

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «مِنْ السُّنَّةِ إذَا تَزَوَّجَ الرَّجُلُ الْبِكْرَ عَلَى الثَّيِّبِ أَقَامَ عِنْدَهَا سَبْعًا، ثُمَّ قَسَمَ، وَإِذَا تَزَوَّجَ الثَّيِّبَ أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلَاثًا، ثُمَّ قَسَمَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

983. Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Menurut Sunnah apabila seorang menikah lagi dengan seorang gadis, hendaknya ia berdiam dengannya tujuh hari, kemudian membagi giliran; apabila dia menikah lagi dengan seorang janda, hendaknya ia diam dengannya selama tiga hari, kemudian membagi giliran.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5213), Muslim (1461)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Menurut Sunnah, apabila seorang menikah lagi dengan seorang gadis, hendaknya ia berdiam dengannya tujuh hari, kemudian membagi giliran; apabila dia menikah lagi dengan seorang janda, hendaknya ia diam. dengannya selama tiga hari, kemudian membagi giliran.” Muttafaq Alaih. dan lafazhnya menurut Al-Bukhari (Sunnah yang dimaksud adalah sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hadits ini hukumnya marfu’. Maka Abu Qilabah berkata, “Riwayatnya dari Anas. Jika mau, saya katakan bahwa Anas yang menjadikan hadits ini marfu’ kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maksudnya, Anas meriwayatkan hadits secara makna, sesuai dengan tuntunan Nabi; maka dihukumi dengan marfu’. Hanya saja, periwayat berpendapat bahwa menjaga teks aslinya lebih baik. Mungkin hadits ini marfu’ dari ijtihad Anas, dan teks bersumber dari Rasul. Seorang perawi tidak boleh menukilkan teks hadits yang masih diperselisihkan antara marfu’ dan bukan, seperti yang diterangkan Ibnu Daqiq Al ‘led. Kesimpulannya, bahwa para shahabat menisbatkan sunnah -dalam hadits- kepada sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Salim berkata, “Para shahabat ketika menyebukan Sunnah, tidak lain adalah sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hadits ini diriwayatkan para Imam Ahli Hadits dari Anas secara marfu’ dari berbagai jalan riwayat dari Abu Qilabah.

Tafsir hadits

Hadits ini menunjukkan perintah untuk mengutamakan istri yang baru dinikahi bagi yang sudah punya istri. Ibnu Abdil Bar berkata, “Jumhur ulama mengatakan bahwa itu adalah hak si wanita karena adanya pernikahan, baik si suami sudah punya istri atau belum. Pendapat inilah yang dipilih An-Nawawi, akan tetapi hadits ini menerangkan bagi yang sudah punya istri. Jumhur ulama membedakan waktu giliran antara istri yang masih gadis dan janda. Zhahir hadits menunjukkan bahwa pembagian itu hukumnya wajib terhadap istri yang baru dinikahi. Namun, masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama berkaitan dengan hukum dan pembagian tersebut, tapi semua itu tidak bisa menandingi hadits-hadits bab ini.

Pengertian ‘mengutamakan’ di sini adalah dengan tinggal bersamanya sebagaimana diketahui dalam perintah hadits ini. Zhahir hadits menunjukkan pengutamaannya dengan bermalam dan tidur siang [qailulah] menghabiskan waktu malam dan siang bersamanya, sebaimana yang diterangkan sebagain ulama. Bahkan, Ibnu Daqiq Al ‘Ied berkata, “Ada sebagian Ahli Fiqih yang berlebih-lebihan menafsirkan tentang itu, hingga mereka menganggap bahwa tinggalnya seorang suami bersama istri baru merupakan udzur yang tidak mewajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at dan diwajibkan baginya [suami] untuk menginap secara berurutan dalam tujuh atau tiga hari, jika dipisah-pisahkan maka diwajibkan untuk menghitung dari awal lagi. Tidak ada perbedaan antara wanita hamba sahaya dan merdeka. Jika dia menikah lagi, ketika masih harus tinggal tujuh atau tiga hari; maka dia harus menyempurnakannya terlebih dahulu, berdasarkan zhahir hadits; karena istrinya masih mempunyai hak.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *