[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 331

08. KITAB NIKAH – 08.04. BAB WALIMAH 05

0976

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أُتِيَ بِقَصْعَةٍ مِنْ ثَرِيدٍ. فَقَالَ: كُلُوا مِنْ جَوَانِبِهَا، وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهَا، فَإِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ فِي وَسَطِهَا» رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ، وَهَذَا لَفْظُ النَّسَائِيّ، وَسَنَدُهُ صَحِيحٌ

976. Dari Ibnu Abbas bahwa ada seorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membawa nampan berisi roti bercampur kuah. Beliau bersabda: “Makanlah dari tepi-tepinya dan jangan makan dari tengahnya, karena berkah itu turun di tengahnya,” (HR. Al-Arba’ah, lafazhnya menurut An-Nasa’i dan sanadnya shahih)

[Shahih: Abi Dawud (3772)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan larangan makan yang dimulai dari tengah nampan, seakan-akan keberkahan itu tidak akan turun jika mengawali makan dari tengah, dan setiap larangan syari’at menunjukkan haram untuk dikerjakan, baik makan sendirian maupun makan bersama-sama.

0977

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: «مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَعَامًا قَطُّ، كَانَ إذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

977. Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menginginkan sesuatu, beliau memakannya dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2409), Muslim (2064)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menginginkan sesuatu, beliau memakannya dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (menerangkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah mencela makanan, dan tidak juga mengatakan: makanan ini asin, atau asam atau lainnya).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memperhatikan apa yang dihidangkan, tapi jika beliau menginginkannya, maka beliau memakan, dan jika tidak mau, beliau tinggalkan, namun bukan berarti dalil itu mengharamkan untuk mencela makanan.

0978

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

978. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, sebab setan makan dengan tangan kiri.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (2020)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Sudah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa hadits ini termasuk dalil yang mengharamkan makan dengan tangan kiri, walaupun jumhur ulama berpendapat makruh, Diterangkan juga larangan dalam minum dengan tangan kiri. Ini merupakan dalil bahwa setan makan.

0979

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

979. Dari Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallaku Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu minum, janganlah ia bernafas dalam gelas (tempat air).” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (153), Muslim (267)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Halimat

“Dari Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu minum, janganlah ia bernafas dalam gelas (tempat air).” Muttafaqun Alaih (Dan Asy-Syaikhan (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan hadits Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bernafas 3 kali ketika sedang minum. [shahih, Al-Bukhari (5631), Muslim (2028)]

Maksudnya, ketika minum dan bukan bernafas dalam gelas (tempat minum), dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim alasan beliau melakukan hal itu, karena itu lebih menyegarkan, lebih selamat dan lebih nyaman. Ada yang berpendapat bahwa larangan bernafas dalam bejana atau gelas; takut kotoran yang keluar dari hidung, karena bisa saja sesuatu keluar dari mulut sehingga mengotori air tersebut).

0980

وَلِأَبِي دَاوُد عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – نَحْوُهُ، وَزَادَ ” وَيَنْفُخُ فِيهِ ”

980. Abu Dawud meriwayatkan hadits serupa dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dengan tambahan: “dan meniup di dalamnya”. (Hadits shahih menurut At-Tirmidzi)

[Shahih Abi Dawud (3728)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Abu Dawud meriwayatkan hadits serupa dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma (hadits marfu’), dengan tambahan (terhadap yang telah disebutkan) “dan meniup di dalamnya”. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haram hukumnya meniup dalam bejana. At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abi Sa’id:

«نَهَى عَنْ النَّفْخِ فِي الشَّرَابِ فَقَالَ رَجُلٌ: الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِي الْإِنَاءِ فَقَالَ أَهْرِقْهَا قَالَ فَإِنِّي لَا أُرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ فَأَبِنْ الْقَدَحَ عَنْ فِيك ثُمَّ تَنَفَّسْ»

bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang meniup pada minuman, suatu ketika ada seorang berkata, “Saya melihat kotoran di wadah minuman?” Maka Nabi bersabda, “Tumpahkan airnya” laki-laki itu berkata, “Saya tidak segar dengan sekali nafas,” maka beliau bersabda, “Jika kamu ingin bernafas ketika sedang minum, jauhkanlah gelas (bejana)mu dari mulutmu, kemudian bernafaslah.” [hasan, At-Tirmidzi (1887)]

Ketika minum dianjurkan 3 kali tegukan berdasarkan hadits Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لَا تَشْرَبُوا وَاحِدًا أَيْ شُرْبًا وَاحِدًا كَشُرْبِ الْبَعِيرِ، وَلَكِنْ اشْرَبُوا مَثْنَى وَثُلَاثَ وَسَمُّوا إذَا أَنْتُمْ شَرِبْتُمْ، وَاحْمَدُوا إذَا أَنْتُمْ رَفَعْتُمْ»

“Janganlah kalian minum satu tegukan sekaligus seperti onta, tetapi minumlah 2 atau 3 kali tegukan, bacalah basmalah bila hendak minum dan baca hamdalah setelahnya.” [Dha’if: At-Tirmidzi (1885)]

menunjukkan bahwa sunnahnya minum itu 2 kali tegukan. Ada larangan untuk minum dari mulut tekok (bejana) berdasarkan hadits yang diriwayatkan Asy-Syaikhani dari Ibnu Abbas:

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ الشُّرْبِ مِنْ فَمِ السِّقَاءِ»

“bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang minum dari mulut tekok (bejana) [shahih, Al-Bukhari (5629)]

dan meriwayatkan juga dari hadits Abi Sa’id:

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ اخْتِنَاثِ الْأَسْقِيَةِ»

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang minum dengan mengangkat dan membalikkan tekok lalu minum darinya [shahih, Al-Bukhari (5625), Muslim (2023)]

ditambahkan dalam riwayat lain:

«، وَاخْتِنَاثُهَا أَنْ يُقَلِّبَ رَأْسَهَا ثُمَّ يَشْرَبُ مِنْهُ»

maksudnya adalah membalikkan tekok lalu minum dari mulutnya. [shahih, Muslim (2023)]

Namun, hadits ini kontradiksi dengan hadits Kabsyah yang berkata,

«دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَشَرِبَ مِنْ فَمِ قِرْبَةٍ مُعَلَّقَةٍ قَائِمًا فَقُمْت إلَى فِيهَا فَقَطَعْته أَيْ أَخَذْته شِفَاءً نَتَبَرَّكُ بِهِ، وَنَسْتَشْفِي بِهِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertamu ke rumahku lalu langsung minum dari mulut kantong air, setelah itu saya mengambil kantong air itu lalu saya potong, maksud saya ambil untuk mencari keberkahan dan kesembuhan.” (HR. At-Tirmidzi), menurutnya hadits hasan gharib shahih dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah). [hasan, At-Tirmidzi (1892)]

Untuk menggabungkan kedua hadits tersebut, bahwa larangan meniup atau menghembuskan nafas di bejana yang besar, dan bukan yang kecil, atau larangan itu untuk menyucikan diri agar tidak dijadikan kebiasaan oleh yang lainnya, kecuali dalam keadaan terpaksa, dan alasan larangan itu mungkin dikarenakan dikhawatirkan dalam kantong terdapat hewan sehingga tertelan oleh si peminum, sebagaimana diriwayatkan bahwa ada seseorang yang minum dari mulut kantong air, lalu tiba-tiba keluar ular demikian juga ada larangan sambil berdiri, berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدُكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ أَيْ يَتَقَيَّأْ»

“Janganlah di antara kalian minum sambil berdiri, jika dia lupa maka muntahkanlah apa yang telah diminum.” [shahih, Muslim (2026)]

Dalam hadits riwayat Anas Radhiyallahii Anhu: Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menghardik orang minum sambil berdiri, Qatadah berkata, “Kami bertanya, kalau makan bagairnana wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Itu sangat dilarang dan tercela,” akan tetapi hadits ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Abbas ia berkata,

«سَقَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ، وَهُوَ قَائِمٌ»

“Saya menuangkan air zamzam kepada Nabi, lalu beliau minum sambil berdiri,” [shahih, Muslim (2027)]

dalam lafazh riwayat lainnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam minum air zamzam dari bejananya sambil berdiri. [shahih, Muslim (2027)]

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari” diterangkan bahwa Ali Radhiyallahii Anhu minum sambil berdiri, lalu berkata, “Saya pernah melihat Rasulullah minum sambil berdiri seperti yang saya lakukan.” [shahih, Al-Bukhari (5615)]

Maka untuk menggabungkan kedua hadits tersebut, bahwa larangan itu untuk menyucikan diri karena perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membolehkan hal tersebut, karena penjelasan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berkaitan dengan syari’at wajib dilakukan, dan hal-hal yang menerangkan syari’at Islam sering dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan memuntahkan kembali apa yang diminum bagi yang minum sambil berdiri, hal itu sangat dianjurkan berdasarkan hadits shahih yang menerangkannya, zhahirnya hadits tersebut bahwa hal itu disunnahkan, baik karena lupa, sengaja atau lainnya.

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Kesepakatan ulama bila orang lupa, dia tidak disunnahkan untuk memuntahkan kembali. Hal itu di antara adab minum dalam pertemuan, agar minuman itu bisa dinikmati semua yang hadir, hendaklah mulai dari sebelah kanannya sebagaimana yang diriwayatkan Syaikhan dari hadits Anas Radhiyallahu Anhu bahwa dia memberikan gelas kepada Nabi, lalu Nabi minum, sedangkan di sebelah kirinya adalah Abu Bakar dan sebelah kanannya seorang Arab Badui. Umar berkata, “Giliran Abu Bakar wahai Rasulullah,” tapi Nabi memberikannya kepada Arab Badui yang ada di sebelah kanannya, lalu bersabda, “Mulailah dari kanan.”

Diriwayatkan juga hadits dari Sahal Ibnu Sa’ad, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diberi bejana lalu minum, di sebelah kanan Nabi anak yang paling muda bernama Abdullah Ibnu Abbas dan para syeikh di sebelah kiri Nabi, Nabi berkata, “Wahai anak muda, bolehkah aku memberikan bejana/gelas air ini kepada para syeikh yang di sebelah kiri saya?” Dia menjawab, “Aku tidak mengizinkan yang lainnya untuk memakainya setelah engkau wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,” lalu Nabi memberikan bejana itu kepadanya.

Di antara amalan yang makruh dilakukan ketika minum adalah meminum dari tempat bocoran (lubang tekok), berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dari hadits Sa’id Al-Khudri berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang minum dari tempat tekok yang bocor.” [Shahih Abi Dawud (3722)]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *