[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 262

07. KITAB JUAL BELI – 07.09. BAB PERSEKUTUAN (SYARIKAH) DAN PERWAKILAN (WAKALAH) 03

Syarikah secara bahasa artinya perkumpulan atau persekutuan. Syarikah ini terjadi karena berdasarkan pilihan atau kesepakatan antara dua orang atau lebih. Adapun jika yang dimaksudkan di sini adalah syarikah [serikat] pada harta pusaka antara beberapa ahli waris maka hak memilih tidak ada lagi.

Dan wakalah secara bahasa artinya menyerahkan dan menjaga. Sedangkan menurut istilah, wakalah adalah menjadikan orang lain menempati posisinya, baik secara mutlak atau terikat.

0818

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا خَانَ خَرَجْت مِنْ بَيْنِهِمَا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

818. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku menjadi pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada mitranya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Dhaif: Abi Dawud (3383)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku menjadi pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada mitranya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka.’ HR. Abu Dawud dan dishahih oleh Al-Hakim (Ibnu Al-Qaththan menta’lilnya dengan ketidakjelasan status Said bin Hayyan, yang mana anak Said -Abu Hayyan bin Said- telah meriwayatkan hadits darinya. Hanya saja Ibnu Hibban dalam kitab At-Tsiqat menyebut namanya. Dan disebutkan pula bahwa Al-Harits bin Syuraid meriwayatkan hadits darinya, akan tetapi dianggap mursal oleh Ad-Daraqutni. Sehingga tidak disebutkan nama Abu Hurairah dalam riwayat tersebut, sedangkan dia mengatakan hal tersebut benar adanya.

Makna hadits, “Sesungguhnya Allah bersama keduanya,” yakni dalam hal pemeliharaan, pengayoman dan pemberian bantuan harta kepada keduanya, serta menurunkan berkah dalam perdagangan keduanya. Sehingga, ketika terjadi pengkhianatan maka berkah harta keduanya tercabut.

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berserikat -dalam muamalah [perniagaan]- tanpa ada pengkhianatan, dan ancaman bagi yang berkhianat dalam perserikatan yang mereka lakukan.

0819

وَعَنْ «السَّائِبِ الْمَخْزُومِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ كَانَ شَرِيكَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ الْبَعْثَةِ. فَجَاءَ يَوْمَ الْفَتْحِ، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِأَخِي وَشَرِيكِي» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ.

819. Dari As-Saib Al-Makhzumi Radhiyallahu Anhu, bahwa ia dahulu adalah mitra Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Ketika ia datang pada hari penaklukan kota Mekah, maka beliau bersabda, “Selamat datang saudaraku dan mitraku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

[Shahih: Abi Dawud (4836)]

ــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari As-Saib Al-Makhzumi Radhiyallahu Anhu, bahwa ia dahulu adalah mitra Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Ketika ia datang pada hari penaklukan kota Mekah, maka heliau bersabda, “Selamat datang saudaraku dan mitraku. (menurut Ibnu Abdil Bar, As-Saib bin Ubai As-Saib termasuk orang yang baru memeluk Islam dan baik keislamannya serta dia termasuk orang yang dimakmurkan. Ia hidup di zaman Mu’awiyah. Pada masa awal keislamannya dia menjadi mitra bisnis Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam, sehingga saat terjadi Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) beliau bersabda,

«مَرْحَبًا بِأَخِي وَشَرِيكِي كَانَ لَا يُمَارِي وَلَا يُدَارِي»

“Selamat datang saudaraku dan mitraku yang tidak membantah dan mendebat.” hadits tersebut dishahihkan oleh Al-Hakim, [Al-Mustadrak (2/61)]

sedangkan menurut riwayat Ibnu Majah dinyatakan dengan lafazh,

«كُنْت شَرِيكِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ»

“Engkau dahulu menjadi mitraku di masa jahiliyah.”

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan bahwa fenomena berserikat telah ada sebelum Islam datang, kemudian syariat Islam menetapkan hal tersebut.

0820

وَعَنْ «عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: اشْتَرَكْت أَنَا وَعَمَّارٌ وَسَعْدٌ فِيمَا نُصِيبُ يَوْمَ بَدْرٍ» الْحَدِيثَ. رَوَاهُ النَّسَائِيّ.

820. Dan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Saya bersekutu dengan Ammar dan Sa’d dalam harta rampasan yang kami peroleh dari perang Badar. (HR. An-Nasai)

[dhaif, Al-Irwa’ (1474)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku, Ammar, dan Sa’d bersekutu dalam harta rampasan yang kami peroleh dari perang Badar (kisah lengkapnya, kemudian Sa’d datang dengan membawa dua tawanan, sedangkan aku dan Ammar tidak membawa tawanan sama sekali).

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat dalil yang menunjukkan sahnya berserikat dalam hal mata pencaharian yang disebut sebagai syarikah abdan. Adapun bentuk dari syarikah ini adalah setiap pihak mewakilkan mitranya untuk menerima dan bekerja atas namanya dalam hal tertentu, sedangkan keduanya menentukan jenis usahanya. Sebagian besar kalangan Al-Hadawiyah dan Abu Hanifah berpendapat bahwa bentuk syarikah seperti ini hukumnya boleh [sah]. Sedangkan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa hal tersebut tidak sah dengan alasan karena syarikah seperti ini terbangun atas ketidakjelasan ketika keduanya tidak dapat memastikan mendapat keuntungan dan kemungkinan adanya rintangan dalam bekerja. Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Tsaur dan Ibnu Hazm.

Ibnu Hazm mengatakan bahwa berserikat dengan badan pada asalnya tidak boleh dalam bentuk apapun, dan bila hal tersebut terjadi maka dianggap batil sehingga tidak mempunyai sifat yang mengikat. Setiap orang dari keduanya memperoleh hasil sesuai upaya yang dilakukannya, bila keduanya membagi dua bagian maka wajib diputuskan kadar bagian yang diambilnya, karena syarat yang tidak sesuai apa yang telah ditentukan kitab Allah, maka kedudukannya batal secara hukum. Adapun hadits Ibnu Mas’ud merupakan riwayat dari anaknya yaitu Abu Ubaidah bin Abdillah yang termasuk bentuk khabar yang muncjathi’ [terputus].

Karena Abu Ubaidah tidak menyebutkan dari bapaknya sedikit pun, sedangkan kami telah meriwayatkannya dari jalur Waqi’ dari Syu’bah dari Amr bin Murrah. Ia berkata, ‘Aku berkata kepada Abu Ubaidah, “Apakah engkau mengatakan sesuatu dari Abdullah?” Dia menjawab, “Tidak.” Kalaulah kabar tersebut benar maka menjadi dalil bagi pihak yang memandang sah bentuk serikat seperti ini.

Karena mereka orang pertama yang bersama kita, dan umat Islam yang menyatakan bahwa berserikat seperti ini tidak dibolehkan serta para pasukan tidak dapat menyendiri menerima hasil rampasan, kecuali harta yang dipakai orang yang tertawan bagi pejuang yang membunuh disertai dengan adanya perbedaan pendapat dari para ulama. Bila hal tersebut dilakukan maka termasuk bentuk perilaku pencurian (ghulul) dan dosa besar. Karena bentuk serikat seperti ini bila dibenarkan oleh hadits tersebut, maka telah dibatalkan oleh Allah Ta’ala yang telah menurunkan firman-Nya,

{قُلِ الأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ}

“Katakanlah, “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul.” (QS. Al-Anfal: 1)

Allah membatalkan hal tersebut, kemudian Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam membaginya kepada para pasukan yang berjihad.

Kemudian kalangan Al-Hanafiyah tidak membolehkan berserikat dalam berburu, sedangkan kalangan Al-Malikiyah tidak membolehkan bekerja dalam dua tempat. Bentuk serikat seperti ini sebagaimana dalam hadits tidak dibolehkan menurut kalangan mereka.

Ulama membagi bentuk serikat menjadi empat bagian yang dipaparkan panjang lebar dalam buku-buku mereka. Ibnu Baththal mengatakan, “Ulama sepakat bahwa bentuk serikat yang benar hendaknya tiap pihak mengeluarkan modal seperti yang dikeluarkan mitranya kemudian dicampur hingga tidak dapat dibedakan. Selanjurnya harta tersebut diinfestasikan oleh keduanya, hanya saja masing-masing pihak menempati posisi mitra kerjanya yang disebut sebagai syarikat ‘Inan. Disahkan pula bila salah satu pihak mengeluarkan modal yang lebih kecil dibandingkan mitra kerjanya, sedangkan keuntungan dan kerugian disesuaikan dengan kadar modal yang diberikan.

Begitu pula halnya bila keduanya sama-sama membeli barang dagangan atau salah satu pihak menjual lebih banyak dibandingkan yang lain. Sehingga dapat disimpulkan setiap orang menerima keuntungan dan kerugian sesuai kadar harga yang telah dibayarkan. Lebih jelasnya, bila kedua pihak mencampur kedua modal maka menjadi kesatuan bersama, kapan saja keduanya menjual dari harta tersebut maka hasilnya dibagi antara keduanya. Dan bila hal tersebut merupakan bagian harga dan keuntungan atau kerugiannya, maka dibagi pula bagi keduanya, begitu pula dengan barang dagangan yang dibeli sebagai ganti harga yang dimiliki.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *