[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 330

08. KITAB NIKAH – 08.04. BAB WALIMAH 04

0973

وَعَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا اجْتَمَعَ دَاعِيَانِ فَأَجِبْ أَقْرَبَهُمَا بَابًا، فَإِنْ سَبَقَ أَحَدُهُمَا فَأَجِبْ الَّذِي سَبَقَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ

973. Dari salah seorang shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berkata, “Apabila ada dua orang yang mengundang secara bersamaan, maka penuhilah orang yang paling dekat pintu [rumah]nya. Jika salah seorang di antara mereka ada yang mengundang terlebih dahulu, maka penuhilah undangan yang lebih dahulu.” (HR. Abu Dawud dan sanadnya lemah)

[Dha’if: Abi Dawud (3756)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari salah seorang shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berkata, “Apabila ada dua orang yang mengundang secara bersamaan, maka penuhilah orang yang paling dekat pintu [rumah]nya (ditambahkan dalam kitab At-Talkhish: yang paling dekat rumahnya denganmu adalah tetangga yang paling dekat) Jika salah seorang di antara mereka ada yang mengundang terlebih dahulu, maka penuhilah undangan yang lebih dahulu.” HR. Abu Dawud dan sanadnya lemah (akan tetapi sanad perawinya adalah dipercaya, dan kami tidak tahu di mana letak lemahnya. Hadits itu diriwayatkan Abu Dawud dari Hanad bin As-Sirri dari Abdussalam bin Harb dari Abu Khalid Ad-Dalani dari Abu Al-A’la Al-Audi dari Humaid bin Abdurrahman Al-Humairi dari salah seorang shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, semua perawi hadits itu ditsiqahkan para Imam kecuali Abu Khalid Ad-Dalani, mereka berbeda pendapat tentang haditsnya. Abu Hatim mentsiqahkan. Ahmad dan Ibnu Ma’in berkata, “Tidak ada masalah.” Ibnu Hibban berkata, “Tidak boleh menjadikan haditsnya sebagai hujjah.” Ibnu ‘Adi berkata, “Haditsnya layyin.” Syuraik berkata, “Dia seorang murji’ah.” Zhahirnya hadits ini mauquf. Hadits ini menunjukkan jika ada dua orang mengundang, maka yang berhak didahulukan adalah yang paling dahulu mengundang, dan jika bersamaan; maka dahulukan yang paling dekat rumahnya (tetangganya) dan yang paling dekat, dan jika sama-sama berdekatan, hendaknya diundi.

0974

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا آكُلُ مُتَّكِئًا» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

974. Dan Abu Juhaifah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku tidak makan dengan bersandar.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5398)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Juhaifah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku tidak makan dengan bersandar” (kata ittika diambil dari kata wika” yang berarti apa yang digunakan untuk mengikat kantong atau lainnya, yang berarti dia duduk santai tenang di atas kursi. Al-Khathabi berkata, “Orang yang dikatakan bersandar adalah orang duduk santai bersila di atas kursi seakan-akan bersandar di kursi, berkata: siapa yang duduk sejajar dengan tinggi kursi itulah yang dinamakan dengan bersandar, dan orang-orang awam mendefinisikan duduk bersandar itu bila posisi badannya condong atau tidak lurus tegak).

Arti hadits: “apabila makan, saya tidak duduk bersandar,” hal itu seperti perilaku orang yang ingin banyak makan, akan tetapi saya makan hanya untuk mengganjal perut, duduk lurus tegak seakan-akan ingin berdiri, dan siapa yang mendefinisikan duduk bersandar itu dengan condong ke salah satu sisi, itulah takwil duduk bersandar menurut kedokteran karena duduk tersebut menimbulkan mudharat karena makanan tidak bisa turun dengan mudah, tidak tenang dan mungkin sulit dan sakit menelan makanan.

0975

وَعَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِك وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

975. Dari Umar bin Abu Salamah berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, “Wahai anak muda, bacalah basmalah dan makanlah dengan tangan kananmu dan apa yang ada di dekatmu.” (Muttafaq Alaihi)

[shahih, Al-Bukhari (5376), Muslim (2022)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca basmalah [ucapan ‘bismillahirrahmanirrahim’] ketika hendak makan. Ada yang mengatakan, hukum membaca basmalah ketika hendak makan hukumnya sunnah, hal ini diqiyaskan juga ketika minum. Para ulama berpendapat, bahwa disunnahkan melafazhkan basmalah dengan suara keras ketika hendak makan agar didengar orang lain dan mengingatkan siapa yang lalai membacanya. Bila seseorang tidak membaca basmalah karena lupa atau lainnya ketika makan, hendaklah dia membaca ‘Bismillah Awwaluhu wa Akhiruhu’, berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya. At-Tirmidzi berkata, hadits itu Hasan Shahih, hadits yang menyatakan: bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

«إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ»

“Jika di antara kalian hendak makan, ucapkanlah Bismillah, jika lupa mengucapkan basmalah di awalnya; maka ucapkanlah, “Bismillah Awwaluhu wa Akhiruhu.” [Shahih: Abi Dawud (3767)]

Hendaklah setiap jamaah yang ingin makan membaca basmalah di awalnya. Asy-Syafi’i berpendapat: jika dalam satu jama’ah diucapkan satu orang saja, dikatakan sudah mengamalkan sunnah, dengan dalil bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa setan akan ikut menikmati makanan yang tidak disebutkan Basmalah, bila sudah diucapkan satu orang dari mereka, maka semua hidangan itu sudah disebutkan basmalah atasnya.

Hadits ini juga mewajibkan untuk makan dengan tangan kanan. Hal ini diperkuat lagi dengan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang memberitahukan bahwa setan makan dan minum dengan tangan kiri sedangkan perbuatan setan adalah haram untuk ditiru. Ada juga hadits yang menerangkan ada seseorang makan di hadapan Nabi dengan tangan kiri, maka Nabi bersabda, “makanlah dengan tangan kananmu” dia berdalih: saya tidak bisa makan dengan tangan kanan. Nabi bersabda, “pasti kamu bisa” hal itu karena dia sombong, akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kiri ke mulutnya. (HR. Muslim) dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mendoakan, kecuali kepada orang yang meninggalkan amalan wajib, dan mungkin Nabi berdoa kepadanya atas kesombongannya, atau mungkin karena dia makan dengan tangan kiri sekaligus sombong.

Sabda Nabi, “makanlah apa yang didekatmu” adalah dalil yang mewajibkan makan yang terdekat dahulu, karena seharusnya untuk berperilaku baik terhadap teman yang makan juga, dan untuk tidak berbuat buruk terhadap temannya yang merupakan cerminan buruknya perilaku dan tidak ada kemuliaan diri, sebab bila ia tidak makan yang terdekat dengannya dahulu, akan membuat jijik temannya apalagi kalau hidangan makanan itu berupa tsarid (sejenis bubur yang kuahnya dari daging yang dihaluskan) dan yang berkuah atau lainnya, kecuali buah-buahan; berdasarkan hadits riwayat At-Tirmidzi dan lainnya dari hadits ‘Akrasy Ibnu Dzua’ib berkata:

أُتِينَا بِجَفْنَةٍ كَثِيرَةِ الثَّرِيدِ وَالْوَذَرُ وَهُوَ بِفَتْحِ الْوَاوِ وَفَتْحِ الذَّالِ الْمُعْجَمَةِ فَرَاءٍ جَمْعُ وَذِرَةٌ قِطْعَةٌ مِنْ اللَّحْمِ لَا عَظْمَ فِيهَا فَخَبَطْتُ بِيَدِي نَوَاحِيَهَا، وَأَكَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ فَقَبَضَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى يَدِي الْيُمْنَى ثُمَّ قَالَ يَا عِكْرَاشُ كُلْ مِنْ مَوْضِعٍ وَاحِدٍ فَإِنَّهُ طَعَامٌ وَاحِدٌ ثُمَّ أُتِينَا بِطَبَقٍ فِيهِ أَلْوَانُ التَّمْرِ فَجَعَلْت آكُلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَجَالَتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الطَّبَقِ فَقَالَ يَا عِكْرَاشُ كُلْ مِنْ حَيْثُ شِئْت فَإِنَّهُ غَيْرُ لَوْنٍ وَاحِدٍ

kami dihidangkan dengan nampan yang penuh tsarid dan daging yang sudah dihilangkan tulangnya, lalu tangan saya mengacak-mengacak isi nampan tersebut, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam makan tepat di depanku, seketika itu juga Rasulullah memegang tangan kananku dengan tangan kirinya, lalu bersabda, “Wahai ‘Akrasy, makanlah dari satu tempat, karena hidangan ini dari satu jenis”, kemudian kami dihidangkan dengan nampan penuh dengan kurma, maka setelah saya makan yang di depanku saja, sementara tangan Rasulullah bergerak-gerak mencari-cari di atas nampan, lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Akrasy, makanlah dari mana saja, karena hidangan ini tidak satu jenis” [Dha’if: At-Tirmidzi (1848)]

Hadits itu menunjukkan adanya perbedaan adab makan antara makanan dan buah-buahan, bahkan diterangkan jika makanannya berbagai jenis; maka dia boleh makan dari mana saja, demikian juga jika makanan yang di depannya sudah habis, dibolehkan baginya untuk mengambil makanan dari mana saja.

Al-Bukhari dan Muslim meriwavatkan hadits dari Anas bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diundang oleh penjahit untuk menikmati hidangan yang dibuatnya. Ia berkata, “Maka saya pergi menemani Rasulullah, lalu dihidangkan roti gandum, kuah yang berisi campuran daging dendeng (daging yang dijemur dan diberi garam) dan buah belimbing atau sejenisnya, saya lihat Nabi mencari (memilih) belimbing atau sejenisnya di pinggir-pinggir nampan, pada hari itu saya ingin memakannya dan mencari-carinya juga.” Dalam hadits itu Anas berkata, “Ketika saya melihat Nabi mencari-carinya, saya memberikan apa yang saya dapatkan dan tidak memakannya.” Hadits ini adalah dalil untuk memberikan makanan kesukaannya dari makanan yang terdapat di nampan.

Di antara adab makan dalam satu nampan adalah tidak boleh sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *