[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 261

07. KITAB JUAL BELI – 07.08. BAB HAWALAH (PEMINDAHAN HUTANG) DAN DHAMAN (PENANGGUNGAN HUTANG) 02

0816

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ مِنْ قَضَاءٍ؟ فَإِنْ حَدَثَ أَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً صَلَّى عَلَيْهِ، وَإِلَّا قَالَ: صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ قَالَ: أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ «فَمَنْ مَاتَ وَلَمْ يَتْرُكْ وَفَاءً»

816. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bila didatangkan kepada beliau orang meninggal yang menanggung hutang, beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan sesuatu untuk melunasi hutangnya?” Jika dikatakan bahwa ia meninggalkan sesuatu untuk melunasi hutangnya, beliau menyalatkannya. Jika ternyata tidak, maka beliau bersabda, “Shalatlah atas teman kalian ini.” Tatkala Allah telah memberikan beberapa kemenangan kepada beliau, beliau bersabda, “Aku lebih berhak pada kaum mukminin daripada diri mereka sendiri, maka barangsiapa meninggal dan ia memiliki hutang, akulah yang melunasinya.” (Muttafaq Alaih) dan menurut riwayat Al-Bukhari, “Maka barangsiapa mati dan tidak meninggalkan harta pelunasan……”

[shahih, Al-Bukhari (2298, 6731), dan Muslim (1619)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Maksud penulis menyebutkan hadits ini mengiringi hadits sebelumnya untuk menunjukkan bahwa setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diberikan kemenangan oleh Allah dan kelapangan, beliau yang menanggung hutang orang-orang yang meninggal. Sikap beliau ini menunjukkan isyarat telah dihapusnya hukum sebelumnya. Sebagaimana dalam sabdanya, “Saya bertanggung jawab untuk melunasinya” yakni beliau yang wajib untuk melunasinya. Yang kemudian menjadi pertanyaan; apakah harta yang digunakan untuk membayar utang itu murni diambil dari harta beliau, ataukah diambil dari baitulmal? Hal ini mengandung berbagai kemungkinan.

Ibnu Baththal berkata, “Demikianlah seharusnya sikap seorang pemimpin umat Islam, hendaknya ia menanggung hutang dari umatnya jika meninggal dalam keadaan mempunyai hutang. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka ia berdosa.”

Ar-Rafi’i menyebutkan dalam akhir hadits, bahwa dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah hal ini menjadi kewajiban bagi imam setelah engkau?” Beliau menjawab, “[Ya], menjadi kewajiban bagi setiap imam [pemimpin] setelahku.”

Hal ini ditegaskan dalam kitab Al-Kabir karya At-Thabrani dari hadits Zadzan dari Salman, ia berkata:

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نَفْدِيَ سَبَايَا الْمُسْلِمِينَ وَنُعْطِيَ سَائِلَهُمْ. ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ وَعَلَى الْوُلَاةِ مِنْ بَعْدِي فِي بَيْتِ مَالِ الْمُسْلِمِينَ»

“Rasulullah memerintahkan kami membayar tebusan tawanan-tawanan umat Islam dan memberikan para peminta dari mereka,” kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa meninggalkan harta maka untuk ahli warisnya, dan barangsiapa meninggalkan hutang maka menjadi tanggung jawabku dan tanggung jawab para wali setelahku yang terdapat dalam baitul mal umat Islam.” [Al-Mu’jam Al-Kabir (6/240)]

Dalam hadits tersebut terdapat perawi yang ditinggalkan haditsnya (matruk) dan diragukan riwayatnya.

0817

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا كَفَالَةَ فِي حَدٍّ» رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.

817. Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada tanggungan dalam pelaksanaan had.” (HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang lemah)

[dhaif: Dhaif Al-Jami’ (3609)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada tanggungan dalam pelaksanaan had.” HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang lemah) beliau mengatakan, “hadits tersebut mungkar (tertolak).” Hal ini menunjukkan tidak sahnya pertanggungan dalam hukuman had. Ibnu Hazm mengatakan, pada asalnya tidak boleh menjamin dzatnya, baik berupa harta, hukuman had atau bentuk apapun karena hal tersebut merupakan syarat yang tidak terdapat dalam kitab Allah sehingga hukumnya batal (bathil).

Setelah diamati lebih dalam hendaknya ditanyakan kepada pihak yang mengatakan sah orang yang menjamin dengan pribadinya saja, sedangkan orang yang dijamin melarikan diri, maka apa yang dapat diperbuat terhadap orang yang menjamin keberadaan orang tersebut? Apakah kalian akan membebankan tanggung jawab hutang yang ditanggung orang yang dijamin akan keberadaannya? Maka hal tersebut merupakan kezhaliman dan bentuk memakan harta dengan kebatilan karena hal tersebut bukan menjadi beban tanggung jawabnya saja. Atau mungkin kalian tinggalkannya sehingga penjaminan tersebut dibatalkan? Atau kalian menjamin tuntutannya? Sehingga semua itu merupakan pembebanan yang tidak mampu diterima dan bukan hanya hal yang tidak dibebankan Allah saja?

Sedangkan sebagian ulama membolehkan penjaminan tersebut dengan berargumentasi dengan sikap Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam menjamin suatu tuduhan. Beliau mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kabar yang tidak benar (batil) karena diriwayatkan dari Ibrahim bin Hutsaim bin Arak, dia dan bapaknya berada di puncak peringkat rawi yang lemah sehingga riwayat dari keduanya tidak boleh diterima. Kemudian disebutkan atsar dari Umar dan Umar bin Abdul Aziz akan tetapi hal tersebut seluruhnya ditolak karena hal tersebut bukan merupakan argumentasi baginya. Sebab argumentasi hanya diperuntukkan pada firman Allah dan Rasul-Nya bukan selain keduanya, sedangkan atsar-atsar tersebut sudah ditafsirkan dalam kitab Asy-Syarh.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *