[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 329

08. KITAB NIKAH – 08.04. BAB WALIMAH 03

0969

وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ نَحْوَهُ وَقَالَ: «فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ، وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ»

969. Dan dia juga meriwayatkan hadits serupa dari hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, beliau bersabda, “Ia boleh makan atau tidak.”

[shahih, Muslim (1430)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dia juga meriwayatkan (Muslim) dari hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, beliau bersabda, “Ia boleh makan atau tidak” (bahwa Nabi memberikan pilihan kepadanya. Adanya hak untuk memilih menunjukkan bahwa makan hidangan walimah hukumnya tidak wajib. Maka pengarang Rahimahullah menulisnya setelah hadits Abu Hurairah).

0970

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «طَعَامُ الْوَلِيمَةِ أَوَّلُ يَوْمٍ حَقٌّ، وَطَعَامُ يَوْمِ الثَّانِي سُنَّةٌ،، وَطَعَامُ يَوْمِ الثَّالِثِ سُمْعَةٌ، وَمَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَاسْتَغْرَبَهُ وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ. وَلَهُ شَاهِدٌ عَنْ أَنَسٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَهْ

970. Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanan walimah pada hari pertama adalah wajib, pada hari kedua adalah sunnah, dan pada hari ketiga adalah sum’ah.” (HR. At-Tirmidzi, ia menganggapnya hadits gharib. Para perawinya adalah perawi-perawi kitab Shahih Al-Bukhari. Dan hadits ini ada hadits pendukungnya dari Anas menurut riwayat Ibnu Majah)

[Dha’if: At-Tirmidzi (1097); Ibni Majah (1945)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanan walimah -pada hari pertama adalah wajib (maksudnya wajib atau sunnah) pada hari kedua adalah sunnah, dan pada hari ketiga adalah sum’ah.” HR. At-Tirmidzi, ia menganggapnya hadits gharib (dia berkata, “Kami tidak tahu tentang hadits melainkan berasal dari hadits Ziyad Ibnu Abdullah Al Buka’i, yang dikenal banyak hadits gharib dan mungkar, penulis mengatakan sebagai bantahan atas pernyataan At Tirmidzi dengan mengatakan) para perawinya adalah perawi-perawi kitab Shahih Al-Bukhari (tapi penulis mengatakan, “Hadits Ziyad masih diperselisihkan keshahihannya, dan syaikhnya Atha’ bin As-Sa’ib sering salah [pelupa], dan Ziyad mendengar hadits ini setelah syaikhnya mulai pikun. Saya berpendapat, bila demikian halnya maka tidak benar pernyataannya, “Para perawinya adalah perawi-perawi kitab Shahih Al-Bukhari. Kemudian ia berkata) Dan hadits ini ada hadits pendukungnya dari Anas menurut riwayat Ibnu Majah (pada sanad rawinya ada perawi yang bernama Abdullah Ibnu Husain, yang dikenal dha’if, dalam bab ini terdapat banyak hadits tapi masih diperselisihkan kebenarannya)

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil disyari’atkannya bertamu pada walimah pernikahan selama dua hari. Pada hari pertama, hukumnya wajib sebagaimana yang ditunjukkan dalam lafazh hadits “Haq” yang berarti harus [lazim], seperti yang sudah dijelaskan terdahulu. Lafazh, “Pada hari kedua adalah sunnah,” maksudnya: walimah pada hari kedua sudah menjadi tradisi di tengah-tengah manusia, yang tidak membuat riya’ dan sum’ah bagi si pengundang. Dan pada hari ketiga adalah riya’ dan sum’ah, maka menyelenggarakannya [walimah] haram hukumnya, demikian juga bagi tamu undangan yang ingin memenuhi undangan tersebut.

Inilah pendapat jumhur ulama. An-Nawawi berkata, “Bila seseorang menyelenggarakan walimah selama tiga hari, maka datang pada hari ke tiga hukumnya makruh. Pada hari kedua tidak wajib secara mutlak, dan perintah [keutamaan]nya tidak seperti perintahnya pada hari pertama. Sebagian ulama berpendapat, “Tidak makruh bagi tamu yang datang di hari ke tiga jika mereka tidak termasuk tamu undangan; dikarenakan jika tamu undangan banyak, hal itu tentunya menyulitkan mereka untuk hadir di hari yang sama, maka pihak penyelenggara membagi undangan yang harus hadir di setiap hari, dan bila demikian keadaannya; maka tidak dikategorikan riya’ ataupun sum’ah, dan ini lebih tepat.

Al-Bukhari berpendapat, bahwa tidak mengapa bertamu walaupun sampai tujuh hari, sehingga ia memberi judul dalam bab hadits: ‘bab wajib memenuhi undangan, dan orang yang menyelenggarakan walimah selama tujuh hari dan yang semisalnya’. Dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membatasi walimah dengan ketentuan 1 atau 2 hari. Dan memberitahukan hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Hafshah binti Sirin yang berkata, “Ketika ayahku menikah, mengundang shahabat di walimahnya selama 7 hari.” Dalam riwayat lain, “Delapan hari.” Berdasarkan hadits itu, Al-Bukhari mengatakan, “Yang semisalnya.” Perkataannya, “Nabi tidak menentukan” menunjukkan bahwa hadits dalam bab ini tidak shahih menurutnya. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Kami lebih suka bila penyelenggara walimah adalah orang yang mampu [kaya] untuk menyelenggarakan walimah selama seminggu,” dan inilah yang menjadi pendapat pengikut madzhab Malik seperti yang diterangkan Al-Bukhari.

0971

وَعَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «أَوْلَمَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ بِمُدَّيْنِ مِنْ شَعِيرٍ» ، أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

971. Dan dari Shafiyah binti Syaibah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengadakan walimah terhadap sebagian istrinya dengan dua mud gandum.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5172)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Shafiyah nama lengkapnya adalah Shafiyah binti Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah Al-Hijabi. Ia berasal dari bani Abdu Ad-Dar. Ada yang mengatakan: dia pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum menikah. Dan ada juga yang berpendapat: dia belum pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum itu. Menurut Ibnu Sa’ad, ia adalah tabi’i.

Penjelasan Kalimat

Penulis berkata, “Saya tidak tahu nama sebagian istri-istri Nabi yang dimaksud.” Lalu dia berkata, “Di dalam hadits bab ini menunjukkan, bahwa istri Nabi yang dimaksud adalah Ummu Salamah. Ada yang berpendapat: ketika walimah Ali dengan Fatimah Radhiyallahu Anhuma. Dan maksud dari “sebagian istrinya” yaitu wanita yang dinisbatkan kepada Nabi secara umum, walaupun pemahaman ini berbeda dengan makna zhahirnya, tapi diperkuat dengan yang diriwayatkan Ath-Thabrani dari hadits Asma’ binti Umais, ia berkata’ Ali menyelenggarakan walimah dalam pernikahannya dengan Fatimah; walimah yang sangat utama di saat itu, menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi dengan segantang gandum.

Semoga maksudnya dua mud gandum; karena ukuran 2 mud adalah ½ sha’, seakan dia mengatakan setengah sha’, bila demikian, tentu sangat tepat dengan kisah di hadits ini, dan menisbatkan walimah kepada Nabi hanya majas saja, mungkin karena Nabi yang dikemudian hari menebus gadaian baju besinya atau disebabkan hal lainnya.

Pendapatku, penjelasan tersebut terlalu diada-adakan, karena tidak salah bila Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merayakan walimahnya dengan dua mud, demikian juga halnya dengan walimah Ali Radhiyallahu Anhu, dan yang disebutkan dalam bab ini adalah walimah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

0972

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: «أَقَامَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَيْنَ خَيْبَرَ، وَالْمَدِينَةِ ثَلَاثَ لَيَالٍ يُبْنَى عَلَيْهِ بِصَفِيَّةَ، فَدَعَوْتُ الْمُسْلِمِينَ إلَى وَلِيمَتِهِ، فَمَا كَانَ فِيهَا مِنْ خُبْزٍ وَلَا لَحْمٍ، وَمَا كَانَ فِيهَا إلَّا أَنْ أَمَرَ بِالْأَنْطَاعِ فَبُسِطَتْ، فَأُلْقِي عَلَيْهَا التَّمْرُ وَالْأَقِطُ وَالسَّمْنُ»

9’72. Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiam selama tiga malam di daerah antara Khaibar dan Madinah untuk bermalam bersama Shafiyyah [istri baru]. Lalu aku mengundang kaum muslimin menghadiri walimahnya. Dalam walimah itu tidak ada roti dan daging. Melainkan [pada waktu itu] beliau menyuruh membentangkan tikar kulit dan diletakkan buah kurma, susu kering dan samin.” (Muttafaq Alaih dan lafazh menurut Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5085), Muslim (1365)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Anas berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiam selama tiga malam di daerah antara Khaibar dan Madinah untuk bermalam bersama Shafiyyah [istri baru] (didirikan sebuah tenda baru untuk beliau karena Shafiyah atau karena ditemani Shafiyyah). Lalu aku mengundang kaum muslimin menghadiri walimahnya. Dalam walimah itu tidak ada roti dan daging. Melainkan [pada waktu itu] beliau menyuruh membentangkan tikar kulit dan diletakkan buah kurma, susu kering (berasal dari susu kambing) dan samin (dan semua itu dinamakan dengan haisan).

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menerangkan bahwa menyelenggarakan walimah tidak harus dengan menyembelih kambing, tetapi bisa juga dengan yang lainnya, dan adab bermalam dengan istri di perjalanan dan memberikan hak tiga hari dengan istri baru, jika dalam bepergian.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *