[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 260

07. KITAB JUAL BELI – 07.08. BAB HAWALAH (PEMINDAHAN HUTANG) DAN DHAMAN (PENANGGUNGAN HUTANG) 01

Menurut ulama fikih, Hawalah [bisa dibaca; hiwalah] adalah pemindahan hutang dari suatu tanggungan ke tanggungan yang lainnya. Dalam pembahasan ini ulama berbeda pendapat, apa Hiwalah termasuk jual beli hutang dengan hutang yang mendapatkan keringanan dan dikeluarkan dari larangan jual beli hutang dengan hutang, atau dia merupakan bentuk pelunasan hutang itu sendiri? Sebagian mengatakan, bahwa Hiwalah merupakan akad penyertaan yang terpisah yang disyaratkan adanya hal-hal berikut:

1. Pengucapan lafazhnya.

2. Kerelaan pihak yang memindahkan hutang tanpa ada perbedaan pendapat di antara ulama.

3. Keridhaan pihak yang dipindahkan menurut pendapat sebagian besar ulama.

4. Keridhaan pihak yang dipindahkan hutang kepadanya menurut sebagian ulama.

5. Kesamaan sifat-sifatnya.

6. Berlaku pada sesuatu yang dapat diketahui.

Sebagian ulama ada yang mengkhususkan hal tersebut untuk emas dan perak, bukan pada makanan karena hal itu seperti jual beli makanan sebelum sempurna.

0814

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيءٍ فَلْيُتْبَعْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ «وَمَنْ أُحِيلَ فَلْيَحْتَلْ»

814. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Penangguhan (pembayaran hutang) orang kaya adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kalian hutangnya dipindahkan kepada orang yang mampu [kaya], hendaklah ia menerimanya.” (Muttafaq Alaih. Menurut riwayat Ahmad: “Hendaklah ia menerimanya)”

[shahih, Al-Bukhari (2287), dan Muslim (1564); Al-Musnad (2/463)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Penangguhan [pembayaran hutang] orang kaya (yakni, orang kaya yang mengulur-ulurkan pembayaran hutangnya) adalah suatu kezaliman (terlebih lagi mengulur-ulur pembayaran hutang milik orang yang fakir) Apabila seseorang di antara kalian hutangnya dipindahkan kepada orang yang mampu [kaya] (yakni mampu untuk membayar hutang) hendaklah ia menerima.’

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haramnya menunda pelunasan hutang bagi orang kaya atau orang yang sudah mampu untuk membayar hutangnya. Yang dimaksud dengan menunda di sini adalah menunda pembayaran hutang yang seharusnya dibayarkan bagi orang yang mampu tanpa ada alasan yang jelas.

Kata: (مَطْلُ الْغَنِيِّ) mempunyai dua makna.

Yang pertama; jika penyandaran kata masdar kepada fa’il (pelaku) dengan taqdir (مَطْلُ الْغَنِيِّ غَرِيمَهُ) maka bermakna: bagi orang kaya hukumnya haram untuk mengulur-ulur pembayaran hutang setelah jatuh tempo pembayaran, berbeda halnya dengan orang yang tidak mampu.

Yang kedua; jika penyandaran kata masdar kepada kata maf’ul (obyek) dengan taqdir (مَطْلُ الْغَرِيمِ لِلْغَنِيِّ) berarti wajib melunasi hutang walaupun pihak yang menerimanya seorang yang kaya, sehingga kekayaannya tidak menjadi alasan untuk mengulur-ulur pelunasan hutangnya. Maka hal tersebut merupakan hak seorang yang kaya, terlebih lagi bila pemilik hutang seorang yang fakir.

Perintah dalam hadits di atas menunjukkan adanya perintah wajib untuk menerima pengalihan hutang (ihalah), walaupun jumhur ulama menyatakan bahwa perintah itu hanyalah sebagai bentuk anjuran untuk melaksanakannya, dan saya tidak mengerti apa yang menyebabkan mereka berpaling dari zhahir hadits. Itulah makna hadits yang dipegang oleh Ahli Zhahir.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa sikap menunda-nunda pelunasan hutang merupakan bentuk dosa besar yang pelakunya telah melakukan kefasikan sehingga kami tidak perlu mengulang kembali. Masalah yang diperselisihkan ulama; apakah kefasikan tersebut terjadi sebelum adanya penagihan atau sesudah adanya penagihan. Berdasarkan isyarat hadits perlu adanya penagihan, karena sikap mengulur-ulur tidak terjadi, kecuali saat setelah penagihan. Sikap menunda ini berlaku bagi semua yang mempunyai kewajiban membayar, seperti suami kepada istri dan majikan atas nafkah budaknya.

Dalam hadits ini juga menunjukkan pemahaman bahwa sikap menunda-nunda pembayaran bagi orang yang tidak mampu tidak termasuk bentuk kezhaliman. Bagi orang yang tidak sependapat dengan pemahaman tersebut mengatakan, bahwa orang yang tidak mampu tidak disebut sebagai orang yang menunda-nunda (mathil). Adapun orang yang kaya, tetapi hartanya lenyap, dihukumi sama dengan orang yang tidak memiliki apa-apa. Sehingga dapat disimpulkan juga bahwa orang yang sedang dalam kesusahan tidak ditagih sampai mendapat kelapangan rezeki.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika dia layak untuk dihukum, maka dia termasuk orang yang zhalim, sedangkan pengandaian di sini dia bukan termasuk seorang yang zhalim karena faktor ketidakmampuan dia melunasi hutang. Dan bila orang yang dialihkan hutangnya kepada seseorang yang tidak mampu melunasi hutang disebabkan faktor kesulitan ekonomi maka orang tersebut tidak boleh kembali menuntut ke pihak yang mengalihkan hutang (muhil). Karena bila dibolehkan kembali niscaya pensyaratan dalam kondisi kaya tidak bermanfaat [tidak ada artinya], tapi ketika syariat mensyaratkan adanya hal tersebut, maka hal tersebut merupakan pengalihan yang tidak boleh dipindahkan kembali. Seperti halnya bila digantikan hutangnya dengan penggantian yang lain kemudian penggantinya rusak di tangan pemilik hutang.”

Adapun kalangan Hanafiah mengatakan bahwa dibolehkan kembali kepada pihak yang mengalihkan -hutang- saat tidak mampu, seakan-akan mereka menyamakan Hiwalah ini dengan jaminan (Dhamari). Sedangkan saat tidak diketahui kebangkrutan pihak yang menerima pengalihan hutang, maka dibolehkan kembali kepada pihak pertama yang mengalihkan hutangnya.

0815

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «تُوُفِّيَ رَجُلٌ مِنَّا. فَغَسَّلْنَاهُ وَحَنَّطْنَاهُ وَكَفَّنَّاهُ، ثُمَّ أَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقُلْنَا تُصَلِّي عَلَيْهِ؟ فَخَطَا خُطًى، ثُمَّ قَالَ: أَعَلَيْهِ دَيْنٌ؟ فَقُلْنَا: دِينَارَانِ. فَانْصَرَفَ، فَتَحَمَّلَهُمَا أَبُو قَتَادَةَ. فَأَتَيْنَاهُ، فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ: الدِّينَارَانِ عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: حَقَّ الْغَرِيمِ، وَبَرِئَ مِنْهُمَا الْمَيِّتُ؟ قَالَ: نَعَمْ فَصَلَّى عَلَيْهِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

815. Dan Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Ada seorang laki-laki di antara kami meninggal dunia, lalu kami memandikannya, memberinya wangi-wangian, dan mengafaninya. Kemudian kami mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kami tanyakan, “Apakah baginda akan menyalatkannya?” Beliau maju ke depan beberapa langkah kemudian bertanya, “Apakah ia mempunyai hutang?” Kami menjawab, “Dua dinar.” Lalu beliau kembali. Maka Abu Qatadah menanggung hutang tersebut. Ketika kami mendatanginya, Abu Qatadah berkata, “Dua dinar itu menjadi tanggunganku.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Betul-betul engkau tanggung dan mayit itu terbebas darinya [dua dirham]?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau menyalatkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasai. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (3343)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Salamah bin Al-Akwa’, hanya saja dalam haditsnya disebutkan, “tiga dinar “, juga dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ath-Thabrani. Sehingga kedua riwayat hadits ini dikompromikan, antara yang menyebutkan ‘dua dinar’ dengan ‘tiga dinar’ dengan menyebutkan dua dinar ditambah sekian. Bagi yang menyebutkan tiga dinar berarti dia membulatkan bilangan pecahan dan yang menyatakan dua dinar berarti mengabaikan pecahan tersebut. Atau pada asalnya tiga dinar kemudian sebelum kematiannya dibayarkan satu dinar. Maka, bagi yang mengatakan tiga dinar melihat dari awal hutang, dan bagi yang mengatakan dua dinar melihat dari sisanya. Atau, mungkin saja keduanya merupakan dua kisah yang terpisah walaupun hal tersebut jauh dari kebenaran.

Dalam riwayat Al-Hakim Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam “bila bertemu dengan Abu Qatadah bersabda, “Apa yang dapat diperbuat oleh dua keping dinar?” hingga diakhirnya dia berkata: “Aku habiskan keduanya, Ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sekarang kulitnya menjadi dingin.”

Ad-Daraquthni meriwayatkan dari hadits Ali Radhiyallahu Anhu:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا أُتِيَ بِجِنَازَةٍ لَمْ يَسْأَلْ عَنْ شَيْءٍ مِنْ عَمَلِ الرَّجُلِ وَيَسْأَلُ عَنْ دَيْنِهِ فَإِنْ قِيلَ عَلَيْهِ دَيْنٌ كَفَّ وَإِنْ قِيلَ لَيْسَ عَلَيْهِ دَيْنٌ صَلَّى، فَأُتِيَ بِجِنَازَةٍ فَلَمَّا قَامَ لِيُكَبِّرَ سَأَلَ هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَقَالُوا دِينَارَانِ فَعَدَلَ عَنْهُ فَقَالَ عَلِيٌّ: هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْهُمَا فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا وَفَكَّ اللَّهُ رِهَانَكَ»

bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bila mendatangi jenazah tidak pernah menanyakan sedikit pun tentang perbuatan orang tersebut, tetapi beliau menanyakan tentang hutangnya. Bila dikatakan kepada beliau bahwa si mayit mempunyai beban hutang, maka Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam enggan menyalatinya. Sebaliknya, bila dikatakan bahwa dia tidak mempunyai hutang, maka beliau mau menyalatinya. Ketika dihadapkan jenazah kepada beliau, sebelum bertakbir untuk menyalatinya beliau berkata, “Apakah dia mempunyai hutang?” Para sahabat menjawab, “dua dinar”, maka beliau berpaling darinya sehingga Ali berkata, “Wahai Rasulullah, dua dinar itu menjadi tanggunganku dan dia terbebas darinya.” Maka beliau pun menyalatinya, lalu beliau bersabda, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan membebaskan gadaianmu.” [Ad-Daraquthni (3/47)]

Ibnu Baththal berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa menanggung beban si mayit itu hukumnya sah, tanpa dikembalikan ke harta si mayit.”

Dalam hadits di atas terdapat dalil yang menunjukkan sahnya seseorang menanggung kewajiban orang lain dan hal tersebut bermanfaat baginya. Hal yang menunjukkan sangat pentingnya masalah hutang piutang -bagi orang yang meninggal dunia- adalah sikap Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam yang enggan menyalatinya. Karena shalat kepada mayit merupakan bentuk syafaat dan syafaat beliau diterima di sisi Allah, sedangkan hutang itu tidak dapat gugur [bebas] kecuali dengan pelunasan hutang itu sendiri.

Dan dalam hadits juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa tidak cukup berpegang dengan zhahir hadits, tetapi harus ada hakim yang menetapkan hak [perkara] dengan kata-kata yang menunjukkan kepada transaksi dan pengakuan. Bila seorang mengakui menerima beban hukum maka perkataannya mempunyai arti makna yang terkandung, tapi bila setelah dinyatakan maka zhahir lafazh perkataannya tidak dibebankan hukumannya kepada orang yang mengaku. Kemudian dia mengaitkan dengan menyatakan, “dan si mayit terbebas darinya [dua dinar]” hal tersebut memperkuat makna yang dapat disimpulkan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *