[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 328

08. KITAB NIKAH – 08.04. BAB WALIMAH 02

0967

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ «إذَا دَعَا أَحَدَكُمْ أَخَاهُ فَلْيُجِبْ عُرْسًا كَانَ أَوْ نَحْوَهُ»

967. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kamu diundang ke walimah, hendaklah dia menghadirinya.” (Muttafaq Alaih. Menurut riwayat Muslim: “Apabila salah seorang di antara kamu mengundang saudaranya, hendaknya dia memenuhi undangan tersebut, baik itu walimah pengantin atau semisalnya.”)

[shahih, Al-Bukhari (5173), Muslim (1429)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits yang pertama menunjukkan wajib hukumnya memenuhi undangan walimah. Sedangkan hadits yang kedua menunjukkan wajib hukumnya untuk mengundang. Antara kedua hadits ini tidak ada pertentangan, walaupun berasal dari satu perawi; dengan kemungkinan dia meringkas pada beberapa hadits, kadang dia menyebutkan dengan selengkap-lengkapnya atau itu berasal dari salah satu riwayat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pengikut madzhab Azh-Zhahiriyah dan Asy-Syafi’i mengambil hukum dari zhahir hadits, mereka berpendapat: wajib memenuhi undangan secara mutlak, dan Ibnu Hazm beranggapan itulah pendapat jumhur shahabat dan tabi’in.

Di antara mereka ada yang membedakan antara walimah pernikahan dengan walimah yang lainnya. Ibnu Abdil Bar, Iyadh dan An-Nawawi bersepakat wajib hukumnya memenuhi undangan walimah nikah, bahkan mayoritas pengikut madzhab Asy-Syafi’i dan Ahmad mengatakan bahwa hukumnya adalah fardhu ain dan Imam Malik menuliskan hukum yang sama. Dan sebagian yang lain mengatakan hukum menjawab undangan adalah fardhu kifayah. Asy-Syafi’i menerangkan wajib hukumnya memenuhi undangan walimah nikah tanpa ada kelonggaran, dengan berkata: memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, dan setiap undangan yang diwajibkan untuk memenuhinya juga dinamakan dengan walimah, dan saya tidak memberikan kelonggaran bagi yang mengabaikannya, jika diabaikan maka dia menurutku telah bermaksiat sebagaimana halnya bagi orang yang mengabaikan undangan walimah nikah. Di dalam kitab Al-Bahi karya Al-Mahdi disebutkan adanya ijma’ dari sebagian ulama yang tidak mewajibkan menghadiri setiap walimah.

Pendapat yang mewajibkan: Ibnu Daqiq Al-Id menerangkan dalam kitab Syarh Al-Ilmam: diizinkan tidak memenuhi undangan karena adanya udzur, di antaranya: bila makanan yang dihidangkan syubha (tidak jelas kehalalannya), atau diperuntukkan bagi orang kaya, atau ada seseorang yang tidak senang dengan kehadirannya atau walimah nikah itu tidak pantas baginya untuk hadir, atau undangan itu diberikan karena takut kejahatannya atau karena menginginkan jabatannya, atau menolongnya berbuat batil, atau di sana ada kemungkaran seperti adanya jamuan khamar atau hiburan, atau permadani yang dibentangkan terbuat dari sutera, atau menutupi tembok rumah tetangga, atau ada gambar-gambar di rumah, atau dia minta maaf kepada pengundang sehingga memungkinkannya tidak hadir.

Inilah udzur [halangan] yang membolehkan tidak memenuhi undangan menurut pendapat yang mewajibkan, dan tentunya lebih utama bagi yang mengatakan memenuhi undangan hukumnya sunnah, hal itu disimpulkan dari syari’at Islam dan dari hal-hal yang terjadi pada masa shahabat, sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari bahwa Ibnu Umar mengundang Abu Ayyub, ketika datang dia melihat tabir di atas tembok, lalu Ibnu Umar berkata, “Jumlah tamu wanita sangat banyak sehingga harus membentangkan tabir, lalu melanjutkan: dulu aku takut kepadamu tapi sekarang tidak, demi Allah aku tidak memberikan hidangan kepadamu.” maka dia pun pulang. HR. Al-Bukhari dengan ta’liq, dan dimaushulkan Ahmad dan Musaddad.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Salim bin Abdillah bin Umar, ia berkata, “Saya menyelenggarakan walimah pada masa ayahku, lalu kami mengundang semua orang, di antaranya terdapat Abu Ayyub, dan mereka memberikan tabir di rumahku dengan kain hijau, ketika Abu Ayyub datang melihat hal seperti itu dia berkata: “Wahai Abdullah, apakah kalian memberikan tabir pada dinding rumah? Maka bapakku menjawab -dengan malu-malu- jumlah wanita yang hadir sangat banyak wahai Abu Ayyub, lalu berkata: di antara kekhawatiranku adalah dia tidak bisa mengendalikan dirinya terhadap wanita… lalu menyebutkan hadits.

Dalam riwayat yang lain: lalu para shahabat satu persatu mereka masuk mengucapkan selamat kepada Abdullah sampai giliran Abu Ayyub, maka Abdullah berkata, “Saya bersumpah, pulanglah! Abu Ayyub berkata, “Saya pun bermaksud untuk tidak menghadiri undangan pada hari ini,” kemudian dia pulang.

Ahmad meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhud, diterangkan bahwa seseorang mengundang Ibnu Umar untuk menghadiri pesta walimah, didapati rumahnya ditutupi dengan tabir, lalu Ibnu Umar berkata, “Sejak kapan tabir Ka’bah pindah ke rumahmu?” Kemudian ia berkata kepada shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang hadir, “Setiap kalian hendaknya menyingkap tabir yang berada di dekatnya.”

Hadits ini dan yang sebelumnya; adalah dalil yang mengharamkan untuk membentangkan tabir di dinding rumah (ketika walimah), Abu Dawud dan yang lainnya meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma secara marfu’,

«لَا تَسْتُرُوا الْجُدُرَ بِالثِّيَابِ»

“Janganlah kalian memberikan tabir pada dinding rumah.” [Dha’if: Abi Dawud (1485)]

Di dalam sanadnya ada yang dha’if, tetapi hadits mempunyai hadits pendukung. Al-Baihaqi dan lainnya meriwayatkan dari hadits Salman secara mauquf yang menerangkan bahwa dia mengingkari rumah yang ditabiri kain dengan berkata, “Apakah rumah kalian sedang sakit atau Ka’bah sudah pindah ke rumah kalian? Lalu dia berkata, “Saya tidak akan masuk sampai tabir itu diturunkan.”

Masalah ini masih diperselisihkan ulama. Jumhur ulama mengharamkan meletakkan tabir pada dinding. Pengikut madzhab Asy-Syafi’i berpendapat bahwa meletakkan tabir pada dinding hukumnya makruh. Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ إنَّ اللَّهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ الْحِجَارَةَ وَالطِّينَ»

“Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita untuk memberikan pakaian pada batu dan tanah.” [shahih, Musllim (2107)]

lalu Nabi menarik dan menyobek tabir tersebut seperti dalam kisah yang sudah ma’ruf. Kami sudah menulis sebuah risalah -dalam masalah ini- sebagai jawaban atas pertanyaan terdahulu.

Ath-Thabrani meriwayatkan dalam kitab Al-Ausath dari hadits Imran bin Hushain,

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ إجَابَةِ طَعَامِ الْفَاسِقِينَ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk memenuhi undangan orang-orang fasik.” [dha’if, Dha’if Al-Jami’ (6029)]

An-Nasa’i meriwayatkan dari hadits Jabir secara marfu’,

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَقْعُدْ عَلَى مَائِدَةٍ يُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ»

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia duduk di meja makan yang dikelilingi dengan khamar.” [hasan, Shahih Al-Jami’ (6506)]

dengan sanad jayyid [baik], At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Jabir dari jalan lain, tapi sanadnya ada yang dha’if diriwayatkan Ahmad dari hadits Umar.

Kesimpulannya, undangan itu wajib dipenuhi, dan dilarang datang bila ada hal-hal yang mungkar, jika terdapat kontradiksi antara hal-hal yang dilarang agama di tempat undangan dan tuntutan hadir, maka hukum memenuhi undangan itu dilarang.

0968

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ: يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا، وَيُدْعَى إلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا، وَمَنْ لَمْ يُجِبْ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

968. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah, yang mana dalam walimah itu tidak mengundang orang yang membutuhkan [fakir miskin], dan mengundang orang yang tidak membutuhkan [orang kaya], dan siapa saja yang tidak memenuhi suatu undangan, maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1432), Al-Bukhari (5177)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah, yang mana dalam walimah itu tidak mengundang orang yang membutuhkan (yaitu orang-orang fakir, sebagaimana yang ditunjukkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Ath-Thabrani,

«بِئْسَ الطَّعَامُ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى إلَيْهَا الشَّبْعَانُ، وَيُمْنَعُ عَنْهَا الْجِيعَانُ»

“Sejelek-jeleknya makanan walimah adalah walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya, dan tidak mengundang orang-orang fakir.” [dha’if, Dha’if Al-Jami’ (3391)]

Jika undangan itu mencakup kedua kelompok, maka hilanglah sebutan sebagai sejelek-jelek hidangan walimah) dan mengundang orang yang tidak membutuhkannya (yaitu orang-orang kaya) dan siapa saja yang tidak memenuhi suatu undangan, maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Yang dimaksud dengan walimah -dalam hadits- adalah walimah pernikahan, seperti yang telah dijelaskan. Jika disebutkan kata walimah tanpa ada keterangan, maka yang dimaksud adalah walimah pernikahan, dan tentang jeleknya [sifat] makanan yang dihidangkan dalam walimah tersebut telah diterangkan dalam hadits, “Tidak mengundang orang yang membutuhkan [fakir miskin], dan mengundang orang yang tidak membutuhkan {orang kaya].” Itu adalah kalimat yang menunjukkan sisi jeleknya makanan yang dihidangkan dalam walimah yang seperti itu.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang mewajibkan untuk memenuhi undangan, walaupun menuju hidangan yang “jelek” (walimah yang hanya merigundang orang kaya), karena bila tidak datang berarti dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang telah dijelaskan.

______________________

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيُطْعَمْ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ أَيْضًا.

“Dan darinya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kamu diundang, hendaknya dia memenuhi undangan tersebut, jika ia sedang berpuasa hendaknya dia mendoakan, dan jika ia tidak berpuasa, hendaknya dia makan.” (HR. Muslim)

[shahih, Musllim (1431)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (Abu Hurairah) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang di antara kamu diundang, hendaknya dia memenuhi undangan tersebut, jika ia sedang berpuasa hendaknya dia mendoakan, dan jika ia tidak berpuasa, hendaknya dia makan.”

Tafsir Hadits

Hadits mewajibkan memenuhi undangan walaupun dia sedang berpuasa. Para ulama berbeda pendapat tentang maksud ‘shalat’ (dalam hadits tertulis فَلْيُصَلِّ)

Menurut jumhur, maksudnya: hendaklah ia mendoakan si pengundang semoga mendapatkan ampunan dari Allah dan keberkahan. Ada yang berpendapat, maksudnya; hendaklah ia melaksanakan shalat agar mendapatkan keutamaannya, sehingga sang pengundang dan tamu undangan yang hadir mendapatkan keberkahan. Zhahir hadits ini, tidak mewajibkan dia untuk makan, jika puasanya wajib (puasa bulan Ramadhan) sudah jelas dia tidak boleh untuk makan, tapi jika puasa sunnah, boleh baginya untuk membatalkan puasa.

Zhahir sabda Nabi, “Hendaklah dia makan” mewajibkan untuk makan. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang itu. Pendapat yang paling shahih menurut madzhab Asy-Syafi’i adalah tidak wajib untuk makan dalam pesta walimah atau pesta lainnya. Ada juga yang mengatakan: wajib berdasarkan zhahir hadits itu, setidaknya makan sesuap dan tidak wajib untuk menambah [lebih dari itu]. Yang berpendapat tidak wajib, mereka beralasan bahwa perintah tersebut bukan untuk wajib tapi sunnah, berdasarkan hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *