[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 259

07. KITAB JUAL BELI – 07.07. BAB PERDAMAIAN 02

0812

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِي جِدَارِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: مَالِي أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ؟ وَاَللَّهِ لَأَرْمِيَنَّ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

812. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah seseorang melarang tetangganya memasang kayu galangah pada temboknya”. Kemudian Abu Hurairah berkata, “Kenapa aku lihat kalian berpaling darinya? Demi Allah, aku benar-benar akan menaruh kayu-kayu itu di atas pundakmu.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2463) dan Muslim (1609)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dalam suatu riwayat Abu Dawud disebutkan:

فَنَكَّسُوا رُءُوسَهُمْ

“Mereka menundukkan kepala mereka” [Shahih: Abi Dawud (3634)]

Dan dalam riwayat Ahmad:

حِينَ حَدَّثَهُمْ بِذَلِكَ فَطَأْطَئُوا رُءُوسَهُمْ

“Saat diceritakan kepada mereka, mereka mengangguk-anggukkan kepala” [Ahmad (2/240)]

Maksudnya, mereka di sini adalah para pendengar.

Ini merupakan perkataan Abu Hurairah saat memimpin Madinah di zaman Khalifah Marwan yang mengangkat beliau. Sedangkan para pendengar, boleh jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti hal tersebut, serta bukan dari kalangan sahabat.

Imam Ahmad dan Abdurrazzak meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas hadits yang berbunyi:

“Tidak ada aniaya dan penganiayaan dan seseorang boleh nienyandarkan bambunya pada tembok tetangganya.” [Ahmad (1/313)]

«لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ وَلِلرَّجُلِ أَنْ يَضَعَ خَشَبَةً فِي حَائِطِ جَارِهِ»

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat petunjuk bahwa tetangga tidak berhak melarang tetangganya menyandarkan bambu pada temboknya. Bila dia melarang hal tersebut maka patut dipaksa karena menjadi hak tetangga untuk melakukannya. Inilah pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad, Ishaq dan selain dari keduanya sesuai pengamalan hadits tersebut.

Dalam pendapat yang lama (Al-Qaul Al-Qadim) Imam Syafi’i dan keputusan Umar di hari-hari berpencarnya para sahabat, saat itu Asy-Syafi’i berkata, “Sesungguhnya Umar tidak ada yang menyelisihinya dari kalangan sahabat. Hal tersebut diriwayatkan oleh Malik dengan sanad yang shahih, bahwa Ad-Dhahhak bin Khalifah bertanya kepada Muhammad bin Maslamah untuk membuat teluk dan mengairinya di tanah lokasi milik Muhammad bin Maslamah sehingga dilarangnya, kemudian Umar mengajaknya berdamai, tetapi dia menolak. Beliau berkata, “Demi Allah, niscaya (saya) akan mengalirkannya walaupun melalui perutmu.” [Dikeluarkan oleh Malik dalam kitab Al-Muwatha’ (464, 465)]

Kisah ini sepadan dengan kisah dalam hadits Abu Hurairah. Umar bin Khaththab menjadikannya secara umum semua yang diperlukan oleh tetangga untuk dimanfaatkan dari rumah dan tanahnya. Ulama yang lainnya berpendapat dengan tidak membolehkan meletakkan bambu kecuali atas izin tetangganya dan bila tidak diizinkan, maka tidak boleh meletakkan di tembok milik tetangga. Mereka mengatakan bahwa Nabi telah bersabda, “Sesungguhnya tidak halal harta seorang muslim kecuali atas kemurahan hatinya”. Larangan hukum di sini demi menjaga kebersihan diri.

Pendapat di atas dijawab dengan perkataan Al-Baihaqi, “Kami tidak dapati dalam kitab sunnah yang shahih sesuatu yang bertentangan dengan hukum ini hanya sekadar hal-hal umum yang tidak tertolak bila dikhususkan. Perawi sendiri telah mengartikan hadits di atas sesuai dengan zhahir hadits yang menyatakan keharaman hal tersebut sedangkan dia lebih tahu akan maksud dalil dengan adanya petunjuk: “Kenapa aku lihat kalian berpaling dirinya?” itu merupakan pengingkaran disebabkan mereka berpaling dan hal tersebut menunjukkan hal seperti itu dilarang.

Al-Khaththabi mengatakan, makna perkataannya: “di antara pundak-pundak kalian” bila kalian tidak menerima hukum ini dan mengamalkannya secara sukarela niscaya aku akan jadikan bambu tersebut berada pada pundak-pundak kalian walaupun kalian membencinya. Beliau mengatakan bahwa hal tersebut sebagai bentuk kiasan.

Saya katakan, “Yang dimaksud ‘saya akan melemparkannya’ adalah bahwa ini merupakan sunnah yang diperintahkan atas kalian. Saya katakan agar saya tidak termasuk orang yang menyembunyikannya, dan ini sebagai hujjah atas kalian.”

0813

وَعَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ أَنْ يَأْخُذَ عَصَا أَخِيهِ بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ» رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ فِي صَحِيحَيْهِمَا.

813. Dari Abu Humaid As-Sa’idi Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang mengambil tongkat saudaranya dengan tanpa ridhanya”. (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim dalam kitab shahih mereka)

[Ibni Hibban (13/317)]

//Sanadnya shahih: Al-Irwa 5/280. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Humaid As-Sa’idi Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seseorang mengambil tongkat saudaranya dengan tanpa ridhanya”. Riwayat Ibnu Hibban dan Hakim dalam kitab shahih mereka) dalam bab pembahasan ini banyak sekali hadits yang sama dengannya. Sedangkan Al-Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadits ini dari hadits Umar:

«لَا يَحْلِبَنَّ أَحَدٌ مَاشِيَةَ أَحَدٍ بِغَيْرِ إذْنِهِ»

“Tidaklah seseorang boleh memerah ternak orang lain tanpa ada izin darinya.” [shahih, Al-Bukhari (2435), dan Muslim (1726) telah disebutkan sebelumnya.]

Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi juga mengeluarkan hadits tersebut dari hadits Abdullah bin Saib bin Yazid dari bapaknya dengan lafazh,

«لَا يَأْخُذُ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا»

“Tidaklah seseorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik secara bercanda dan sungguh-sungguh”. [hasan, At-Tirmidzi (2160)]

Tafsir Hadits

Hadits-hadits tersebut sebagai dalil keharaman harta seorang muslim, kecuali atas kemurahan hatinya walaupun sedikit sekalipun, didukung dengan ada ijma’ ulama tentang larangan tersebut. Maksud penulis mencantumkan hadits Humaid setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah sebagai isyarat yang menta’wilkan hadits Abu Hurairah. Dan hal tersebut diartikan sebagai bentuk penyucian diri bukan larangan sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i pada madzhabnya yang baru (Al-Qaul Al-jadid). Pendapat tersebut dibantah bahwa hal tersebut membutuhkan penafsiran lain (ta’wil) bila tidak mungkin untuk disatukan, sedangkan di sini hal tersebut mungkin disatukan dengan cara mengkhususkan sebagiannya.

Bahwa hadits Abu Hurairah khusus, sedangkan dalil-dalil yang lain sebagaimana pembaca ketahui bersifat umum, telah dikeluarkan dari keumuman tersebut banyak sekali seperti mengambil zakat dengan terpaksa, syuf’ah, memberi makan orang yang dalam kondisi darurat, memberi nafkah kepada orang yang dalam kondisi susah dan kepada istri. Dan sebagian besar permasalah hukum harta tidak dikeluarkan oleh pemiliknya dengan ridhanya sehingga diambil secara terpaksa. Dan mereka menyandarkan bambu kepadanya walaupun sekadar mengambil manfaat sedangkan barang tersebut masih ada.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *