[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 327

08. KITAB NIKAH – 08.04. BAB WALIMAH  01

Kata walimah diambil dari asal kata walmun yang berarti perkumpulan, karena pasangan suami-istri [pada saat] itu berkumpul sebagaimana yang dikatakan Az-Zuhri dan yang lainnya. Bentuk kata kerjanya adalah awlama yang bermakna setiap makanan yang dihidangkan untuk merasakan kegembiraan. Dan walimah ‘urs adalah walimah untuk pernikahan yang menghalalkan hubungan suami-istri dan perpindahan status kepemilikan.

0966

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَثَرَ صُفْرَةٍ فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ: فَبَارَكَ اللَّهُ لَك، أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

966. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam melihat bekas kekuningan yang menempel pada Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menikah dengan seorang wanita dengan maskawin senilai satu biji emas. Beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahimu”, selenggarakanlah walimah walaupun harus dengan [memotong] seekor kambing.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (5072), Muslim (1427)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ada beberapa riwayat yang menerangkan bahwa warna kekuningan tersebut adalah bekas memakai minyak za’faran. Jika kamu mengatakan, “Jika sudah diketahui larangan memakai minyak za’faran, mengapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melarangnya? Aku berpendapat, bahwa dalam larangan ini ada pengecualiannya, yakni dibolehkan bagi pasangan pengantin. Ada juga yang mengatakan, mungkin bekas kuning itu menempel pada bajunya bukan pada anggota tubuhnya, berdasarkan alasan bahwa za’faran boleh digunakan pada pakaian. Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan para pengikut keduanya melarang pemakaian za’faran. Yang mengatakan boleh dipakai pada pakaian adalah pendapat Imam Malik dan ulama Madinah, berdasarkan mafhum hadits larangan yang shahih, yaitu hadits Abu Musa secara marfu’,

«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ رَجُلٍ فِي جَسَدِهِ شَيْءٌ مِنْ الْخَلُوقِ»

“Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang di badannya terdapat wangi-wangian dari za’faran (warna kuning).” [Al-Baihaqi dalam kitab Al-Kubra (5/36)]

Maka pendapat mereka dibantah, bahwa dasar hukum mafhum hadits yang mereka gunakan tidak bisa menandingi (mengubah status) hadits-hadits larangan yang shahih. Sebenarnya kisah yang terjadi pada Abdurrahman sebelum ada larangan, karena masih di awal-awal hijrah, dan mungkin bekas kuning za’faran yang dilihat Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah bekas minyak wangi dari istrinya yang tertempel padanya tanpa disengaja, dan pendapat inilah yang dikuatkan An-Nawawi, dan dinisbatkannya kepada para ulama yang telah menelaah tentang masalah tersebut, dan pendapat inilah yang diambil Al-Baidhawi.

Perkataannya, “dengan maskawin senilai satu biji emas”, ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seukuran satu biji kurma. Ada yang mengatakan: itu senilai dengan ¼ dinar, tapi penafsiran itu dibantah karena ukuran biji kurma berbeda-beda, bagaimana mungkin dijadikan standar untuk setiap yang ditimbang? Ada yang mengatakan bahwa nawah adalah biji emas yang senilai 5 dirham, dan ukuran ini yang ditegaskan Al-Khathabi dan dipilih Al-Azhari, dan dinukil ‘Iyadh dari banyak ulama, diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan Al-Baihaqi: bahwa ukuran biji emas itu senilai dengan 5 dirham. Dan dalam riwayat lainnya dari Qatadah: itu senilai dengan dengan 3 ½ dirham dengan sanad yang dha’if, akan tetapi Ahmad berpendapat seperti itu. Ada yang mengatakan bahwa bukan itu ukuran sebiji emas, diriwayatkan dari pengikut Imam Malik bahwa sebiji emas itu senilai dengan ¼ dinar.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa pasangan pengantin hendaknya didoakan dengan keberkahan. Abdurrahman mendapatkan keberkahan doa dari Nabi sampai dia berkata, “Sungguh kalian lihat keberkahan doa Nabi kepadaku sampai-sampai saya berharap setiap kali mengangkat batu saya akan menemukan emas atau perak’ diriwayatkan Al-Bukhari di akhir hadits ini.

Sabda Nabi, “selenggarakanlah walimah walaupun hanya dengan [memotong] seekor kambing” menunjukkan wajibnya mengadakan walimah dalam pernikahan, inilah pendapat Azh-Zhahiriyah. Ada yang mengatakan: begitu juga pendapat Asy-Syafi’i dalam Al-Umm berdasarkan riwayat Ahmad dari hadits Buraidah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ketika Ali meminang Fatimah Radhiyallahu Anhuma, “harus diadakan walimah” dengan sanad la baysa bih [tidak ada masalah].

Hadits ini juga menunjukkan, bahwa walimah itu harus dilaksanakan yang mengandung hukum wajib. Dan hadits yang diriwayatkan Abu Asy-Syaikh dan Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath dari hadits Abu Hurairah secara marfu’,

«الْوَلِيمَةُ حَقٌّ وَسُنَّةٌ فَمَنْ دُعِيَ، وَلَمْ يُجِبْ فَقَدْ عَصَى»

“Walimah itu hak [wajib] dan sunnah, dan siapa yang diundang tapi tidak datang maka dia telah berbuat bermaksiat.” [Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath (4 /193)]

Dan secara zhahir, makna hak adalah wajib.

Ahmad berkata, “Walimah itu hukumnya sunnah.” Menurut jumhur, walimah itu disunnahkan [mandub]. Ibnu Baththal berpendapat, “Saya tidak tahu bila ada seorang ulama yang mewajibkan, mungkin dia tidak tahu perbedaan ulama tentang hukum tersebut.”

Jumhur mengatakan hukumnya sunnah berdasarkan pendapat Asy-Syafi’i Rahimahullah, “Saya tidak mengetahui shahabat yang disuruh untuk membuat walimah selain Abdurrahman, tapi saya tidak mengetahui bahwa Nabi pernah meninggalkan walimah diriwayatkan Al-Baihaqi. Maka hal itu menjadi dasar hukum, bahwa walimah hukumnya tidak wajib, dan itu bisa diketahui.

Ulama berselisih pendapat tentang waktu walimah, apakah ketika melaksanakan akad atau setelahnya atau setelah berhubungan? Itulah yang menjadi pendapat dalam madzhab Malik. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setelah akad dan berhubungan.” Al-Mawardi dari pengikut madzhab Asy-Syafi’i berpendapat bahwa waktunya setelah berhubungan.

Ibnu As-Subki berkata, “Yang diriwayatkan dari perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa walimah itu diselenggarakan setelah berhubungan, dengan memberitahukan cerita pernikahan Nabi dengan Zainab binti Jahsy berdasarkan perkataan Anas, “di pagi harinya”, yakni [saat] Nabi menjadi pengantin dengan Zainab, beliau mengundang kaum muslimin, perbuatan Nabi ini dijadikan bab oleh Al-Baihaqi ‘bab waktu walimah’.

Sedangkan ukuran makanan yang dihidangkan dalam walimah, sesuai zhahir hadits adalah cukup satu ekor kambing, hanya saja Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah merayakan pernikahannya dengan Ummi Salamah atau istri beliau lainnya dengan hidangan lebih sedikit daripada satu ekor kambing, dan walimah dalam pernikahannya dengan Zainab satu ekor kambing. Anas berkata, “Nabi merayakan pernikahannya dengan 1 ekor kambing hanya dengan Zainab dan Maimunah binti Al-Haris ketika menikah di Mekah musim haji (setelah halal) lalu mengundang penduduk Mekah untuk menghadiri pernikahannya, tapi mereka enggan hadir melebihi undangan hadir ketika pernikahan Nabi dengan Zainab. Anas ingin memberitahukan bahwa walimah Nabi dengan Zainab dengan 1 ekor kambing dan makanan yang penuh berkah yang tidak pernah terjadi pada pernikahan Nabi dengan yang lainnya, karena makanan roti dan daging kambing yang disajikan mengenyangkan semua yang hadir, maksudnya kenyang yang dirasakan undangan pada walimah tersebut tidak dirasakan pada walimah Nabi dengan istri lainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *