[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 326

08. KITAB NIKAH – 08.03. BAB MAS KAWIN 05

0963

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: لَا يَكُونُ الْمَهْرُ أَقَلَّ مِنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ مَوْقُوفًا، وَفِي سَنَدِهِ مَقَالٌ

963. Dari Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Mahar itu tidak boleh kurang dari sepuluh dirham.” (Hadits mauquf riwayat Ad-Daraquthni dan sanadnya masih diperbincangkan)

[Ad-Daraquthni (3/245)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Mahar itu tidak boleh kurang dari sepuluh dirham.” Hadits mauquf riwayat Ad-Daraquthni dan sanadnya masih diperbincangkan (yaitu mauquf kepada Ali Radhiyallahu Anhu, diriwayatkan juga dengan marfu’ dari hadits Jabir, tapi tidak shahih)

Tafsir Hadits

Hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits marfu’ sebelumnya yang menunjukkan sahnya menjadikan sesuatu yang berharga sebagai maskawin seperti yang telah kamu ketahui. Yang dimaksud dengan sanadnya masih diperbincangkan adalah; bahwa salah satu sanad rawinya terdapat Mubasysyar bin Abid. Imam Ahmad berkomentar, “Ia memalsukan hadits.”

0964

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

964. Dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik maskawin adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Al-Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (2117)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya mempermudah [kadar] maskawin. Jika mempersulitnya, maka bertentangan dengan hadits. Walaupun hal ini diperbolehkan sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala, “Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 20), dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa Umar melarang berlebih-lebihan dalam masalah mahar, lalu ada seorang wanita berkata, “Masalah itu bukan engkau yang menentukannya wahai Umar, sesungguhnya Allah berfirman, “Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak dari emas.” Lalu Umar berkomentar, “Wanita menentang Umar dan memang perkataannya benar.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abdurrazzak.

Perkataannya dalam riwayat, “Dari emas” adalah qiraah [bacaan] menurut riwayat Ibnu Mas’ud. Riwayat ini mempunyai jalur riwayat yang berbeda-beda. Mungkin, kebaikan yang dimaksud adalah keberkahan pada wanita, sebagaimana dalam hadits,

«أَبْرَكَهُنَّ أَيْسَرَهُنَّ مُؤْنَةً»

“Wanita yang paling banyak keberkahannya adalah yang paling mudah dalam maharnya.” [dha’if, Dha’if Al-Jami’ (962)]

0965

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ عَمْرَةَ بِنْتَ الْجَوْنِ تَعَوَّذَتْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حِينَ أُدْخِلَتْ عَلَيْهِ تَعْنِي لَمَّا تَزَوَّجَهَا – فَقَالَ: لَقَدْ عُذْتِ بِمَعَاذٍ فَطَلَّقَهَا، وَأَمَرَ أُسَامَةَ فَمَتَّعَهَا بِثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ» أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ. وَفِي إسْنَادِهِ رَاوٍ مَتْرُوكٌ – وَأَصْلُ الْقِصَّةِ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُسَيْدٍ السَّاعِدِيِّ

965. Dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Amrah binti Al-Jaun berta’awudz (berlindung kepada Allah) terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika ia dipertemukan dengan beliau -yakni ketika menikah-, beliau bersabda, “Kamu mengucapkan ta’awudz dari yang tahu mendapatkan perlindungan.” Lalu beliau menceraikannya dan memerintahkan Usamah untuk memberikan kepada 3 potong pakaian. (HR. Ibnu Majah, dalam sanad haditsnya rawi yang dikenal matruk. Dan asal cerita tersebut dari kitab Shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Sa’id As Sa’idi).

[Ibnu Majah (2037)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anhu bahwa Amrah bintu Al-Jaun berlindung [ta’awudz] dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika ia dipertemukan dengan beliau- yakni ketika menikah-, beliau bersabda, “Kamu mengucapkan ta’awudz dari yang tahu mendapatkan perlindungan. Lalu beliau menceraikannya dan memerintahkan Usamah untuk memberikan kepada 3 potong pakaian. [HR. Ibnu Majah, dalam sanad haditsnya rawi yang dikenal Matruk. Dan asal cerita tersebut dari kitab shahih Al Bukhari dari hadits Abu Sa’id As Sa’idi] (dalam hadits disebutkan bahwa namanya Amrah, dan banyak sekali perbedaan tentang nama wanita tersebut, hanya saja hal ini tidak berkaitan dengan hukum syar’i.)

Ada perbedaan ulama tentang hal-hal yang menyebabkan wanita tersebut mengucapkan ta’awudz terhadap Rasulullah. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Sa’ad; bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menemui Amrah, istri-istri Nabi terbakar api cemburu karena dia adalah wanita yang sangat cantik. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya seorang wanita hanya akan dijadikan simpanan di sisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika kamu bertemu beliau, maka ucapkanlah, “Saya berlindung kepada Allah dari engkau, dan maka mintalah perlindungan kepada Allah darinya.” [Ath-Thabaqat Al-Kubra (8/104)]

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad lainnya dengan sanad dari Al-Bukhari; Bahwa Aisyah dan Hafshah masuk menemui Amrah binti Al-Jaun, menyisir rambut dan memacari jarinya, di antara keduanya mengatakan, “Sungguh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat kagum dengan seorang wanita ketika ditemui mengucapkan, “Saya berlindung kepada Allah dari engkau.” Ada juga yang mengatakan bahwa sebab mengucapkan ta’awudz kepada Nabi tidak dikarenakan hal tersebut.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang mensyari’atkan memberikan mut’ah [pemberian] kepada wanita yang diceraikan sebelum dilakukan hubungan suami istri. Para ulama terkemuka mewajibkan untuk memberikan mut’ah kepada wanita yang diceraikan yang belum ditentukan maharnya saat menikah, kecuali Al-laits dan Malik. Allah Ta’ala sudah menegaskan hal itu dalam firman-Nya,

{لا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ}

“Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula).” (QS. Al-Baqarah: 236) sesuai zhahir ayat, bahwa perintah -dalam ayat- menunjukkan wajib.

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Sunannya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Kata al-massu berarti nikah, dan al-faridhah berarti mahar.” Firman Allah, “Hendaklah kamu berikan mut’ah kepada mereka.” Ibnu Abbas menafsirkan: (memberi mut’ah) itu wajib atas oleh laki-laki yang menikah, dan belum menentukan mahar bagi si wanita, kemudian menceraikannya sebelum menggaulinya, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk memberikan mut’ah [pemberian] kepadanya sesuai dengan kemampuannya. (Al-Hadits)

Dan diriwayatkan juga Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, “Mut’ah [pemberian] yang paling berharga -bagi wanita yang diceraikan- adalah pelayan laki-laki, kemudian uang, lalu pakaian.”

Memang betul. Wanita dalam hadits bab diberi mut’ah [pemberian] oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mungkin saat itu Rasulullah belum menentukan maharnya; maka Rasulullah memberikan bekal kepadanya sebagaimana yang ditentukan dalam ayat tersebut. Dan mungkin juga, Rasulullah telah menentukan maharnya, maka pemberian tersebut sebagai bentuk kebaikan dan keutamaan diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sedangkan memberikan mut’ah [pemberian] kepada istri yang belum ditentukan maharnya tapi sudah digauli dan diceraikan, maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Ali, Umar dan Asy-Syafi’i mewajibkan kepadanya untuk memberikan mut’ah berdasarkan firman Allah Allah,

{وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ}

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah: 241)

Al-Hadawiyyah dan Al-Hanafiyyah (pengikut madzhab Hanafi) berpendapat tidak wajib kecuali memberikan mahar yang sesuai dengan wanita sekelas dengannya, dengan berhujjah: bahwa keumuman ayat dikhususkan (dikecualikan) bagi siapa yang melakukan hubungan suami istri, dan hadits itu dikhususkan dengan ayat lainnya yang mewajibkan memberikan mut’ah; tapi dengan syarat belum melakukan hubungan suami istri, sedangkan kasus ini sudah melakukannya (tentu beda hukumnya). Sedangkan firman Allah,

{فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ}

“Marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah” (QS. Al-Ahzab: 28), mungkin yang dimaksud ayat itu adalah nafkah bagi wanita yang sedang beriddah, tapi ini tidak bisa dijadikan hukum, karena dalil harus jelas dan tidak boleh berdasarkan kepada kemungkinan-kemungkinan yang belum jelas. Inilah pendapat para ulama. Disebutkan juga bahwa Al-Laits mewajibkan memberikan bekal (mut’ah) dengan mutlak, dengan dalil; bila hal itu diwajibkan pasti ditentukan berapa ukurannya, tapi pendapat dibantah dengan argumen bahwa memberikan nafkah bagi kerabat miskin hukumnya wajib, tapi tidak ditentukan ukurannya juga.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *