[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 257

07. KITAB JUAL BELI – 07.06. BAB TAFLIS (KEBANGKRUTAN) DAN HAJR (PENAHANAN) 03

0807

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «عُرِضْت عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ أُحُدٍ، وَأَنَا ابْنُ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَنَةً فَلَمْ يُجِزْنِي، وَعُرِضْت عَلَيْهِ يَوْمَ الْخَنْدَقِ، وَأَنَا ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، فَأَجَازَنِي» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبَيْهَقِيِّ: فَلَمْ يُجِزْنِي وَلَمْ يَرَنِي بَلَغْت. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.

807. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Aku dihadapkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu perang Uhud, ketika itu aku berumur 14 tahun, namun beliau belum membolehkanku (untuk ikut berperang). Aku dihadapkan lagi kepada beliau waktu perang Khandaq, ketika itu aku berumur 15 tahun dan beliau membolehkanku. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2664) dan Muslim (1868)]

Dalam riwayat Al-Baihaqi, “Beliau belum membolehkanku dan belum menganggapku telah dewasa.” Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Maksud penyebutan hadits -di atas- dalam bab ini adalah untuk menunjukkan bahwa anak yang belum berumur lima belas tahun, belum cukup untuk melakukan transaksi jual beli maupun yang lainnya. Makna ucapan, “beliau tidak mengizinkanku”, yakni, tidak memasukkanku dalam hukum para pejuang yang wajib berjihad dan keluar bersama beliau. Makna ucapan, “beliau membolehkanku” yakni beliau menganggap aku termasuk golongan orang yang wajib berjihad, sehingga aku diizinkan untuk keluar bersama beliau.

Tafsir hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang sudah berumur 15 tahun masuk dalam kategori mukallaf (orang dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), baligh, dan orang dewasa. Adapun orang yang belum sampai pada batasan umur tersebut dianggap belum mukallaf, baligh dan dewasa. Hal ini ditunjukkan oleh perkataan perawi, “beliau belum menganggapku telah dewasa.”

Sebagian ulama periode akhir membantah pengambilan dalil dari hadits -di atas- sebagai petunjuk seseorang sudah mencapai baligh dengan argumen bahwa izin keluar untuk berjihad berkenaan dengan sikap berani dan kemampuan, sedangkan penolakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menunjukkan bahwa dia belum baligh. Adapun pemahaman Ibnu Umar tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.

Saya katakan bahwa hal itu adalah kemungkinan yang jauh, sedangkan sahabat lebih paham dengan apa yang diriwayatkannya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa perang Khandaq terjadi pada tahun ke-4 hijriah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa perang tersebut terjadi di tahun ke-5 hijriah dibantah dengan hadits ini, karena ulama sepakat bahwa perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 hijriah.

0808

وَعَنْ عَطِيَّةَ الْقُرَظِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «عُرِضْنَا عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ قُرَيْظَةَ. فَكَانَ مَنْ أَنْبَتَ قُتِلَ، وَمَنْ لَمْ يُنْبِتْ خَلَّى سَبِيلَهُ، فَكُنْت مِمَّنْ لَمْ يُنْبِتْ فَخَلَّى سَبِيلِي» . رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ: عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ.

808. Dari Athiyyah Al-Qurazhi Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Kami dihadapkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu perang Quraidhah. Lalu orang yang telah tumbuh bulunya [bulu kemaluannya] dibunuh dan yang belum tumbuh bulunya dibebaskan, sedangkan aku termasuk orang yang belum tumbuh bulunya, maka aku dibebaskan. (HR. Al-Arba’ah. Hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim, ia berkata, “Hadits tersebut menurut syarat yang ditetapkan oleh Asy-Syaikhan [Al-Bukhari dan Muslim].

[shahih, Abu Dawud (4404)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa masa baligh dapat diketahui dengan tumbuhnya bulu seseorang [bulu kemaluannya], sehingga berlaku baginya hukum seorang yang mukallaf, dan ini adalah ijma’ ulama.

0809

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَجُوزُ لِامْرَأَةٍ عَطِيَّةٌ إلَّا بِإِذْنِ زَوْجِهَا» وَفِي لَفْظٍ «لَا يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَمْرٌ فِي مَالِهَا إذَا مَلَكَ زَوْجُهَا عِصْمَتَهَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَصْحَابُ السُّنَنِ إلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

809. Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak diperbolehkan bagi seorang istri memberikan sesuatu kecuali dengan seizin suaminya.” Dan dalam lafazh lain disebutkan, “Tidak diperbolehkan bagi seorang istri mengurus hartanya yang dimiliki oleh suaminya”. (HR. Ahmad dan para pengarang kitab As-Sunan kecuali At-Tirmidzi. Hadits ini shahih menurut Al-Hakim)

[hasan shahih, Abi Dawud (3546, 3547)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Al-Khaththabi berkata, “Sebagian besar ulama menjadikan hadits tersebut sebagai bentuk pergaulan yang baik dan kemurahan diri atau menjadikannya bagi wanita yang kurang akalnya.”

Terdapat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bersedekahlah kalian” sehingga terdapat shahabiyah yang melemparkan anting dan cincinnya sedangkan Bilal yang memungutnya dengan menggunakan selendangnya. Adapun ‘Athiyah melakukannya tanpa izin dari suaminya.

Itulah madzhab jumhur ulama dengan berpendapat dengan pemahaman kitab dan sunnah. Tidak ada ulama yang bermadzhab sesuai dengan makna hadits kecuali Thawus yang mengatakan, “Sesungguhnya perempuan ditahan hartanya bila sudah menikah, kecuali atas izin suaminya.” Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa perilakunya terbatas pada sepertiga hartanya.

0810

وَعَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةِ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكَ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُولَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

810. Dari Qabishah Ibnu Mukhariq Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah satu dari tiga orang: orang yang menanggung hutang orang lain, dia boleh meminta-minta hingga dapat melunasinya, kemudian ia tidak melakukannya lagi [setelah hutang itu terlunasi]; orang yang terkena musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan sandaran hidup; dan orang yang ditimpa kefakiran hingga tiga orang yang mengetahuinya dari kalangan kaumnya berkata: Si Anu telah ditimpa kefakiran, ia dibolehkan meminta-minta.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1044)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Lafazh hadits ini telah disebutkan sebelumnya pada bab pembagian sedekah. Mungkin pengulangan ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa seseorang yang menanggung suatu beban yang mengharuskannya berhutang tidak dapat dihukumi seperti orang yang jatuh pailit [muflis] yang harus ditahan -kewenangannya- untuk membelanjakan hartanya. Tetapi, diperbolehkan untuk meminta-minta kepada orang lain untuk melunasi hutangnya. Pernyataan tersebut selaras dengan kaidah-kaidah yang berlaku bila tidak menanggung harta tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *