[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 256

07. KITAB JUAL BELI – 07.06. BAB TAFLIS (KEBANGKRUTAN) DAN HAJR (PENAHANAN) 02

0804

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَعَلَّقَهُ الْبُخَارِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

804. Dan dari Amar bin Asy-Syarid, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang mempunyai harta [mampu] untuk membayar hutang lalu menangguhkan pembayaran itu tanpa ada udzur, maka diperbolehkan untuk mencela dan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasai. Hadits ini menurut Al-Bukhari muallaq, sedangkan menurut Ibnu Hibban shahih)

[hasan, Abi Dawud (3628)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Amar bin Asy-Syarid (ia adalah seorang tabi’i, mendengar dari Ibnu Abbas) dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang mempunyai harta [mampu] untuk membayar hutang lalu menangguhkan pembayaran itu tanpa ada udzur, maka diperbolehkan untuk mencela dan menghukumnya.” HR. Abu Dawud dan An-Nasai. Hadits ini menurut Al-Bukhari muallaq, sedangkan menurut Ibnu Hibban shahih (dan dikeluarkan juga oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi. Al-Bukhari menafsirkan pengertian ‘halal kehormatan’ [boleh mencelanya] sebagaimana yang ia ta’liq dari Sufyan. Kata ‘uqubah’ [menghukum] yakni menahannya. Ini sebagai dalil bagi Zaid bin Ali bahwa orang tersebut dijebloskan penjara sampai membayar hutang. Jumhur ulama membolehkan untuk memboikot -hartanya-dan hakim boleh menjual hartanya. Hal ini juga masuk dalam kata menyiksanya, sedangkan penafsirannya dengan dipenjara tidaklah marfu’.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haramnya orang yang mempunyai harta [mampu untuk membayar hutangnya] lalu mengulur-ulur pembayaran hutangnya tanpa ada udzur yang dibenarkan oleh syariat, sehingga ia boleh dihukum.

Para ulama berbeda pendapat apakah tindakan mengulur-ulur pembayaran hutang itu masuk dalam kategori dosa besar sehingga masuk sebagai kefasikan dan persaksiannya ditolak akibat perbuatannya yang dilakukan walaupun hanya sekali saja?

Al-Hadawiyah berpendapat bahwa perbuatan itu dapat menjadikannya dicap sebagai seorang yang fasik. Ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah harta -hutang- yang ditunda pembayarannya yang mengakibatkan pelakunya dihukumi sebagai orang fasik. Sebagian jumhur ulama ada yang mengatakan bahwa seseorang dicap sebagai fasik apabila mengulur-ulur pembayaran hutang -padahal ia mampu untuk membayarnya- sebesar sepuluh dirham atau lebih yang diqiyaskan dengan nishab dalam pencurian.

Dari perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terdapat petunjuk bahwa dia dapat dicap fasik meski jumlah hutang yang ditunda pembayarannya itu kurang dari sepuluh dirham. Inilah pendapat dari kalangan Malikiyah dan Syafi’iyah. Hanya saja, mereka ragu-ragu dalam mensyaratkan pengulangan. Akan tetapi dilihat dari konsekuensi pendapat Asy-Syafi’i mengharuskan pensyaratan demikian. Kemudian ditunjukkan oleh pengertian bahwa sikap mengulur-ulur pembayaran hutang bagi orang yang berada dalam kondisi susah tidak diperbolehkan untuk dicela kehormatannya ataupun dihukum. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur ulama, sebagaimana petunjuk firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 280 yang berbunyi,

{فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ}

“Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.

0805

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أُصِيبَ رَجُلٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي ثِمَارٍ ابْتَاعَهَا، فَكَثُرَ دَيْنُهُ، فَأَفْلَسَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: تَصَدَّقُوا عَلَيْهِ فَتَصَدَّقَ النَّاسُ عَلَيْهِ، وَلَمْ يَبْلُغْ ذَلِكَ وَفَاءَ دَيْنِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِغُرَمَائِهِ خُذُوا مَا وَجَدْتُمْ. وَلَيْسَ لَكُمْ إلَّا ذَلِكَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

805. Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ada seseorang terkena musibah dengan membusuknya buah-buahan yang dibelinya, lalu hutangnya menumpuk dan bangkrut. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Bersedekahlah kepadanya.” Lalu orang-orang bersedekah kepadanya, namun belum cukup untuk melunasi hutangnya. Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang-orang yang menghutanginya, “Ambillah apa yang kalian dapatkan -darinya- karena hanya itulah milik kalian.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1556)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Pembahasan tentang hadits ini telah disebutkan sebelumnya, sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Jabir, “Maka kamu tidak punya hak untuk mengambilnya”, sebagai bentuk anjuran dan motivasi bagi orang yang ditimpa musibah.

Hal tersebut juga ditunjukkan dalam sabda beliau, “Karena hanya itulah milik kalian,” bahwa hasil buah-buahan tidak bisa dijamin, sekiranya bisa dijamin niscaya akan dikatakan, “dan apa yang tersisa maka ditangguhkan hingga mendapat kemudahan” dan semisalnya. Karena hutang tidak gugur dengan adanya kondisi sulit bagi peminjam hutang. Hanya saja penagihan hutang ditangguhkan dan diwajibkan membayarnya saat mendapat kelapangan rezeki.

0806

وَعَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَجَرَ عَلَى مُعَاذٍ مَالَهُ. وَبَاعَهُ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَيْهِ» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد مُرْسَلًا، وَرَجَّحَ إرْسَالَهُ

806. Dari Ibnu Ka’ab, dari ayahnya Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menahan harta benda milik Muadz dan menjualnya untuk melunasi hutangnya. (HR. Ad-Daraquthni. Hadits ini shahih menurut Hakim, dan dikeluarkan oleh Abu Dawud secara mursal, dan ditarjih olehnya)

[Ad-Daraquthni (4/230, 231); Al-Marasil (171)]

//Dhaif: Al-Uqaili dalam Adh-Dhuafa hal. 23. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Ka’ab (namanya Abdurrahman, Abdurrazak menamainya), dari ayahnya Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menahan harta benda milik Muadz dan menjualnya untuk melunasi hutangnya. Riwayat Daruquthni. Hadits shohih menurut Hakim dan mursal menurut tarjih Abu Dawud (Abdul Haq mengatakan bahwa hadits mursal lebih shahih dibandingkan hadits yang muttashil. Dalam kitab Al-Ahkam Ibnu Shalah berkata, “Hadits tersebut benar ada (tsabit). Hal tersebut terjadi pada tahun ke-9 Hijriah, dia memutuskan lima bagian hak mereka. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, juallah dia kepada kami”. Beliau bersabda,

لَيْسَ لَكُمْ إلَيْهِ سَبِيلٌ

“Kalian tidak mempunyai jalan ke sana (untuk itu).”

Hadits tersebut dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dari jalur Al-Waqidi dan ditambahkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutusnya setelah itu ke Yaman untuk memaksanya.

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa hakim berhak menahan harta orang yang terlilit hutang untuk membelanjakan hartanya kemudian menjualnya untuk melunasi piutang para kreditor. Perkataan yang mengatakan bahwa hal tersebut sebagai hikayat saja tidak benar. Karena perbuatan ini tidak sempurna kecuali dengan perkataan-perkataan yang keluar dari pribadi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam saat menahan perilaku Mu’adz membelanjakan hartanya. Dan ditunjukkan pula oleh lafazh yang lain bahwa beliau menjual hartanya, dan lafazh yang menunjukkan beliau melunasi hutang-hutangnya kepada para kreditor. Sehingga dengan petunjuk yang jelas seperti ini tidak mungkin disebut sebagai sekadar hikayat belaka. Seperti hadits yang menyatakan:

خَلْعِ نَعْلِهِ فَخَلَعُوا نِعَالَهُمْ

“Beliau melepas sandalnya kemudian mereka (sahabat) ikut melepas sandal-sandal mereka”.

Secara dzahir, hadits di atas menunjukkan hal tersebut terjadi bila hutangnya menguras habis hartanya.

Menjadi bahan pertanyaan kemudian, apakah termasuk juga menahan harta orang yang hutangnya tidak sampai menguras habis hutangnya atau menjual hartanya, seperti kondisi orang yang dalam kondisi lapang tapi menunda-nunda bayar hutang. Dalam kasus ini ulama berbeda pendapat, jumhur Al-Hadawiyah dan Asy-Syaf’i mengatakan termasuk dalam katagori tersebut sehingga hartanya patut ditahan atau dijual. Karena hal yang mengharuskan keberadaannya sudah didapati yaitu tidak segera membayar hutang. Zaid bin Ali Al-Hanafi berkata, “Hal tersebut tidak termasuk, sehingga hartanya tidak ditahan dan dijual, hanya cukup dipenjara sampai membayar hutangnya berdasarkan hadits:

«لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إلَّا بِطِيبَةٍ مِنْ نَفْسِهِ»

“Sesungguhnya tidak halal harta seorang muslim kecuali atas kemurahan hatinya”. [Ahmad (15/72, 74)]

Dan firman Allah,

{إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ}

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 29)

Menahan harta dan menjualnya mengharuskan mengeluarkan harta bukan dari kemurahan hatinya dan tidak atas kerelaannya.

Penyataan tersebut dapat dijawab, bahwa hadits dan ayat tersebut bersifat umum yang dikhususkan oleh hadits Mu’adz yang mengatakan hal tersebut tidaklah sempurna. Karena hadits Mu’adz hanya untuk orang yang hutangnya menghabiskan semua hartanya, dan perkataan ulama lainnya bahwa bagi orang yang kaya, tetapi menunda-nunda membayar hutangnya. Lebih patut kita katakan, bahwa keduanya dikhususkan dengan cara mengkiyaskan orang yang kaya tapi mengulur-ulur hutang dengan orang yang dililit hutang sehingga menguras habis semua hartanya. Hanya saja nampak kurang kuat dengan tidak adanya qiyas.

Memang benar dalam hadits: “Orang mampu yang menangguhkan pembayaran hutang dihalalkan kehormatannya dan siksanya,” merupakan dalil agar hartanya ditahan dan dijual serta termasuk dalam pengertian hukuman. Adapun penafsiran hanya dengan penjara merupakan pendapat pribadi ulama yang mengatakannya. Umar Radhiyallahu Anhu pernah menghukum Usaifa’ dan Juhainah seperti keputusan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menghukum Mu’adz. Hal tersebut dikeluarkan haditsnya oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ dengan sanad yang munqathi’ (terputus).

Ad-Daraqutni meriwayatkan dalam kitab “Gharaib Malik” dengan sanad yang tersambung, bahwa: “Seseorang dari kaum Juhainah membeli kendaraan secara berlebih-lebihan kemudian dia mempercepat perjalanan dan mendahului pengendara lain. Kemudian ia jatuh miskin (bangkrut) sehingga kasusnya diangkat ke hadapan Umar Radhiyallahu Anhu. Beliau berkata: “amma ba’du, wahai manusia sesungguhnya Al-Usaifa’ merupakan Usaifa Juhainah yang telah rela terhadap hutang dan amanahnya untuk dissbut: Ia mendahului pengendara lain, hanya saja dia orang yang banyak berhutang sehingga terlilit oleh hutangnya sendiri. Barangsiapa mempunyai hutang atasnya hendaklah mendatanginya agar hartanya dibagi rata antara pemilik hutang lainnya. Waspadalah kalian terhadap hutang, awalnya menjadi pikiran dan akhirnya berupa peperangan.” (selesai).

Adapun kisah Jabir bersama para pemilik hutang bapaknya saat bapaknya terbunuh di saat perang Uhud sedangkan dia masih mempunyai tanggungan hutang. Dia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menanyakannya sehingga beliau meminta mereka menerima hasil perkebunanku dan menghalalkan tanggungan bapakku. Sedangkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memberi mereka kebunku, dia berkata, “kami akan pergi menemuimu”, kemudian beliau pergi menemui kita di pagi hari dan mengelilingi pohon kurma seraya mendoakan keberkahan pada buah-buahannya sehingga berbuah, kemudian aku membayar hutangnya dengan buah-buahan tersebut dan masih tersisa buahnya.

Dalam kisah tersebut terdapat suatu petunjuk bahwa menunggu hingga berbuah dan kemungkinan berbuah tidak termasuk sebagai bentuk menangguhkan hutang. Ada pula pendapat yang mengatakan, dapat diambil kesimpulan dari hadits tersebut bahwa barang siapa yang mempunyai penghasilan maka hendaknya dia melihat dari penghasilan tersebut walaupun cukup lama waktunya karena tidak ada perbedaan antara waktu panjang dengan dekat pada permasalahan hak bani Adam. Sedangkan bagi orang yang tidak mempunyai penghasilan maka tidak perlu menunggu dan cukup hakim menjual hartanya untuk dibagikan bagi para kreditor.

Adapun menahan untuk membelanjakan harta bagi orang yang sudah baligh disebabkan karena faktor kebodohan dan tidak dapat membelanjakan hartanya, maka Imam Asy-Syafi’i berpendapat setuju dengannya, akan tetapi Zaid bin Ali tidak menyetujuinya sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Abu Hanifah.

Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunan Al-Kubra membuat bab tersendiri tentang pembahasan penahanan orang yang baligh karena faktor kebodohan dengan menyebutkan sanadnya: bahwa Abdullah bin Ja’far membeli tanah dengan harga enam ratus ribu dirham sehingga Ali dan Utsman Radhiyallahu Anhuma hendak menahannya. Kata beliau, maka aku menemui Zubair dan ia berkata, “Tidaklah seseorang membeli dengan harga lebih murah dari apa yang engkau beli.” Katanya, maka Abdullah ingat pembahasan penahanan untuk membelanjakan harta. Dia berkata, “Kalaulah aku memiliki uang niscaya aku akan turut serta bersamamu”. Katanya, “Aku akan pinjamkan kepadamu setengah dari harganya.” Jawabnya, “Kalau begitu aku menjadi mitramu dalam hal ini.”

Kemudian mereka berdua mendatangi Ali dan Utsman Radhiyallahu Anhuma, sedangkan keduanya saling rela dan berkata, “Apa yang kalian jadikan saling rela terhadapnya?”. Lalu keduanya menyebutkan sikap menahan (hijr) atas perilaku Abdullah bin Ja’far membelanjakan hartanya. Beliau berkata, “Apakah kalian berdua akan menahan perilaku seseorang sedangkan aku mitranya?” Keduanya berkata, “Sungguh”. Dia berkata, “Aku sungguh benar mitranya.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Utsman berkata, “Bagaimana mungkin aku menahan seseorang untuk berjual beli sedangkan mitranya di antaranya Zubair.”

Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ali Radhiyallahu Anhu tidak menginginkan menahan hartanya hanya saja beliau berpendapat demikian.” Sedangkan Zubair seandainya berpendapat bahwa sikap menahan harta tidak dibenarkan (batil) niscaya dia akan mengatakan, “Tidak ada penahanan terhadap orang yang sudah baligh,” begitu pula halnya dengan sahabat Utsman Radhiyallahu Anhu bahkan semuanya mengerti akan hal tersebut. Kemudian disebutkan hadits Aisyah dan penyebutan Abdullah bin Zubair menahan hartanya dan selainnya sebagai bukti perilaku para ulama salaf. Dan hal tersebut terambil dari hadits yang shahih tentang larangan menyia-nyiakan harta sehingga saat orang yang bodoh menyia-nyiakan hartanya akibat perilakunya yang tidak dapat membelanjakan hartanya, maka wajib ditahan dan dicegah. Imam An-Nawawi berkata, “Anak yang masih kecil tidak terputus dengan keputusan hukum anak yang sudah disapih dengan hanya faktor usia yang beranjak dewasa. Justru harus diperhatikan faktor kebijakan dalam beragama dan membelanjakan hartanya.” Abu Hanifah berkata, “Bila telah masuk usia dua puluh lima tahun, maka wajib menyerahkan hartanya walaupun belum jelas pola pikirnya.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *