[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 324

08. KITAB NIKAH – 08.03. BAB MAS KAWIN 03

0958

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ عَلَى صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ أَوْ عِدَةٍ، قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا، وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ، فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ، وَأَحَقُّ مَا أُكْرِمَ الرَّجُلُ عَلَيْهِ ابْنَتُهُ أَوْ أُخْتُهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ

958. Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap wanita yang menikah dengan mahar, atau hiba”, atau janji-janji sesuatu sebelum akad nikah; maka itu menjadi hak miliknya. Adapun pemberian setelah akad nikah, maka ia menjadi milik orang yang diberi, dan orang yang paling layak diberi pemberian adalah puterinya saudara perempuannya.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali At-Tirmidzi)

[Dha’if: Abi Dawud (2129)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap wanita yang menikah dengan mahar, atau hiba’ (hiba’ adalah pemberian kepada istri atau orang lain sebagai tambahan atas maharnya) atau janji-janji (yang dijanjikan suami kepada istri walaupun belum ada) sebelum akad nikah) maka itu menjadi hak miliknya. Adapun pemberian setelah akad nikah, maka ia menjadi milik orang yang diberi, dan orang yang paling layak diberi pemberian adalah putrinya saudara perempuannya.

Tafsir Hadits

Hadits adalah dalil yang menunjukkan bahwa apa yang disebutkan suami [sebagai pemberian] sebelum akad nikah, maka itu adalah milik istri, walaupun diperuntukkan bagi bapak atau saudara, demikian juga ketika sedang akad. Masalah ini banyak perselisihan di antara ulama. Al-Hadi, Malik, Umar, Umar bin Abdul Aziz dan Ats-Tsauri berpendapat seperti yang maksud dalam hadits ini.

Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat bahwa syarat itu wajib diberikan kepada yang berhak (bapak atau saudara), dan pernikahannya sah.

Asy-Syaffi berpendapat bahwa mengatasnamakan mahar saat itu tidak benar, dan si wanita berhak mendapatkan mahar selayaknya perempuan lainnya. Sedangkan Malik berpendapat, jika yang disyaratkan ketika akad nikah sedang berlangsung; maka itu milik anak perempuan (pihak suami), dan jika setelah akad nikah menjadi milik suami.

Diterangkan dalam kitab Nihayah Al-Mujtahid: sebab perbedaan ulama terhadap masalah ini adalah adanya perumpamaan nikah dengan jual beli; maka siapa yang menyerupakannya dengan wakil menjualkan barang dan mensyaratkan atasnya pemberian khusus, dia berpendapat: pernikahan seperti itu tidak boleh sebagaimana jual beli. Dan siapa yang membedakan antara nikah tersebut dengan jual beli, maka dia berpendapat: boleh. Sedangkan pemisahan yang dilakukan Malik, karena Imam Malik berasumsi apabila syarat pemberian itu [dilakukan] ketika akad nikah, khawatir syarat itu diperuntukkan bagi dirinya sendiri (suami) dan akan mengurangi jumlah mahar yang seharusnya diterima istri, dan tidak ada asumsi [pengurangan] jika syarat dilakukan setelah akad nikah dengan kesepakatan harus memberikan mahar.

Berbagai alasan yang telah engkau ketahui di atas, tidak berdasarkan hadits; karena haditsnya diperselisihkan kebenarannya. Sedangkan apa yang diberikan suami sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dari hal-hal yang mudah habis seperti makanan atau lainnya, jika hal itu disyaratkan ketika akad nikah; maka menjadi mahar, dan apa-apa yang diberikan sebelum akad nikah; menjadi sejenis hibah atau pemberian. Maka boleh menariknya kembali dengan tetap membiarkannya berada di pihak istri apabila menurut tradisi pemberian itu diberikan untuk dinikmati, namun bila diberikan untuk dijaga dan bukan dikonsumsi; boleh meminta harganya setelah dihabiskan, kecuali bila mereka enggan, maka dimintakan harga gantinya kepada kedua belah pihak. Tapi kalau istri meninggal dunia atau suami tidak jadi menikah dengannya; maka dia boleh meminta kembali apa yang tersisa dari pemberiannya termasuk juga yang diberikan dengan niat dimanfaatkan, dan boleh juga meminta ganti terhadap barang-barang yang rusak sebelum waktunya menurut kebiasaan yang berlaku dan bukan pada hal-hal lainnya, dan apa-apa yang diterima setelah akad nikah, baik berupa hibah atau hadiah sesuai saat itu atau suap, demi-kian juga makanan yang dihidangkan pada saat resepsi pernikahan yang diberikan suami kepada wali istri, yang disyaratkan ketika akad, boleh dinikmati bila perilaku itu sudah kebiasaannya seperti pada kerabat dan lainnya; karena suami mensyaratkan dan memberikan untuk dinikmati bukan untuk menjadi milik istri, dan semua berdasarkan urf [kebiasaan] yang berlaku.

0959

وَعَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ: «أَنَّهُ سَأَلَ عَنْ رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً، وَلَمْ يَفْرِضْ لَهَا صَدَاقًا، وَلَمْ يَدْخُلْ بِهَا حَتَّى مَاتَ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: لَهَا مِثْلُ صَدَاقِ نِسَائِهَا، لَا وَكْسَ، وَلَا شَطَطَ، وَعَلَيْهَا الْعِدَةُ، وَلَهَا الْمِيرَاثُ فَقَامَ مَعْقِلُ بْنُ سِنَانٍ الْأَشْجَعِيُّ فَقَالَ: قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. فِي بِرْوَعَ بِنْتِ وَاشِقٍ – امْرَأَةٌ مِنَّا – مِثْلَ مَا قَضَيْت فَفَرِحَ بِهَا ابْنُ مَسْعُودٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ جَمَاعَةٌ

959. Dari Alqamah, dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menikah dengan seorang wanita, ia belum menentukan maskawin dan belum menggaulinya, hingga laki-laki itu meninggal dunia. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Ia berhak mendapatkan maskawin seperti layaknya wanita lainnya, tidak kurang dan tidak lebih, ia wajib beriddah dan memperoleh warisan. Muncullah Ma’qil bin Sinan Al-Asyja’i dan berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menetapkan terhadap Barwa’ binti Wasyiq -salah seorang perempuan dari kami- seperti yang engkau tetapkan,” maka gembiralah Ibnu Mas’ud dengan ucapan tersebut. (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi dan hasan menurut sekelompok ahli hadits)

[Shahih: Abi Dawud (2116)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Alqamah adalah Ibnu Qais, Abu Syibl bin Malik. Ia berasal dari keturunan bani Bakr bin An-Nakha’ An-Nakha’i. Menurut riwayat dari Umar dan Ibnu Mas’ud, ia adalah salah seorang tabi’in yang utama. Ia dikenal dengan hadits Ibnu Mas’ud dan mulazamahnya. Ia adalah paman Al-Aswad An-Nakha’i, wafat pada tahun 61 H.

Penjelasan Kalimat

“Dari Alqamah dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menikah dengan seorang wanita, ia belum menentukan maskawin dan menggaulinya, hingga laki-laki itu meninggal dunia. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Ia berhak mendapatkan maskawin seperti layaknya wanita lainnya, tidak kurang dan tidak lebih, ia wajib beriddah dan memperoleh warisan. Muncullah Ma’qil bin Sinan Al-Asyja’i (Ma’qil adalah Abu Muhammad. Ia menyaksikan hari penaklukan kota Mekah. Tinggal di Kufah dan haditsnya kebanyakan dari penduduk Kufah. Meninggal -terbunuh- di musim panas dengan penuh kesabaran) dan berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menetapkan terhadap Barwa’ binti Wasyiq -salah seorang perempuan dari kami- seperti yang engkau tetapkan, maka gembiralah Ibnu Mas’ud dengan ucapan tersebut. HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi dan hasan menurut sekelompok ahli hadits (di antaranya: Ibnu Muhdi dan Ibnu Hazm berkata, “Tidak perlu diperselisihkan karena sanadnya shahih, demikian juga yang dikatakan Al-Baihaqi dalam kitab Al-Khilafiyyat. Asy-Syafi’i berkata, “Saya tidak tahu hadits lain yang tepat seperti hadits itu, dan melanjutkan, “Seandainya hadits Barwa’ itu tepat pasti saya akan mengatakan dan menerangkannya dalam kitab Al-Umm: jika hadits Barwa’ benar-benar berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam maka itu adalah penetapan perkataan yang utama dan tidak ada perkataan yang bisa dijadikan hujjah selain Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam walaupun dia orang paling berilmu, dan keharusan untuk menaati perintah Allah dengan menerima semua tuntunan Rasulullah, dan saya tidak mengetahui hadits dari Alqamah yang tepat seperti itu, kadang dengan riwayat dari Ma’qil Ibnu Sinan, kadang dari Ma’qil Ibnu Yasar, kadang dengan mengatakan dari sebagian bani Asyja’ dengan tidak memberikan nama.

Asy-Syafi’i melemahkan hadits itu dengan Idhdhirab. Al-Waqidi melemahkan hadits ini dengan alasan bahwa hadits itu sampai kepada penduduk Madinah dari Kufah dan tidak diketahui oleh ulama Madinah. Dan diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu yang menerangkan bahwa Ali menolak hadits tersebut dengan alasan Ma’qil bin Sinan adalah orang Arab Badui yang kencing di hadapannya. Pendapat ini dijawab, bahwa tuduhan Idhdhirab tidak merusak keshahihan hadits; karena hadits ini berasal dari para shahabat, dan ini tidak merusak riwayat hadits ini. Dan tentang perkataannya: bahwa diriwayatkan dari sebagian Asyja’ tidak merusak kedudukan hadits ini; karena hal itu sudah ditafsirkan dengan nama Ma’qil dan juga dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan sebagian itu adalah shahabat.

Sedangkan ulama Madinah tidak mengetahui hadits ini, tidak merusak kedudukan hadits; karena para perawinya dikenal adil, sedangkan riwayat yang dikatakan dari Ali Radhiyallahu Anhu, maka dijawab dalam kitab Al-Badr Al-Munir: bahwa riwayat dari Ali tidak benar. Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Harmalah Ibnu Yahya bahwa dia berkata, “Saya mendengar Asy-Syafi’i berkata, “Jika hadits Barwa’ binti Wasyiq benar, maka saya akan mengamalkannya.” Al-Hakim berkata, “Saya katakan, “Haditsnya sudah shahih, maka katakanlah [demikian]. Ad-Daraquthni menyebutkan perselisihan ulama tentang hal itu dalam kitab Al-‘Ilal, kemudian berkata, “Hadits tentang itu dengan sanad paling tepat adalah hadits Qatadah, hanya saja dia tidak hafal nama shahabatnya.” Saya katakan, “Tidak akan mengubah kedudukan hadits berdasarkan pendapat para ahli hadits jika tidak mengetahui nama shahabat itu.”

Sedangkan pendapat penulis, bahwa hadits Barwa’ didukung dengan hadits Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahkan seorang wanita dengan laki-laki, laki-laki tersebut belum menentukan maharnya, tapi sudah melakukan hubungan suami-istri, ketika laki-laki itu akan meninggal dunia [sekaratul maut] ia berkata, “Saksikanlah bahwa bagianku dari tanah Khaibar adalah milik istriku.” HR. Abu Dawud dan Al-Hakim [Shahih: Abi Dawud (2117)]

tidak diragukan lagi bahwa sebenarnya dia tidak perlu minta saksi atas hal itu; karena berkaitan dengan wanita yang sudah digauli suaminya; tapi bisa juga sebagai saksi yang mengesahkan nikah yang ditentukan maskawinnya.

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa wanita berhak mendapatkan mahar sepenuhnya bila suaminya meninggal dunia walaupun belum ditentukan maharnya, dan juga belum melakukan hubungan suami istri. Apakah wanita itu mendapatkan mahar seperti wanita sekelas dengannya [mahar mitsl] atau tidak? Dalam masalah ini, ada dua pendapat:

Pertama; dia berhak mendapatkan mahar sepenuhnya; berdasarkan amal hadits tersebut. Perkataan Ibnu Mas’ud adalah ijtihad darinya yang sesuai dengan dalil. Dan perkataan Abu Hanifah, Ahmad dan lainnya sama berdasarkan hadits bab. Dan bantahan terhadap hadits sudah kamu ketahui bagaimana sanggahan dan jawaban atas semua itu.

Kedua; bahwa dia tidak berhak mendapatkan mahar sepenuhnya melainkan mendapatkan warisan berdasarkan pendapat dari Ali, Ibnu Abbas, Al-Hadi, Malik dan salah satu pendapat Asy-Syafi’i. Mereka berkata, “Mahar itu sebagai pengganti, dan jika suami belum menunaikannya; maka tidak tepat diqiyaskan dengan harga barang-barang jualan.” Mereka juga mengatakan, “Hadits ini sangat banyak sanggahan atas keshahihannya.” Maka kami jawab, bahwa semua sanggahan dan bantahan itu sudah dijawab dan dimentahkan, maka hadits ini bisa dijadikan sebagai dasar hukum lebih utama daripada berdasarkan pada qiyas.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *