[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 255

07. KITAB JUAL BELI – 07.06. BAB TAFLIS (KEBANGKRUTAN) DAN HAJR (PENAHANAN)  01

Kata taflis merupakan bentuk masdar dari kata aflasa yang berarti berubah keadaannya menjadi tidak memiliki harta sama sekali. Sedangkan kata hajr artinya tertahan dan terhimpit. Adapun menurut istilah, hajr adalah ucapan seorang hakim kepada orang yang berhutang, “Aku tahan -kewenanganmu- untuk membelanjakan hartamu.”

0803

عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سَمِعْنَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: مَنْ أَدْرَكَ مَالَهُ بِعَيْنِهِ عِنْدَ رَجُلٍ قَدْ أَفْلَسَ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ مِنْ غَيْرِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

803. Dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menemukan barangnya benar-benar berada pada orang yang jatuh bangkrut (pailit), maka ia lebih berhak terhadap barang tersebut daripada orang lain.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2402) dan Muslim (1559)]

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَمَالِكٌ مِنْ رِوَايَةِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُرْسَلًا بِلَفْظِ «أَيُّمَا رَجُلٍ بَاعَ مَتَاعًا فَأَفْلَسَ الَّذِي ابْتَاعَهُ وَلَمْ يَقْضِ الَّذِي بَاعَهُ مِنْ ثَمَنِهِ شَيْئًا فَوَجَدَ مَتَاعَهُ بِعَيْنِهِ، فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ، وَإِنْ مَاتَ الْمُشْتَرِي فَصَاحِبُ الْمَتَاعِ أُسْوَةُ الْغُرَمَاءِ» وَوَصَلَهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَضَعَّفَهُ تَبَعًا لِأَبِي دَاوُد

Abu Dawud dan Malik meriwayatkan dari Abu Bakar Ibnu Abdurrahman secara mursal dengan lafazh: “Jika ada orang menjual barang, kemudian pembeli barang tersebut jatuh miskin padahal ia belum membayar apapun dari harganya, sedang penjual masih mendapatkan barangnya utuh, maka ia lebih berhak terhadap barang tersebut; jika pembelinya meninggal dunia maka barang tersebut menjadi milik orang-orang yang memberi hutang”.

[Shahih: Abi Dawud (3520, 5321)]

Menurut Al-Baihaqi hadits tersebut maushul dan dhaif karena mengikuti Abu Dawud.

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ رِوَايَةِ عُمَرَ بْنِ خَلْدَةَ قَالَ: «أَتَيْنَا أَبَا هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي صَاحِبٍ لَنَا قَدْ أَفْلَسَ، فَقَالَ: لَأَقْضِيَنَّ فِيكُمْ بِقَضَاءِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مَنْ أَفْلَسَ أَوْ مَاتَ فَوَجَدَ رَجُلٌ مَتَاعَهُ بِعَيْنِهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ» وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَضَعَّفَهُ أَبُو دَاوُد، وَضَعَّفَ أَيْضًا هَذِهِ الزِّيَادَةَ فِي ذِكْرِ الْمَوْتِ

Abu Dawud dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dan Umar bin Khaladah bahwa ia berkata, ‘Kami datang kepada Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menanyakan tentang teman kami yang bangkrut, lalu ia berkata, ‘Aku berikan kepadamu suatu ketetapan hukum dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu: “Barangsiapa bangkrut atau meninggal dunia, lalu orang tersebut mendapatkan barangnya masih utuh, maka ia lebih berhak atas barang tersebut”. Hadits shahih menurut Hakim dan dha’if menurut Abu Dawud. Abu Dawud juga menilai dha’if keterangan tentang “meninggal dunia” pada hadits ini!

[Dhaif: Abi Dawud (3523)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Bakar bin Abdurrahman (yakni Ibnu Al-Harits bin Hisyam Al-Makhzumi seorang Qadhi di Madinah dan seorang tabi’i pernah mendengar dari Aisyah dan Abu Hurairah. Sedangkan Asy-Sya’bi dan Az-Zuhri pernah meriwayatkan hadits darinya) dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menemukan barangnya benar-benar sesuai bentuknya (tidak berubah sifat-sifatnya dan tidak dikurangi maupun ditambah) berada pada orang yang jatuh bangkrut (pailit), maka ia lebih berhak terhadap barang tersebut daripada orang lain”. Muttafaq Alaih. Abu Dawud dan Malik meriwayatkan dari Abu Bakar Ibnu Abdurrahman secara mursal (Abu Dawud menyambungkan riwayatnya dari jalur yang lain. Di dalam riwayatnya terdapat Ismail bin Ayyasy hanya saja riwayatnya dari kaum Syam. Sedangkan riwayatnya dari mereka shahih, dengan lafazh:

«أَيُّمَا رَجُلٍ بَاعَ مَتَاعًا فَأَفْلَسَ الَّذِي ابْتَاعَهُ وَلَمْ يَقْضِ الَّذِي بَاعَهُ مِنْ ثَمَنِهِ شَيْئًا فَوَجَدَ مَتَاعَهُ بِعَيْنِهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ وَإِنْ مَاتَ الْمُشْتَرِي فَصَاحِبُ الْمَتَاعِ أُسْوَةُ الْغُرَمَاءِ»

“Barangsiapa yang menjual dagangan kemudian orang yang membelinya jatuh pailit sedangkan dia belum menerima sedikitpun bayaran dari penjualannya sehingga ia menemukan barangnya benar-benar berada pada orang yang jatuh bangkrut (pailit), maka ia lebih berhak terhadap barang tersebut. Bila pembeli meninggal maka pemilik barang lebih berhak dari yang lainnya.” Al-Baihaqi menyambungkannya dan mendhaifkannya mengikuti Imam Abu Dawud.

Setelah kami merujuk Sunan Abi Dawud kami tidak dapatkan sesuatu yang dapat melemahkan riwayat ini. Justru dalam riwayat ini beliau mengeluarkan riwayat ini dari jalur Malik, sedangkan hadits Malik paling shahih. Maksud beliau lebih shahih dari riwayat Abu Bakar bin Abdirrahman yang dituturkan oleh Abu Dawud.

Abu Bakar mengatakan, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan barang siapa yang meninggal dunia dan mempunyai barang milik orang lain sedangkan ia belum menerima pembayarannya sedikitpun maka pemilik barang lebih berhak dari orang lain. Asy-Syarih (pemberi penjelasan) rahimahullah di sini tidak memberi komentar sedikit pun.

Pemberi keterangan diam tentang hal tersebut dan aku telah merujuk Sunan Abi Dawud tapi tidak didapati hal yang melemahkan riwayat Umar bin Khaldah bahkan Al-Baihaqi mengatakan setelah meriwayatkan hadits Abu Bakar bin Abdurrahman yang mursal dan lafazhnya dituturkan oleh penulis di sini.”siapapun orang” sampai selesai. Asy-Syafi’i berkata, ‘Riwayat Umar bin Khaladah lebih layak dari riwayat Abu Bakar, karena riwayatnya tersambung, di mana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpulkan antara kematian dan kepailitan. Sedangkan hadits Ibnu Syihab yakni riwayat Abu Bakar bin Abdurrahman tersebut sanadnya terputus. Beliau menuturkan banyak sekali pernyataan yang dapat merujuk riwayat Umar bin Khaladah sehingga saya tidak tahu bagaimana pendapat penulis. Di sini riwayat dari Abu Dawud mendhaifkan riwayat Umar bin Khaladah sehingga perlu diperhatikan.

Tafsir hadits

Hadits ini mengandung beberapa bahasan:

Pertama, bila penjual mendapatkan barang dagangannya pada pembeli yang telah bangkrut, maka dia lebih berhak mendapatkan dan mengambilnya dari semua kreditor yang mempunyai piutang bila didapati banyak kreditor yang mempunyai piutang. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “siapa yang mendapatkan hartanya” mencakup semua orang yang mempunyai harta yang berada pada orang lain melalui jalur hutang atau jual beli walaupun banyak didapati hadits-hadits yang jelas menggunakan kata jual beli. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dan selain dari keduanya mengeluarkan hadits dengan lafazh:

«إذَا ابْتَاعَ الرَّجُلُ سِلْعَةً ثُمَّ أَفْلَسَ وَهِيَ عِنْدَهُ بِعَيْنِهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا مِنْ الْغُرَمَاءِ»

“Bila seseorang membeli suatu barang kemudian jatuh bangkrut dan barang tersebut masih ada padanya maka dia (pemilik barang) lebih berhak dari -para pemberi hutang lainnya”. [Ibnu Hibban (11/414)]

Sudah masyhur dalam kaidah ilmu ushul fiqih bahwa hal khusus yang cocok tidak dapat mengkhususkan hal yang bersifat umum kecuali menurut pendapat Abu Tsaur, walaupun mereka banyak memalsukan pendapatnya. Oleh karena itu, imam Asy-Syafi’i dan lainnya berpendapat bahwa pemberi hutang lebih berhak terhadap harta yang dihutangkan sebagaimana dia lebih berhak dalam masalah jual beli. Pendapat lain mengatakan hal tersebut khusus untuk jual beli berdasarkan ketegasan lafazh hadits pada bab ini. Akan tetapi diketahui bahwa bab ini mengkhususkan keumuman hadits ini.

Kedua, sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “sesuai barangnya” menunjukkan bahwa bila didapati telah berubah sifat, ditambahkan atau dikurangi, maka dia bukan pemiliknya yang lebih berhak terhadapnya tapi menjadi bagian dari para pemilik hutang. Ulama berbeda pendapat dalam hal tersebut, Al-Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwa sifatnya sudah berubah dengan adanya cacat, maka penjual berhak mengambilnya tanpa ganti rugi kerusakannya. Bila berubah dengan adanya tambahan maka menjadi milik pembeli tambahan tersebut berdasarkan atas nafkah yang telah dikeluarkannya sehingga terjadi seperti itu. Begitu pula manfaat menjadi milik pembeli walaupun hal tersebut bersifat melekat, karena baru terjadi saat berada di tangan pembeli. Bila hal tersebut tetap dibiarkan maka harus dibagi selayaknya tanpa ada batasan seperti haknya tanaman yang tidak ditanami. Dan membiarkan sesuatu yang mempunyai batasan tanpa ada ongkos biaya seperti tanaman. Begitu pula bila sifat barang berkurang seperti hilang sebagiannya maka dia berhak mengambil sisanya sesuai bagian harga barangnya. Hadits di atas mencakup hal itu juga karena yang tersisa termasuk juga barang dagangan dengan wujudnya.

Ketiga, lafazh hadits Abu Bakar bin Abdurrahman yang mursal menunjukkan bahwa dia berhak meminta dikembalikan barang dagangan, bahkan menjadi lebih berhak dari para pemberi hutang lainnya. Itulah pendapat jumhur ulama, Al-Hadawiyah dan pendapat Asy-Syafi’i yang terkuat bahwa dengan menerima sebagian bayaran maka barang dagangan tidak menjadikannya lebih berhak dari para para penerima hutang lainnya, justru penjual lebih berhak terhadapnya. Seakan imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa hadits tersebut munqathi’ (terputus sanadnya). Sehingga siapa yang mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dan tersambung (maushul) maka dia berpendapat sama seperti jumhur ulama. Masih diperdebatkan permasalahan tersambung atau tidaknya sanad tersebut, ada pendapat yang mengatakan hadits tersebut mursal seperti pendapat sebagian besar para penghafal hadits.

Keempat, sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “bila pembeli meninggal dunia maka pemilik barang lebih berhak terhadap barang tersebut daripada orang-orang yang memberi hutang” Dalam kalimat tersebut ada pembuangan kata seharusnya, “maka barang pemilik barang menjadi bagian pemberi hutang”. Hal tersebut sebagai petunjuk adanya perbedaan antara kematian dan kepailitan. Pembedaan ini dipegang oleh Imam Malik dan Ahmad dengan mengamalkan riwayat ini.

Mereka mengatakan, sebab mayit terbebas dari beban dan para pemilik piutang tidak punya kesempatan untuk menuntutnya sehingga mereka sama derajatnya, berbeda halnya dengan kondisi orang yang jatuh pailit. Baik si mayit meninggalkan pembayarannya atau tidak. Sedangkan Al-Hadawiyah berpendapat bahwa bila si mayit meninggalkan pembayaran (pelunasannya) maka si penjual tidak lebih berhak terhadap dagangannya, dengan syarat ahli waris membayar harga barang tersebut dari harta pusaka si mayit. Argumentasi mereka berupa tambahan lafazh pada hadits Abu Bakar bin Abdurrahman: “kecuali pemiliknya meninggalkan pembayaran” hanya saja Asy-Syafi’i berkata, “Dimungkinkan tambahan tersebut dari Abu Bakar bin Abdurrahman dengan petunjuk adanya kemungkinan bahwa perawi-perawi yang menyambungkan darinya tidak menyebutkan perihal kematian.” Begitu pula halnya dengan orang-orang yang meriwayatkan dari Abu Hurairah.

Asy-Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada bedanya antara mati dan bangkrut dan pemilik barang lebih berhak terhadap barangnya atas keumuman lafazh: “siapa yang mendapatkan hartanya pada seseorang” hadits muttafaq ‘alaih. Kata beliau, tidak ada perbedaan antara mati dan kebangkrutan, dan perbedaan antara keduanya berdasarkan riwayat Abi Bakar bin Abdurrahman. Sabda Nabi, “bila mati, maka pemilik barang sebagai tauladan orang-orang pemilik piutang” tidak shahih karena hadits tersebut mursal, tidak benar tersambung riwayatnya sehingga tidak dapat diamalkan. Bahkan dalam riwayat Umar bin Khaladah menyamakan antara kematian dan kebangkrutan. Hadits ini hasan dapat dijadikan hujjah dengan semisalnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *