[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 254

07. KITAB JUAL BELI – 07.05. BAB SALAM, PINJAMAN DAN GADAI 05

0800

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا يَغْلِقُ الرَّهْنُ مِنْ صَاحِبِهِ الَّذِي رَهَنَهُ لَهُ غُنْمُهُ وَعَلَيْهِ غُرْمُهُ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ، إلَّا أَنَّ الْمَحْفُوظَ عِنْدَ أَبِي دَاوُد وَغَيْرِهِ إرْسَالُهُ

800. Dan darinya, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang gadaian tidak menutup pemilik yang menggadaikannya, keuntungan untuknya dan kerugian menjadi tanggungannya.” (HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Namun yang lebih terjaga menurut Abu Dawud dan lainnya hadits itu mursal)

[dhaif, Al-Irwa’ (1406)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (maksudnya Abu Hurairah) ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang gadaian tidak menutup pemilik yang mengadaikannya (dikatakan bahwa barang gadaian menutupi bila lepas dari kepemilikan si empunya dan dikuasai oleh penerima gadai disebabkan ketidakmampuannya untuk melunasinya. Dahulu hal tersebut menjadi kebiasaan orang Arab sehingga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarangnya) keuntungan untuknya (yakni kelebihan hasilnya) dan kerugian menjadi tanggungannya (yakni nafkah dan kerusakannya) HR. Ad-Daraquthni dan Al-Hakim dengan perawi-perawiyang dapat dipercaya. Namun yang lebih terjaga menurut Abu Dawud dan lainnya hadits itu mursal (Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata, “Sabda beliau, “Keuntungan untuknya dan kerugian menjadi tanggungannya” masih diperselisihkan.” Dikatakan bahwa itu merupakan tambahan dari perkataan Said bin Al-Mussayib. Makna “tidak menutup” yakni penerima gadai tidak berhak membukanya saat pemiliknya tidak mampu melunasinya.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan petunjuk untuk menghapus perilaku jahiliah dalam hal menutup barang gadai yang berada di tangan penerima gadai. Dan juga menjelaskan bahwa hasil tambahan [keuntungan] menjadi milik penerima gadai, serta nafkah menjadi tanggungannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

0801

وَعَنْ أَبِي رَافِعٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اسْتَسْلَفَ مِنْ رَجُلٍ بَكْرًا، فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إبِلٌ مِنْ إبِلِ الصَّدَقَةِ، فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ، فَقَالَ: لَا أَجِدُ إلَّا خِيَارًا رَبَاعِيًا، فَقَالَ: أَعْطِهِ إيَّاهُ. فَإِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

801. Dari Abu Rafi’’ Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah meminjam unta muda dari seseorang. Kemudian beliau menerima unta zakat, lalu beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan hutang untanya kepada orang tersebut. Abu Rafi’ berkata, “Aku hanya menemukan unta berumur tujuh tahun (unta Ruba’i). Beliau bersabda, “Berikanlah kepadanya, karena sebaik-baik orang ialah yang paling baik dalam melunasi hutangnya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1600)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits tersebut terambil dalam bab Qardl (memberi pinjaman), banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan dan anjuran melakukannya.

“Dari Abu Rafi’ Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah meminjam unta muda dari seseorang (kata bakr artinya unta yang masih muda) kemudian beliau menerima unta zakat, lalu beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan hutang untanya kepada orang tersebut. Abu Rafi’ berkata, “Aku hanya menemukan unta berumur tujuh tahun -unta Ruba’i- (dalam lafazh Muslim disebutkan: Abu Rafi’ berkata, “Aku hanya menemukan unta berumur tujuh tahun. Kata ruba’i artinya unta yang berumur tujuh tahun dan sudah tumbuh gigi-gigi serinya) Beliau bersabda, “Berikanlah kepadanya, karena sebaik-baik orang ialah yang paling baik dalam melunasi hutangnya.”

Tafsir Hadits

Telah disebutkan sebelumnya perbedaan pendapat ulama tentang bolehnya meminjamkan hewan. Hadits ini menunjukkan bolehnya meminjamkan hewan, dan dianjurkan bagi orang yang mempunyai tanggungan hutang, baik berupa uang atau lainnya agar mengembalikannya dengan cara -dalam keadaan- yang terbaik dari apa yang telah dipinjamnya sebagai bentuk akhlak yang terpuji, baik dilihat dari sisi adat maupun syariat. Hal ini tidak termasuk dalam pengertian pinjaman yang menghasilkan manfaat, karena tidak menjadi syarat yang ditetapkan oleh pemberi pinjaman, tetapi hanya sedekah dari penerima pinjaman. Zhahir hadits bersifat umum dengan adanya penambahan bilangan dan sifat, sedangkan Imam Malik mengatakan, bahwa tambahan bilangan tidak halal.

0802

وَعَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا» رَوَاهُ الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ وَإِسْنَادُهُ سَاقِطٌ – وَلَهُ شَاهِدٌ ضَعِيفٌ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ عِنْدَ الْبَيْهَقِيّ وَآخَرُ مَوْقُوفٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ عِنْدَ الْبُخَارِيِّ

802. Dari Ali bin Abi Thalib ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap hutang yang mengambil manfaat adalah riba.” (HR. Al-Harits bin Abu Usamah dan sanadnya gugur.

[dhaif, Dhaif Al-Jami’ (4244)]

Menurut riwayat Al-Baihaqi hadits ini mempunyai hadits pendukung yang lemah dari Fadhalah bin Ubaid. Dan ada hadits lain yang diriwayatkan Al-Bukhari secara mauquf dari Abdullah bin Salam)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap hutang yang mengambil manfaat adalah riba.” HR. Al-Harits bin Abu Usamah dan sanadnya gugur (karena dalam sanadnya terdapat Siwar bin Mush’ab Al-Hamdani. Ia adalah seorang muadzin yang buta, sedangkan ia matruk [riwayat haditsnya ditinggalkan]) menurut riwayat Al-Baihaqi ada saksi lemah dari Fadlalah bin Ubaid (Al-Baihaqi dalam kitab Al-Ma’rifah mengeluarkan hadits dengan lafazh,

«كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوهِ الرِّبَا»

“Setiap pinjaman yang mengambil manfaat termasuk salah satu dari bentuk riba.”)

ada hadits lain yang diriwayatkan Al-Bukhari secara mauquf dari Abdullah bin Salam (aku tidak dapatkan hadits tersebut pada Al-Bukhari dalam bab Al-Istiqradh, dan penulis dalam kitab Al-Talkhish tidak menisbatkan kepada Al-Bukhari. Bahkan ia berkata, “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab As-Sunnan Al-Kubram dari Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Salam dan Ibnu Abbas secara mauquf. Seandainya terdapat pada Al-Bukhari, niscaya tidak dibiarkan saja penisbatan kepadanya di dalam kitab At-Talkhis tersebut).

Setelah dianggap shahih, hadits tersebut harus dipadukan dengan hadits sebelumnya yang menyebutkan; hadits ini mungkin mengandung makna bahwa manfaat itu ditetapkan [dijadikan syarat) oleh pemberi pinjaman atau dihukumi sama dengan hal yang disyaratkan. Adapun jika hal itu merupakan sedekah dari orang yang meminjam, maka masuk dalam pembahasan dianjurkannya mengembalikan pinjaman dengan yang lebih baik dari apa yang dipinjamnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *