[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 322

08. KITAB NIKAH – 08.03. BAB MAS KAWIN 01

Maskawin dalam istilah Arab disebut ash-shadaaq yang berasal dari kata ash-shidq, untuk menunjukkan ungkapan perasaan betapa kuatnya cinta [keinginan] sang suami terhadap istri. Kata ini mempunyai tujuh bahasa dan delapan nama yang terangkum dalam bait syair berikut:

صَدَاقٌ وَمَهْرٌ نِحْلَةً وَفَرِيضَةً … حِبَاءٌ وَأَجْرٌ ثُمَّ عُقْرُ عَلَائِقُ

Mahar [mas kawin] itu mempunyai delapan nama, yakni: shadaq, mahr, nihlah, faridhah, hiba’, ajr, ‘uqr, dan ‘alaiq.

Syariat sebelum kita, menerangkan bahwa maskawin diperuntukkan bagi para wali sebagaimana yang dikemukakan pengarang kitab Al-Musta’dzib ‘Ala Gharib Al-Muhazdzdab.”

0955

عَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «أَنَّهُ أَعْتَقَ صَفِيَّةَ وَجَعَلَ عِتْقَهَا صَدَاقَهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

955.Dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau memerdekakan Shafiyah dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mas kawinnya. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5086), Muslim (1365)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Shafiyah nama lengkapnya adalah Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyay bin Akhthab dari keturunan Harun bin Imran. Semula, ia adalah budak Ibnu Abi Al-Huqaiq yang terbunuh di perang Khaibar. Ia termasuk tawanan kaum muslimin. Untuk menjaga kesuciannya, Rasulullah memerdekakannya lalu menikahinya, dan menjadikan kemerdekaannya sebagai maskawinnya. Ia meninggal pada tahun 50 H. Ada juga yang mengatakan bukan pada tahun itu.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan sahnya menjadikan kemerdekaan seorang budak sebagai mahar dalam perkawinan. Dalam hal ini tidak terikat dengan bentuk lafazh tertentu, yang penting menunjukkan rnakna pembebasan budak, maka dianggap sah. Ulama fikih mempunyai berbagai contoh ungkapan yang menunjukkan arti yang dimaksud.

Al-Hadawiyah, Ahmad, Ishaq dan lainnya menganggap sah kemerdekaan budak dijadikan sebagai mahar dalam perkawinan berdasarkan hadits ini. Dan mayoritas ulama menganggap tidak sah kemerdekaan budak sebagai mahar, dengan menjawab hadits ini, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerdekakannya dengan syarat dia berhak menikahi, lalu Nabi menikahinya dengan uang tebusan kemerdekaannya itu, dan ini sudah maklum bahwa Nabi menikahinya dengan uang tebusan tersebut.

Akan tetapi, takwil ini dibantah dengan hadits yang diriwayatkan Muslim, “Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahinya dengan menjadikan kemerdekaan sebagai maharnya.” Abdul Aziz salah satu perawi hadits ini berkata, “Tsabit berkata kepada Anas -setelah meriwayatkan hadits ini-, “Apa maharnya? Ia menjawab, “Kemerdekaan dirinya.” Dan ini jelas-jelas menerangkan kemerdekaannya sebagai maskawinnya.

Sedangkan yang berpendapat, bahwa hal itu berdasarkan apa yang dipahami Anas, dan bisa saja salah, jawaban atas hal itu adalah, Anas lebih tahu dan paham dengan lafazh yang diucapkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang jelas-jelas Nabi menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar dan Anas adalah periwayat semua perbuatan Nabi. Dengan baik sangka atas ketsiqahan Anas dalam meriwayatkan semua perbuatan Nabi mewajibkan untuk menerima semua riwayatnya sebagaimana riwayat Anas yang berkaitan dengan perkataan Nabi.

Bila tidak, semua riwayat yang berkaitan dengan perkataan dan perbuatan Nabi tidak diterima karena mayoritas shahabat tidak meriwayatkannya sama dengan lafazh dari Nabi melainkan diriwayatkan dengan makna yang mereka pahami. Dan riwayat dengan makna berdasarkan pemahaman, dan perkataan, bahwa hadits tidak dimarfu’kan (sampai kepada Nabi) tapi berdasarkan perkiraannya saja, hal itu sangat bertentangan dengan zhahir lafazhnya, karena Anas berkata, “Dan dia menjadikan -maksudnya adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam-kemerdekaannya sebagai maharnya.”

Ath-Thabrani dan Abu Syaikh meriwayatkan dari hadits Shafiyah berkata,

«أَعْتَقَنِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَجَعَلَ عِتْقِي صَدَاقِي»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerdekakanku dan menjadikan kemerdekaanku sebagai mahar.” [dha’if, Al-Irwa’ (1857)]

Ini sudah jelas, seperti yang diriwayatkan Anas, dan Anas tidak mengatakan itu berdasarkan perkiraan seperti yang dikatakan. Tapi jumhur ulama menyelisihi hadits ini dan mentakwilkannya dengan berkata, “Karena hadits ini bertentangan dengan qiyas dari dua sisi:

Pertama; Pelaksanaan akad pernikahan itu hanya ada dua kemungkinan: sebelum dimerdekakan dan itu mustahil, atau setelah dimerdekakan tapi ini tidak lazim baginya.

Kedua; Kalau kita jadikan kemerdekaan sebagai maharnya, itu pun dengan dua kemungkinan: adanya ketetapan kemerdekaannya ketika dia masih menjadi budak dan ini mustahil, atau ketika dia merdeka; bila demikian, maka kemerdekaannya diberikan sebelum akad nikah, jika kemerdekaan diberikan sebelum terlaksana akad nikah itu mustahil juga; karena mahar harus didahulukan sebelum pernikahan, baik dengan secara tertulis atau secara hukumnya sehingga pihak istri bisa memiliki [permintaan]nya, dan hal ini tidak bisa terlaksana bila memerdekakan itu sebagai mahar.

Jawaban pendahuluan terhadap bantahan Jumhur: kita tidak mempedulikan berbagai penafsiran berkaitan dengan waktu-waktu yang disebutkan setelah kita tetapkan kebenaran cerita berdasarkan teks hadits. Yang kedua, setelah menerima semua yang mereka katakan, maka kami memberikan jawaban dari perkataan yang pertama: bahwa akad itu dilangsungkan setelah dimerdekakan, dan jika pihak wanita tidak mau melangsung akad nikah; maka dia harus membayar harga kemerdekaannya dan hal itu tidak apa-apa.

Jawaban dari pernyataan kedua: bahwa kemerdekaan itu adalah akad atas manfaat yang disahkan dengan cara barter, dan bila demikian tentunya akad nikah itu sah, seperti (manfaat): diam di rumah, melayani suami dan lain-lainnya. Sedangkan pernyataan yang mengatakan: sungguh besar pahala orang yang memerdekakan budak, tapi hal itu bukan berarti tidak boleh dijadikan sebagai mahar, dan mungkin seharusnya menjadikan selain itu sebagai mahar.

Jawaban atas pernyataan di atas, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan hal-hal utama untuk menerangkan hukum syari’at Islam, maka ganjaran pahalanya lebih banyak daripada amalan yang paling utama. Jadi, perbuatan itu di sisi Nabi adalah perbuatan yang paling utama. Sedangkan menjadikan hadits Aisyah yang menceritakan Juwairiyah sebagai penguat terhadap hadits Shafiyah yang berarti, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Juwairiyah yang meminta bantuan kepada Nabi untuk melunasi perjanjian kemerdekaannya dengan tuannya dengan membayar harta, “Apakah kamu ingin saya melunasi perjanjian tersebut lalu saya menikahimu? Dia menjawab, “Saya sudah melunasinya, wahai Rasulullah.” (HR. Abu Dawud) sudah maklum dalam hadits itu tidak ada ungkapan yang jelas-jelas ingin menjadikannya sebagai mahar atau lainnya, dan hal itu juga tidak termasuk dalam pembahasan kita.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *