[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 253

07. KITAB JUAL BELI – 07.05. BAB SALAM, PINJAMAN DAN GADAI 04

0797

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ تَعَالَى» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

797. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengambil harta orang lain dengan maksud untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya untuk dapat mengembalikannya; dan barangsiapa yang mengambilnya dengan maksud untuk menghabiskannya, maka Allah akan merusaknya.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2387)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengambil harta orang lain dengan maksud untuk mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya untuk dapat mengembalikannya; dan barangsiapa mengambilnya dengan maksud untuk menghabiskannya, maka Allah akan merusaknya.” HR. Al-Bukhari (teks hadits dengan menggunakan kata ‘mengambil harta orang lain’ mencakup makna mengambilnya dengan cara hutang dan mengambilnya untuk menjaganya. Maksud kata ‘menunaikan’ yaitu melunasinya di dunia, sedangkan makna ‘Allah mengembalikannya’ yakni memberikan kemudahan yang diberikan kepadanya untuk melunasi hutang di dunia dengan cara membawakan bayaran hutangnya ke pemberi hutang. Dan Allah mengembalikannya di akhirat dengan cara memberinya ridha kepada pemberi hutang dengan hal yang kehendaki-Nya. Dalam hadits marfu’ yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim disebutkan,

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُدَانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»

“Tidaklah seorang muslim berhutang -kepada orang lain-, dan Allah mengetahui bahwa ia berniat untuk melunasinya, melainkan Allah akan melunasi hutangnya di dunia dan akhirat.” [Shahih: Ibni Majah (2438), Albani mengatakan, “Shahih tanpa kata “di dunia”.”]

Sabda beliau, “dengan maksud menghabiskannya” yakni, seseorang yang mengambil harta orang lain dengan cara berhutang bukan karena kebutuhan dan bukan pula untuk berdagang, tetapi hanya ingin merusak [menghabiskan] harta yang dipinjam dari pemiliknya dengan niatan tidak akan melunasinya.

Sabda beliau, “maka Allah akan merusaknya” yakni, merusak jiwa seseorang di dunia dengan cara mematikannya. Bisa juga membinasakan kehidupan yang baik darinya, mempersempit urusannya, mempersulit keinginannya dan menghilangkan keberkahannya. Dan mungkin sekali diartikan sebagai bentuk kebinasaan di akhirat dengan cara mengadzabnya.

Ibnu Baththal mengatakan bahwa hadits ini menganjurkan agar tidak memakan harta orang lain, serta anjuran bersikap baik melunasi hutang. Sesungguhnya setiap balasan amal itu sesuai dengan perbuatannya.

Dari kesimpulan tersebut, Ad-Dawadi mengatakan bahwa siapa yang berhutang, maka dia tidak boleh bersedekah dan memerdekakan budak, walaupun perkataan tersebut sangatlah jauh dari kebenaran.

Tafsir Hadits

Dalam hadits juga terdapat motivasi untuk memperbagus niat dan menghindari hal yang sebaliknya, serta menjelaskan bahwa inti perbuatan berada pada hal tersebut. Siapa yang berhutang dengan niat untuk melunasinya niscaya Allah membantu melunasinya.

Dahulu Abdullah bin Ja’far hendak berhutang kemudian ditanya tentang hal tersebut kemudian dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ»

“Sesungguhnya Allah bersama orang yang berhutang hingga dia melunasinya.” HR. Ibnu Majah, dan sanadnya bagus, tetapi salah satu perawi -Muhammad bin Ali- masih diperselisihkan. [Shahih Ibni Majah (2439)]

Sedangkan Al-Hakim meriwayatkannya dari hadits Aisyah dengan lafazh,

«مَا مِنْ عَبْدٍ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ فِي وَفَاءِ دَيْنِهِ إلَّا كَانَ لَهُ مِنْ اللَّهِ عَوْنٌ»

“Tidaklah seorang hamba mempunyai niat untuk melunasi hutangnya, melainkan dia akan mendapatkan pertolongan dari Allah.” Kemudian Aisyah berkata, “Aku mengharapkan pertolongan itu.” [Al-Hakim (2/26, 27)]

Bila Anda mengatakan bahwa semua dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali hutang. Dan hadits Nabi,

«الْآنَ بَرَدَتْ جِلْدَتُهُ»

“Sekarang kulitnya telah dingin.” [hasan, Lihat Ahkamu Janaiz hal. 16]

Ditujukan kepada seseorang yang melunasi hutang orang yang meninggal dunia dalam keadaan masih mempunyai tanggungan hutang.

Saya katakan, “Dimungkinkan hutang seorang syahid tidak diampuni dan masih tetap ada sampai Allah melunasinya pada hari kiamat. Hal tersebut tidak mengharuskannya -orang yang mati syahid- disiksa di dalam kuburannya.

Makna sabda beliau, “kulitnya telah dingin” yakni engkau membebaskan dirinya dari hutang yang ditanggungnya. Dan dimungkinkan hal tersebut bagi orang yang berhutang tanpa ada niat untuk melunasinya.

0798

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ فُلَانًا قَدِمَ لَهُ بِزٌّ مِنْ الشَّامِ، فَلَوْ بَعَثْتَ إلَيْهِ، فَأَخَذْت مِنْهُ ثَوْبَيْنِ نَسِيئَةً إلَى مَيْسَرَةٍ؟ فَبَعَثَ إلَيْهِ. فَامْتَنَعَ» أَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

798. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah datang kepada si fulan bahan pakaian [baju] dari Syam. Seandainya Engkau mengutus seseorang kepadanya, Engkau dapat mengambil dua buah pakaian dengan pembayaran nanti pada saat lapang.” Lalu beliau mengutus seseorang kepadanya, namun pemiliknya menolak. (Dikeluarkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya)

[Al-Hakim (2/28) dan Al-Baihaqi (6/25)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan diperbolehkannya jual beli dengan cara nasi’ah [menunda pembayaran] dan menunda pembayaran hingga dalam keadaan lapang -untuk membayarnya-. Dan juga suri tauladan Rasulullah dalam bermuamalah dengan masyarakat, beliau tidak memaksakan kehendak dan tidak memelas kepada mereka.

0799

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إذَا كَانَ مَرْهُونًا، وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إذَا كَانَ مَرْهُونًا، وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

799. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Punggung hewan yang digadaikan boleh dinaiki dengan membayar dan susu hewan yang digadaikan boleh diminum dengan membayar. Bagi orang yang menaiki dan meminumnya wajib membayar.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2512) dengan lafadz “arrahnu yurkab (barang gadaian dinaiki)….]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Secara bahasa kata ar-rahn berarti menahan, sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala,

{كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ}

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.” [QS. Al-Mudatstsir ayat 38.]

Sedangkan menurut istilah, ar-rahn berarti menjadikan suatu harta sebagai penguat hutang. Dan selanjutnya, kata tersebut dijadikan sebagai sebutan atas barang yang digadaikan.

Dalam hadits di atas, yang dimaksud dengan pelaku yang menaiki dan meminumnya adalah penerima gadai, berdasarkan adanya kewajiban untuk mengganti sebagai imbalan karena ia telah menaikinya, walaupun hal tersebut mungkin juga dilakukan oleh orang yang menggadaikan. Hanya saja, hal tersebut jauh dari kebenaran, karena nafkah barang gadaian menjadi tanggungannya dan menjadi bagian dari miliknya. Dan dalam hadits disebutkan bahwa nafkah tersebut menjadi tanggungan orang yang menaiki dan meminum walaupun dia bukan pemilik sebenarnya, karena bagaimanapun juga nafkah menjadi tanggungan bagi pemiliknya.

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penerima gadai berhak memanfaatkan barang gadai sebagai ganti nafkah yang dikeluarkan olehnya. Dalam hal ini terdapat tiga pendapat:

Pertama, Imam Ahmad dan Ishaq berpendapat dengan mengamalkan zhahir hadits ini. Mereka hanya mengkhususkan pada dua hal yaitu menaiki dan meminum air susunya. Menurut mereka, keduanya dimanfaatkan sesuai kadar nafkah yang dikeluarkan. Adapun hal yang lain tidak dapat diqiyaskan dengan keduanya.

Kedua, Pendapat jumhur ulama. Mereka mengatakan bahwa penerima gadai tidak boleh sedikit pun memanfaatkannya. Menurut mereka, hadits tersebut bertentangan dengan qiyas jika ditinjau dari dua sisi:

· Bolehnya menaiki hewan tunggangan dan meminum susu bagi selain pemiliknya -yakni penerima gadai- tanpa seizin pemiliknya.

· Hal tersebut dicakup dalam bentuk nafkah bukan dengan harga.

Ibnu Abdil Bar mengatakan bahwa hadits ini menurut jumhur ulama dikembalikan kepada kaidah-kaidah dasar yang telah disepakati dan dalil-dalil syar’i yang ada, serta tidak diperselisihkan keabsahannya.

Hal yang menunjukkan bahwa hadits tersebut terhapus adalah hadits Ibnu Umar yang mengatakan,

«لَا تُحْلَبُ مَاشِيَةُ امْرِئٍ بِغَيْرِ إذْنِهِ»

“Tidak boleh hewan ternak seseorang diperah tanpa izin darinya.” Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam bab Al-Mazhalim. [shahih, Al-Bukhari (2435) dan Muslim (1726)]

Saya katakan bahwa dalam penghapusan hukum (naskh) harus diketahui rentetan waktu diturunkannya hukum tersebut, kecuali bila tidak mungkin untuk dikompromikan (jam’). Di sini tidak ada halangan, karena keumuman larangan dikhususkan bagi benda yang digadaikan. Adapun yang menyelisihi qiyas, bukan merupakan keumumam hukum syariat yang mempunyai satu bentuk terlebih lagi pada dalil-dalil yang membedakan dari sisi hukumnya. Sedangkan syariat di sini memutuskan bahwa mengendarai hewan gadaian dan meminum air susunya sebagai bentuk harga pembayaran atas nafkah yang telah dikeluarkan. Hukum syar’i memutuskan bahwa hakim bisa menjual barang milik orang yang bangkrut tanpa izin darinya dan menjadikan satu sha’ kurma sebagai pengganti pembayaran air susu dan lainnya.

Imam Asy-Syafi’i berkata, “[Dalam hal ini] yang dimaksud adalah pemberi barang gadaian tidak dihalangi untuk mengendarai dan memerah susunya, sehingga pelaku di sini adalah orang yang menggadaikannya. Pernyataan tersebut diiringi dengan lafazh hadits, “al-murtahin” [penerima gadai] sehingga jelaslah siapa pelakunya [yang mengendarai dan memerah susu].

Ketiga, Pendapat Al-Auza’i dan Al-Laits yang mengatakan bahwa maksud hadits di atas adalah apabila orang yang menggadaikan barang enggan memberi nafkah kepada barang yang digadaikan. Sehingga dibolehkan bagi penerima gadai untuk memberi nafkah bagi hewan tersebut demi menjaga kelangsungan hidupnya. Sebagai ganti nafkah yang telah dikeluarkan, maka dibolehkan baginya memanfaatkannya, baik untuk dikendarai maupun diminum susunya dengan syarat tidak melebihi kadar atau jumlah dari nafkah yang telah ia keluarkan untuk ternak tersebut.

Pendapat ini dikuatkan dalam kitab As-Syarh. Pendapat ini juga mentaqyid [membatasi] dengan sesuatu yang tidak pernah ditaqyid dalam hukum syariat. Justru yang dibenarkan adalah mentaqyid dengan petunjuk yang kuat dan bermanfaat dari berbagai dalil, bahwa setiap benda milik orang lain yang berada di tangannya dalam sudut pandang syariat patut untuk diberi nafkah dengan niatan akan dikembalikan kepada pemiliknya. Sedangkan ia berhak menyewakannya dan memerah susunya sesuai kadar atau harga makanan ternak tersebut yang telah ia keluarkan.

Kecuali, apabila di suatu negeri terdapat seorang hakim yang tidak mengizinkan, maka tidak boleh meminta ganti atas apa yang telah dinafkahkan, dan diharuskan mengganti atas manfaat dan air susu yang telah diterimanya. Bila dalam suatu negeri tidak ada seorang hakim, atau hewan tersebut tersiksa saat merujuk kepada hakim, maka dia berhak memberi nafkah dan meminta ganti rugi atas nafkah yang telah diberikannya. Hanya saja dikatakan, bahwa hal tersebut merupakan kaedah umum sehingga dikhususkan dengan hadits dalam bab ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *