[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 321

08. KITAB NIKAH – 08.02. BAB BERGAUL DENGAN ISTRI 07

0953

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: «كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ، وَلَوْ كَانَ شَيْئًا يَنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ الْقُرْآنُ» وَلِمُسْلِمٍ: «فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَلَمْ يَنْهَنَا عَنْهُ»

953.Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Kami melakukan ‘azl pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Al-Qur’an masih diturunkan. Jika ia [azl] merupakan sesuatu yang dilarang, niscaya Al-Qur’an melarangnya pada kami.” (Muttafaq Alaih. Menurut riwayat Muslim: hal itu sampai kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak melarangnya pada kami)

[shahih, Al-Bukhari (5208), Muslim (1440)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Kami melakukan ‘azl pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Al-Qur’an masih diturunkan. Jika ia [azl] merupakan sesuatu yang dilarang, niscaya Al-Qur’an melarangnya pada kami (hanya saja pernyataan, “Jika ia merupakan sesuatu yang dilarang, niscaya Al-Qur’an melarangnya pada kami” tidak terdapat dalam riwayat Al-Bukhari, melainkan riwayat Muslim dari perkataan Sufyan, dan salah satu perawinya dan zhahirnya itu adalah istinbath dari Imam Muslim. Pengarang menerangkan dalam kitab Al-Fath, “Saya teliti semua sanad perawinya, dan saya temukan kebanyakan perawi meriwayatkan dari Sufyan dan tidak menyebutkan tambahan tersebut”)

Pengarang kitab Al-Umdah berbuat sama dengan pengarang kitab ini dengan menjadikan tambahan itu bagian dari hadits, hal ini dijelaskan Ibnu Daqiq Al-‘Id menjelaskan, dan ia merasa aneh dengan kesimpulan hukum berdasarkan hadits Jabir bahwa Allah membolehkan itu kepada mereka. Menurut Muslim dari Jabir, “Hal itu sampai kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak melarangnya pada kami”, menunjukkan ketetapan hukum yang membolehkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ada yang mengatakan, maksud Jabir dengan Al-Qur’an itu adalah apa yang dibacakan lebih luas dari sekadar pengertian Al-Qur’an (saat itu) membacanya termasuk amalan ibadah atau yang diwahyukan kepada Nabi, seakan-akan dia mengatakan, “Kami melakukan hal itu pada zaman penetapan syari’at, jikalau diharamkan tentu kami tidak menetapkan hal itu.

Ada yang berpendapat, dengan demikian hilanglah kejanggalan yang dirasakan Ibnu Daqiq Al-‘Id hanya saja dia mensyaratkan bahwa perbuatan mereka itu diketahui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hadits ini adalah dalil yang membolehkan azl dan tidak akan berubah hukumnya dengan larangan tanzih (menyucikan diri) sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits larangan.

0954

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ بِغُسْلٍ وَاحِدٍ» أَخْرَجَاهُ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

954. Dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggilir istri-istrinya dengan sekali mandi.” (HR. Al-Bukhari-Muslim dan lafazh riwayat menurut Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (284), Muslim (309)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggilir istri-istrinya dengan sekali mandi. HR. Al-Bukhari-Muslim dan lafazh riwayat menurut Muslim (ini sudah dijelaskan dalam bab mandi, Hadits ini dijadikan dalil bahwa Nabi tidak diwajibkan membagi giliran terhadap para istrinya. Ibnu Al-Arabi berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai waktu di siang hari yang tidak wajib untuk membagi gilirannya, yaitu setelah shalat Ashar, apabila saat itu dia sibuk; maka diganti dengan setelah shalat Maghrib. Dan sepertinya dia berdasarkan pada hadits Aisyah Radhiyallahu Anha yang diriwayatkan Al-Bukhari,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ الْعَصْرِ دَخَلَ عَلَى نِسَائِهِ فَيَدْنُو مِنْ إحْدَاهُنَّ»

“Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selesai shalat Ashar, beliau berkeliling menemui ke istri-istrinya, kemudian menghampiri mereka.” [shahih, Al-Bukhari (5216)]

Perkataan Aisyah, “menghampiri” mungkin diartikan dengan berhubungan suami-istri, namun penafsiran itu dibantah berdasarkan beberapa riwayat yang menyatakan tidak terjadi hubungan suami-istri, dan ini tidak tepat untuk dijadikan Ibnu Al-Arabi sebagai dasar hukumnya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari hadits Anas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ، وَلَهُ يَوْمَئِذٍ تِسْعُ نِسْوَةٍ»

“Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggilir istri-istrinya dalam semalam, dan beliau mempunyai sembilan istri.” [shahih, Al-Bukhari (284)]

Dan tidak tepat untuk mengartikan “malam” dalam hadits setelah shalat Maghrib sebagaimana salah satu pendapat; karena waktunya tidak luas [sempit], untuk berhubungan suami-istri karena berdekatan dengan waktu shalat Isya’, sebagaimana salah satu pendapat. Namun, pendapat ini juga dibantah, bahwa itu hanya alasan-alasan yang tidak memungkin, sebab secara zhahir waktunya cukup, bukankah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kadang-kadang mengakhirkan waktu shalat Isya’, dan juga beliau diberikan kekuatan yang tidak diberikan kepada siapa pun.

Hadits ini menunjukkan tidak wajib bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk membagi giliran terhadap para istrinya, berdasarkan zhahir firman Allah Ta’ala,

{تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ}

“Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki…” (QS. Al-Ahzab: 51), dan inilah yang menjadi pendapat jama’ah ahli ilmu. Jumhur ulama berpendapat: wajib atas Nabi membagi gilirannya terhadap para istri dan mentakwil hadits tersebut, bahwa Nabi melakukan hal itu dengan kerelaan istri yang mendapatkan gilirannya, dan mungkin juga Nabi melakukan hal itu setelah selesai membagi gilirannya lalu memulai dari awal pembagiannya, dan mungkin juga bahwa Nabi melakukan hal itu sebelum diwajibkan pembagian giliran.

Perkataannya, “Pada saat itu istri Nabi ada sembilan”, dan dalam riwayat Al-Bukhari, “Ada sebelas orang.” lalu kedua riwayat tersebut dikompromikan dengan menafsirkan perkataan orang yang mengatakan sembilan, dengan melihat istri yang ada, dan Nabi tidak beristri lebih dari sembilan, ketika wafat beliau meninggalkan sembilan orang istri sebagaimana perkataan Anas Radhiyallahu Anhu, diriwayatkan Adh-Dhiya’ dari Anas dalam kitab Al-Mukhtarah. Dan bagi yang mengatakan sebelas orang berarti dia memasukkan Mariah Al-Qibtiyyah dan Raihanah ke kelompok istri Nabi, yang kadang-kadang dimutlakkan dengan menyebutkan keduanya adalah istri Nabi.

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi adalah laki-laki yang sempurna karena memiliki tenaga yang begitu kuat. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi mempunyai kekuatan sebanding 30 laki-laki. Dalam riwayat Al-Isma’ili: kekuatan Nabi sebanding dengan 40 orang laki-laki. Dan riwayat yang sama dari Abu Nua’im dalam kitab Shifah Al-]annah, dan ditambahkan: “Di antara laki-laki penghuni surga”, diriwayatkan Ahmad, An-Nasa’i dan dishahihkan Al-Hakim dari hadits Zaid bin Arqam,

«أَنَّ الرَّجُلَ فِي الْجَنَّةِ لَيُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ فِي الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَالشَّهْوَةِ»

“Sesungguhnya laki-laki di surga diberikan kekuatan makan, minum, dan hubungan suami-istri dan syahwat sebanding dengan 100 kekuatan laki-laki.” [shahih, Shahih Al-Jami’ (1627)]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *