[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 252

07. KITAB JUAL BELI – 07.05. BAB SALAM, PINJAMAN DAN GADAI 03

0795

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «قَدِمَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمَدِينَةَ، وَهُمْ يُسْلِفُونِ فِي الثِّمَارِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ، فَقَالَ: مَنْ أَسْلَفَ فِي ثَمَرٍ فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ، وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ، إلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِلْبُخَارِيِّ ” مَنْ أَسْلَفَ فِي شَيْءٍ ”

795. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan penduduknya biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun. Lalu beliau bersabda, “Barangsiapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya dalam takaran, timbangan, dan masa tertentu.” (Muttafaq Alaih).

[shahih, Al-Bukhari (2239) dan Muslim (1604)]

Menurut riwayat Al-Bukhari dengan lafazh: “Barangsiapa meminjamkan sesuatu.”

[shahih, Al-Bukhari (2240)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan penduduknya biasa meminjamkan buahnya untuk masa setahun dan dua tahun (sampai setahun dan dua tahun). Lalu beliau bersabda, “Barangsiapa meminjamkan buah maka hendaknya ia meminjamkannya dalam takaran (bila termasuk barang yang ditakar) timbangan (bila termasuk barang yang ditimbang) dan masa tertentu. Muttafaq Alaih. Menurut riwayat Al~Bukhari dengan lafazh: “Barangsiapa meminjamkan sesuatu.”

Tafsir Hadits

Kata ‘salaf sama dengan ‘salam’, baik secara wazan [timbangan kata] maupun makna, yakni pesanan. Disebutkan bahwa kata salam merupakan bahasa penduduk Iraq, sedangkan kata salaf merupakan bahasa penduduk Hijaz. Adapun menurut istilah, kata salam adalah transaksi jual beli dengan cara menyebutkan sifat barang yang dipertanggungkan dengan penyerahan barang yang ditunda, sedangkan pembayaran dilakukan pada saat transaksi. Salam diperbolehkan dalam Islam, kecuali pendapat Ibnul Musayyib -yang menyatakan tidak boleh-. Ulama sepakat perihal syarat yang harus ada dalam transaksi salam ini sebagaimana syarat dalam jual beli lainnya dengan menyerahkan modal pokok saat terjadinya akad. Hanya saja Imam Malik membolehkan pembayarannya ditunda sehari atau dua hari, dan barang yang dijualbelikan dengan cara seperti ini harus dapat ditentukan dengan salah satu ukuran [takaran atau ukuran], sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Bila barang tersebut tidak termasuk barang yang dapat ditakar atau ditimbang, maka penulis dalam kitab Fath Al-Bari mengatakan bahwa barang tersebut termasuk jenis barang yang dapat diketahui jumlahnya. Hal tersebut diriwayatkan dari Ibnu Baththal, dan ia menganggap sebagai bagian dari ijma’ ulama.

Penulis juga mengatakan, “Atau diukur dengan dzira’ (hasta)”, karena -ukuran- dengan kadar jumlah dan dzira’ berkesesuaian dalam timbangan dan takaran, yakni yang jelas dapat menghilangkan ketidakjelasan pada kadar atau ukuran barang. Mereka juga sepakat pada penentuan syarat kejelasan takaran pada barang yang dapat ditakar, seperti sha’ bagi penduduk Hijaz, Qafiz bagi pendudukan Irak, dan Irdab bagi penduduk Mesir. Bila bentuk takaran disebutkan secara mutlak, maka pengertiannya beralih kepada bentuk umum akad salam. Mereka juga sepakat harus diketahui sifat barang yang dipesan, sehingga dapat membedakan antara barang tersebut dengan barang yang lain. Hal tersebut tidak menyelisihi hadits di atas sebab mereka berusaha mengamalkannya.

Zhahir hadits menunjukkan bahwa penundaan pembayaran sebagai syarat sah jual beli dengan salam, bila dibayar secara kontan atau untuk tempo yang tidak dimengerti maka tidak sah. Inilah pendapat yang dipegang oleh Ibnu Abbas dan sekolompok ulama salaf, sedangkan pendapat yang lainnya meniadakan penentuan syarat tersebut dan dibolehkan salam secara kontan.

Jadi, dalam hadits ini dapat diketahui bahwa pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam transaksi salam tidak terjadi kecuali dengan pembayaran yang ditunda, sedangkan pembayaran secara kontan disamakan dengan pembayaran secara tunda, dan ini merupakan hasil qiyas yang bertentangan dengan qiyas itu sendiri. Karena salam menyelisihi qiyas itu sendiri, sebab salam merupakan jual beli yang tidak ada barangnya dan sebagai akad gharar (tidak jelas). Diperdebatkan juga oleh ulama perihal pensyaralan tempat dilakukannya serah terima. Sebagian ulama mengharuskan hal tersebut dengan mengqiyaskannya dengan takaran, timbangan dan pembayaran yang ditunda. Sedangkan ulama yang Lainnya tidak mengharuskan penentuan syarat seperti itu. Adapun kalangan Al-Hanafiyah cenderung untuk membahasnya dengan lebih rinci; bila membawanya membutuhkan beban biaya maka perlu disyaratkan saat transaksi. Akan tetapi, bila tidak ada biaya, maka tidak perlu disyaratkan. Menurut kalangan Asy-Syafi’iyah, bila akad di tempat yang tidak layak untuk diadakan serah terima seperti di jalan maka harus disyaratkan, bila tidak maka ada dua pendapat. Semua rincian ini bersandarkan pada ‘urf (adat kebiasaan) saja.

0796

«وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَا: كُنَّا نُصِيبُ الْمَغَانِمَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَكَانَ يَأْتِينَا أَنْبَاطٌ مِنْ أَنْبَاطِ الشَّامِ فَنُسْلِفُهُمْ فِي الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالزَّبِيبِ» – وَفِي رِوَايَةٍ: «وَالزَّيْتِ – إلَى أَجَلٍ مُسَمًّى. قِيلَ: أَكَانَ لَهُمْ زَرْعٌ؟ قَالَا: مَا كُنَّا نَسْأَلُهُمْ ذَلِكَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

796. Dari Abdullah bin Abi Aufa dan Abdurrahman bin Abza, keduanya berkata, “Kami menerima harta rampasan perang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan datanglah beberapa petani dari Syam, lalu kami melakukan jual beli secara ‘salaf kepada mereka untuk pembelian gandum, sya’ir, dan anggur kering -dalam suatu riwayat: dan minyak- dalam tempo waktu tertentu. Dikatakan kepada keduanya, “Apakah mereka mempunyai tanaman? Kedua perawi itu menjawab, “Kami tidak menanyakan hal itu kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2254, 2255)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdurrahman bin Abza nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Abza Al-Khaza’i. Ia tinggal di Kufah. Ali bin Abi Thalib mengangkatnya sebagai wali di Khurasan. Ia pernah bertemu dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan shalat di belakang beliau.

Penjelasan Kalimat

“Kami menerima harta rampasan perang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan datanglah beberapa petani dari Syam (mereka adalah keturunan bangsa Arab yang mengadakan akulturasi dengan orang-orang asing [a’jam] dan Romawi, sehingga kefasihan bahasa mereka menjadi rusak. Mereka dinamakan dengan an’baath karena kemahiran mereka dalam pencarian [penggalian] air) lalu kami melakukan jual beli secara ‘salaf kepada mereka untuk pembelian gandum, sya’ir, dan anggur kering -dalam suatu riwayat: dan minyak- dalam tempo waktu tertentu. Dikatakan kepada keduanya, “Apakah mereka mempunyai tanaman? Kedua perawi itu menjawab, “Kami tidak menanyakan hal itu kepada mereka.”

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan sahnya jual beli secara ‘salaf atas barang yang tidak ada saat transaksi dilakukan. Sebab, bila disyaratkan saat berjual beli dengan cara ‘salaf ini harus ada barangnya yang dipesan, niscaya mereka akan meminta keterangannya secara terperinci. Dan keduanya berkata, “Kami tidak menanyakan kepada mereka.” Sedangkan tidak bertanya secara rinci pada hal [perkara] yang memungkinkan -adanya penafsiran- maka dapat menjadikannya berada dalam posisi yang umum. Itulah pendapat Al-Hadawiyah, Imam Asy-Syafi’i dan Malik. Mereka juga mensyaratkan kemungkinan adanya barang pesanan saat jatuh tempo. Jika terjadi keterputusan sebelum jatuh tempo penyerahan, maka tidak ada masalah. Sebagaimana yang Anda ketahui dengan ditinggalkannya pertanyaan yang lebih rinci. Begitulah yang dinyatakan dalam kitab As-Syarh.

Saya katakan, “Ini merupakan bentuk pengambilan daiil dengan melakukan perilaku seorang sahabat Nabi atau meninggalkannya.” Tidak didapati sebuah dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui hal tersebut kemudian menetapkannya.

Dan lebih bagus menggunakan istidlal [pengambilan dalil] bahwa beliau menetapkan bagi penduduk Madinah untuk melakukan jual beli secara ‘salam’ dalam tempo setahun atau dua tahun, sedangkan rathb [kurma basah] tidak ada [tidak musim]. Hal ini bertentangan dengan hadits Umar dari Abu Dawud berikut,

«وَلَا تُسْلِفُوا فِي النَّخْلِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ»

“Janganlah kalian melakukan jual beli dengan cara ‘salaf pada pohon kurma sehingga layak (masak) buahnya. ‘, [Dhaif: Abi Dawud (3467)]

Bila hal itu benar, maka hal tersebut dikhususkan dengan penetapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap penduduk Madinah saat melakukan salam untuk tempo setahun atau dua tahun. Dan beliau memerintahkan mereka agar tidak melakukan salaf hingga pohon kurma tampak layak [masak] buahnya. Pendapat ini diperkuat oleh An-Nashir dan Abu Hanifah yang mensyaratkan adanya barang yang dipesan sejak dilakukan transaksi sampai dengan waktu serah terima (jatuh tempo).

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *