[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 320

08. KITAB NIKAH – 08.02. BAB BERGAUL DENGAN ISTRI 06

0951

وَعَنْ جُذَامَةَ بِنْتِ وَهْبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَتْ: «حَضَرْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي أُنَاسٍ، وَهُوَ يَقُولُ: لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنْ الْغِيلَةِ فَنَظَرْت فِي الرُّومِ وَفَارِسَ، فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ فَلَا يَضُرُّ ذَلِكَ أَوْلَادَهُمْ شَيْئًا ثُمَّ سَأَلُوهُ عَنْ الْعَزْلِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

951. Dari Judamah binti Wahb Radhiyallahu Anha berkata, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di tengah orang banyak, beliau bersabda, “Aku benar-benar ingin melarang ghilah (menyetubuhi istri pada waktu ia menyusui) tapi aku melihat di Romawi dan Persia orang-orang melakukan ghilah dan hal itu tidak membahayakan anak mereka sama sekali.” Kemudian mereka bertanya kepada beliau tentang ‘Azl (menumpahkan sperma di luar kemaluan), maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “[Azl] itu adalah pembunuhan yang terselubung.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1442)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Judamah binti Wahb (saudari Ukasyah bin Muhshan dari satu ibu, berhijrah bersama kaumnya, sebelumnya dia ikut dengan Unais Ibnu Qatadah) berkata, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di tengah orang banyak, beliau bersabda, “Aku benar-benar ingin melarang ghilah [menyetubuhi istri pada waktu ia menyusui] tapi aku melihat di Romawi dan Persia orang-orang melakukan ghilah dan hal itu tidak membahayakan anak mereka sama sekali”. Kemudian mereka bertanya kepada beliau tentang ‘Azl [menumpahkan sperma di luar rahim], maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “[Azl] itu adalah pembunuhan yang terselubung.”

Tafsir Hadits

Hadits ini mencakup dua masalah yang paling penting:

Pertama: Ghilah.

Ghilah adalah menggauli istri pada masa menyusui sebagaimana yang dikatakan Malik, Al-Ashma’i dan lainnya. Diartikan juga, wanita menyusui tapi dia hamil. Para dokter mengatakan, “Sesungguhnya hal itu adalah penyakit. Orang Arab membenci dan menghindari untuk menggauli istri pada masa tersebut, akan tetapi Nabi membantah semua anggapan tersebut, dan menerangkan bahwa hal itu tidak membahayakan sebagaimana anggapan orang Arab dan para dokter, dengan hujjah bahwa orang Persia dan Romawi melakukan hal tersebut dan tidak memberikan dampak apa pun terhadap anak-anak, dan sabda Nabi, “Mereka melakukan ghilah.”

Kedua: Azl

Azl adalah seorang laki-laki [suami] mencabut dzakarnya dari kemaluan istrinya di saat orgasme agar sperma keluar di luar kemaluan istrinya. Hal ini dilakukan karena dua hal:

1) Jika melakukan azl terhadap budak wanita agar tidak hamil, karena ia tidak menginginkan punya anak dari budak wanita, dan budak wanita yang sudah punya anak tidak bisa dijual.

2) Jika melakukan azl terhadap wanita merdeka, mungkin khawatir dapat menimbulkan mudharat bagi wanita yang sedang menyusui, atau agar wanita tidak hamil.

Dan sabda Nabi jawaban atas pertanyaan mereka, “[Azl] itu adalah pembunuhan terselubung” menunjukkan bahwa azl hukumnya haram; karena wa’d adalah menguburkan anak perempuan hidup-hidup. Ibnu Hazm menegaskan haramnya hukum melakukan azl berdasarkan hadits bab ini.

Jumhur ulama berpendapat: Azl boleh dilakukan terhadap wanita merdeka atas izin darinya, dan bagi budak wanita dibolehkan secara mutlak. Dan mereka berbeda pendapat terhadap budak wanita yang menikah dengan orang merdeka, lalu berkata, bahwa hadits bab ini bertentangan dengan dua hadits berikut ini:

Hadits yang pertama dari Jabir, ia berkata,

«كَانَتْ لَنَا جَوَارٍ، وَكُنَّا نَعْزِلُ فَقَالَتْ الْيَهُودُ تِلْكَ الْمَوْءُودَةُ الصُّغْرَى فَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ كَذَبَتْ الْيَهُودُ، وَلَوْ أَرَادَ اللَّهُ خَلْقَهُ لَمْ تَسْتَطِعْ رَدَّهُ»

“Kami mempunyai budak wanita, dan kami melakukan azl, lalu orang-orang Yahudi berkomentar bahwa azl adalah pembunuhan kecil, maka kami tanyakan hal ini kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau menjawab, “Orang Yahudi bohong, seandainya Allah ingin menciptakan anak -dari persetubuhan itu- seseorang tidak akan mampu mengeluarkan sperma di luar rahim [istri]nya.” (HR. An-Nasa’i, At-Tirmidzi dan shahih menurut At-Tirmidzi) [Shahih: At-Tirmidzi (1136)]

Hadits yang kedua diriwayatkan An-Nasa’i dari hadits Abu Hurairah yang serupa dengan hadits tersebut.

Ath-Thahawi berkata, “Untuk menggabungkan kedua hadits tersebut dengan mengatakan bahwa larangan pada hadits Judamah itu untuk menyucikan diri, dan Ibnu Hazm menguatkan hadits Judamah yang melarang, dan setiap larangan untuk mengharamkan dan hadits selain hadits itu hanya menguatkan hadits yang membolehkan, sedangkan hadits Judamah melarang azl. Maka barangsiapa yang membolehkan azl setelah ada larangan, hendaklah dia menjelaskan bagaimana istinbath hukumnya. Ibnu Hazm didebat dalam menjadikan sabda Nabi “[Azl] itu adalah pembunuhan terselubung” sebagai dalil yang menunjukkan haramnya azl; karena haramnya pembunuhan adalah jika benar-benar membunuh orang hidup, dan Nabi hanya menyerupakan azl dengan pembunuhan, sedangkan azl adalah memutuskan semua sarana yang bisa menciptakan kehidupan. Jadi, azl sangat berbeda dengan pembunuhan. Azl disebut dengan pembunuhan karena bertujuan mencegah terjadinya kehamilan.

Sedangkan alasan larangan azl berdasarkan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa perilaku itu bertentangan dengan takdir, tanpa membedakan antara budak wanita dan orang merdeka.

Faedah: pengobatan terhadap wanita untuk menggugurkan nutfah [segumpal darah sebelum ditiup ruh]; hukumnya berbeda-berbeda antara yang membolehkan dan yang melarang sebagaimana hukum azl. Bagi yang membolehkan azl, maka dia juga akan membolehkan pengobatan tersebut, dan bagi yang mengharamkan azl tentu lebih mengharamkan pengobatan tersebut. Demikian juga hukum yang berkaitan dengan pengobatan wanita agar tidak hamil. Sebagian pengikut madzhab Asy-Syafi’i melarang. Namun pendapat itu aneh, sebab mereka membolehkan azl secara mutlak.

0952

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّ لِي جَارِيَةً، وَأَنَا أَعْزِلُ عَنْهَا، وَأَنَا أَكْرَهُ أَنْ تَحْمِلَ، وَأَنَا أُرِيدُ مَا يُرِيدُ الرِّجَالُ، وَإِنَّ الْيَهُودَ تُحَدِّثُ: أَنَّ الْعَزْلَ الْمَوْءُودَةُ الصُّغْرَى. قَالَ: كَذَبَتْ الْيَهُودُ، لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَخْلُقَهُ مَا اسْتَطَعْت أَنْ تَصْرِفَهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَاللَّفْظُ لَهُ،، وَالنَّسَائِيُّ، وَالطَّحَاوِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

952. Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa ada seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai budak wanita, aku melakukan azl padanya karena aku tidak suka dia hamil, dan saya menginginkan sebagaimana diinginkan kebanyakan orang, tapi orang Yahudi mengatakan bahwa perbuatan azl adalah pembunuhan kecil, beliau bersabda, “Orang Yahudi bohong, seandainya Allah ingin menciptakan anak (dari persetubuhan itu) engkau tidak akan mampu mengeluarkan sperma di luar rahim.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan lafazh menurut Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ath-Thahawi. Para perawinya dapat dipercaya)

[Shahih: Abi Dawud (2171)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini bertentangan dengan hadits yang melarang dan istilah pembunuhan terselubung dan juga kebohongan orang Yahudi yang mengatakan ‘Azl pembunuhan kecil, untuk menggabungkan dengan hadits-hadits yang bertentangan itu, bahwa hadits yang melarang untuk menyucikan diri dan memberitahukan kebohongan orang Yahudi; karena yang mereka maksud adalah haram hukumnya pada perilaku pembunuhan terhadap yang hidup dan bukan pada yang mungkin akan hidup atau sarana membuat hidup. Sabda Nabi : “Seandainya Allah ingin menciptakan anak…dan seterusnya” artinya bila Allah menakdirkan darinya seorang anak, maka akan menjadi anak dan sperma akan keluar lebih dulu di rahim tanpa sanggup ditahan lagi, dan tidak ada faedahnya kehati-hatian kalian pada hal tersebut, sebab sperma bisa itu keluar lebih dulu di rahimnya tanpa terasa karena takdir Allah.

Ahmad dan Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Anas dan dishahihkan Ibnu Hibban:

«أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ عَنْ الْعَزْلِ فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَوْ أَنَّ الْمَاءَ الَّذِي يَكُونُ مِنْهُ الْوَلَدُ أَهَرَقْته عَلَى صَخْرَةٍ لَأَخْرَجَ اللَّهُ مِنْهَا وَلَدًا»

“Bahwa ada seorang bertanya kepada Nabi tentang ‘Azl? Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menjawab: “Seandainya sperma itu dikeluarkan di batu, bila Allah berkehendak bisa saja akan lahir darinya seorang anak” [hasan, Shahih Al-Jami’ (5245)]

hadits ini mempunyai dua hadits pendukung dalam kitab Al-Kabir karya Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas, dan dalam kitab Al-Ausath karya Ath-Thabrani dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *