[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 251

07. KITAB JUAL BELI – 07.04. BAB KERINGANAN (RUKHSAH) DALAM ARIYAH 02

0791

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تُزْهِيَ. قِيلَ: وَمَا زَهْوُهَا؟ قَالَ: تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

791. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah-buahan sehingga baik (matang). Ada orang bertanya, “Apa pertanda baiknya?” Beliau menjawab, “Memerah atau menguning”. (Muttafaq Aiaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari).

[shahih, Al-Bukhari (2208) dan Muslim (1555)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Al-Khaththabi berkata, Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: ‘kemerahan dan kekuningan’ bukan berarti warna merah atau kuning secara penuh.

0792

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعِنَبِ حَتَّى يَسْوَدَّ، وَعَنْ بَيْعِ الْحَبِّ حَتَّى يَشْتَدَّ» .

رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

792. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah anggur hingga berwarna hitam dan menjual biji-bijian hingga keras. (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

[shahih, Abi Dawud (3371)]

ــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas bin Malik (sebagai bentuk qiyas kaedahnya) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah anggur hingga berwarna hitam dan menjual biji-bijian hingga keras (maksud anggur berubah warna menjadi hitam dan biji-bijian menjadi kuat yakni nampak kebaikannya (kelayakannya)).

Tafsir Hadits

Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits tersebut terdapat dalil bagi mahdzab ahli Kufah dan sebagian besar ulama yang mengatakan boleh menjual tangkai yang sudah kuat. Adapun madzhab kita terdapat penjabarannya, bila tangkai berupa gandum, jagung, atau yang semakna dengannya berupa pohon yang buahnya nampak (keluar) maka hukumnya sah. Bila berupa tepung atau semisalnya dari buah yang bijinya tertutupi kulit yang bisa dihilangkan dengan cara ditumbuk terdapat dua pendapat Imam Asy-Syafi’i, namun pendapat yang terbaru (qaul jadid), tidak sah. Itulah pendapat yang paling sah dari kedua pendapatnya. Sedangkan pendapat yang lama (qaul qadim), dianggap sah. Bila sebelum menguat, maka tidak sah, kecuali dengan syarat dipetik langsung sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Bila hasil pertanian dijual sebelum kuat tangkainya bersama dengan tanahnya tanpa ada syarat, maka sah dengan mengikuti penjualan tanahnya. Begitu pula dengan buah-buahan sebelum layak petik bila dijual dengan pohonnya dibolehkan tanpa ada syarat. Sama saja dengan hukum menjual tanah tidak boleh tanpa dengan tanamannya, kecuali dengan syarat dipetik. Menjual semangka dan semisalnya tidak boleh juga sebelum tampak layak petik. Sub-sub masalah ini sangat banyak sekali dijelaskan di kitab Raudhah Ath-Thalibin dan kitab Syarh Al-Muhadzdzab terkumpul banyak sekali masalah yang dijelaskan. Semoga Allah memberikan taufiq.

0793

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَوْ بِعْت مِنْ أَخِيك ثَمَرًا فَأَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ، فَلَا يَحِلُّ لَك أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُ شَيْئًا، بِمَ تَأْخُذُ مَالَ أَخِيك بِغَيْرِ حَقٍّ؟» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَ بِوَضْعِ الْجَوَائِحِ»

793. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya engkau menjual kurma kepada saudaramu, kemudian ia membusuk, maka tidak halal engkau mengambil apapun darinya. Dengan jalan apa engkau boleh mengambil harta saudaramu secara tidak hak?” (HR. Muslim) Dalam riwayatnya yang lain: Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk meletakkan (tidak menjual) kurma yang busuk.

[shahih, Muslim (1554)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya engkau menjual kurma kepada saudaramu, kemudian ia membusuk (yakni penyakit menjangkiti tanaman), maka tidak halal engkau mengambil apapun darinya. Dengan jalan apa engkau boleh mengambil harta saudaramu secara tidak hak?” Riwayat Muslim. Dalam riwayatnya yang lain: Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk meletakkan (tidak menjual) kurma yang busuk). Kata (الْجَائِحَةُ) Al-Ja-ihah terambil dari kata (الْجَوْحِ) Al-Jauh yang artinya terpisah, termasuk maksudnya pada hadits:

إنَّ أَبِي يَجْتَاحُ مَالِي

“Sesungguhnya bapakku memisahkan hartaku.”

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat petunjuk bahwa buah-buahan yang berada di pohon bila dijual oleh pemiliknya dan kena wabah hama maka penggantinya diambil dari harta penjual tanpa membebankan kerugian sedikitpun kepada pembeli. Zhahir hadits menunjukkan bila dijual dengan jual beli yang tidak dilarang yaitu dijual saat sudah layak petik, karena sebelum layak petik dilarang untuk dijual. Dimungkinkan juga hadits yang tentang hama tartaman ada sebelum ada larangan tersebut. Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits Zaid bin Tsabit yang mengatakan,

قَدِمَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمَدِينَةَ وَنَحْنُ نَبْتَاعُ الثِّمَارَ قَبْلَ أَنْ يَبْدُوَ صَلَاحُهَا وَسَمِعَ خُصُومَةً فَقَالَ مَا هَذَا

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam datang ke Madinah sedangkan kami menjual tanaman sebelum tampak layak petik. Beliau mendengar perselisihan, lalu berkata, “Ada apa ini?” [Shahih Abi Dawud (3372)]

Kecuali bila hadits tersebut di samping menyebutkan sebab larangan juga memberi faedah sejarah hal tersebut, sehingga hadits penetapan tiadanya hama terjadi terakhir, dan hadits tersebut dipahami setelah tampak layak petik.

Ulama berbeda pendapat penentuan terjadinya kerugian hama. Sebagian kecil ulama mengatakan bahwa kerugian menimpa semua tanaman dan harga jual semuanya dibatalkan. Adapun kerugian dari harta penjual seperti pengamalan zhahir hadits.

Sebagian besar ulama mengatakan bahwa kerugian berada pada harta pembeli dan tidak ada penghapusan pembayaran karena kerugian, kecuali hanya bersifat anjuran. Mereka berargumentasi dengan hadits Abi Said bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan masyarakat bersedekah pada orang yang kebunnya ditimpa musibah. Mereka mengatakan: sisi pembebanan kerugian atas harta pembeli karena pelepasan barang saat akad yang sah menduduki posisi serah terima dan penjual telah menyerahkan barang kepada pembeli dengan memisahkannya seakan dia telah menyerahterimakannya.

Hal tersebut dijawab bahwa sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “maka tidak halal engkau mengambil apapun darinya” menunjukkan keharaman, dan merupakan kerugian atas penjual dengan sabdanya, “harta saudaramu”. Karena hal itu menunjukkan bahwa dia tidak berhak menerima harga pembayarannya dan itu merupakan harta saudaranya bukan harta miliknya. Sedangkan hadits yang memerintahkan bersedekah menunjukkan suatu anjuran dengan petunjuk sabdanya, “maka tidak halal bagi engkau.”

Faedah perintah bersedekah sebagai petunjuk untuk menyempurnakan dua maksud, yaitu memaksa penjual dan menawarkan prilaku baik kepada pembeli sebagaimana ditunjukkan oleh sabdanya di akhir hadits saat menuntut untuk dibayar. ”Tidak ada hak bagi kalian kecuali itu”. Kalaulah hal tersebut menjadi kewajiban niscaya beliau memerintahkan untuk memberikan kelonggaran waktu hingga mampu membayar.

 0794

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ ابْتَاعَ نَخْلًا بَعْدَ أَنْ تُؤَبَّرَ فَثَمَرَتُهَا لِلْبَائِعِ الَّذِي بَاعَهَا إلَّا أَنْ يَشْتَرِطَ الْمُبْتَاعُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

794. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menjual pohon kurma setelah dikawinkan, maka buahnya adalah milik penjual pohon tersebut, kecuali jika pembeli memberikan persyaratan dahulu.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2204) dan Muslim (1543)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menjual pohon kurma (kata ‘nakhlah’ merupakan kata jenis yang dapat berbentuk mudzakkar atau muannats, dan bentuk jamaknya yaitu nakhil) setelah dikawinkan (kata ta’bir artinya membelah dan mengkawinkan yaitu dengan membelah pohon kurma betina agar dibiarkan buah pohon kurma yang jantan) maka buahnya adalah milik penjual pohon tersebut, kecuali jika pembeli memberikan persyaratan dahulu.”

Tafsir hadits

Hadits tersebut menunjukkan bahwa tumbuhan setelah dikawinkan menjadi hak penjual. Itulah isyarat yang didapat dari perkataan beliau, sedangkan menurut pemahamannya bahwa sebelumnya menjadi hak si pembeli. Inilah pendapat Jumhur Ulama yang tidak mengamalkan sisi pemahaman hadits berdasarkan asal bahwa tidak mengamalkan dengan pemahaman terbalik (mafhum mukhalafah). Anggapan tersebut dibantah bahwa faedah yang tersembunyi menyelisihi konteks yang nampak dalam jual beli. Dan anak budak yang telah terpisah tidak mengikutinya sedangkan janin dalam kandungan mengikutinya,

Dalam sabda beliau, “kecuali jika pembeli memberikan persyaratan dahulu” sebagai dalil bahwa bila pembeli mengatakan ‘aku beli pohon dengan buahnya’ maka buahnya menjadi miliknya. Dan hadits tersebut menunjukkan bahwa syarat tidak menafikan konsekuensi akad jual beli dan tidak merusak jual beli sehingga mengkhususkan larangan adanya jual beii dan syarat. Nash dalil ini pada pohon kurma, diqiyaskan pohon-pohon selainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *