[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 319

08. KITAB NIKAH – 08.02. BAB BERGAUL DENGAN ISTRI 05

0949

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيءَ، فَبَاتَ غَضْبَانَ لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَلِمُسْلِمٍ «كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا»

949. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, tapi dia menolak untuk datang, maka para malaikat melaknatnya (sang istri) hingga datang pagi.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari. Menurut riwayat Muslim, “Yang ada di langit murka kepadanya hingga suami memaafkannya.”)

[shahih, Al-Bukhari (2327), Muslim (1436)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa wajib bagi seorang istri untuk memenuhi ajakan suami melakukan hubungan suami-istri. Sabda Nabi, “Ke tempat tidur” bentuk kiasan dari hubungan suami-istri, sebagaimana sabda Nabi, “Anak (nasab) itu milik tempat tidur” yaitu orang yang melakukan jima’ di atas kasur. Dalil yang menunjukkan wajibnya perempuan melayani suaminya adalah laknat malaikat kepada wanita tersebut, karena malaikat tidak akan melaknat sesuatu kecuali hal-hal berkaitan dengan perintah Allah, dan tidak ada hukuman [siksaan] kecuali karena melalaikan hal yang diwajibkan.

Sabda Nabi, “Sampai pagi” merupakan dalil yang mewajibkan bagi perempuan untuk memenuhi panggilan suaminya [untuk melakukan hubungan seks] di waktu malam; karena kebiasaannya di waktu malam, bila tidak demikian tentu diwajibkan memenuhi panggilan di siang hari.

Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dengan tidak mengkhususkan waktu malam sebuah hadits secara marfu’,

«ثَلَاثَةٌ لَا تُقْبَلُ لَهُمْ صَلَاةٌ، وَلَا تَصْعَدُ لَهُمْ إلَى السَّمَاءِ حَسَنَةٌ – الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ، وَالسَّكْرَانُ حَتَّى يَصْحُوَ، وَالْمَرْأَةُ السَّاخِطُ عَلَيْهَا زَوْجُهَا حَتَّى يَرْضَى»

“Ada tiga golongan yang tidak akan diterima shalatnya, dan juga tidak terkirim kebaikan yang mereka lakukan ke langit yaitu: budak yang lari dari tuannya sampai kembali, orang mabuk sampai dia sadar, dan istri yang membuat suaminya durhaka sampai suaminya senang kembali.” [dha’if, Dha’if Al-Jami’ (2602)]

Walaupun marahnya suami di sini sifatnya mutlak [umum], dan mungkin bukan karena ketidaktaatannya untuk memenuhi ajakan suaminya saja, tapi disebutkan dengan laknat, hanya saja kesemuannya itu dibarengi dengan ancaman yang serius dan termasuk juga di dalamnya adalah ketidaktaatan istri memenuhi ajakan suami, baik di waktu malam maupun siang hari. Al-Bukhari menambahkan dalam riwayatnya tentang awal penciptaan,

«فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا»

“Suami marah sepanjang malam.” [shahih, Al-Bukhari (3237), Muslim (1436)]

Ada yang berpendapat: tambahan ini menegaskan si istri mendapatkan laknat; karena saat itu dia jelas-jelas melakukan maksiat lain halnya jika dia tidak marah, maka dia tidak mendapatkan laknat, dan dalam sabdanya, “Malaikat akan melaknatnya” dalil yang menyatakan menolak ajakan [hak] dari orang yang mempunyai hak terhadap dirinya ketika ia meminta, maka orang tersebut mendapatkan kemarahan Allah, baik hak itu berkaitan dengan dirinya atau hartanya.

Ada yang berpendapat: hadits itu membolehkan melaknat seorang muslim yang bermaksiat agar ia takut dan jera bermaksiat, namun jika dia tetap melakukan juga, maka didoakan agar dia bertaubat dan mendapatkan ampunan. Pengarang kitab -Rahimahullah- menerangkan dalam kitab Al-Fath setelah menukilkan ini dari Al-Mihlab, pendapat tersebut bukan berasal dari hadits bab, tetapi berasal dari hadits-hadits lain.

Sebenarnya, bagi yang melarang laknat orang berbuat maksiat jika dimaksudkan secara bahasa, yaitu jauh dari rahmat Allah, maka tidak pantas untuk didoakan, bahkan seharusnya disuruh untuk bertaubat, mencari hidayah dan meninggalkan semua perbuatan maksiat. Adapun yang membolehkan secara urf [kebiasaan] yang berarti cercaan saja, dan tidak akan dilaknat lagi bila dia berhenti tidak melakukan maksiat.

Jika malaikat bisa melaknat bukan berarti kita bisa melaknat juga, karena taklif itu berbeda. Pendapatku, perkataan Al-Mihlab bahwa orang yang bermaksiat dilaknat sebelum mereka bermaksiat lagi agar jera dan tidak mengulangi lagi adalah penjelasan yang tidak bisa diterima. Karena tidak dibolehkan untuk melaknat sebelum orang itu melakukan maksiat; karena laknat itu ada karena ada maksiat, ketika tidak ada sebab [maksiat], maka tidak boleh untuk melaknat. Kemudian hadits ini memberitahukan bahwa laknat malaikat itu dikarenakan keengganan istri memenuhi ajakan suami.

Dan juga hadits, “Allah melaknat peminum khamar” laknat diberikan karena dia minum khamar. Al-Hafizh berkata, “Boleh juga diartikan laknat secara urf [kebiasaan yang berlaku], namun arti yang dikehendaki syari’at adalah arti secara bahasa. Kesimpulannya, Allah memberitahukan kepada kita bahwa malaikat melaknat orang-orang yang telah disebutkan dalam hadits bab dan juga melaknat para peminum khamar, tetapi tidak memerintahkan kita untuk melaknat mereka, jika ada dalil yang menyuruh kita melaknatnya (peminum khamar) maka diwajibkan bagi kita untuk melaksanakan selama dia belum bertaubat, dan kita dianjurkan untuk mendoakannya agar dia bertaubat, mendapatkan taufik dan memintakan ampunan Allah kepadanya.

Allah memberitahukan kepada kita bahwa malaikat melaknat orang-orang yang tersebut dalam hadits bab, dan itu berdasarkan perintah Allah, dan memberitahukan juga bahwa mereka memintakan ampunan bagi semua penduduk bumi, dan hal ini umum berlaku juga bagi mereka yang dilaknat malaikat dari golongan orang-orang mempunyai keimanan, dan inilah yang dimaksud dalam ayat yaitu orang-orang beriman yang bermaksiat; karena mereka lebih membutuhkan ampunan dan bukan karena dikhususkan dalam ayat, “Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat…” (QS. Ghafir: 7) sebagaimana yang dikemukakan, karena orang yang bertaubat akan terampuni. Dan doa mereka kepadanya agar mendapatkan ampunan merupakan sebuah ibadah dan meninggikan kedudukan orang-orang yang bertaubat. Memang permintaan ampunan mereka berlaku bagi semua, akan tetapi bagi orang-orang kafir tidak termasuk dalam kategori. Dengan demikian diketahui bahwa para malaikat telah menjalankan dua perintah sebagaimana yang telah disinggung.

Dalam hadits diterangkan bagaimana pemeliharaan Allah terhadap hamba-Nya dan melaknat istri yang bermaksiat tidak memenuhi ajakan suami untuk melakukan hubungan suami-istri. Pemeliharaan mana yang lebih agung daripada pemeliharaan yang bersumber dari Allah sang raja yang Agung kepada hamba-Nya yang lemah, maka hendaklah selalu mengingat karunia Allah yang dilimpahkan dengan mensyukuri dan menjauhi semua larangan-Nya, dan juga mengingat apa-apa yang telah disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

0950

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعَنَ الْوَاصِلَةَ، وَالْمُسْتَوْصِلَة، وَالْوَاشِمَةَ، وَالْمُسْتَوْشِمَة» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

950. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain [rambut pasangan] dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya, dan wanita yang menggambar [mentato] kulitnya dan wanita yang minta digambar kulitnya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5940), Muslim (2124)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain [rambut pasangan] dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya, dan wanita yang menggambar [mentato] kulitnya dan wanita yang minta digambar kulitnya.” Muttafaq Alaih.

Al-Washilah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut orang lain, baik dilakukan untuk diri sendiri maupun wanita lainnya. Al-Mustaushilah adalah wanita yang meminta disambung rambutnya. Dalam penjelasan haditsnya ditambahkan bahwa ia juga termasuk wanita melakukannya, tetapi tidak ditunjukkan dalam lafazh haditsnya. Al-Wasyimah adalah wanita pembuat tato, yaitu dengan cara menusukkan jarum atau lainnya di punggung telapak tangan, di bibir atau anggota badannya lainnya hingga mengeluarkan darah, lalu ditaburi celak atau bunga sehingga tusukan-tusukan itu akan berwarna hijau. Dan Al-Mustausyimah adalah wanita yang meminta ditato.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang mengharamkan empat hal yang tersebut dalam hadits. Menyambung rambut hukumnya haram secara mutlak bagi seorang wanita. Baik dari jenis rambut yang diharamkan atau tidak. Rambut manusia atau yang lainnya. Baik bagi wanita yang suka berhias atau tidak, dan yang sudah menikah atau pun belum.

Al-Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah mempunyai penafsiran yang berbeda tapi semuanya tidak berdasarkan dalil, bahkan hadits-hadits bab jelas-jelas mengharamkan dengan mutlak baik untuk menyambungkan rambut dan meminta disambungkan rambut, sebagaimana mengharamkan juga untuk membuat tato dan meminta dibuatkan tato. Adapun laknat atas perbuatan di atas menunjukkan bahwa hal itu termasuk dalam dosa-dosa besar.

Ada juga beberapa hadits yang menyebutkan alasan diharamkannya tato, bahwa itu termasuk merubah penciptaan Allah, tapi tidak dikatakan bahwa memberi warna pada jari-jari termasuk dalam mengubah ciptaan; karena hal itu dikecualikan berdasarkan ijma’. Hal ini pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan tidak dilarang bahkan Nabi menyuruh para wanita untuk memacari jari-jarinya sebagaimana dalam kisah Hindun.

Sedangkan menyambung rambut dengan kain sutera atau kain lainnya, Al-Qadhi Iyadh berkata, “Para ulama berbeda pendapat tentang hal itu. Malik, Ath-Thabari dan mayoritas ulama berkata, “Menyambung rambut dilarang dengan apa saja, baik dengan bulu-bulu binatang, kain sutera atau lainnya, berdasarkan pada hadits Jabir yang diriwayatkan Muslim: bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang wanita untuk menyambung rambutnya dengan apapun. Al-Laits bin Sa’ad berkata, “Larangan itu dikhususkan bagi yang menyambung dengan rambut saja, tapi bila disambung dengan bulu-bulu binatang, kain dan yang lainnya tidak apa-apa. Sebagian lagi mengatakan: boleh dengan apa saja berdasarkan riwayat dari Aisyah, tapi riwayat itu tidak benar dari Aisyah.

Al-Qadhi berkata, “Sedangkan mengikatkan benang-benang kain sutera yang berwarna-warni dan lainnya yang tidak serupa dengan rambut tidak termasuk hal-hal yang dilarang; karena hal itu tidak dinamakan dengan menyambung dan bukan juga maksudnya untuk sambungan rambut, melainkan untuk berhias dan mempercantik diri. Karena, jika warna rambut yang asli dengan sambungannya sama, maka akan menipu sang suami, tapi jika warnanya berbeda-beda tidak akan menipu.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *