[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 250

07. KITAB JUAL BELI – 07.04. BAB KERINGANAN (RUKHSAH) DALAM ARIYAH 01

0788

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَخَّصَ فِي الْعَرَايَا: أَنْ تُبَاعَ بِخَرْصِهَا كَيْلًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ «رَخَّصَ فِي الْعَرِيَّةِ يَأْخُذُهَا أَهْلُ الْبَيْتِ بِخَرْصِهَا تَمْرًا يَأْكُلُونَهَا رُطَبًا»

788. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi keringanan dalam ariyah untuk dijual buahnya dengan tangkainya dengan menggunakan takaran. (Muttafaq Alaih). Menurut riwayat Muslim: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi keringanan dalam ariyah, yaitu penghuni rumah boleh membeli kurma basah dengan kurma kering agar mereka dapat memakan kurma basah.

[shahih, Al-Bukhari (2188) dan Muslim (1539)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi keringanan dalam ariyah untuk dijual buahnya dengan tangkainya dengan menggunakan takaran.” Muttafaq Alaih. Menurut riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi keringanan dalam ariyah, yaitu penghuni rumah boleh membeli kurma basah dengan kurma kering agar mereka dapat memakan kurma basah (arti rukhsah yaitu kemudahan dan keringanan. Dan menurut istilah, rukhsah adalah suatu hukum yang disyariatkan dengan udzur tertentu dengan menetapkan dalil perintah atau larangan seperti semula kalau udzur tersebut tidak ada).

Tafsir Hadits

Hal itu sebagai dalil bahwa hukum ariyah keluar dari hal-hal yang diharamkan secara khusus dengan adanya hukum ini. Hal tersebut secara jelas dikecualikan dalam hadits Jabir pada Al-Bukhari dengan lafazh:

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَطِيبَ وَلَا يُبَاعُ شَيْءٌ مِنْهُ إلَّا بِالدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ إلَّا الْعَرَايَا»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah-buahan sampai matang dan hal tersebut tidak boleh dijual kecuali dengan dinar dan dirham kecuali pada ariyah”. [shahih, Al-Bukhari (2189)]

Dalam sabdanya, “ariyah,” yakni jual beli buah ariyah. Karena ariyah adalah pohon kurma. Pada asalnya ariyah adalah pemberian buah kurma tanpa penawaran. Pada zaman dahulu, saat muslim paceklik orang Arab, pemilik pohon kurma bersedekah dengan kurma itu kepada orang yang tidak mempunyai pohon yang berbuah sama seperti saat mereka bersedekah dengan hasil kambing dan unta. Imam Malik berkata, “Al-Ariyah artinya seseorang menawarkan pohon kurma yang lain kemudian orang tersebut merasa dirugikan dengan masuknya orang tersebut sehingga dia meringankannya dengan membelinya, yakni menjual kurma basah dengan kurma kering.”

Ulama jumhur sepakat dibolehkan memberikan keringanan pada ariyah. Dengan cara menjual kurma basah di atas pohon dengan kurma basah sesuai kadarnya yang kurang dari 5 Uqiah dengan syarat adanya serah terima. Sedangkan kita mengatakan, “Adapun kurang dari 5 Uqiah) berdasarkan hadits Abi Hurairah yaitu,

0789

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَخَّصَ فِي بَيْعِ الْعَرَايَا بِخَرْصِهَا مِنْ التَّمْرِ، فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ، أَوْ فِي خَمْسَةِ أَوْسُقٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

789. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi keringanan menjual buah kurma ariyah yang masih ditangkainya (basah) dengan kurma kering selama masih kurang dari lima wasaq.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2382) dan Muslim (1541)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Muslim menjelaskan bahwa keraguan tersebut -dalam hadits-berasal dari Dawud bin Al-Hushain. Terjadi kesepakatan antara Asy-Syafi’i dan Malik menganggap sah sesuatu yang kurang dari 5 uqiah dan melarang selebihnya. Perbedaan pendapat terjadi pada kadar 5 uqiah, yang paling mendekati kebenaran yaitu dengan mengharamkannya berdasarkan hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda saat mengizinkan bagi para pemiilk Ariyah dengan menjual dengan hasilnya beliau bersabda,

الْوَسْقَ وَالْوَسْقَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ وَالْأَرْبَعَةَ

“Satu wasaq dengan dua wasaq, tiga dan empat (wasaq)” dikeluarkan oleh Ahmad dan diterjemahkan oleh Ibnu Hibban, “Hati-hati agar tidak lebih dari empat wasaq.”

Adapun syarat adanya serah terima karena keringanan terjadi pada jual beli yang disebutkan dengan tidak ada keyakinan saling seimbang beratnya saja. Sedangkan untuk serah terima tidak ada keringanan sehingga tetap seperti hukum semula. Hal yang menun-jukkan persyaratannya dikeluarkan oleh Asy-Syafi’i dari hadits Zaid bin Tsabit: beliau menyebutkan orang-orang yang membutuhkan dari kalangan Anshar mengadu ke Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa mereka tidak memiliki uang kontan di tangan mereka sehingga mereka menjualnya dengan kurma basah dan memakannya bersama-sama. Dan mereka mempunyai kelebihan bahan pokok berupa kurma sehingga Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam memberikan keringanan pada mereka dengan menjual ariyah dengan kurma kering sesuai kadarnya.

Dalam hadits tersebut terdapat catatan bagi ulama yang mensyaratkan serah terima, kalau tidak seperti itu maka penyebutan adanya kurma kering tidak mempunyai faedah.

Ketahuilah, bahwa hadits tersebut tentang kurma basah dan kurma kering yang masih berada di pohon. Adapun membeli kurma basah setelah dipetik dengan kurma kering, menurut kalangan Asy-Syafi’iyah membolehkannya dengan menyamakan hukumnya dengan yang berada di pohon, dan disertai dengan menghilangkan sifat bahwa dia berada di pohon. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Al-Bukhari dengan menjadikannya bab tersendiri. Karena posisi keringanan berada pada kurma basah itu sendiri secara mutlak dan lebih umum daripada di pohon atau sudah dipetik seperti yang dikandung nash dalil sehingga bukan berupa qiyas lagi dan tidak ada larangan. Karena bisa jadi hikmah adanya keringanan menuntut membeli hasil kurma yang masih basah yang sangat dibutuhkan, dan terkadang pembeli mempunyai kurma yang diambil darinya. Hal tersebut didorong dengan perkataan Ibnu Daqiq Al-Id yang mengatakan hal tersebut tidak boleh dengan satu kata. Karena salah satu makna keringanan memakan kurma basah dengan berangsur-angsur masih segar. Maksud ini tidak didapat pada sesuatu yang ada di permukaan tanah.

0790

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهَا نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُبْتَاعَ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: «وَكَانَ إذَا سُئِلَ عَنْ صَلَاحِهَا قَالَ: حَتَّى تَذْهَبَ عَاهَتُهَا» .

790. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah-buahan yang belum kelihatan masak. Beliau melarang penjual dan -pembeli.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2194) dan Muslim (1534)]

Dalam suatu riwayat disebutkan: Apabila beliau ditanya tentang buah yang baik (masak), beliau bersabda, “Sampai penyakitnya hilang.”

[shahih, Al-Bukhari (1486)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ulama berselisih pendapat tentang makna ‘kelihatan masak’ (layak) menjadi 3 pendapat, yaitu:

Pertama, cukup nampak kelayakannya pada jenis tanaman dengan syarat kelayakan tersebut melekat pada tumbuhan (tersebut). Itulah pendapat Al-Laits dan kalangan Malikiyah.

Kedua, harus merupakan bagian dari jenis buah atau tanaman yang dijual. Ituiah pendapat Imam Ahmad.

Ketiga, yang menjadi acuan adalah yang terbaik pada pohon yang dijual tersebut itulah pendapat Asy-Syafi’iyah.

Dapat dipahami dari sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “nampak” yang tidak mensyaratkan sempurna sehingga cukup dengan matangnya sebagian buah dan sebagian pohon disertai dengan tercapainya maksud, yaitu aman dari adanya aib. Hikmah yang ditetapkan Allah berkenaan dengan hal ini bahwa buah tidak masak dalam satu tahap (secara serentak), akan tetapi bertahap pada proses pembuahan, sehingga layak untuk dimanfaatkan.

Hadits tersebut menunjukkan larangan menjual pohon sebelum nampak kelayakannya. Ijma ulama mengatakan tidak sah menjual pohon sebelum nampak tanda-tanda kelayakannya karena merupakan jual beli yang tidak nampak (jelas), begitu pula halnya setelah nampak kelayakannya sebelum dapat dimanfaatkan. Hanya saja penulis meriwayatkan dalam kitab “Al-Fath” bahwa Al-Hanafiyah membolehkan menjual pohon sebelum dan sesudah nampak kelayakannya dengan syarat langsung dipetik. Mereka membatalkan adanya syarat yang boleh membiarkannya, baik sebelum atau sesudahnya. Bila jual beli terjadi dengan mensyaratkan dipetik, maka sah menurut kesepakatan ulama. Bila mensyaratkan dengan membiarkannya maka jual beli tersebut fasad (rusak), jika tempo yang ada tidak dapat diketahul batasan waktunya. Bila waktunya dapat diketahui, maka disahkan oleh Al-Hadawiyah dan tanpa adanya tipu daya, Pihak yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa hal itu tidak sah karena ada larangan menjual dan menetapkan syarat. Bila itu dimutlakkan, maka sah menurut Al-Hadawiyah dan Abu Hanifah karena tidak boleh bimbang antara sah atau tidak, sehingga dianggap sah seperti yang nampak kecuali bila adat membiarkannya dengan tempo yang tidak diketahui.

Hadits tersebut menunjukkan larangan terhadap penjual dan pembeli. Penjual agar tidak memakan harta saudaranya dengan cara batil, dan pembeli agar tidak menyia-nyiakan hartanya. Afah berarti hama yang menimpa pohon sebagaimana dijelaskan oleh hadits Zaid bin Tsabit: “Dahulu pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, masyarakat menjual pohon bila mereka berminat dan saat hadir mereka saling membayarnya.” Pembeli mengatakan bahwa pohon tersebut terserang hama Duman, yaitu kerusakan tampilan dan berwarna yang berubah menghitam, atau ditimpa penyakit buah berupa cacat. Mereka berargumentasi dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam saat banyak terjadi perselisihan tentang hal tersebut,

فَأَمَّا لَا فَلَا تَبْتَاعُوا حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُ الثَّمَرَةِ

“Jika tidak, maka jangan kalian berjual beli hingga nampak kelayakan pohon” [Shahih: Abi Dawud (3372)]

seperti yang diisyaratkan beliau karena banyaknya terjadi perselisihan.

Sabda beliau memberikan kepahaman bahwa yang ditunjukkan adalah larangan tersebut untuk menghinakan, bukan berupa keha-raman yang dapat dipahami dari alur perkataannya. Kalau tidak, maka kembali ke asal yang berupa larangan. Zaid dahulu tidak menjual tanaman hingga tampak tsuraya sehingga nampak berbeda antara kuning dan merah. Abu Dawud mengeluarkan hadits Abu Hurairah secara marfu’,

«إذَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا رُفِعَتْ الْعَاهَةُ مِنْ كُلِّ بَلَدٍ»

“Bila bintang tampak di pagi hari maka hama dihilangkan dari semua negeri” //Dhaif: Adh Dhaifah 397. Ebook editor//

Bintang tsuraya yang muncul di pagi hari saat di awal musim panas. Ketika kondisi panas sekali di negeri Hijaz dan buah-buahan mulai masak, itulah yang dijadikan tolak ukur sebenarnya, dan terbitnya ats-tsuraya sebagai pertanda.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *