[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 318

08. KITAB NIKAH – 08.02. BAB BERGAUL DENGAN ISTRi 04

0947

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: «كَانَتْ الْيَهُودُ تَقُولُ: إذَا أَتَى الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ مِنْ دُبُرِهَا فِي قُبُلِهَا كَانَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ. فَنَزَلَتْ {نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ} [البقرة: 223] » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

947. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu berkata.”Ada seorang Yahudi berkata, “Apabila seorang laki-laki menyetubuhi istrinya dari belakang, maka anaknya akan bermata juling. Lalu turunlah ayat, “Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.” [QS. Al-Baqarah: 223]. (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (4528), Muslim (1435)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Menurut lafazh Al-Bukhari, “Saya mendengar Jabir berkata, “Orang Yahudi berkata, “Apabila seorang suami berhubungan dengan istrinya dari belakang -sebagaimana ditafsirkan riwayat pertama-maka anaknya akan bermata juling, maka turunlah ayat ini, “Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.” (QS. Al-Baqarah: 223), namun riwayat yang menerangkan sebab-sebab turunnya ayat ini terbagi dalam tiga pendapat:

Pertama; seperti yang disebutkan penulis Rahimahullah dari riwayat Asy-Syaikhan tentang menggauli istri dari belakang. Makna ini diriwayatkan para ahli hadits dari Jabir dan lainnya, yang semuanya itu mencapai 36 jalur periwayatan, dan dijelaskan oleh sebagian dari mereka bahwa tidak halal menggauli istri kecuali di kemaluannya. Penjelasan ini sekaligus sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi.

Kedua: bahwa ayat ini turun untuk menghalalkan menggauli istri di duburnya, diriwayatkan sebagian ulama dari Ibnu Umar dengan 12 jalan riwayat.

Ketiga: Ayat ini turun untuk menghalalkan Azl (mengeluarkan sperma di luar kemaluan istri) diriwayatkan Imam Ahli hadits dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Ibnu Al-Musayyib, tapi sudah menjadi hal yang maklum bahwa riwayat dalam kitab Ash-Shahihain lebih diutamakan maknanya dari pada yang lain, maka yang paling benar dan tepat adalah pendapat yang pertama. Sedangkan riwayat Ibnu Umar diperselisihkan. Dan pendapat yang menerangkan bahwa maksud dari hajr adalah azl tidak sesuai dengan lafazh ayat tersebut.

Ibnu Al-Hanafiyah meriwayatkan, bahwa makna ayat “أَنَّى شِئْتُمْ” adalah “إذَا شِئْتُمْ” (jika engkau kehendaki), yang merupakan penjelasan dari lafazh ” أَنَّى ” yang bermakna ” إذَا ” (apabila). Pengertian itu tidak menjelaskan terhadap apa yang telah disebutkan berkaitan dengar sebab-sebab turunnya ayat ini, bahkan sebetulnya bagaimana cara menggauli istri diserahkan sepenuhnya kepada suami.

0948

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتنَا، فَإِنَّهُ إنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ أَبَدًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

948. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika seorang di antara kamu ingin menggauli istrinya lalu membaca doa, “Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan terhadap apa yang Engkau anugerahkan kepada kami”, maka jika ditakdirkan dari hubungan suami istri itu menghasilkan seorang anak, setan tidak akan mengganggu [anak itu] selamanya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (141), Muslim (1434)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menurut lafazh Muslim. Hadits ini mengajarkan tentang bacaan doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika hendak melakukan hubungan suami istri.

Riwayat ini merupakan penafsiran riwayat, “Seandainya seorang di antara kamu ingin menggauli istrinya.” diriwayatkan Al-Bukhari maksudnya ketika hendak melakukannya. Dan kata ganti dalam lafazh “جَنِّبْنَا” untuk suami dan istri. Dalam riwayat Ath-Thabrani ” جَنِّبْنِي ” (jauhkanlah saya) dan ” جَنِّبْ مَا رَزَقْتنِي” (dan jauhkan apa yang Engkau anugerahkan kepadaku) dengan kata ganti satu orang; maka setan tidak akan mengganggu selamanya.

Al-Qadhi Iyadh berkata, “Maksud dari doa itu bukan menghilangkan segala macam gangguan, walaupun zhahirnya menunjukkan segala macam gangguan. Karena penggunaan kata peniadaan untuk selamanya; berdasarkan hadits yang menerangkan bahwa semua anak Adam yang baru dilahirkan akan dicubit [ditusuk] oleh setan kecuali Maryam dan anaknya, bukankah cubitan itu bagian dari gangguan! Walaupun cubitan itu membuat si bayi menangis-menangis pertanda lahir dengan selamat.

Saya katakan, “Pendapat Al-Qadhi ini didasarkan pada keumuman gangguan baik yang bersifat duniawi maupun agama.” Ada yang berpendapat: hal-hal yang bersifat agama yang tidak bisa diganggu, dan termasuk golongan hamba Allah yang dikatakan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka.” (QS. Al-Hijr: 42), diperkuat dengan hadits yang riwayatkan Abdurrazzaq dari Al-Hasan, “Dia berharap jika [istrinya] hamil, semoga kelak anaknya menjadi anak yang shalih.” Dan ini dinilai mursal, namun tidak boleh dikatakan bahwa itu hanyalah pendapat semata.

Ibnu Daqiq Al-Id -Rahimahullah- berkata, “Mungkin tidak diganggu dalam pelaksanaan agamanya, akan tetapi bila demikian berarti dijaga dari melakukan dosa dan ini hanya berlaku bagi para Nabi.” Pendapat ini dibantah, bahwa penjagaan dari setan itu adalah wajib bagi para Nabi, sedangkan yang lainnya mendapatkan perlin-dungan juga bila didoakan dan sangat mungkin ada seorang yang tidak pernah berbuat dosa dengan sengaja, walaupun hal itu tidak mutlak ada. Ada yang mengatakan, “Tidak akan diganggu”, yakni tidak akan diganggu yang menyebabkan keluar dari agama Islam, dan bukan tidak pernah melakukan maksiat. Ada yang berpendapat, “Tidak akan diganggu” yakni setan tidak akan ikut-ikutan sang suami ketika menggauli istrinya, hal ini diperkuat dengan riwayat Mujahid yang menerangkan bila seorang tidak membaca basmalah [berdo’a] ketika menggauli istri; maka setan ikut membantu sang suami ketika menggauli istrinya. Ada yang mengatakan, pendapat inilah yang paling tepat.

Saya katakan, “Hanya saja tidak disebutkan siapa yang meriwayatkan dari Mujahid, dan ternyata riwayat mujahid itu adalah mursal. Kemudian hadits menyebutkan faedah bagi si anak kelak yang tidak akan terwujud kecuali dengan hal tersebut. Atau dengan penjelasan, karena setan tidak bisa membantu sang suami ketika berhubungan dengan istrinya, maka faedah doa yang diucapkan sangat besar bagi si anak kelak.

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya membaca basmalah, keterangan tentang keberkahannya, yang membacanya akan selalu dapat perlindungan Allah dari godaan setan, serta mendapatkan keberkahan dan pertolongan dari segala macam kejelekan. Dan yang lebih penting lagi, hadits ini menerangkan bahwa setan tidak pernah berhenti mengganggu keturunan Adam kecuali mereka yang selalu ingat kepada Allah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *