[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 25

01.07. BAB ADAB BUANG AIR BESAR 04

0093

93 – وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أَتَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْغَائِطَ، فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، فَوَجَدْت حَجَرَيْنِ، وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا، فَأَتَيْته بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ، وَقَالَ: هَذَا رِجْسٌ – أَوْ رِكْسٌ» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. وَزَادَ أَحْمَدُ وَالدَّارَقُطْنِيّ ” ائْتِنِي بِغَيْرِهَا ”

93. Dari Ibnu Mas’ud RA, beliau berkata: “Nabi SAW mendatangi tempat buang air besar, lalu beliau menyuruhku membawakan tiga buah batu, tapi aku hanya menemukan dua buah batu, aku tidak mendapatkan batu yang ketiga, maka aku bawakan kotoran binatang, lalu beliau mengambil dua batu itu dan membuang kotoran binatang seraya berkata, ‘Sesungguhnya kotoran binatang itu najis atau kotor’.” (HR. Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 156]

Ahmad dan Ad Daruquthni menambahkan, “Berikan aku selain kotoran itu.”

[Ahmad 1/450, dan Ad Daruquthni 1/55]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Adz Dzahabi berkata, “Abdullah bin Mas’ud adalah Al Imam Ar Rabbani, Abu Abdurrahman Abdullah bin Ummu Abdul Hudzli. Ia adalah shahabat dan pelayan Rasulullah SAW, termasuk as sabiqun al awwalun (yang pertama masuk Islam), dan mengikuti perang Badr, juga termasuk seorang fuqaha yang cerdas dan shalih. Ia masuk Islam sejak dahulu dan menghafal langsung dari mulut Rasulullah SAW sebanyak tujuh puluh surah. Rasulullah SAW bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ»

“Barangsiapa yang ingin membaca Al Qur’an dengan bagus sebagaimana ia diturunkan, maka hendaklah dia membacanya menurut bacaan Ibnu Ummu Abd (Ibnu Mas’ud)”

[Shahih: Shahih Ibnu Majah 114]

Ia memiliki banyak keutamaan, dan wafat di Madinah tahun 32 Hari, dalam usia sekitar 60 tahun.

Tafsir Hadits

Ibnu Khuzaimah menambahkan:

[كَانَتْ رَوْثَةُ حِمَارٍ]

bahwa kotoran tersebut adalah kotoran keledai.

[Shahih Ibnu Khuzaimah 1/39]

Hadits ini dijadikan dalil oleh Asy-Syafi’i, Ahmad dan ulama hadits lainnya. Mereka mensyaratkan bahwa batu yang digunakan untuk istinja tidak boleh kurang dari tiga biji, disamping harus memperhatikan kebersihannya. Apabila belum juga bersih dengan tiga batu, hendaklah ditambah sampai kotorannya bersih.

Disunnahkan jumlahnya ganjil –sebagaimana telah disebutkan sebelumnya- tapi hukumnya tidak wajib, berdasarkan hadits dari Abu Daud:

[وَمَنْ لَا فَلَا حَرَجَ]

“Barangsiapa yang tidak mampu (mengganjilkan) maka ia tidak berdosa,” ini telah dijelaskan sebelumnya.

Al Khaththabi berkata, “Kalau maksudnya hanyalah penyucian kotoran saja, maka tidak ada manfaat diisyaratkannya jumlah batu tersebut. Tetapi karena jumlah batu diisyaratkan secara lafazh dan secara maknawi diketahui demi kesucian, maka hal itu menunjukkan wajibnya kedua hal tersebut.”

0094

94 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «إنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى أَنْ يُسْتَنْجَى بِعَظْمٍ، أَوْ رَوْثٍ وَقَالَ: إنَّهُمَا لَا يُطَهِّرَانِ» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ.

94. Dari Abu Hurairah RA RA, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW melarang beristinja dengan tulang dan tahi binatang, beliau bersabda: “Keduanya tidak bisa menyucikan.” (HR. Ad Daruquthni dan dia menshahihkannya)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ibnu Khuzaimah juga meriwayatkan hadits tersebut dengan lafazh yang sama, sementara Al Bukhari (3647) meriwayatkannya dengan lafazh yang mirip dengannya. Ia menambahkan di dalam riwayatnya itu:

«أَنَّهُ قَالَ لَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ لَمَّا فَرَغَ مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثِ؟ قَالَ: هِيَ مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ»

bahwa Abu Hurairah RA pernah bertanya kepada Nabi SAW setelah beliau selesai buang air, “Ada apa dengan tulang dan kotoran binatang?” beliau menjawab, “Itu termasuk makanan jin.”

Dan Al Baihaqi meriwayatkannya dalam hadits yang panjang.

Demikian yang dijelaskan dalam Asy-Syarh, lafazh hadits itu ada dalam Sunan Al Baihaqi sebagai berikut:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضُ بِهَا وَلَا تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلَا رَوْثٍ، فَأَتَيْته بِأَحْجَارٍ فِي ثَوْبِي، فَوَضَعْتهَا إلَى جَنْبِهِ حَتَّى إذَا فَرَغَ، وَقَامَ تَبِعْته، فَقُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ: مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثِ؟ فَقَالَ: أَتَانِي وَفْدُ نَصِيبِينَ فَسَأَلُونِي الزَّادَ، فَدَعَوْت اللَّهَ لَهُمْ أَلَّا يَمُرُّوا بِرَوْثَةٍ وَلَا عَظْمٍ إلَّا وَجَدُوا عَلَيْهِ طَعَامًا»

“bahwasanya Nabi SAW berkata kepada Abu Hurairah RA, “Carikan aku beberapa biji batu yang akan aku gunakan untuk beristinja, dan jangan bawakan aku tulang dan kotoran binatang.” Lalu aku bawakan beberapa batu yang aku masukkan dalam kainku dan aku letakkan di sampingnya, ketika beliau selesai buang air, aku ikuti beliau sambil bertanya kepada beliau, ‘Mengapa tidak boleh memakai tulang dan kotoran binatang?’ beliau menjawab, “Aku pernah didatangi delegasi jin, mereka menanyakan kepadaku tentang makanan mereka, lalu aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati kotoran binatang dan tulang kecuali mereka mendapatkannya sebagai makanan.” [Al Kubra 1/107, 108]

Dalam masalah ini juga terdapat riwayat dari Az Zubair, Jabir, Sahl bin Hanif dan yang lainnya, dengan sanad-sanad yang semuanya terdapat komentar, namun demikian kesemuanya saling memperkuat antara satu dengan yang lainnya.

Di sini dijelaskan alasannya, bahwa keduanya tidak dapat mensucikan, dan keduanya adalah makanan jin. Sedangkan alasan untuk kotoran binatang adalah karena najis. Karena najisnya itulah sehingga tidak dapat dipakai untuk mensucikan, sedangkan tulang juga tidak dapat mensucikan karena dia adalah benda licin yang hampir tidak bisa dipegang, juga tidak bisa membersihkan najis atau tidak bisa mengeringkan yang basah.

«الْعَظْمَ وَالرَّوْثَةَ طَعَامُ الْجِنِّ، قَالَ لَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ: وَمَا يُغْنِي عَنْهُمْ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إنَّهُمْ لَا يَجِدُونَ عَظْمًا إلَّا وَجَدُوا عَلَيْهِ لَحْمَهُ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ يَوْمَ أُخِذَ، وَلَا وَجَدُوا رَوْثًا إلَّا وَجَدُوا فِيهِ حَبَّهُ الَّذِي كَانَ يَوْمَ أُكِلَ»

Tatkala Rasulullah SAW mengemukakan alasan bahwa karena keduanya adalah makanan jin, Ibnu Mas’ud bertanya kepada beliau: “Apakah hal itu dapat memuaskan mereka Ya Rasulullah! “ beliau menjawab, “Mereka sesungguhnya tidak menemukan sepotong tulang, kecuali akan mendapatkan dagingnya pada hari mengambilnya dan tidak menemukan kotoran binatang melainkan mereka mendapatkan apa yang disukainya pada hari memakannya.” (HR. Al Hakim dalam Ad Dala’il).

Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits yang menjelaskan bahwa kotoran binatang menjadi makanan binatang piaraan para jin.

Di dalam hadits itu terdapat dalil, bahwa istinja dengan menggunakan beberapa batu adalah cara bersuci yang tidak harus digunakan bersama dengan air, meskipun hal itu disukai (sunnah), karena beliau mengemukakan alasan bahwa, “Keduanya (tulang dan kotoran binatang) tidak dapat mensucikan”, itu artinya selain keduanya bisa mensucikan.

0095

95 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «اسْتَنْزِهُوا مِنْ الْبَوْلِ، فَإِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ مِنْهُ» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ

95. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Bersucilah kamu dari kencing, karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur disebabkan air kencing.” (HR. Ad Daruquthni)

[Shahih: Al Irwa’ 280]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Bersucilah kamu (maksudnya, bersucilah kalian, atau tuntutlah kesucian) dari kencing, karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur (artinya, kebanyakan orang yang disiksa padanya) disebabkan air kencing. (yakni dengan sebab bercampur dengannya dan tidak bersuci darinya)

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah perintah untuk menjauhkan diri dari air seni, dan bahwa siksaan yang disebabkan karena tidak membersihkan diri darinya akan disegerakan dalam kubur. Telah ditegaskan dalam hadits Ash-Shahihain, bahwasanya Rasulullah SAW melewati dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa, kemudian beliau memberitahukan bahwa siksa salah seorang dari keduanya adalah ‘karena tidak mensucikan diri dari kencing’1 atau ‘karena dia tidak menutupi diri dari kencingnya’2 yakni membuat tabir yang dapat mencegahnya terkena air seni, atau, ‘karena dia tidak membersihkan dari air kencing’3 atau ‘karena dia tidak hati-hati terhadap air seni’,4 semua lafazh tadi disebutkan dalam beberapa riwayat, dan semuanya memberikan pengertian keharaman tersentuh air seni dan tidak membersihkan diri darinya.

Para ulama berbeda pendapat, apakah menghilangkan najis itu hukumnya wajib atau tidak? Imam Malik berkata, “Menghilangkan najis itu hukumnya tidak wajib”, sementara Asy-Syafi’i mengatakan hukumnya wajib, kecuali dimaafkan darinya.

Wajibnya menghilangkan najis, berdasarkan hadits yang menjelaskan siksa kubur bagi yang tidak membersihkan diri dari air seni. Suatu ancaman tentu saja berlaku bagi yang meninggalkan sesuatu yang wajib. Imam Malik mengemukakan alasan mengenai hadits tersebut, bahwa bileh jadi karena dia membiarkan air seninya mengenai badannya lalu dia shalat tanpa bersuci, karena wudhu tidak sah dengan adanya najis tersebut.

Tidak diragukan lagi, bahwa hadits-hadits yang memerintahkan membawa batu ke tempat buang air, dan perintah untuk bersuci, menunjukkan wajibnya menghilangkan najis, dan terdapat dalil najisnya air seni.

Hadits tersebut merupakan dalil najisnya air seni manusia, karena huruf alif dan lam yang terdapat di awal kata al baul dalam hadits tersebut sebagai pengganti dari mudaf ialaih yakni bauluhu (kencingnya), berdasarkan lafazh Al Bukhari tentang siksaan dua penghuni kubur dengan lafazh ‘dia tidak membersihkan diri dari kencingnya,5 karena barangsiapa yang menafsirkannya dengan semua kencing, dan memasukkan kencing unta di dalamnya, seperti penulis dalam kitab Fathul Bari, maka sunggu dia telah melakukan kesalahan, dan telah kami jelaskan letak kesalahannya dalam catatan kaki Fathul Bari.

_____________________

1. Shahih: Muslim 292

2. Shahih: Al Bukhari 216 dan Muslim 292

3. An Nasa’i 4/106

4. Al Baihaqi 1/104

5. Ini lafazh Muslim, sebagaimana telah dijelaskan.

0096

96 – وَلِلْحَاكِمِ «أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْ الْبَوْلِ» وَهُوَ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ.

96. Dan bagi Al Hakim: “Kebanyakan siksaan kubur karena kencing.” Hadits ini sanadnya shahih.

[Shahih: Shahih Al Jami’ 1202]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits tersebut sanadnya shahih, demikian komentarnya di sini. Sedangkan di dalam At Talkhis, lafazhnya sebagai berikut:

وَلِلْحَاكِمِ وَأَحْمَدَ وَابْنِ مَاجَهْ؛ «أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْ الْبَوْلِ» وَأَعَلَّهُ أَبُو حَاتِمٍ، وَقَالَ إنَّ رَفْعَهُ بَاطِلٌ

Dan bagi Al Hakim, Ahmad dan Ibnu Majah, “Kebanyakan siksa kubur karena kencing”. Abu Hatim menyatakan hadits ini cacat dan berkata, ‘Menjadikannya marfu’ adalah batil.

Dia tidak mengomentarinya sedikitpun, dan di sini dia menetapkan keshahihannya, sehingga kedua pendapatnya bertentangan –sebagaimana yang Anda lihat- dan pensyarah rahimahullah tidak mengetahui hal tersebut, lalu ia menyetujui pendapat itu di sini. Hadits ini memberikan pengertian sebagaimana hadits pertama.

Ada perbedaan pendapat tentang orang yang tidak membersihkan air seni, apakah termasuk dosa besar atau dosa kecil? Penyebab adanya perbedaan pendapat tersebut karena adanya hadits tentang dua orang penghuni kubur yang disiksa, dimana pada lanjutan hadits tersebut beliau bersabda, “Mereka berdua tidak disiksa karena dosa besar. Ya sesungguhnya itu adalah dosa besar.” Kalimat itu beliau ucapkan setelah menjelaskan bahwa salah satunya disiksa karena tidak membersihkan air seninya.

Ada yang mengatakan, bahwa Nabi SAW menafikan bahwa keduanya disika bukan karena dosa besar, dan hal ini menunjukkan bahwa itu termasuk dosa keci. Pendapat ini dapat dibantah bahwa sabda beliau, Ya sesungguhnya itu adalah dosa besar, sebagai jawabannya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah bukan dosa besar menurut keyakinan mereka berdua atau menurut kedua orang yang diajak bicara, padahal termasuk dosa besar di sisi Allah. Yang lain mengatakan bukan termasuk dosa besar karena sulit menjaganya. Pendapat ini ditegaskan oleh Al Baghawi dan diperkuat oleh Ibnu Daqiq Al Id, dan ada yang mengatakan selain itu. Berdasarkan hal ini, maka ia termasuk dosa besar.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *