[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 249

07. KITAB JUAL BELI – 07.03. BAB RIBA 06

0785

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْمُزَابَنَةِ: أَنْ يَبِيعَ ثَمَرَ حَائِطِهِ إنْ كَانَ نَخْلًا بِتَمْرٍ كَيْلًا، وَإِنْ كَانَ كَرْمًا أَنْ يَبِيعَهُ بِزَبِيبٍ كَيْلًا، وَإِنْ كَانَ زَرْعًا أَنْ يَبِيعَهُ بِكَيْلِ طَعَامٍ، نَهَى عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

785. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli muzabanah, yaitu seseorang yang menjual buah kebunnya, jika kurma basah dijual dengan kurma kering bertakar, anggur basah dijual dengan anggur kering bertakar, dan tanaman kering dijual dengan makanan kering bertakar. Beliau melarang itu semua.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2205) dan Muslim (1542)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Penafsiran dan akar kata Al-Muzabanah telah disebutkan sebelumnya. Kata buah-buahan meliputi anggur dan lainnya. Maksud sesuatu yang pada asalnya kurma dari hal-hal yang disebutkan. Maksud Al-Karm di sini yaitu anggur.

Tafsir Hadits

Ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan al-Muzabanah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa penafsiran yang dipakai yaitu penafsiran sahabat karena dimungkinkan hadits tersebut berupa hadits marfu’, dan kalau tidak, mereka lebih mengetahui maksud Rasulullah. Ibnu Abdil Bar mengatakan, tidak ada yang meyelisihi mereka perihal hal ini sebagai bentuk muzabanah. Mereka hanya berselisih pendapat, apakah mungkin diberikan hukum yang sama setiap hal yang boleh dijual ataukah harus sepadan? Jumhur ulama menghukumi sama, karena ada kesamaan alasan tentang hal tersebut, yaitu tidak diketahuinya kesamaan beserta kesepakatan jenis dan kadar. Adapun penamaan sesuatu yang diikutsertakan sebagai muzabanah hanya berupa penyertaan nama sehingga tidak boleh, kecuali bagi orang yang menetapkan secara bahasa dengan cara mengkiaskannya.

0786

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُسْأَلُ عَنْ اشْتِرَاءِ الرُّطَبِ بِالتَّمْرِ. فَقَالَ: أَيَنْقُصُ الرُّطَبُ إذَا يَبِسَ؟ قَالُوا: نَعَمْ فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْمَدِينِيِّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

786. Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang hukum membeli kurma basah dengan kurma kering. Beliau bersabda, “Apakah kurma basah itu berkurang jika mengering?” Ia menjawab, ‘Ya,’ Lalu beliau melarang hal itu. (HR. Al-Khamsah. Hadits shahih menurut Ibnu Al-Madini, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

[Shahih: Abi Dawud (3359, 3360)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnul Madini telah menshahihkan hadits ini walaupun Malik menta’liqnya dari Dawud bin Al-Hushain karena Malik menemui syaikhnya setelah itu. Pernah sekali dia menceritakannya dari Dawud kemudian pendapatnya tetap menceritakan hal tersebut dari syaikhnya. Ibnul Madini berkata: bapaknya menceritakannya dari Malik secara ta’liq dari Dawud hanya saja bapaknya mendengar dari Malik sudah lama. Kemudian Malik menceritakannya dari gurunya sehingga jalur dari Malik shahih. Sedangkan ulama yang menganggapnya cacat karena terdapat Abi Ayyasy, tetapi tertolak dengan perkataan Ad-Daraquthni, “Hadits tersebut tetap dan perawinya terpercaya.” Al-Mundziri berkata, “Diriwayatkan oleh perawi-perawi yang terpercaya.” Imam Malik bersandar padanya walaupun sangat pedas kritikannya. Al-Hakim berkata, “Aku tidak tahu seorang pun mencela hadits tersebut.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi petunjuk tidak bolehnya menjual kurma basah dengan kurma kering karena tidak ada kesamaan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

0787

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ، يَعْنِي الدَّيْنَ بِالدَّيْنِ» . رَوَاهُ إِسْحَاقُ وَالْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

787. Dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli yang dibayar kemudian (Al-Kali) dengan yang dibayar kemudian (Al-Kali), yakni hutang dengan hutang. (HR. Ishaq dan Al-Bazzar dengan sanad lemah)

[Kasyf Al-Astar (1280)]

//Dhaif: Al-Irwa’ 1382. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli yang kemudian (al-kali) dengan yang kemudian (al-kali) (yakni hutang dengan hutang). HR. Ishaq dan Al-Bazzar dengan sanad lemah (dan diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ad-Daraquthni tanpa ada tafsir), tetapi dalam sanadnya terdapat perawi Musa bin Ubaidah Ar-Rabdzi, seorang yang lemah. Imam Ahmad berkata, riwayatnya tidak sah menurutku dan aku tidak tahu hadits ini berada pada selainnya. Al-Hakim berkata: Musa bin Uqbah kemudian dishahihkan sesuai syarat Muslim. Al-Baihaqi merasa heran dengan perilakunya terhadap Al-Hakim. Ahmad berkata: tidak ada hadits shahih dalam masalah ini, hanya saja manusia sepakat tidak bolehnya menjual hutang dengan hutang.

Nampak jelas bahwa penafsiran hadits seperti itu adalah marfu’. Kata Al-Kali dalam An-Nihayah diartikan seseorang yang menjual sesuatu secara tunda sampai tempo tertentu. Saat jatuh tempo dan tidak ada alat yang untuk membayar dia berkata: sampai jatuh tempo lagi dengan menambahkan sesuatu sehingga menjualnya dan tanpa ada serah terima antara keduanya.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut menunjukkan keharaman hal tersebut dan bila hal tersebut terjadi, maka jual belinya batil.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *