[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 317

08. KITAB NIKAH – 08.02. BAB BERGAUL DENGAN ISTRI 03

0945

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

945. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang paling rendah derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang yang bersetubuh dengan istrinya, kemudian ia membuka rahasianya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1437)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang paling rendah jelek derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat ialah orang yang bersetubuh dengan istrinya (yakni, lelaki yang mendatangi istrinya, baik untuk melakukan hubungan badan maupun tidak), kemudian ia membuka rahasianya (dan juga istri membuka rahasia suaminya).” HR. Muslim (hanya saja dalam lafazh Muslim, “Di antara orang yang paling jahat.”)

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang mengharamkan untuk menceritakan rahasia hubungan seksual antara suami istri, baik meliputi apa yang mereka lakukan, ucapkan, kerjakan, dan sebagainya.

Sedangkan hanya sekadar menyebutkan “hubungan” mereka tanpa ada perlunya hukumnya makruh, karena hal ini bertentangar dengan kepribadian seorang mukmin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam saja.” [shahih, Al-Bukhari (6135), Muslim (47)]

Namun, jika hal itu memang diperlukan dan ada faedahnya, misalnya si laki-laki mengingkari keengganan berhubungan dengannya, dikatakan lemah ketika berhubungan, dan sebagainya, maka tidak mengapa. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«إنِّي لَأَفْعَلُهُ أَنَا وَهَذِهِ»

“Sungguh saya telah melakukan hubungan dengan ini (istriku).” [shahih, Muslim (350)]

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Thalhah,

«أَعَرَّسْتُمْ اللَّيْلَةَ»

“Apakah kalian berbulan madu semalam?” [shahih, Al-Bukhari (5470), Muslim (2144)]

Nabi bersabda kepada Jabir,

«الْكَيْسَ الْكَيْسَ»

“[Hendaknya kamu] bersungguh-sungguh dan selalu berharap.” [shahih, Al-Bukhari (3097), Muslim (715)]

Demikian juga, bagi perempuan tidak boleh menyebarkan rahasia suaminya berdasarkan nash [dalil].

0946

وَعَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا حَقُّ زَوْجِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: تُطْعِمُهَا إذَا أَكَلْت وَتَكْسُوهَا إذَا اكْتَسَيْت، وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إلَّا فِي الْبَيْتِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَعَلَّقَ الْبُخَارِيُّ بَعْضَهُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ

946. Dari Hakim bin Mu’awiyah, dari ayahnya berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa kewajiban seseorang dari kami terhadap istrinya?” Beliau menjawab, “Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekkan, dan jangan menghukum kecuali masih dalam rumah.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah, sebagian hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari secara mu’allaq dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

[hasan shahih, Abi Dawud (2142, 2144)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Hakim bin Mu’awiyah (yaitu Ibnu Haidah, dan Mu’awiyah adalah seorang shahabat, anaknya bernama Hakim meriwayatkan darinya, Bahz anaknya Hakim meriwayatkan darinya) dari ayahnya berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kewajiban seseorang dari kami terhadap istrinya? Beliau menjawab, “Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekkan, dan jangan menghukum kecuali masih dalam rumah.” HR. Ahmad, An-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah, sebagian hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari secara mu’allaq (yaitu dengan mengatakan, ‘bab hukuman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atas istri-istri beliau di selain rumah-rumah mereka’, lalu menyebutkan riwayat marfu’ dari Ibnu Haidah) “Dan janganlah menghukum kecuali masih dalam rumah.” (dan yang paling benar adalah yang pertama. Dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan wajib hukumnya bagi suami untuk memberi nafkah dan pakaian kepada istri [keluarga] sesuai dengan kemampuannya. Suami tidak terbebani tanggung jawab di luar kemampuannya, berdasarkan sabda Nabi, “Jika engkau makan” menurut salah satu pendapat, lafazh hadits ini masih samar. Maka kapan saja mempunyai kemampuan untuk memberikan nafkah, harus memberi nafkah kepada istrinya, dan mungkin hadits ini ditentukan lagi bila dia sudah memenuhi kebutuhan nafkah terhadap dirinya terlebih dahulu; berdasarkan hadits, “Mulailah dari dirimu terlebih dahulu.” dan demikian juga hal dalam memenuhi kebutuhan pakaian.

Hadits ini juga membolehkan memukul istri untuk tujuan mendidik, tetapi dilarang memukul wajah, baik terhadap istri maupun orang lain.

Sabda Nabi, “Jangan menjelekkannya” artinya jangan memperdengarkannya dengan perkataan yang dia benci, seperti ungkapan. ‘semoga Allah menjelekkanmu’ dan ungkapan-ungkapan kasar lainnya.

Dan sabda Nabi “dan janganlah menghukum kecuali masih dalam rumah” yakni, memisahkannya dari tempat tidur sebagai hukuman untuk mendidik, sebagaimana firman Allah,

{وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ}

“Tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang).” (QS. An-Nisaa’: 34),

maka janganlah ditinggalkan [dihukum] kecuali masih dalam rumah, jangan dipindah ke rumah yang lain. Namun, hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari menunjukkan para istri Nabi dipindahkan ke rumah lainnya, dan Al-Bukhari berkomentar: bahwa hadits ini yang diriwayatkannya lebih shahih dari pada hadits Mu’awiyah.

Maka ada yang berpendapat, perbuatan Nabi tersebut membolehkan untuk memindahkan (sebagai hukuman) di luar rumah, dan hadits Mu’awiyyah harus masih dalam rumah. Jadi, penafsiran hukuman itu harus masih dalam rumah tidak sesuai dengan maksud hadits tersebut.

Namun para ulama berbeda pendapat tentang makna hajr. Jumhur ulama berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hajr adalah tidak melakukan “hubungan” dengan istri, tapi tetap tinggal serumah dengannya berdasarkan zhahir ayat, yakni diambil dari kata hijran artinya menjauh. Ada yang berpendapat, tetap tidur sekamar tapi berpaling darinya. Ada yang berpendapat, tidak melakukan “hubungan” suami-istri. Ada juga yang berpendapat, tetap melakukan hubungan suami-istri tapi meninggalkan pembicaraan dengannya. Ada yang berpendapat, berbicara kasar dengannya. Ada juga yang berpendapat, bahwa kata hajr berasal dari kata al-hijar yakni tali pengikat onta, maksudnya dihukum dengan tidak boleh beranjak dari rumah sebagaimana yang dikatakan Ath-Thabari dengan berdasarkan pada hadits bab, akan tetapi pendapat itu dibantah Ibnu Al-Arabi.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *