[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 248

07. KITAB JUAL BELI – 07.03. BAB RIBA 05

0782

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ شَفَعَ لِأَخِيهِ شَفَاعَةً، فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً، فَقَبِلَهَا، فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَفِي إسْنَادِهِ مَقَالٌ.

782. Dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memberi syafa’at (menjadi perantara untuk suatu kebaikan) kepada saudaranya, lalu ia diberi hadiah dan diterimanya, maka ia telah mendatangi sebuah pintu besar dari pintu-pintu riba.” (HR. Abu Dawud, dan dalam sanadnya ada pembicaraan)

[hasan, Abi Dawud (3541)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dari hadits di atas terdapat petunjuk keharaman menerima pemberian (hadiah) atas balasan pertolongan (syafaat) yang telah diterimanya. Nampak jelas bahwa hal tersebut, baik diharapkan saat memberi pertolongan atau tidak mengharapkannya. Penyebutannya dengan nama riba sebagai bentuk ilustrasi karena ada kesamaan antara keduanya. Riba berarti tambahan harta dari orang lain bukan hasil kompensasi penukaran, sedangkan hal ini sama seperti itu. Semoga saja maksud syafaat (pertolongan) tersebut berupa pertolongan yang wajib seperti pertolongan menghadapi penguasa untuk menyelamatkan orang yang teraniaya dari jeratan tangan orang yang ingin berbuat aniaya. Atau petolongan terlarang seperti pertolongan di hadapan penguasa dengan cara mewakili orang yang zhalim terhadap rakyatnya. Pada kasus pertama merupakan kewajiban yang diharamkan menerima hadiah pemberian atas balasan pertolongan, dan kasus kedua karena merupakan timbal balik hal yang terlarang maka dilarang pula hukumnya.

Adapun pertolongan yang bersifat mubah (boleh) semoga saja dibolehkan menerima hadiah karena merupakan balasan atas perbuatan baik yang bukan suatu hal yang wajib, dan dimungkinkan hal tersebut menjadi haram karena pertolongan (syafaat) merupakan hal kecil yang tidak layak memberikan balasan.

Penulis mengatakan dalam sanadnya terdapat catatan, karena Al-Qasim meriwayatkannya dari Abu Umamah yang namanya Abu Abdirrahman, tuan mereka bernama Al-Umami Asy-Syami yang terdapat catatan terhadapnya.

Saya katakan dalam kitab Al-Mizan Imam Ahmad berkata,’ Ali bin Zaid meriwayatkan beberapa keajaiban, aku tidak mengetahuinya kecuali dari Al-Qasim. Ibnu Hiban mengatakan, “Dia termasuk perawi yang meriwayatkan hadits Nabi yang mu’adhal,” kemudian dia berkata, “Dia dikuatkan oleh Ibnu Ma’in, At-Tirmidzi mengatakan, ‘Dia terpercaya.’

0783

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

783. Dari Abdullah bin Amr berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memberi dan menerima snap.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi)

[Shahih: Abi Dawud (3580)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdullah bin Amr bersabda, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memberi dan menerima suap’.” HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi (dan diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Qadha, Ibnu Majah dalam kitab Al-Ahkam dan Ath-Thabrani dalam kitab Ash-Shaghir.)

Al-Haitsami berkata, para perawinya terpercaya. Penulis Rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam bab-bab riba karena menyebutkan laknat kepada orang-orangnya disebutkan disebabkan mengambil uang yang menyerupai riba dan sama halnya dengan riba. Laknat kepada orang yang mengambilnya telah disebutkan dalam bab-bab pertama. Pengertian laknat yaitu jauh dari kondisi dan tempat-tempat rahmat. Terdapat laknat Rasulullah kepada banyak golongan yang lebih dari 20 golongan.

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini terdapat petunjuk dibolehkannya melaknat para pelaku maksiat dari ahli kiblat. Adapun hadits:

«الْمُؤْمِنُ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ»

“Seorang mukmin bukan tukang laknat” [Shahih: At-Tirmidzi (1977)]

maksudnya melaknat orang yang tidak layak menerimanya dan bukan termasuk orang-orang yang dilaknat Allah dan Rasulnya, serta tidak pula banyak melaknat seperti yang diisyaratkan pada bentuk kata fa’aal yang berarti sering melaknat.

Kata Ar-Rasyi yaitu orang yang mengeluarkan uang sebagai perantara kebatilan, terambil dari kata Risya yang artinya tali penghantar air ke sumur. Dari sinilah diketahui bahwa mengeluarkan uang untuk mendapatkan kebenaran tidak disebut sebagai risywah (suap) dan kata Al-Murtasyi yaitu orang yang mengambil suap, yakni hakim. Kedua pelaku Risywah layak dilaknat karena menyuap dengan hartanya untuk mendapatkan kebatilan dan menerima suap agar menghukumi dengan tanpa keadilan. Dalam hadits Tsauban disebutkan tambahan Ar-Raisy yaitu orang yang sebagai perantara keduanya.

0784

وَعَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَهُ أَنْ يُجَهِّزَ جَيْشًا. فَنَفِدَتْ الْإِبِلُ. فَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ عَلَى قَلَائِصِ الصَّدَقَةِ. قَالَ: فَكُنْت آخُذُ الْبَعِيرَ بِالْبَعِيرَيْنِ إلَى إبِلِ الصَّدَقَةِ» رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

784. Darinya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk menyiapkan pasukan tentara, tetapi unta-unta telah habis. Lalu beliau menyuruhnya agar menghutang dari unta zakat. Ia berkata, “Aku menghutang seekor unta akan dibayar dengan dua ekor unta zakat.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya).

[Al-Hakim (2/65) dan Al-Baihaqi (5/287, 288)]

//Syaikh Al-Albani mendhaifkan hadits ini dalam Al-Misykah 2823 dan Abu Daud 3357, tetapi dalam Al-Irwa’ 1358, menghukuminya hasan. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Darinya (yakni Ibnu Amr) bahwa Nabi Sallalla.hu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk menyiapkan pasukan tentara, tetapi unta-unta telah habis. Lalu beliau menyuruhnya agar menghutang dari unta zakat. Ia berkata, Aku menghutang seekor unta akan dibayar dengan dua ekor unta zakat. HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya (penulis menyebutkan hal tersebut disini karena hadits tersebut menunjukkan tidak adanya riba pada hewan, sehingga masuk dalam pembahasan hutang piutang.)

Tafsir Hadits

Hadits tersebut menunjukkan bolehnya menyewakan atau menghutangkan hewan. Terdapat tiga pendapat dalam masalah ini:

Pertama, membolehkan hal tersebut seperti yang dikatakan Asy-Syafi’i, Malik dan Jumhur ulama salaf dan khalaf sesuai dengan pengamalan hadits ini. Dan pada asalnya membolehkan hal tersebut, kecuali budak perempuan bagi orang yang mempunyai hak untuk menggaulinya sehingga tidak dibolehkan. Dan dibolehkan bagi orang yang tidak mempunyai hak menggaulinya seperti keluarganya yang muhrim dan orang perempuan,

Kedua, mutlak dibolehkan bagi budak perempuan dan lainnya. Ini merupakan pendapat Ibnu Jarir dan Dawud.

Ketiga, pendapat Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah yang mengatakan tidak boleh meminjamkan hewan sama sekali. Hadits ini membantah pendapat mereka. Sebelumnya telah disebutkan anggapan mereka yang menyatakan hadits ini telah dihapus dan tidak shahih.

Ketahuilah dalam kitab “As-Syarh” terdapat hadits Ibnu Amr perihal menghutangi hewan sebagaimana telah kita sebutkan. Setelah kita merujuk ke buku-buku hadits ternyata didapati dalam “Sunan Al-Baihaqi”. Setelah beliau menyebutkan sanadnya, lafazhnya seperti ini, berkata Amr bin Huraisy kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash, kami berada di daerah yang tidak ada emas dan perak, apakah kita menjual satu ekor sapi dengan dua ekor sapi, satu ekor unta dengan dua ekor unta, dan satu ekor kambing dengan dua ekor kambing? Dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkanku menyediakan satu pasukan. Hadits tersebut tertulis dalam kitabnya. Dalam lafazh lain disebutkan, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya menjual tunggangannya sampai keluar orang menyedekahkannya. Alur ungkapan pertama jelas dalam hal jual beli, sedangkan lafazh kedua tegas dalam hal tersebut.

Bila pembaca mengetahui hal tersebut, maka menerjemahkan hal tersebut sebagai bentuk peminjaman menyalahi petunjuk hadits yang menyatakan hal tersebut sebagai bentuk jual beli hewan dengan hewan secara tunda pembayarannya. Dan bertentangan dengan hadits yang melarang menjual hewan dengan hewan secara tunda, sebagaimana disebutkan dalam hadits ke 10 //no 780. Ebook editor//. Dalam kondisi menguatkan salah satu sisi, bahwa hadits Ibnu Amr lebih kuat dari sisi sanadnya. Asy-Syafi’i mengatakan dalam hadits Samrah: bahwa hal tersebut tidak ada dari Rasulullah seperti yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi menghutangi hewan dibayar hewan dibenarkan kebolehannya oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *