[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 316

08. KITAB NIKAH – 08.02. BAB BERGAUL DENGAN ISTRI 01

0941

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَالنَّسَائِيُّ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ لَكِنْ أُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ.

941. DariAbu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang menggauli istrinya pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dan lafazhnya menurut An-Nasa’i. Para perawinya dapat dipercaya namun dinilai mursal)

[hasan, Abi Dawud (2162)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Terlaknatlah orang yang menggauli istrinya -pada duburnya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dan lafazhnya menurut An-Nasa’i. Para perawinya dapat dipercaya namun dinilai mursal (Hadits ini diriwayatkan dengan lafazh -seperti ini- dari banyak shahabat, di antaranya: Ali bin Abi Thalib, Umar, Khuzaimah, Ali bin Thalq, Thalq bin Ali, Ibnu Mas’ud, jabir, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Al-Bara’, Uqbah bin Amir, Anas dan Abu Dzar Radhiyallahu Annum. Jalur periwayatan hadits ini masih diperselisihkan. Tetapi, banyaknya jalur periwayatan dan perawi dapat menguatkan status hadits ini).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haramnya menggauli istri pada duburnya. Mayoritas ulama berpendapat tentang haramnya menggauli istri di duburnya berdasarkan hadits tersebut di atas, kecuali hanya sebagian kecil dari mereka yang tidak sependapat. Karena, pada dasarnya menggauli istri hukumnya haram kecuali dengan cara yang telah dihalalkan Allah, dan Allah tidak menghalalkan kecuali menggauli istri pada kemaluannya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,

{فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ}

“Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)

{فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ}

“Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Ayat ini membolehkan bercocok tanam di tempat menuai benih, maksudnya di tempat tumbuhnya tanaman. Begitu juga dengan wanita. Yang dimaksud dengan menggaulinya adalah untuk mengharapkan keturunan darinya, bukan hanya untuk melampiaskan nafsu semata, dan ini hanya boleh dilakukan di kemaluannya. Maka, diharamkan bercocok tanam selain di tempat menyemai benih. Hal ini tidak bisa diqiyaskan dengan yang lainnya, karena tidak ada kesamaan sebagai tempat untuk menyemai benih.

Adapun tempat untuk bersenang-senang selain pada kemaluan [istri] diambilkan dari dalil lain. Yakni, boleh bersenang-senang dengan istri yang sedang haidh selain pada kemaluannya.

Madzhab Al-Imamiyah berpendapat, bahwa boleh menggauli istri dan budak di duburnya. Diriwayatkan dari Asy-Syafi’i, bahwa dia berkata, “Tidak benar bahwa hal itu dibolehkan ataupun diharamkan, dan secara qiyas hal itu boleh. Namun, pendapat ini diralat oleh Ibnu Ar-Rabi’, “Demi Allah, tiada Rabb yang berhak disembah selain-Nya, bahwa Asy-Syafi’i telah mengharamkan menggauli istri pada duburnya dalam enam kitab karyanya.” Ada juga pendapat yang mengatakan, bahwa pendapatnya -yang membolehkan menggauli di dubur-diutarakan dalam fatwanya yang lama [al-qadim].

Dalam kitab Al-Hadyu An-Nabawi disebutkan, bahwa Imam Asy-Syafi’i berkata, “Saya tidak membolehkan sama sekali menggauli istri pada duburnya bahkan melarangnya.” Dan ia berkata, “Sungguh, merupakan kesalahan yang sangat fatal bagi siapa yang menukil pendapat, bahwa para ahli ilmu membolehkan menggauli istri pada duburnya. Yang menurut mereka dibolehkan adalah menggauli istri di kemaluannya tetapi melalui duburnya. Artinya, dia menggauli dari dubur -belakang- tetapi bukan di duburnya. Namun, penjelasan tersebut tidak disimak oleh yang mendengar.”

Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa menggauli istri pada dubur itu diperbolehkan, tapi pendapat itu dibantah oleh para pengikut madzhab Imam Malik. Pensyarah telah membahas masalah ini dengan panjang lebar, tetapi tidak perlu untuk disampaikan di sini. Setelah itu, dia baru menyimpulkan haramnya cara seperti itu. Di antara dalil-dalil yang mengharamkan adalah:

0942

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا»

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ، وَأُعِلَّ بِالْوَقْفِ

942. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tidak akan melihat laki-laki yang menggauli seorang laki-laki atau perempuan di duburnya.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, namun ia dinilai mauquf)

[hasan, Shahih At-Tirmidzi (1165)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tidak akan melihat laki-laki yang menggauli seorang laki-laki atau perempuan di duburnya.” HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, namun ia dinilai mauquf (kepada Ibnu Abbas, akan tetapi masalah ini tidak perlu dibahas dan diijtihadkan lagi, apalagi diiringi dengan ancaman yang membuat hukum hadits ini marfu’, maka tidak usah dibahas dan berijtihad lagi).”

0943

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ، وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلْعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْت تُقِيمُهُ كَسَرْته، وَإِنْ تَرَكْته لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَلِمُسْلِمٍ «فَإِنْ اسْتَمْتَعْت بِهَا اسْتَمْتَعْت بِهَا، وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْت تُقِيمُهَا كَسَرْتهَا، وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا»

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَلِمُسْلِمٍ «فَإِنْ اسْتَمْتَعْت بِهَا اسْتَمْتَعْت بِهَا، وَبِهَا عِوَجٌ» هُوَ بِكَسْرِ أَوَّلِهِ عَلَى الْأَرْجَحِ «وَإِنْ ذَهَبْت تُقِيمُهَا كَسَرْتهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا»

943. Dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, dan hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada para wanita, sebab mereka itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, tapi jika engkau membiarkannya, ia tetap akan bengkok. Maka hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada wanita.” (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari. Menurut riwayat Muslim: “Jika engkau menikmatinya, engkau dapat kenikmatan dengannya yang bengkok, dan jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, dan mematahkannya adalah mencerainya”)

[shahih, Al-Bukhari (3331), Muslim (1468)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, dan hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada para wanita, sebab mereka itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, tapi jika engkau membiarkannya, ia tetap akan bengkok. Maka hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada wanita (laksanakan wasiatku yang berkait dengan mereka. Yakni, saya wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada mereka, atau sebagian dari kalian mewasiatkan kepada sebagian yang lain untuk berbuat baik kepada wanita) Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari. Menurut riwayat Muslim: “Jika engkau menikmatinya, engkau dapat kenikmatan dengannya yang bengkok, dan jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya, dan mematahkannya adalah mencerainya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya hak tetangga. Barangsiapa menyakiti tetangganya, maka dia bukanlah seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Meskipun orang yang menyakiti tetangga disebut kafir, tetapi ungkapan itu hanyalah bentuk penekanan saja. Karena, hakekat orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak menyakiti tetangga. Bahkan, perilaku menyakiti tetangga dikelompokkan dalam dosa-dosa besar. Namun, maksud dari ungkapan ‘tidak beriman’ adalah tidak sempurna keimanannya.

Bahkan, Allah Ta’ala mewasiatkan dalam Al-Qur’an untuk tidak menyakiti tetangga. Batas tetangga adalah 40 rumah dari rumah kita. Sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabrani,

«أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي نَزَلْت فِي مَحَلِّ بَنِي فُلَانٍ، وَإِنَّ أَشَدَّهُمْ لِي أَذًى أَقْرَبُهُمْ إلَيَّ دَارًا فَبَعَثَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعَلِيًّا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – يَأْتُونَ الْمَسْجِدَ فَيَصِيحُونَ عَلَى أَنَّ أَرْبَعِينَ دَارًا جَارٌ، وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ خَافَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ»

“Ada seseorang yang datang menemui Nabi seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tinggal di bani fulan, tapi orang yang paling menyakiti saya adalah orang yang paling dekat rumahnya. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Bakar, Umar dan Ali pergi ke masjid -untuk menjelaskan tentang masalah ini-. Mereka pun mengumumkan bahwa yang dinamakan tetangga adalah orang-orang yang tinggal di sekitar kita sejauh 40 rumah dari kita, dan tidak akan masuk surga orang yang membuat resah tetangganya.” [Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir (19/73)]

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dalam kitab Al-Kabir dan Al-Ausath,

«إنَّ اللَّهَ لَيَدْفَعُ بِالْمُسْلِمِ الصَّالِحِ عَنْ مِائَةِ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِهِ»

“Sesungguhnya Allah akan menjaga seorang mukmin yang saleh dari seratus rumah tetangganya.” [dha’if sekali, Dha’if Al-Jami’ (1651)]

Dan riwayat ini adalah tambahan terhadap hadits bab.

Menyakiti orang muslim adalah haram secara mutlak. Allah Ta’ala berfirman,

{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا}

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Akan tetapi, melanggar hak tetangga lebih ditekankan pengharamannya. Sehingga, kesalahan ini tidak dapat dimaafkan.

Kategori suatu perbuatan dianggap menyakitkan diukur dengan urf [adat dan tradisi] yang berlaku dalam masyarakat. Bukti bahwa Islam sangat menghargai hak tetangga sebagainana tersebut dalam riwayat hadits berikut,

«إنَّهُ لَا يُؤْذِيهِ بِقُتَارِ قِدْرِهِ إلَّا أَنْ يَغْرِفَ لَهُ مِنْ مَرَقَتِهِ، وَلَا يَحْجِزُ عَنْهُ الرِّيحَ إلَّا بِإِذْنِهِ، وَإِنْ اشْتَرَى فَاكِهَةً أَهْدَى إلَيْهِ مِنْهَا»

“Hendaknya jangan menyakiti tetangga dengan kebulan asap periuk yang memasak daging kecuali membaginya walau hanya air kuwah saja; jangan menutupi lubang angin kecuali seizinnya; dan bila membeli buah-buahan hendaknya membagikan [sebagian] kepadanya.”

Hak-hak tetangga diterangkan dengan lengkap dalam kitab Al-Ihya’ karya Al-Ghazali.

Sabda Nabi, “Laksanakanlah wasiatku”, sudah dijelaskan maknanya. Lalu beliau memberikan alasan dengan sabdanya, “Sebab mereka diciptakan dari tulang rusuk,” maksudnya, mereka diciptakan dalam keadaan bengkok, karena memang dari awal penciptaannya dari tulang yang bengkok.

Maksudnya, Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan daripadanya Allah menciptakan isterinya” yang difirmankan setelah ayat, “yang telah menciptakan kamu dari yang satu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

Diriwayatkan Ibnu Ishaq dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri dan paling pendek ketika Adam sedang tidur.

Sabda Nabi, “Tulang rusuk yang paling bengkok,” merupakan pemberitahuan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk paling bengkok. Hal ini dimaksudkan untuk menekankan adanya sifat itu pada mereka.

Kata ganti “كَسَرْته” dan “تُقِيمُهُ ” [dhamir]nya kembali kepada “ضِلْعٍ” [tulang rusuk], dan dhamir “ضِلْعٍ” ini bisa berbentuk mudzakkar dan mu’annats. Maka dalam riwayat Al-Bukhari, hadits ini tertulis dengan lafazh “تُقِيمُهَا” dan “كَسَرْتهَا” dengan menggunakan dhamir ‘ha’ yang menunjukkan kepada kata ganti untuk wanita. Dan dalam riwayat Muslim disebutkan dengan jelas bahwa kata gantinya untuk wanita yaitu, “وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا.

Hadits ini mewasiatkan untuk berbuat kepada wanita, berlemah-lembut kepada mereka, sabar atas perilaku mereka, dan tidak adanya kuasa untuk menyempurnakan akhlak mereka karena adanya pertentangan yang selalu muncul dari mereka, semua itu sudah menjadi karakteristiknya. Adapun mengenai definisi tentang ‘bengkok’ sudah dibahas pada penjelasan terdahulu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *