[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 247

07. KITAB JUAL BELI – 07.03. BAB RIBA 04

0780

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ بَيْعِ الْحَيَوَانِ بِالْحَيَوَانِ نَسِيئَةً» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ الْجَارُودِ

780. Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli hewan dengan hewan secara nasi’ah (penundaan). (HR. Al-Khamsah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Al-Jarud).

[Shahih: Abi Dawud (3356)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la dan Ad-Dhiya dalam kitab Al-Mukhtarah, kesemuanya mengeluarkan hadits dari hadits Al-Hasan dari Samrah. At-Tirmidzi menshahihkan hadits tersebut dan yang lainnya berkata, “Para perawinya terpercaya hanya saja para penghafal hadits lebih menguatkan hadits tersebut pada posisi mursal sebab terdapat perbedaan pendapat tentang pendengaran Hasan dari Samrah. Akan tetapi, hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dan Ad-Daraquthni dari hadits Ibnu Abbas dan para perawinya terpercaya juga. Hanya saja Al-Bukhari dan Ahmad lebih menguatkan hadits tersebut mursal dan At-Tirmidzi mengeluarkan hadits tersebut dari Jabir dengan sanad yang lemah, Abdullah bin Ahmad mengeluarkan dalam Zawaid Al-Musnad,” dari Jabir bin Samrah, Ath-Thahawi dan Ath-Thabrani dari Ibnu Umar hal tersebut menguatkan satu sama lain.

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat dalil tidak sahnya jual beli hewan dengan hewan secara tunda hanya saja hal tersebut bertentangan dengan riwayat Abu Rafi’, bahwa Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam meminjamkan unta dan mencederai gigi serinya yang akan dijelaskan pada bab berikutnya. Ularna berbeda pendapat tentang pengggabungan haditsnya dan hadits Samrah. Dikatakan, maksud hadits Samrah dari kedua pihak pembayaran secara tunda sehingga jual beli penghutang dengan penghutang. Hal ini tidak sah, inilah yang ditafsirkan oleh Asy-Syafi’i dengan menggabungkan keduanya dengan hadits Rafi’.

Saya katakan, nampak jelas bahwa hadits Rafi’ perihal hutang bukan jual beli dan memberikan bayaran lebih saat membayar merupakan keutamaan beliau, sehingga tidak bertentangan sama sekali. Al-Hadawiyah, Al-Hanafiyah dan Hanafiyah berpendapat bahwa hadits tersebut menghapus hadits Abu Rafi’. Hal tersebut dijawab bahwa penghapusan dalil tidak terjadi kecuali dengan dalil, dan menggabungkan beberapa dalil itu lebih baik. Pendapat Imam Asy-Syafi’i yang dikuatkan dengan Atsar dari sahabat yang dikeluarkan Al-Bukhari. Ia berkata bahwa Ibnu Umar membeli kendaraan dengan harga 4 ab’irah (unta yang telah tumbuh gigi taringnya) pemiliknya akan melunasi di daerah Rabdzah dan Ibnu Rafi’ bin Khudaij membeli unta dengan harga dua unta kemudian dia memberikan salah satunya dan berkata, “Aku bawa yang lain besok,” Ibnul Musayib berkata, “Tidak ada riba menjual satu unta dengan 2 unta dan satu kambing dengan 2 kambing secara tunda.”

Ketahuilah, Al-Hadawiyah beralasan larangan menjual hewan yang ada dengan hewan yang tidak ada bahwa barang yang bernilai harus ada walaupun tidak ada di majlis akad dan harus berbeda pada sisi penjual, baik dengan isyarat, julukan atau sifat. Adapun alasan larangan mereka menghutangkan hewan disebabkan tidak dapatnya dipastian tetapnya hal tersebut. Hadits Abu Rafi’ beranggapan bahwa hal tersebut sudah dihapus (mansukh). Kebenaran perkataan tersebut akan dibahas pada hadits ke-14. //hadits ke 14 bab ini, yaitu hadits no 784. Ebook editor//

0781

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إلَى دِينِكُمْ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد مِنْ رِوَايَةِ نَافِعٍ عَنْهُ، وَفِي إسْنَادِهِ مَقَالٌ، وَلِأَحْمَدَ نَحْوُهُ مِنْ رِوَايَةِ عَطَاءٍ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْقَطَّانِ.

781. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian berjual beli dengan ‘inah (hanya sekedar mengejar keuntungan materi belaka), selalu membuntuti ekor-ekor sapi, hanya puas menunggui tanaman, dan meninggalkan jihad maka Allah akan meliputi dirimu dengan suatu kehinaan yang tidak akan dicabut sebelum kamu kembali kepada agamamu”. (HR. Abu Dawud dari Nafi’, dan dalam sanadnya ada pembicaraan. Ahmad meriwayatkannya dari Atha’ dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya dan dinilai shahih oleh Ibnu Qaththan.)

[Shahih: Abi Dawud (3462)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian berjual beli dengan ‘inah (hanya sekedar mengejar keuntungan materi belaka), selalu membuntuti ekor-ekor sapi, hanya puas menunggui tanaman, dan meninggalkan jihad maka Allah akan meliputi dirimu dengan suatu kehinaan (yakni kelemahan dan kehinaan) yang tidak akan dicabut sebelum kamu kembali kepada agamamu.” HR. Abu Dawud dan Nafi’i, dan dalam sanadnya ada pembicaraan (karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Abdirrahman Al-Khurasani yang bernama Ishaq dari Atha’ Al-Khurasani yang menurut Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Mizan termasuk orang yang mungkar). (Dan Ahmad meriwayatkannya dari Atha’ dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya dan dinilai shahih oleh Ibnu Qaththan (penulis mengatakan, “Menurutku hadits yang dishahihkan oleh Ibnu Qaththan mempunyai cacat. Karena tidak harus hadits yang para perawinya orang terpercaya harus shahih. Disebabkan Al-A’masy seorang yang suka memalsukan hadits {mudallis) tidak pernah menyebutkan pernah mendengar dari ‘Atha. Sedangkan ‘Atha bisa jadi Al-Khurasani yang merupakan bentuk pemalsuan secara merata dengan menggugurkan Nafi’ di antara ‘Atha dan Ibnu Umar sehingga kembali ke hadits pertama yang masyhur. Hadits ini mempunyai banyak jalur sehingga Al-Baihaqi mengaitkan nama judul untuknya dan menjelaskan alasannya.

Tafsir Hadits

Ketahuilah, jual beli ‘Inah, yaitu menjual barang dengan harga yang diketahui secara tunda kemudian membelinya dari pembeli pertama dengan harga lebih murah agar tanggungannya lebih banyak. Dinamakan Inah disebabkan terdapat mata bendanya (‘ain) atau uang tunai dan sebab barang tersebut kembali lagi ke penjual.

Hadits tersebut sebagai dalil keharaman jual beli jenis ini. Pendapat ini dipegang oleh Malik, Ahmad dan sebagian kalangan Asy-Syafi’iyah dengan mengamalkan hadits ini. Kata mereka, karena hal tersebut meniadakan maksud syariat yang melarang adanya riba dan menutup peluang terjadinya. Al-Qurthubi Rahimahullah mengatakan, karena sebagian bentuk jual beli ini menghantarkan menuju jual beli kurma dengan kurma secara berlebih dan pembayarannya hanya sia-sia.

Menurut perkataan Imam Syafi’i dinukil bahwa beliau membolehkan hal tersebut dengan argumentasi sabda beliau dalam hadits Abu Said dan Abu Hurairah yang telah disebutkan sebelumnya, “Juallah semua (kurma jelek) dengan dirham, kemudian belilah kurma yang bagus dengan dirham. tersebut.” Beliau mengatakan hal tersebut menunjukkan bolehnya jual beli ‘Inah, sehingga disahkan pembeli tersebut kembali kepadanya dengan barang dagangannya pertama karena ketika tidak terpisah dalam kondisi yang memungkinkan, maka hal tersebut menunjukkan sahnya jual beli secara mutlak, baik dari penjual atau orang lainnya. Hal tersebut karena meninggalkan untuk dipisahkan di saat kondisi yang memungkinkan sehingga berlaku kondisi umum pembicaraan. Pendapat Asy-Syafi’i diperkuat dengan adanya ijma’ ulama yang membolehkan jual beli dari pembeli setelah ada jeda tempo bukan bermaksud untuk meneruskan kembali jual beli ke semula dengan memberikan tambahan harga.

Al-Hadawiyah mengatakan, “Boleh jual beli dari penjual bila tanpa tipuan dan tidak ada perbedaan antara kontan dan tempo. Tolak ukurnya adalah adanya syarat dalam akad pokok atau tidaknya. Bila disyaratkan saat akad atau sebelumnya kembali ke penjual maka jual belinya cacat (fasad) dan batal dengan diperselisihkan yang terjadi di kalangan para ulama. Bila di dalam hati bukan diucapkan tidak disyaratkan, maka sah jual belinya, semoga saja mereka mengatakan: hadits ‘Inah ada catatannya sehingga tidak bisa dijadikan bukti yang mengharamkan.”

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Selalu membuntuti ekor-ekor sapi” merupakan bentuk kiasan dari sikap sibuk membajak sawah, dan “hanya puas menunggui tanaman” sebagai kiasan beban pikirannya terpusat pada dunianya. ”maka Allah akan meliputi dirimu” sebuah kiasan menjadikan mereka hina dengan penuh paksaan. Sabda beliau, “hingga kamu kembali kepada agamamu” yakni kembali menyibukkan diri dengan ibadah agama. Dalam ungkapan ini terdapat ancaman dan hinaan yang sangat getir hingga diposisikan seperti posisi orang murtad, Dalam hadits tersebut juga terdapat anjuran untuk berjihad.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *