[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 315

08. KITAB NIKAH – 08.01. BAB KAFA’AH DAN PILIHAN 06

0938

وَعَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: أَيُّمَا رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَدَخَلَ بِهَا فَوَجَدَهَا بَرْصَاءَ، أَوْ مَجْنُونَةً، أَوْ مَجْذُومَةً فَلَهَا الصَّدَاقُ بِمَسِيسِهِ إيَّاهَا، وَهُوَ لَهُ عَلَى مَنْ غَرَّهُ مِنْهَا

938. Dari Sa’id bin Al-Musayyib bahwa Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Laki-laki manapun yang menikah dengan perempuan setelah menggaulinya ia mendapatkan perempuan itu berkudis, gila, atau berpenyakit kusta, maka ia harus membayar maskawin karena telah menggaulinya dan ia berhak mendapatkan gantinya dari orang yang menipunya.” (HR. Sa’id bin Manshur, Malik dan Ibnu Syaibah dengan perawi yang dapat dipercaya)

[dha’if. Lihat, Al-Irwa’ (1913)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sudah dijelaskan dalam pembahasan terdahulu bahwa pernikahan itu dibatalkan karena ada aib, si suami berhak minta ganti mahar kepada orang yang menipunya, inilah yang menjadi pendapat Al-Hadi, Malik dan pengikut Asy Syafi’i; karena hal itu terjadi atas ulahnya, tapi dengan syarat bahwa dia mengetahui aib tersebut, jika dia tidak tahu, maka dia tidak berhak untuk mengganti. Dan perkataan Umar, “Dari orang yang menipunya” menunjukkan bahwa hal itu sepengetahuan si penipu. Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa maharnya tidak diganti, akan tetapi pendapat Asy-Syafi’i tersebut terdapat dalam pendapat yang baru [qaul al-jadid].”

Ibnu Katsir menerangkan dalam kitab Al-lrsyad: Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam pendapat yang lama [qaul al-qadim] dari Umar, Ali dan Ibnu Abbas berhak meminta ganti maharnya kepada yang menipunya, diperkuat lagi dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»

“Siapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” [shahih, Muslim (102)]

lalu Asy-Syafi’i berkata dalam pendapat yang baru [qaul al-jadid]: kami mengabaikan hadits itu karena berdasarkan pada hadits,

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ أَصَابَهَا فَلَهَا الصَّدَاقُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا»

“Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mcncampurinya, maka ia wajib memhayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya.”1003

Selanjutnya, Rasulullah mewajibkan atasnya mahar dalam pernikahan batil, padahal ia (wanita) yang menipu, maka mahar yang telah diberikan dalam pernikahan yang sah tidak perlu meminta ganti kepada penipu sang suami, tentunya lebih tepat.

Ada yang juga yang mengatakan, bahwa hadits yang menyatakan perempuan menikah tanpa izin wali itu adalah mutlak, lalu dikhususkan dengan hadits dalam bab ini.

0939

وَرَوَى سَعِيدٌ أَيْضًا عَنْ عَلِيٍّ نَحْوَهُ، وَزَادَ: وَبِهَا قَرْنٌ، فَزَوْجُهَا بِالْخِيَارِ، فَإِنْ مَسَّهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا

939. Sa’id juga meriwayatkan hadits serupa dari Ali Radhiyallahu Anhu dengan tamhahan; dan kemaluannya bertanduk, maka suaminya boleh menentukan pilihan, jika ia telah mencampurinya maka ia wajib memhayar mahar kepadanya untuk menghalalkan kehormatannya.”

[Sa’id bin Manshur dalam kitab Sunannya (1/245-246)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sa’id juga meriwayatkan hadits (yaitu Ibnu Manshur) Ali Radhiyallahu Anhu dengan tamhahan, “Dan kemaluannya bertanduk (yaitu sesuatu yang terdapat dalam kemaluan wanita yang dapat menghalangi atau mengganggu saat dicampuri) maka suaminya boleh menentukan pilihan, jika ia telah mencampurinya maka ia wajib membayar mahar kepadanya untuk menghalalkan kehormatannya.”

0940

وَمِنْ طَرِيقِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ أَيْضًا قَالَ: قَضَى عُمَرُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي الْعِنِّينِ أَنْ يُؤَجَّلَ سَنَةً، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

940.Dan juga dari jalur Sa’id bin Al-Musayyib, ia berkata, “Umar bin Al-Khaththab menetapkan bahwa orang yang impoten hendaknya ditunda (tidak dicerai) hingga setahun.” (Para perawinya dapat dipercaya)

[Sa’id bin Manshur dalam kitab Sunannya (2/79)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan juga dari jalur Sa’id bin Al-Musayyib (maksudnya Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari jalan bin Al-Musayyib) ia berkata, “Umar bin Al-Khaththab menetapkan bahwa orang yang impoten hendaknya ditunda (tidak dicerai) hingga setahun”. Perawinya dapat dipercaya (الْعِنِّينِ ” orang yang tidak bisa menggauli istrinya karena dzakarnya tidak berfungsi normal [impoten], baik karena penyakit atau disihir, hendaknya qadhi [hakim] memberikan keputusan seperti itu)

Tafsir Hadits

Atsar ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa impotent merupakan aib yang bisa membatalkan pernikahan setelah dipastikan kebenarannya. Akan tetapi masih ada perbedaan ulama tentang hal itu, bagi yang berpendapat dibatalkan nikahnya terjadi perbedaan tentang tenggang waktu yang diberikan untuk mengetahui dengan pasti keadaan suami benar-benar impoten atau tidak. Ada yang mengatakan, diberi tenggang waktu selama satu tahun, berdasarkan riwayat dari Umar dan Ibnu Mas’ud, riwayat dari Utsman; tidak diberi tenggang waktu. Menurut Al-Harits bin Abdullah: diberi tenggang waktu selama sepuluh bulan. Sedang menurut Ahmad dan Al-Hadi dan ulama lainnya tidak dibatalkan nikahnya hanya karena impoten, mereka beralasan bahwa hukum asal nikahnya tidak batal, atsar ini tidak bisa dijadikan hujjah. Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memberikan hak pilih kepada istri Rifa’ah yang mengadu kepada Nabi, padahal itu waktu tepat untuk memberikan pengajaran, masalah ini sudah dijawab dalam kitab Al-Bahr dengan perkataan, “Menurut kami: mungkin suami membantah apa yang diadukannya kepada Rasulullah dan sepertinya inilah yang benar.”

Saya katakan, sudah maklum bahwa istri Rifa’ah tidak mengadukan perihal Rifa’ah, karena sudah diceraikan, lalu ia menikah dengan Abdurrahman bin Az-Zubair, dan datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengadukan perihalnya, ia berkata, “Kepunyaannya seperti ujung baju ini (impoten).” Nabi bersabda, “Apakah kamu ingin rujuk kembali ke Rifa’ah? Jika ia, hal itu tidak boleh dilakukan sampai kamu merasakan manisnya madunya demikian juga dia (nikmatnya hubungan suami istri).

Dalam kitab Al-Muwaththa’ disebutkan bahwa Rifa’ah menceraikan istrinya, Tamimah binti Wahab, dengan talak tiga [ba’in] pada masa Nabi, lalu ia (sang istri) menikah dengan Abdurrahman Ibnu Az-Zubair, dan ia tidak bisa melakukan hubungan suami istri (impoten) dengannya maka dia langsung menceraikannya, lalu Rifa’ah ingin menikah dengan istrinya lagi, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Apakah kamu ingin ….” (Al-Hadits)

Dengan penjelasan di atas diketahui kesalahan menjadikan hadits Rifa’ah sebagai dasar hukum rnasalah ini, karena dia tidak meminta dibatalkan nikahnya dengan Rifa’ah, bahkan dipahami sebetulnya dia ingin rujuk kembali dengan Rifa’ah, maka Nabi memberitahukan bahwa Abdurrahman belum merasakan manisnya madunya begitu juga sebaliknya (hubungan suami istri) karena itu belum halal untuk rujuk kepada Rifa’ah, dan bagaimana bisa hadits Rifa’ah tadi dijadikan dasar untuk membatalkan nikah? Malik meriwayatkan dalam kitab Al-Muwatha’ bahwa Abdurrahman tidak bisa “berhubungan” dengan istrinya, lalu dia menceraikannya, maka Rifa’ah ingin menikahi kembali, suami pertama, dan dia datang kepada Nabi meminta fatwa tentang masalah yang dihadapinya dan jawaban Nabi bahwa belum halal baginya.

Sedangkan kisah Abu Rikanah yang menyebutkan: dia menikah dengan seorang wanita dari Mazinah, si wanita itu datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Saya tidak butuh dengan Abu Rikanah seperti sehelai rambut yang saya cabut, maka pisahkanlah [ceraikan] kami berdua. Cerita wanita itu membuat Nabi ingin mengetahui kebenarannya, maka beliau memanggil Rikanah dan saudaranya lalu berkata kepada mereka, “Apakah kalian tahu -yakni anaknya-menyerupai dia dalam hal ini dan ini dari sifat Abdi Yazid, dan anaknya yang lain mirip dengannya dalam hal ini dan ini?” Mereka menjawab, “Ya.” Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Abdu Yazid, “Ceraikan dia” maka ia pun menceraikannya…. (al-hadits) diriwayatkan Abu Dawud dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, zhahirnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membenarkan tuduhan perempuan tersebut bahwa suaminya impoten; karena berbeda dengan kenyataan dan juga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui keturunannya tentang anak-anaknya. Itu menunjukkan tuduhan si wanita bahwa suaminya impoten tidak benar menurut Nabi, namun beliau menyuruhnya untuk menceraikan istrinya karena memang si wanita minta diceraikan bukan karena dia impoten.

Faedah: Ibnu Al-Mundzir berkata, “Ulama berbeda pendapat jika si wanita menuntut suaminya untuk “berhubungan”, maka kebanyakan ulama mengatakan: bila dia menggaulinya setelah yang pertama kali maka dia tidak diberi tenggang waktu seperti impoten, inilah pendapat dari Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ishaq.

Abu Tsaur berkata, “Jika dia tidak bisa berhubungan karena suatu penyakit, diberi tenggang waktu selama setahun, jika bukan karena suatu penyakit, maka tidak ada tenggang waktu.”

Iyadh berkata, “Para ulama bersepakat bahwa wanita mempunyai hak untuk “berhubungan” jika dia menikah dengan seorang laki-laki yang terpotong dzakar, maka dia berhak memilih bila hal itu tidak ia ketahui sebelumnya, dan bagi suaminya yang impoten diberi tenggang waktu selama setahun untuk mengetahui mungkin saja penyakitnya sembuh.

Saya katakan, “Semua pendapat yang menyatakan menunggu selama setahun tidak berdasarkan dalil yang kuat, hanya para fuqaha’ menyebutkan tenggang waktu itu dengan kemungkinan akan sembuh atau terbukti penyakitnya ketika melalui empat musim itu dalam setahun.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *