[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 246

07. KITAB JUAL BELI – 07.03. BAB RIBA 03

0777

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ بَيْعِ الصُّبْرَةِ مِنْ التَّمْرِ الَّتِي لَا يُعْلَمُ مَكِيلُهَا بِالْكَيْلِ الْمُسَمَّى مِنْ التَّمْرِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

777. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli setumpuk kurma yang tidak diketahui takarannya dengan kurma yang diketahui takarannya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1530)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli setumpuk (sekumpulan makanan) kurma yang tidak diketahui takarannya dengan kurma yang diketahui takarannya.”

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan keharusan adanya kesamaan antara dua jenis barang. Persyaratan hal tersebut telah disebutkan pada sisi hukum larangannya.

0778

وَعَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: إنِّي كُنْت أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «الطَّعَامُ بِالطَّعَامِ مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَكَانَ طَعَامُنَا يَوْمَئِذٍ الشَّعِيرَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

778. Ma’mar bin Abdullah Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanan dengan makanan yang sama sebanding”. Makanan kami pada hari itu adalah sya’ir (gandum). (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1592)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Ma’mar bin Abdullah Radhiyallahu Anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Makanan dengan makanan yang sama sebanding”. Makanan kami pada hari itu adalah sya’ir (gandum). (Zhahir kata makanan dalam hadits tersebut mencakup setiap yang dimakan).

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut menunjukkan tidak bolehnya menjual makanan yang sama dengan berbeda kadarnya. Bila jenisnya berbeda, tidak ada seorang pun mengatakan hal itu secara umum. Perbedaan pendapat terjadi pada gandum dan tepung seperti telah disebutkan pendapat Imam Malik, Hanya saja Ma’mar mengkhususkan makanan yang berupa tepung. Kekhususan ini berdasarkan kebiasaan perilaku, dimana tidak mencakup nama saja. Kalangan Hanafiyah berpendapat dengan mengkhususkan hal tersebut.

Jumhur ulama tidak mengkhususkan dengan hal tersebut, kecuali bila diharuskan oleh keumuman kata tersebut, kalau tidak maka kata tersebut diartikan sesuai keumumannya. Akan tetapi, hal tersebut dikhususkan dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang disebutkan sebelumnya, “Apabila jenis-jenis ini berbeda maka juallah sekehendak kalian” setelah menyebutkan gandum dan tepung. Hal tersebut menunjukkan bahwa keduanya adalah dua jenis yang berbeda. Itulah perkataan Jumhur yang berbeda dengan perkataan Imam Malik, Laits dan Al-Auza’i, mereka mengatakan, “Keduanya satu jenis tidak boleh salah satu dari keduanya dijual dengan yang lain secara berbeda nilainya. Pendapat mereka didahului oleh Ma’mar bin Abdillah perawi hadits dan menambahkan satu sha’. Dikatakan pada Ma’mar: Kenapa engkau melakukan hal tersebut? Pergilah dan kembalikanlah serta jangan kau ambil, kecuali sepadan karena aku mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian dia menyebutkan riwayat hadits tersebut. Dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya hal itu tidak sama’, dia berkata, ‘Aku khawatir akan berbeda’. Nampaknya itu merupakan hasil ijtihadnya semata dan hal tersebut ditolak dengan zhahir nash hadits. Sedangkan nash hadits Abu Dawud dan An-Nasai dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«لَا بَأْسَ بِبَيْعِ الْبُرِّ بِالشَّعِيرِ وَالشَّعِيرُ أَكْثَرُ وَهُمَا يَدًا بِيَدٍ»

“Tidak mengapa menjual burr (gandum) dengan syair (jewawut) yang jumlahnya lebih banyak, dan keduanya ada serah terima.” [Shahih: Abi Dawud (3349)]

0779

وَعَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «اشْتَرَيْت يَوْمَ خَيْبَرَ قِلَادَةً بِاثْنَيْ عَشَرَ دِينَارًا، فِيهَا ذَهَبٌ وَخَرَزٌ. فَفَصَلْتهَا فَوَجَدْت فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ اثْنَيْ عَشَرَ دِينَارًا، فَذَكَرْت ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: لَا تُبَاعُ حَتَّى تُفْصَلَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

779. Dari Fadlalah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Pada hari perang Khaibar aku membeli kalung emas bermanik seharga dua belas dinar. Setelah manik-manik itu kulepas ternyata ia lebih dari dua belas dinar. Lalu aku beritahukan hal itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau bersabda, “Tidak boleh dijual sebelum dilepas.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1591)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits tersebut dikeluarkan pula oleh Ath-Thabrani dalam kitab “Al-Kabir” dengan jalur yang banyak sekali dan dengan lafazh yang berbeda-beda, sehingga sebagian ulama mengatakan, “Hadits tersebut muththarib (tidak konsisten).”

Penulis Rahimahullah menjawab: bahwa perbedaan ini tidak mengharuskannya berubah menjadi hadits dhaif, justru tujuan berdalil dengannya telah terjaga sehingga tidak ada perbedaan tentang hal itu. Yaitu berupa larangan menjual sesuatu yang tidak dipisahkan. Adapun jenis dan kadar harganya tidak berkaitan dengan kondisi ini yang mengharuskan adanya keraguan. Oleh karena itu, tidak patut menguatkan salah satu perawinya walaupun semuanya terpercaya sehingga dihukumi shahih riwayat perawi yang kuat hafalan dan tepat riwayatnya, sedangkan riwayat yang lain menjadi cacat. Perkataan tersebut bagus sekali untuk menjawab pendapat yang serupa seperti hadits Jabir dan kisah unta dan kadar harganya.

Tafsir Hadits

Hadits di atas sebagai dalil tidak bolehnya menjual emas beserta benda lainnya yang bercampur dengan emas sampai dipisahkan sehingga emas dijual dengan beratnya emas, sedangkan lainnya dijual dengan kelebihannya. Seperti itu pula riwayat yang lain, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak boleh dijual sebelum dilepas” dengan memperjelas kebatilan akad tersebut dan harus segera melakukannya. Hukum hal ini masih diperselisihkan ulama, banyak kalangan salaf, Imam Syafi’i, Ahmad dan selainnya berpendapat dengan mengamalkan zhahir hadits. Sedangkan Al-Hadawiyah, Al-Hanafiyah dan lainnya mengatakan: Karena emas dibolehkan dijual dengan emas dan kelebihan dari emas sebanding dengan semisal sehingga sah jual belinya. Mereka mengatakan; bila akad mencakup kemungkinan sisi sah dan batil maka diarahkan ke sisi yang sah. Kata mereka: sedangkan hadits tentang kalung emasnya lebih banyak dari 12 dinar karena termasuk salah satu riwayat pada Imam Muslim dan dishahihkan oleh Abu Ali Al-Ghasani yang lafazhnya: “Kalung tersebut terdapat uang 12 dinar” seperti pula hukum sebagian besar riwayat. Kedua anggapan tersebut tidak sah karena tidak mungkin benda yang berisi satu barang dianggap lebih banyak dibandingkan yang berisi lebih dari satu sehingga kelebihan benda yang sendiri sebagai pengganti yang berisi lainnya.

Kalangan ulama yang melarang hal tersebut menanggapinya, bahwa dalam hadits terdapat petunjuk alasan hal tersebut dilarang, yaitu tidak dapat dipisahkan dimana beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak boleh dijual sebelum dilepas”. Zhahir hadits berlaku mutlak pada hal yang serupa dan lainnya. Kebenaran berpihak pada kalangan yang mengatakan tidak sah. Semoga saja sisi hikmah larangan yaitu menutup peluang terjadinya perbedaan dalam jenis-jenis barang ribawi. Hal tersebut tidak dapat dilakukan pembedaan kecuali dengan melepas dan menguji kesamaan dengan cara ditakar atau ditimbang, tidak cukup hanya dengan prediksi secara umum.

Imam Malik mempunyai pendapat ketiga dalam masalah ini, dengan membolehkan menjual pedang yang berhiaskan emas bila emas berada dibarang dagangan milik lainnya dengan membatasinya sebesar sepertiga atau kurang. Dikritisi perkataannya bila jenisnya sama dengan jenis yang sepertiga adapun kurang dari itu mengikuti jenis yang berbeda. Kebanyakan secara keumuman hukum diposisikan sebagai bentuk seluruhnya. Seakan tidak menjual jenis tersebut dengan jenisnya. Nampak jelas kelemahan pendapat tersebut, lebih lemah lagi pendapat keempat yang membolehkan jual beli tersebut dengan emas secara mutlak sama, lebih sedikit atau lebih banyak. Semoga saja yang mengatakan hal tersebut tidak mengetahui hadits tentang kalung ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *