[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 314

08. KITAB NIKAH – 08.01. BAB KAFA’AH DAN PILIHAN 05

0936

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «أَسْلَمَتْ امْرَأَةٌ فَتَزَوَّجَتْ، فَجَاءَ زَوْجُهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي كُنْت أَسْلَمْت، وَعَلِمَتْ بِإِسْلَامِي فَانْتَزَعَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ زَوْجِهَا الْآخَرِ وَرَدَّهَا إلَى زَوْجِهَا الْأَوَّلِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَهْ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ

936. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Ada seorang wanita masuk Islam, lalu menikah, kemudian suaminya [yang pertama] datang dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam dan ia mengetahui aku masuk Islam. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil wanita tersebut dari suaminya yang kedua dan mengembalikannya kepada suami yang pertama.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

[Dha’if: Abi Dawud (2238, 2239)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan, apabila ada seorang suami yang masuk Islam, sedang istrinya sudah lebih dahulu masuk Islam, dan istrinya tersebut mengetahui masuknya Islam sang suami, maka statusnya tetap sebagainya istrinya. Apabila sang istri ketika sang suami belum masuk Islam telah menikah, maka pernikahan itu dianggap batil dengan masuknya Islam sang suami, dan ia diambil -walaupun dengan paksaan- dari suaminya yang kedua. Ucapan “ia mengetahui aku masuk Islam” menunjukkan masuknya Islam sang suami setelah masa iddahnya selesai atau belum. Walau bagaimanapun keadaannya, istri dikembalikan lagi kepada suaminya yang pertama.

Jika istri tahu bahwa suaminya masuk Islam sebelum ia menikah dengan pria yang lain, maka pernikahannya itu hukumnya batil secara mutlak, baik ia masih dalam masa iddah maupun tidak. Ini merupakan dalil bagi perkataan Ibnul Qayyim yang telah kami kemukakan dahulu; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak bertanya apakah masa iddahnya telah selesai atau belum. Dalil masa iddah bagi mereka tidak terkait dengan hukum apapun. Hanya saja menurut perkataan Ibnul Qayyim yang telah kami kemukakan dahulu, bila masa iddah telah habis dia berhak menikah dengan siapa yang dikehendaki, jadi untuk melengkapi cerita itu dengan mengatakan pernikahan tersebut masih dalam masa iddah sehingga bisa bersatu kembali dalam ikatan suami istri seperti sedia kala.

0937

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْعَالِيَةَ مِنْ بَنِي غِفَارٍ، فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ وَوَضَعَتْ ثِيَابَهَا، رَأَى بِكَشْحِهَا بَيَاضًا، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: الْبَسِي ثِيَابَك، وَالْحَقِي بِأَهْلِك، وَأَمَرَ لَهَا بِالصَّدَاقِ» رَوَاهُ الْحَاكِمُ، وَفِي إسْنَادَهُ جَمِيلُ بْنُ زَيْدٍ، وَهُوَ مَجْهُولٌ، وَاخْتُلِفَ عَلَيْهِ فِي شَيْخِهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

937. Zaid bin Ka’ab bin Ujrah, dari ayahnya berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikah dengan Aliyah binti Zhibyan dari bani Ghifar. Setelah ia [Aliyah] datang kepada beliau dan menanggalkan pakaiannya, beliau melihat belang putih di pinggulnya, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pakailah pakaianmu dan pulanglah ke keluargamu.” Beliau memerintahkan agar diberi mahar. (HR. Al-Hakim dan dalam sanadnya ada perawi yang tidak dikenal, yaitu Jamil bin Zaid. Mereka berbeda pendapat tentang syaikhnya)

[dha’if sekali, Al-Hakim (4 /36). Lihat, Al-Irwa’ (1912)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Zaid bin Ka’ab bin Ujrah, dari ayahnya berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menikah dengan Aliyah binti Zhibyan dari bani Ghifar. Setelah ia datang kepada beliau dan menanggalkan pakaiannya, beliau melihat belang putih di pinggulnya (antara pinggul dan tulang rusuk seperti yang terdapat dalam kamus) lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pakailah pakaianmu dan pulanglah ke keluargamu.” Beliau memerintahkan agar diberi mahar.” HR. Al-Hakim dan dalam sanadnya ada perawi yang tidak dikenal, yaitu Jamil bin Zaid. Mereka berbeda pendapat tentang syaikhnya.”

Ulama berselisih tentang hadits ini, apakah benar-benar dari Jamil atau tidak. Ada yang mengatakan, dari Jamil sebagaimana yang ditulis pengarang. Ada juga yang mengatakan, dari Ibnu Umar. Ada yang mengatakan, dari Ka’ab bin Ujrah. Ada yang mengatakan, dari Ka’ab bin Zaid.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa penyakit lepra [kusta] itu menjijikan. Hadits ini tidak menunjukkan secara jelas bahwa pernikahan menjadi batal karenanya. Hal ini disebabkan karena adanya berbagai kemungkinan tentang sabda Nabi, “Pulanglah ke keluargamu,” apakah maksudnya thalak atau tidak. Akan tetapi, Ibnu Katsir meriwayatkan hadits ini dengan lafazh, “Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikah dengan seorang wanita dari bani Ghifar, ketika wanita datang kepada beliau dan menanggalkan pakaiannya, beliau melihat belang putih di pinggulnya, lalu Nabi mengembalikannya kepada keluarganya dengan bersabda, “Kalian menipuku.” Ini secara jelas menunjukkan bahwa Nabi membatalkan pernikahan. Hadits ini disebutkan Ibnu Katsir dalam bab ‘Khiyar dalam menikah dan mengembalikan barang dagangan yang ada aibnya’.

Ulama berbeda pendapat tentang pembatalan pernikahan karena adanya aib. Jumhur ulama menetapkan hal tersebut, walaupun mereka berbeda pendapat tentang aib-aib apa saja yang bisa membatalkan pernikahan.

Diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa si wanita tidak dikembalikan kepada keluarganya kecuali karena empat hal: gila, kusta, lepra dan kemaluannya berpenyakit, dengan sanad yang terputus.

Al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas dengan sanad jayyid (baik),

أَرْبَعٌ لَا يَجُزْنَ فِي بَيْعٍ، وَلَا نِكَاحٍ الْمَجْنُونَةُ، وَالْمَجْذُومَةُ، وَالْبَرْصَاءُ، وَالْعَفْلَاءُ

“Empat macam aib yang tidak membolehkan seorang wanita untuk melakukan jual beli dan menikah yaitu: gila, kusta, lepra dan kemaluannya sempit karena ada yang tumbuh di dalamnya, [Al-Baihaqi (7/215)]

demikian juga aib yang terdapat pada laki-laki, tapi ditambah lagi dengan impoten dan dzakarnya terputus, walaupun hukum masalah impoten masih diperselisihkan sebagian ulama, demikian juga macam-macam aib yang membuat orang berpaling, masih ada perselisihan pendapat.

Ibnul Qayyim menegaskan bahwa setiap aib yang membuat seorang suami menjauhi istrinya sehingga tujuan pernikahan untuk menciptakan rasa cinta dan kasih sayang di antara keduanya tidak tercapai, maka mewajibkannya memilih: terus bersamanya atau berpisah [bercerai], bahkan ini lebih utama dibandingkan khiyar jual beli, sebagaimana memenuhi syarat-syarat dalam nikah lebih utama dari pada syarat-syarat dalam jual-beli. Lalu berkomentar, “Siapa yang merenungi tujuan-tujuan syariat Islam mulai dari sumber-sumber, keadilan, hikmah dan kemaslahatan yang ada padanya, pastilah dia mengetahui tepatnya pendapatku ini dan lebih sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at Islam.

Penulis berkata, “Adapun menyederhanakan aib menjadi dua, tiga, empat, enam, tujuah atau delapan tanpa diprioritaskan mana yang paling utama atau semisal akan menyulitkan dalam menentukan standar baku. Bukankah bila si wanita buta, bisu, tuli, atau salah satu tangan atau kakinya terputus atau kedua-duanya sekaligus adalah aib yang membuat seseorang langsung menjauh? Dan tidak memberitahukan aib tersebut sebelum pernikahan adalah penipuan yang dilarang dalam agama. Sebab, siapa saja pasti cenderung kepada yang sempurna dan sehat fisiknya; hal ini seperti syarat yang sudah diketahui secara umum. Lalu ia berkata, “Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab berkata kepada seorang laki-laki yang ingin menikah sedangkan dia mandul, “Beritahu calon istrimu bahwa kamu mandul.” Lalu bagaimana bila si wanita mempunyai semua aib tersebut di atas? (tentu seharusnya diberitahukan).

Dawud dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa pernikahan tidak bisa sama sekali dibatalkan dikarenakan aib, seperti mereka tidak mengakui keshahihan hadits tersebut dan tidak menggunakan dalil qiyas dalam masalah ini, sehingga mereka berpendapat tidak dibatalkan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *