[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 245

07. KITAB JUAL BELI – 07.03. BAB RIBA 02

0774

وَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلًا بِمِثْلٍ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

774. Dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “(Diperbolehkan menjual) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama sebanding, sejenis, dan ada serah terima dan jika jenis-jenisnya berbeda maka juallah sesuai dengan kehendak kalian dengan syarat kontan.” (HR. Muslim).

[shahih, Muslim (1587)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “(Diperbolehkan menjual) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama sebanding, sejenis, dan ada serah terima (nampak jelas penegasan beliau dengan mengucapkan “sama sebanding, dan sejenis”)

Tafsir Hadits

Dalam hadits terdapat dalil haramnya kelebihan (syarat jual beli) pada barang yang sama jenisnya dalam enam jenis barang yang disebutkan dalam nash hadits. Seluruh umat berpendapat mengharamkan perbuatan riba, hanya saja mereka berbeda pendapat pada jenis barang yang lainnya.

Jumhur ulama berpendapat mengharamkan jenis barang yang selainnya selama mempunyai kesamaan dalam segi alasan (illah). Akan tetapi ketika tidak didapati alasan yang tepat sesuai nash syar’i, mereka banyak sekali berbeda pendapat. Nampak bagi orang yang mencermatinya bahwa pendapat kalangan Zhahiriyah-lah yang benar bahwa riba tidak berlaku, kecuali pada enam jenis hal yang disebutkan dalam hadits. Kami secara terpisah telah membahasnya dalam risalah yang diberi nama ‘Al-Qaul Al-Mujtaba’. Ketahuilah bahwa ulama sepakat membolehkan jual beli barang ribawi dengan ribawi yang tidak sama jenisnya secara tunda dan berbeda. Seperti jual beli emas dengan gandum, perak dengan tepung dan lainnya dari barang yang ditakar. Mereka sepakat pula bolehnya menjual sesuatu dengan sama jenisnya dan salah satunya pembayaraannya tertunda, mereka sepakat pula dibolehkannya berbeda nilainya selama ada serah terima seperti satu sha’ gandum dengan dua sha’ gandum.

0775

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ. وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ، فَمَنْ زَادَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

775. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “(Diperbolehkan menjual) emas dengan emas yang sama timbangannya dan sama sebanding, dan perak dengan perak yang sama timbangannya dan sama sebanding. Barangsiapa menambah atau meminta tambahan maka itu riba”. (HR. Muslim).

[shahih, Muslim (1588).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits tersebut terdapat dalil penentuan kadar dilakukan dengan timbangan, bukan dengan kira-kira atau acak. Bahkan harus dengan menggunakan alat pengukur berat untuk mendapat kepastian. Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Barangsiapa menambah” yakni memberi tambahan, “atau meminta tambahan,” yakni memohon ditambah, “maka itu riba” yakni melakukan riba yang diharamkan, dosanya sama antara penerima dan pemberi riba.

0776

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اسْتَعْمَلَ رَجُلًا عَلَى خَيْبَرَ، فَجَاءَهُ بِتَمْرٍ جَنِيبٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَكُلُّ تَمْرِ خَيْبَرَ هَكَذَا فَقَالَ: لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّا لَنَأْخُذُ الصَّاعَ مِنْ هَذَا بِالصَّاعَيْنِ، وَالصَّاعَيْنِ بِالثَّلَاثَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَا تَفْعَلْ، بِعْ الْجَمْعَ بِالدَّرَاهِمِ، ثُمَّ ابْتَعْ بِالدَّرَاهِمِ جَنِيبًا» وَقَالَ فِي الْمِيزَانِ مِثْلَ ذَلِكَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَلِمُسْلِمٍ ” وَكَذَلِكَ الْمِيزَانُ

776. Dari Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat seorang amil zakat untuk daerah Khaibar. Kemudian ia membawa kepada beliau kurma yang bagus, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah setiap kurma Khaibar seperti ini?” Ia menjawab, “Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah. Kami menukar satu sha’ seperti ini dengan dua sha’, dan dua sha’ dengan tiga sha’. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan lakukan itu, juallah semua (kurma jelek) dengan dirham, kemudian belilah kurma yang bagus dengan dirham tersebut”. Beliau bersabda: “Demikian juga dengan benda-benda yang ditimbang”. (Muttafaq Alaih). Menurut riwayat Muslim: “Demikian pula benda-benda yang ditimbang.”

[shahih, Al-Bukhari (2201, 2202) dan Muslim (1593)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat seorang amil zakat (namanya Sawad bin Ghuzayyah dari kaum Anshar) untuk daerah Khaibar. Kemudian ia membawa kepada beliau kurma yang bagus (maknanya akan dijelaskan nanti) lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah setiap kurma Khaibar seperti ini?” Ia menjawab, “Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah. Kami menukar satu sha’ seperti ini dengan dua sha’, dan dua sha’ dengan tiga sha’. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan lakukan itu, juallah semua (kurma jelek) (Kata al-Jam’a dalam hadits maknanya kurma yang jelek) dengan dirham, kemudian belilah kurma yang bagus dengan dirham tersebut”. Beliau bersabda: “Demikian juga dengan benda-benda yang ditimbang”. Muttafaq Alaih. Menurut riwayat Muslim: ‘Demikian pula benda-benda yang ditimbang.” (Kata al-Janib dalam hadits artinya kurma yang bagus, kuat dan sudah dibuang hal yang tidak baik darinya. Ada pula yang mengartikan dengan kurma yang tidak dicampur dengan yang lain. Dalam riwayat muslim al-Jam’a ditafsirkan sebagai kurma yang bercampur maksudnya kumpulan berbagai macam kurma.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut sebagai petunjuk bahwa menjual sesuatu dengan yang sejenis wajib mempunyai kesamaan, baik sama kualitas baik dan buruknya maupun berbeda, dan semua jenis merupakan satu kesatuan. Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Demikian juga dengan benda-benda yang ditimbang” beliau mengatakan hal tersebut bila barang yang ditimbang dijua! dengan barang sejenis dan sama halnya dengan barang yang ditakar tidak boleh dijual secara berbeda nilainya. Bila ingin berbeda, maka juallah dengan dirham kemudian belilah yang diinginkan dengan dirham tersebut. Ijma ulama mengatakan tidak ada beda antara barang yang ditakar dengan yang ditimbang dalam hukum ini.

Hadits ini digunakan oleh kalangan Al-Hanafiyyah sebagai hujjah (argumentasi), bahwa sesuatu yang ditakar pada saat zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sah dijual dengan ditimbang secara sama. Justru harus diperhatikan takaran dan kesamaan takarannya, begitu pula dengan timbangan. Ibnu Abdil Bar mengatakan, mereka sepakat bahwa sesuatu yang pada asalnya ditimbang tidak boleh dijual dengan ditakar, tapi berbeda halnya dengan sesuatu yang pada asalnya ditakar. Sebagian mereka membolehkan timbangan dengan mengatakan, bahwa kesamaan diperoleh dengan timbangan tiap barang. Sedangkan yang lainnya menganggap timbangan dan takaran disesuaikan dengan kebiasaan daerah walaupun berbeda dengan kebiasaan saat itu. Bila adat istiadat daerah berbeda-beda, maka dianggap keumuman adat daerah tersebut. Tapi bila kedua hal tersebut sama, maka digunakan hukum takaran bila menjual barang yang ditakar dan bila menjual barang yang ditimbang maka dengan menggunakan hukum timbangan.

Periu diketahui, dalam riwayat tersebut tidak disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan mengembalikan barang dagangan, bahkan nampaknya beliau menetapkannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa beliau memberitahukan hukum hal tersebut dan memaklumi akan ketidaktahuannya. Hanya saja Ibnu Abdil Bar mengatakan: diamnya perawi terhadap riwayat pembatalan akad dan pengembaliannya, tidak menunjukkan bahwa hal tersebut tidak terjadi yang telah dikeluarkan riwayatnya dari jalur yang lain. Sepertinya beliau mengisyaratkannya pada riwayat dari jalur Abu Nadhrah dari Abu Sa’id seperti kisah ini, kemudian berkata: ‘ini riba, maka kembalikanlah’ beliau berkata: dimungkinkan perbedaan kisah, sedangkan riwayat yang tidak menunjukkan perintah mengembalikan barang lebih diprioritaskan.

Dalam hadits tersebut terdapat petunjuk bolehnya menghibur diri dengan memilih hal yang terbaik.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *