[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 313

08. KITAB NIKAH – 08.01. BAB KAFA’AH DAN PILIHAN 04

0934

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «رَدَّ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ابْنَتَهُ زَيْنَبَ عَلَى أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ، بَعْدَ سِتِّ سِنِينَ بِالنِّكَاحِ الْأَوَّلِ. وَلَمْ يُحْدِثْ نِكَاحًا» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ، وَالْحَاكِمُ

934. Dari Ibnu Abbas berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan putri beliau Zainab kepada Abu Al-Ash bin Rabi’ setelah enam tahun dengan akad nikah pertama, dan beliau tidak menikahkannya lagi.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i, hadits shahih menurut Ahmad dan Al-Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (2240)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan, dan sanadnya tidak apa-apa.”

Dalam lafazh Ahmad, “Tenggang waktu antara hijrah Zainab dan suaminya selama 6 tahun dan suaminya masih kafir. Zainab berhijrah ke Madinah beberapa saat setelah perang Badar, yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 2 H. Ayat yang mengharamkan wanita muslimah bagi lelaki kafir turun ketika peristiwa Hudaibiyah bulan Dzulqa’dah tahun 6 H, dengan demikian dia menunggu ketentuan itu kurang lebih selama 2 tahun, maka dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Bahwa Nabi mengembalikan puterinya setelah 2 tahun”, inilah yang ditetapkan Al-Hafizh Abu Bakar Al-Baihaqi.

At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini tidak diketahui, yang mengisyaratkan pada bagaimana Nabi mengembalikannya setelah 6, 3 atau 2 tahun, inilah yang menjadi tanda tanya menurut At-Tirmidzi karena begitu lamanya masa iddah tersebut, dan juga tidak ada satu pun ulama yang berpendapat membolehkan seorang istri [muslimah] untuk tetap seatap dengan suaminya bila kafir atau keislamannya terlambat darinya. Ibnu Abdil Bar menukilkan bahwa pendapat itulah yang menjadi ijma’ ulama, dan hanya pengikut Ahli Zhahir yang membolehkan hal itu, tapi pendapat mereka dibantah berdasarkan ijma’. Kemudian dijelaskan setelah itu adanya perbedaan pendapat tentang hal itu dari Ali dan An-Nakha’i yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah. Pendapat At-Tirmidzi itulah yang difatwakan Hammad guru Abu Hanifah, yang meriwayatkan bahwa Ali menerangkan tentang pasangan suami istri kafir bila salah satunya masuk Islam: bahwa dia (istri) lebih berhak memilih siapa yang “bercocok tanam di kebunnya” [menjadi suaminya] selagi dia berada di tempat hijrahnya.” Dalam riwayat lain, “bahwa si suami lebih berhak atasnya selama dia belum keluar rumahnya.” Dalam riwayat dari Az-Zuhri -pendapatnya- jika si wanita masuk Islam dan suaminya tidak, maka keduanya tetap melangsungkan hubungan kekeluargaan jika tidak dipisahkan oleh penguasa.

Jumhur ulama berpendapat, “Apabila wanita harbi yang sudah dicampuri suaminya yang juga berstatus harbi, lalu sang suami masuk Islam sedangkan ia tidak, bila suaminya masuk Islam di saat wanita dalam iddah, maka pernikahan keduanya tetap berlaku, tetapi jika suami masuk Islam setelah masa iddah berlalu; maka keduanya berpisah [cerai].” Inilah yang dikatakan ijma’ ulama dalam kitab Al-Bahr, dan dikatakan juga ijma’ menurut Ibnu Abdi Al-Barr seperti yang telah kamu ketahui tersebut di atas.

Jumhur mentakwil hadits Zainab itu, bahwa masa iddahnya belum habis, dan itu setelah turunnya ayat yang mengharamkan seorang istri (muslimah) untuk seatap dengan suami kafir, yang masa penantian turun ayat itu selama 2 tahun dan beberapa bulan; karena haidh kadang-kadang terlambat atas sebagian wanita; maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikannya karena masa iddahnya belum habis. Ada juga yang mengatakan, bahwa maksud dari sabda Nabi “Dengan pernikahan yang pertama” yaitu tidak ada tambahan syarat dan mahar. Tapi pendapat ini dibantah Ibnul Qayyim, “Kami tidak tahu apakah dalam hadits-hadits tersebut menerangkan tentang iddah, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga tidak bertanya kepada puterinya apakah masa iddahnya sudah habis atau belum, tidak diragukan lagi jika keislaman seseorang yang menyebabkan perpisahan keduanya, tentu perpisahan [cerai ba’in] yang tidak membolehkan rujuk kembali. Bila demikian, iddah yang dimaksud tidak ada faedah baginya (karena tidak bisa rujuk kembali) hanya berfaedah khusus baginya (istri) karena dilarang untuk langsung menikah dengan lainnya sebelum iddahnya selesai. Dan andaikata dengan masuk Islam benar-benar telah memisahkan keduanya; sudah pasti suaminya tidak berhak lagi walaupun sedang masa iddah.

Akan tetapi hukum yang ditunjukkan dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa pernikahan keduanya sangat bergantung kepada hal berikut: jika dia masuk Islam sebelum masa iddah istrinya habis, dia tetap istrinya, dan bila masa iddahnya habis, maka si istri berhak menikah dengan siapa yang dikehendakinya, dan bila dia berkenan menunggu [masuknya] Islam suaminya (dipersilahkan), jika dia masuk Islam, maka dia adalah suaminya tanpa harus memperbaharui pernikahan, karena tidak diketahui seorang pun bila pasangan suami-istri masuk Islam harus memperbaharui pernikahan, tapi yang diketahui hanyalah dua perkara: berpisah dan menikah dengan lainnya, atau menunggu sampai dia masuk Islam. Dan tidak ada yang mengetahui apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan hukum berkaitan masalah perceraian dan iddah, sedangkan saat itu, sudah banyak orang yang masuk dan jarak waktu keislaman di antara pasangan itu tidak begitu jauh. Berkata (penulis), “Jika bukan ketetapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap pernikahan keduanya walaupun di antara keduanya terlambat keislamannya yaitu setelah perjanjian Al-Hudaibiyah dan sebelum penaklukan kota Mekah, pastilah kami berpendapat (tapi tidak) segera memisahkan keduanya karena [masuk] Islam dan tidak beriddah bagi si wanita (karena cerai yang tidak bisa rujuk kembali) berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ}

“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.” (QS. Al-Mumtahanah: 10)

{وَلا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ}

“Dan janganlah kamu tetap berperang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” (QS. Al-Mumtahanah: 10), kemudian menyebutkan masalah-masalah yang menguatkan pendapatnya, inilah pendapat yang paling tepat dalam masalah ini.

0935

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَدَّ ابْنَتَهُ زَيْنَبَ عَلَى أَبِي الْعَاصِ بِنِكَاحٍ جَدِيدٍ»

قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ أَجْوَدُ إسْنَادًا، وَالْعَمَلُ أَجْوَدُ عَلَى حَدِيثِ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ

935.Dari Amr bin Syu’aib, dari Ayahnya, dari kakeknya berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan puteri beliau Zainab kepada Abu Al-Ash dengan nikah baru.”

At-Tirmidzi berkata, “Hadits Ibnu Abbas sanadnya lebih baik, namun yang diamalkan adalah hadits Amr bin Syu’aib.”

[Dha’if: At-Tirmidzi (1142)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Amr bin Syu’aib, dari Ayahnya, dari kakeknya berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengembalikan puteri beliau Zainab kepada Abu Al-Ash dengan nikah baru.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits Ibnu Abbas sanadnya lebih baik, namun yang diamalkan adalah hadits Amr bin Syu’aib (Al-Hafizh Ibnu Katsir menerangkan dalam kitab Al-Irsyad: Imam Ahmad berkata, “Hadits ini dha’if, karena Al-Hajjaj tidak mendengar dari Amr bin Syu’aib, melainkan mendengar dari Muhammad Ibnu Abdullah Al-‘Arzami, sedangkan Al-‘Arzami haditsnya tidak dijadikan hujjah (tidak diterima) kemudian melanjutkan, yang benar adalah hadits Ibnu Abbas yang telah lalu- demikianlah yang dikatakan Al-Bukhari, At Tirmidzi, Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi yang diriwayatkannya dari para ahli hadits).

Sedangkan Ibnu Abdil Bar lebih cenderung untuk menguatkan hadits riwayat Amar Ibnu Syu’aib, dan menggabungkan antara hadits hadits ini dengan hadits Amar Ibnu Syu’aib dengan mentakwilkan hadits Ibnu Abbas, “Dengan pernikahan pertama” maksudnya syarat-syaratnya, dan maksud “tidak menikahkan lagi” tidak menambah-nambahi syarat-syaratnya, dan ini sudah kita bahas dahulu, dia melanjutkan: “Hadits Amar Ibnu Syu’aib diperkuat dengan asas-asas syari’at Islam, yang jelas-jelas menyatakan diadakan akad nikah dan mahar baru, dan bukankah mengambil nash-nash yang jelas lebih utama dari pada yang masih kemungkinan dalam penafsirannya.

Saya (pengarang) menegaskan, sebetulnya takwil yang disampaikannya terbantah dengan kejelasan makna hadits riwayat Ibnu Abbas yang menyebutkan: “Tidak menghadirkan saksi dan mahar baru” yang diriwayatkan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Irsyad dan dinisbatkan juga riwayatnya kepada Imam Ahmad. Sedangkan pendapat At-Tirmidzi: yang diamalkan hadits Amar Ibnu Syu’aib, maksudnya adalah amal [perbuatan] orang-orang Iraq, dan sudah maklum bahwa hadits dha’if yang mereka amalkan dan menolak hadits shahih tidak menguatkan pendapat mereka tapi sebaliknya melemahkan pendapat mereka.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *