[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 244

07. KITAB JUAL BELI – 07.03. BAB RIBA 01

Kata riba diambil dari kata ‘rabaa-yarbuu’ yang berarti tambahan. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala,

{اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ}

“hiduplah bumi itu dan menjadi subur.” (QS. Al-Hajj: 5)

Istilah ‘riba’ digunakan juga untuk setiap jual beli yang diharamkan. Umat Islam sepakat atas haramnya riba secara umum, namun mereka berselisih pendapat dalam hal-hal yang bersifat rinci [detail]. Banyak sekaii hadits-hadits yang menunjukkan dilarangnya riba, mencela dan melaknat pelaku -transaksi- riba, serta para mitranya. Di antaranya adalah,

0771

عَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: آكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ – وَلِلْبُخَارِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي جُحَيْفَةَ

771. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Lalu beliau bersabda, “Mereka itu sama.” (HR. Riwayat Muslim. Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits semisal dari Abu Juhaifah)

[shahih, Muslim (1598); Al-Bukhari (2086)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakan kepada para pelaku riba -sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-agar dijauhkan dari rahmat Allah. Hal ini menunjukkan adanya dosa bagi para pelaku riba dan dalil haramnya melakukan transaksi riba. Terlebih bagi pemakan riba, karena dialah yang langsung memanfaatkannya dibandingkan dengan yang lain. Maksud orang yang memberi makan riba yaitu orang yang memberi riba, karena transaksi riba ini tidak akan terjadi tanpa adanya perantara darinya, sehingga ia masuk juga dalam kubangan dosa. Sedangkan penulis dan kedua saksi dalam transaksi riba mendapatkan dosa juga disebabkan karena mereka turut serta dalam membantu perbuatan terlarang. Hal ini berlaku jika dila-kukan dengan sengaja dan mengetahui bahwa ia telah melakukan perbuatan riba. Dalam riwayat hadits, disebutkan penggunaan kata ‘syahid’ [saksi] yang dilaknat dengan kata tunggal, hal ini dimaksudkan untuk penyebutan jenisnya.

Jika kamu mengatakan bahwa hadits,

«اللَّهُمَّ مَا لَعَنْت مِنْ لَعْنَةٍ فَاجْعَلْهَا رَحْمَةً»

“Ya Allah, tidaklah aku melaknat sesuatu, melainkan jadikanlah ia sebagai rahmat” atau pun hadits yang semisal dalam lafazh lain,

مَا لَعَنْت فَعَلَى مَنْ لَعَنْت

“Ya Allah, tidaklah aku melaknat sesuatu, maka sesuai dengan orang yang Engkau laknat’

menunjukkan bahwa laknat Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam tidak menunjukkan keharaman dan tidak bermaksud mendoakan atas orang yang dilaknat. Maka, saya katakan bahwa hal ini bila orang yang dilaknat bukanlah pelaku perbuatan haram yang sudah maklum, atau laknat tersebut terjadi saat marah terhadapnya.

0772

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الرِّبَا ثَلَاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ مُخْتَصَرًا، وَالْحَاكِمُ بِتَمَامِهِ وَصَحَّحَهُ

772. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Riba itu mempunyai 73 pintu, yang paling ringan ialah seperti seorang laki-laki yang menikahi ibunya dan riba yang paling berat ialah merusak kehormatan seorang muslim.” (HR. Ibnu Majah dengan ringkas, dan Al-Hakim meriwayatkannya dengan lengkap, dan menurutnya hadits itu shahih).

[shahih, ShahihAl-Jami’ (3539)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Banyak riwayat lain yang semakna dengan hadits ini, terdapat banyak hadits yang mempunyai makna yang sama dengan ini. Riba telah ditafsirkan dengan kehormatan seorang muslim dengan sabdanya, “Celaan dibalas dengan celaan yang serupa.” Dalam hadits tersebut terdapat dalil riba secara mutlak berupa perbuatan yang diharamkan walaupun tidak terdapat dalam pintu-pintu riba yang sudah dikenal. Gambaran riba yang paling ringan bagaikan seorang laki-laki menikahi ibunya sendiri karena secara akal hal tersebut sangatlah nista.

0773

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ، وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

773. Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah menjual emas dengan emas kecuali yang sama sebanding dan jangan menambah sebagian atas yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali yang sama sebanding dan jangan menambah sebagian atas yang lain, dan janganlah menjual perak yang tidak tampak dengan yang tampak ada”. (Muttafaq Alaih).

[shahih, Al-Bukhari (2177) dan Muslim (1584)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah menjual emas dengan emas kecuali yang sama sebanding dan jangan menambah, (yakni melebihkan) sebagian atas yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali yang sama sebanding dan jangan menambah sebagian atas yang lain, dan janganlah menjual perak yang tidak tampak dengan yang tampak ada” (yakni yang tidak ada barangnya).

Tafsir hadits

Hadits tersebut sebagai dalil keharaman jual beli emas dengan emas dan perak dengan perak secara berbeda (tidak sama), baik ada barangnya atau tidak karena sabda beliau ‘ kecuali yang sama sebanding’ dikecualikan dari keumuman kondisinya, seakan beliau mengatakan, ‘jangan kalian menjual bagaimanapun kondisinya kecuali dengan yang sebanding, yakni sama kadarnya. Beliau mempertegas lagi dengan mengatakan, ‘jangan menambahkan’. Dari faedah hadits tersebut sebagian besar ulama; sahabat, tabi’in, dan para Fuqaha mengatakan: diharamkan melebihkan kadar pada hal-hal yang disebutkan, baik ketika barangnya nampak ataupun tidak nampak.

Ibnu Abbas dan sekelompok sahabat berpendapat bahwa riba tidak diharamkan, kecuali dengan pembayaran yang tertunda (nasi’ah) dengan argumentasi hadits shahih:

«لَا رِبَا إلَّا فِي النَّسِيئَةِ»

‘Tidak ada riba kecuali pada hal yang pembayarannya tertunda (nasi’ah) ” [shahih, Al-Bukhari (2179) dan Muslim (1596)]

Jumhur menjawab, bahwa hal tersebut maksudnya tidak ada riba yang lebih berat, kecuali pada riba nasi’ah, dengan menafikan kesempurnaan bukan meniadakan pokok riba. Hadits di atas diambil dari kepahaman, sedangkan hadits Abu Said terambil dari ucapan beliau. Sehingga tidak sebanding antara hasil pemahaman dengan hasil ucapan, maka hal tersebut dipertegas dengan hasil ucapan beliau.

Al-Hakim meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu meralat pendapatnya yang mengatakan bahwa tidak ada riba, kecuali pada riba nasi’ah dan beliau beristighfar dari perkataanya tersebut. [Musnad Ahmad (20797, 20816)]

Kata emas bersifat umum mencakup semua yang tercetak atau lainnya, begitu juga dengan kata perak dalam sabdanya: ‘dan janganlah menjual perak yang tidak tampak dengan yang tampak ada’ maksudnya tidak tampak, yaitu sesuatu yang tidak nampak barangnya dalam majlis jual beli, balk secara tunda pembayarannya atau tidak.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *