[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 312

08. KITAB NIKAH – 08.01. BAB KAFA’AH DAN PILIHAN 03

0932

وَعَنْ «الضَّحَّاكِ بْنِ فَيْرُوزَ الدَّيْلَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي أَسْلَمْت وَتَحْتِي أُخْتَانِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: طَلِّقْ أَيَّتَهُمَا شِئْت» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ،، وَالدَّارَقُطْنِيّ، وَالْبَيْهَقِيُّ، وَأَعَلَّهُ الْبُخَارِيُّ.

932. Dari Adh-Dhahhak bin Fairuz Ad-Dailami, dari ayahnya Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam sedang aku mempunyai dua orang istri kakak beradik, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ceraikanlah salah seorang dari keduanya yang kamu kehendaki.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Hadits Shahih menurut Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi, dan ma’lul menurut Al-Bukhari)

[hasan, Shahih Abu Dawud (2243)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Adh-Dhahhak adalah salah seorang tabi’i yang terkenal. Ia meriwayatkan hadits dari bapaknya Ibnu Fairuz yang dijuluki dengan Abu Abdillah Ad-Dailami. Dijuluki juga Al-Humairi karena pernah tinggal di Humair. Salah satu keturunan Persia dari Persia Shan’a. Dia adalah di antara utusan kaumnya yang menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu masuk Islam. Dia pula yang membunuh Al-‘Ansiyya, sang pendusta yang mengaku-ngaku sebagai Nabi pada tahun 11 H. Kabar terbunuhnya sang pendusta sampai kepada Nabi ketika beliau terbaring sakit yang membuatnya meninggal. Masa sang pendusta mulai mendakwakan kenabian sampai meninggal dunia berlangsung selama 4 bulan.

Penjelasan Kalimat

Hadits ini dianggap ma’lul oleh Al-Bukhari karena diriwayatkan Ad-Dhahhak dari bapaknya, lalu diriwayatkan Abu Wahab Al-Jaisyani. Al-Bukhari berkomentar, “Kami tidak mendengar adanya serah terima hadits di antara mereka.”

Tafsir Hadits

Hadits adalah dalil yang menetapkan pernikahan orang-orang kafir, walaupun berbeda dengan pernikahan Islam, dan keislaman sang suami tidak langsung membuat istri lepas dari ikatan kekeluargaan kecuali bila diceraikan, dan ikatan kekeluargaan itu ditetapkan tanpa harus memperbaharui akad pernikahan, inilah yang menjadi pendapat madzhab Malik, Ahmad, Asy-Syafi’i dan Dawud.

Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyyah berbeda pendapat, mereka tidak mengakui pernikahan tersebut kecuali sesuai dengan Islam, dan mentakwilkan hadits ini bahwa yang dimaksud dengan ‘thalak’ [dalam hadits] adalah menjauhinya, dan mempertahankan istri lainnya [saudara perempuan dari istri] dengan akad nikah baru, takwil ini sangat diada-adakan, sebab bagaimana mungkin Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahukan hal ini kepada orang yang masuk Islam dengan tidak memberitahukan langsung hukum yang berkenaan dengan hal tersebut. Demikian juga mereka (Al-Hadawiyah dan pengikut madzhab Hanafi) mentakwilkan hadits berikut ini:

0933

وَعَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ غَيْلَانَ بْنَ سَلَمَةَ أَسْلَمَ، وَلَهُ عَشْرُ نِسْوَةٍ، فَأَسْلَمْنَ مَعَهُ، فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يَتَخَيَّرَ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا»

رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ، وَأَعَلَّهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو زُرْعَةَ، وَأَبُو حَاتِمٍ.

933. Dari Salim bin Abdillah, dari ayahnya, “Bahwa Ghailan bin Salamah masuk Islam dan ia memiliki sepuluh orang istri yang juga masuk Islam bersamanya. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk memilih empat orang istri di antara mereka. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan ma’lul menurut Al-Bukhari, Abu Zar’ah dan Abu Hatim)

[Shahih: At-Tirmidzi (1128)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ghailan bin Salamah masuk Islam setelah penaklukan kota Tha’if dan tidak ikut berhijrah. Salah satu pemuka bani Tsaqif. Meninggal di masa kekhalifahan Umar Radhiyallahu Anhu.

Penjelasan Kalimat

“Dari Salim bin Abdillah, dari ayahnya, “Bahwa Ghailan bin Salamah masuk Islam dan ia memiliki sepuluh orang istri yang juga masuk Islam bersamanya. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk memilih empat orang istri di antara mereka. HR. Ahmad dan At-Tirmidzi. Hadits Shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dan Ma’lul menurut Al-Bukhari, Abu Zar’ah dan Abu Hatim (At-Tirmidzi berkata, “Al-Bukhari berkomentar, “Hadits ini tidak terjaga.” Penulis kitab ini menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini dalam kitab Talkhish, yang paling tepat dan ringkas adalah penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab Al-Irsyad, setelah menyebutkan hadits itu dia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh dua Imam yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dan Ahmad Ibnu Hambal, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan sanad hadits ini menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, hanya saja At Tirmidzi berkata, “Saya mendengar Al-Bukhari berkata, “Hadits ini tidak terjaga.” Yang benar adalah riwayat Syu’aib dan lainnya dari Az-Zuhri, ia berkata, “Saya sampaikan hadits dari Muhammad Ibnu Syu’aib Ats-Tsaqafi bahwa Ghailan ….lalu menyebutkan hadits. Al-Bukhari berkomentar, “Sebetulnya hadits Az-Zuhri dari Salim dari ayahnya bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Tsaqif menceraikan istrinya, lalu Umar berkata, Hendaknya kamu merujuk kembali istrimu.. .(Al-Hadits).

Ibnu Katsir berkata, “Saya katakan, “Imam Ahmad dalam meriwayatkan hadits ini menggabungkan dua hadits tersebut dengan sanad yang sama. Apa yang disampaikan Al-Bukhari tidaklah mengurangi keshahihan hadits. Dan An-Nasa’i meriwayatkan juga dengan perawi yang dapat dipercaya, hanya saja riwayat itu membantah pendapat Ibnu Katsir yang dinukil Al-Atsram dari Ahmad yang menyatakan, bahwa hadits ini tidak shahih, tapi diamalkan. Hadits ini juga menunjukkan hukum yang sama dengan hadits Adh-Dhahhak, dan siapa saja mentakwilkan hadits tersebut pastilah akan mentakwil hadits ini juga.

Faedah: telah disebutkan dalam pembahasan terdahulu tentang seorang dari Bani Tsaqif yang menceraikan istrinya karena harus memilih empat orang dari mereka. Pada masa khalifah Umar dia menceraikan semua istrinya yang tersisa, lalu membagi-bagikan hartanya kepada anak-anaknya, ketika berita itu sampai kepada Umar, Umar berkata, “Sungguh! Aku sangka setan telah mencuri berita dari langit tentang hari kematianmu, lalu hatimu menjadi gelisah, karena setan memberitahukan bahwa masa hidupmu sedikit lagi, demi Allah, hendaklah kamu merujuk istri-istrimu dan mengambil kembali hartamu atau aku yang akan mengambil hartamu sebagai warisan istrimu, lalu aku perintahkan orang-orang untuk melempari kuburanmu dengan batu sebagaimana kuburan Abi Righal.” (Al-Hadits)

Dalam kitab Al-Wasith disebutkan namanya Ibnu Ghailan, ini adalah salah, akan tetapi namanya Ghailan. Dan yang lebih fatal lagi kesalahannya seperti yang terdapat dalam kitab Mukhtashar Ibnu Al-Hajib yang tertulis dengan nama Ibnu Ailan dengan huruf ‘ain bukan ghain.

Dalam kitab Sunan Abu Dawud disebutkan,

«أَنَّ قَيْسَ بْنَ الْحَارِثِ أَسْلَمَ، وَعِنْدَهُ ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يَخْتَارَ أَرْبَعًا»

“Bahwa Qais bin Al-Harits masuk Islam dan ia mempunyai delapan orang istri, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk memilih empat saja.” [Shahih: Abi Dawud (2242)]

Asy-Syafi’i dan Al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Naufal bin Mu’awiyah yang berkata,

«أَسْلَمْت، وَتَحْتِي خَمْسُ نِسْوَةٍ فَسَأَلْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: فَارِقْ وَاحِدَةً وَأَمْسِكْ أَرْبَعًا فَعَمَدْت إلَى أَقْدَمِهِنَّ عِنْدِي عَاقِرٍ مُنْذُ سِتِّينَ سَنَةً فَفَارَقْتهَا»

“Ketika saya masuk Islam, saya mempunyai lima orang istri, maka saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu Rasulullah bersabda, “Ceraikan satu dan cukuplah dengan empat istri.” Maka saya ceraikan istri tertuaku yang mandul sejak enam puluh tahun usia pernikahanku. [Asy-Syafi’i (1/274), Al-Baihaqi (7/184)]

Dan Naufal bin Mu’awiyah hidup selama 120 tahun, 60 tahun dalam kekafiran dan 60 tahun sisanya dalam keislaman.

Perkataan Umar menunjukkan dalil untuk membatalkan siasat seseorang yang membagikan hartanya agar tidak terjadi pembagian harta warisan, dan sudah menjadi kebiasaan setan untuk membisikkan suatu berita kepada setiap hamba Allah yang dicurinya perihal hamba tersebut. Dan bagi pelaku tersebut; bila meninggal dunia, maka kuburannya dilempari batu sebagai hukuman, penghinaan dan larangan agar tidak diikuti setelahnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *