[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 243

07. KITAB JUAL BELI – 07.02. BAB KHIYAR (MEMILIH) 02

0769

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْبَائِعُ وَالْمُبْتَاعُ بِالْخِيَارِ حَتَّى يَتَفَرَّقَا، إلَّا أَنْ تَكُونَ صَفْقَةَ خِيَارٍ، وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يُفَارِقَهُ خَشْيَةَ أَنْ يَسْتَقِيلَهُ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا ابْنَ مَاجَهْ، وَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ الْجَارُودِ وَفِي رِوَايَةٍ «حَتَّى يَتَفَرَّقَا عَنْ مَكَانِهِمَا»

769. Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu Anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Penjual dan pembeli mempunyai hak khiyar sebelum keduanya berpisah, kecuali telah ditetapkan khiyar dan masing-masing pihak tidak diperbolehkan pergi karena takut jual beli dibatalkan.” (HR. Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Ibnu Huzaimah, dan Ibnu Al-Jarud. Dalam suatu riwayat, “Hingga keduanya meninggalkan tempat mereka.”)

[hasan, Abi Dawud (3456)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu Anhum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Penjual dan pembeli mempunyai hak khiyar sebelum keduanya berpisah, kecuali telah ditetapkan khiyar dan masing-masing pihak tidak diperbolehkan pergi karena takut jual beli dibatalkan”. Riwayat Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah, Daruquthni, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Al-Jarud. Dalam suatu riwayat: “Hingga keduanya meninggalkan tempat mereka.” (Dan hadits Abu Dawud dari Ibnu Amr dengan lafazh:

«الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا إلَّا أَنْ تَكُونَ صَفْقَةَ خِيَارٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يُفَارِقَ صَاحِبَهُ خَشْيَةَ أَنْ يَسْتَقِيلَهُ»

“Kedua pelaku jual-beli (penjual dan pembeli) mempunyai hak khiyar sebelum keduanya berpisah, kecuali telah ditetapkan khiyar dan masing-masing pihak tidak diperbolehkan pergi karena takut jual beli dibatalkan.”

Mereka mengatakan: sabda beliau: “takut jual beli dibatalkan” menunjukkan sah terjadinya jual beli).

Sanggahan tersebut dijawab, bahwa hadits ini menunjukkan adanya khiyar majlis. Juga karena sabdanya: “mempunyai hak khiyar sebelum keduanya berpisah”. Adapun sabdanya, ‘An-Yastaqiilahu’ (membatalkannya) maksudnya membatalkan jual beli, karena kalau maksud sebenarnya adalah membebaskan niscaya makna berpisah tidak mempunyai arti sehingga perlu diartikan dengan membatalkan. Itulah yang diartikan oleh At-Tirmidzi dan ulama lainnya dengan mengatakan, tidak boleh meninggalkannya setelah jual beli khawatir memilih untuk membatalkannya. Adapun maksud Istiqalah di sini berupa pembatalan jual beli orang yang menyesal. Dan mereka mengartikan makna tidak halal dengan suatu kebencian, karena tidak sesuai dengan akhlak baik dan perilaku seorang muslim dalam bersosialisasi bukan karena khawatir memilih yang dibatalkan diharamkan. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Ibnu Umar bila berjual beli dengan seseorang dan ingin menyempurnakan jual beli, beliau berjalan sebentar kemudian kembali lagi. Hal itu diartikan bahwa Ibnu Umar belum menerima hadits larangan ini.

Ibnu Hazm berkata, “Hadits Ibnu Amr diartikan berpisah pembicaraan, sehingga faedah hadits tersebut hilang bersamanya karena hal tersebut mengharuskan kehalalan memisahkan diri, baik dikhawatirkan membatalkannya atau tidak. Karena iqalah dibolehkan sebelum berpisah atau tidak.” Ibnu Abdil Bar mengatakan bahwa kalangan Malikiyah dan Hanafiyah banyak membicarakan dengan menolak hadits dengan panjang lebar. Bila kata ‘tempat keduanya’ maka takwil tidak lagi mempunyai posisi dan menjadi batal secara zhahir dan batin dengan mengartikan perpisahan secara pembicaraan.

0770

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «ذَكَرَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوعِ فَقَالَ: إذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لَا خِلَابَةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

770. Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seseorang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa ia tertipu dalam jual bell Lalu beliau bersabda, “Jika engkau berjual beli, katakanlah, “Jangan melakukan tipu daya”. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2117) dan Muslim (1533)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seseorang (bernama Habban bin Munqidz) mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa ia tertipu dalam jual beli. Lalu beliau bersabda, “Jika engkau berjual beli, katakanlah, “Jangan melakukan tipu daya” (yakni penipuan) Muttafaq ‘Alaih. Ishaq menambahkan dalam riwayat Yunus bin Bakir dan Abdil A’la lafazh,

«ثُمَّ أَنْتَ بِالْخِيَارِ فِي كُلِّ سِلْعَةٍ ابْتَعْتهَا ثَلَاثَ لَيَالٍ فَإِنْ رَضِيتَ فَأَمْسِكْ وَإِنْ سَخِطْتَ فَارْدُدْ

“Kemudian engkau mempunyai hak pilih setiap barang yang engkau beli selama tiga malam, bila engkau rela maka peganglah (ambillah) dan bila engkau benci maka kembalikanlah’ [Al-Baihaqi (5/273) dan Ad-Daraquthni (3/55, 56)]

Orang tersebut masih hidup hingga periode Utsman saat itu berusia 130 tahun. Pada zaman Utsman banyak orang-orang bila membeli sesuatu dikatakan padanya, engkau tertipu dengannya maka kembalilah dan saksikanlah dengan seorang sahabat bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikannya hak pilih selama tiga hari sehingga dirham miliknya dikembalikan.

Tafsir hadits

Hadits tersebut sebagai dalil adanya hak pilih saat ditipu dalam jual beli. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat, yaitu:

Pertama, tetapnya khiyar saat ditipu. Itulah pendapat yang dipegang oleh Ahmad dan Malik, tetapi hal tersebut terjadi bila penipuan tersebut kelewatan pada orang yang tidak mengetahui harga barang. Dan kalangan Malikiyah membatasi kadar penipuan dengan tiga kali harga. Semoga saja mereka mengambil pembatasan pada hal yang menyerahkan kemutlakan jenis penipuan secara umum. Karena penipuan kecil biasanya dapat ditoleransi. Dan siapa yang menerima dengan terjadinya penipuan setelah mengetahuinya tidak disebut sebagai bentuk penipuan. Hanya saja sebagai bentuk keteledoran dalam berjual beli yang pelakunya dipuji oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dinyatakan bahwa Allah mencintai seorang yang mudah menjual dan membeli.

Jumhur ulama berpendapat tidak ada khiyar dalam penipuan berdasarkan keumuman hadits dan terjadi jual beli tanpa dibedakan antara tertipu atau tidak. Mereka mengatakan: hadits dalam bab ini terjadi khiyar disebabkan kelemahan akal orang tersebut. Hanya saja kelemahan tersebut tidak keluar dari batasan tamyiz sehingga perilakunya sama seperti perilaku anak kecil dan diizinkan memiliki khiyar karena tertipu.

Saya katakan, kelemahan akalnya ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Ashabus Sunan dari hadits Anas dengan lafazh:

أَنَّ رَجُلًا كَانَ يُبَايِعُ وَكَانَ فِي عَقْلِهِ

“Sesungguhnya seorang berjual beli sedangkan akalnya lemah.” [Shahih: Abu Dawud (3501).]

Dan berdasarkan penegasan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “tidak ada penipuan” mensyaratkan tidak adanya penipuan sehingga jual belinya disyaratkan selama tidak ada penipuan sehingga merupakan bentuk khiyar syarat. Ibnul Arabi mengatakan, “Penipuan dalam kisah ini bisa dimungkinkan berupa cacat atau kepemilikan atau harga atau bentuk maka tidak dapat dijadikan pegangan dalam penipuan yang bersifat khusus. Kasus ini khusus yang tidak dapat dijadikan keumuman masalah.

Saya katakan, dalam riwayat Ibnu Ishaq bahwa beliau mengadu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atas penipuan yang diterimanya. Riwayat tersebut membantah pendapat Ibnul Arabi. Sebagian yang lain mengatakan, bila seorang penjual atau pembeli mengatakan tidak ada penipuan maka terjadilah khiyar karena penipuan walaupun tidak terjadi padanya penipuan. Hal tersebut dibantah bahwa hal tersebut dipersempit dengan yang tertuang dalam riwayat bahwa dia tertipu.

Kalangan Al-Hadawiyah menetapkan dua jenis khiyar karena tertipu, yaitu:

Pertama, pada orang yang berperilaku kepada orang lain.

Kedua, pada anak kecil yang sudah mumayiz dengan berargumentasi dengan hadits ini. Hal tersebut sebagai dalil bentuk kedua bila benar terdapat kelemahan pada akal orang tersebut bukan pendapat pertama.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *