[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 311

08. KITAB NIKAH – 08.01. BAB KAFA’AH DAN PILIHAN 02

0929

وَعَنْ «فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لَهَا: انْكِحِي أُسَامَةَ» رَوَاهُ مُسْلِم

929. Dari Fathimah binti Qais Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “‘Nikahilah Usamah.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1480)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Fathimah adalah saudara perempuan dari Adh-Dhahhak bin Qais. Ia berasal dari keturunan Quraisy. Termasuk perempuan yang pertama ikut berhijrah. Ia adalah seorang perempuan yang cantik, mulia dan mempunyai keutamaan. Datang menemui Nabi setelah diceraikan Abu Amr bin Hafsh bin Al-Mughirah setelah selesai masa iddahnya, lalu memberitahukan kepada Nabi bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm keduanya melamarnya, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalau Abu Jahm suka memukul, sedangkan Mu’awiyah orang miskin tidak punya apa-apa, nikahilah Usamah bin Zaid…. Al-Hadits.” Nabi menyuruh untuk menikahi Usamah bekas budaknya, anak dari bekas budaknya, sedangkan dia adalah keturunan Quraisy, dan Nabi mengedepankan Usamah daripada orang-orang yang sederajat dengannya tersebut, tapi tidak diketahui bila Nabi meminta kepada salah satu walinya (si wanita) untuk menggugurkan haknya (hak wali meminta persetujuan dari anak perempuannya).

Seakan-akan pengarang -Rahimahullah- menulis hadits ini setelah menerangkan lemahnya hadits yang pertama, untuk menegaskan bahwa tidak benar kafa’ah melainkan pada agama saja, sebagaimana yang disampaikan berikut ini:

0930

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «يَا بَنِي بَيَاضَةَ، أَنْكِحُوا أَبَا هِنْدٍ، وَانْكِحُوا إلَيْهِ وَكَانَ حَجَّامًا» ، رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَالْحَاكِمُ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ

930. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Bani Bayadhah, nikahilah Abu Hind, nikahlah dengannya, dan ia adalah tukang bekam.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad jayyid [baik])

[hasan, Abi Dawud (2102)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Bani Bayadhah, nikahilah Abu Hind (namanya adalah Yassar. Ia adalah salah seorang yang suka membekam Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bekas budak Bani Bayadhah) nikahlah dengannya, dan ia adalah tukang bekam.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan salah satu dalil, bahwa faktor nasab bukanlah sebagai standar kafa’ah dalam pernikahan.

Dalam riwayat yang shahih dijelaskan, bahwa Bilal menikah dengan Halah binti Auf saudari Abdurrahman bin Auf, dan Umar bin Al-Khaththab pernah menawarkan Hafshah kepada Salman Al-Farisi sebelum Rasulullah memperistrinya.

0931

«وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: خَيَّرْتُ بَرِيرَةَ عَلَى زَوْجِهَا حِينَ عَتَقَتْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ – فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ. وَلِمُسْلِمٍ عَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: «أَنَّ زَوْجَهَا كَانَ عَبْدًا» ، وَفِي رِوَايَةٍ عَنْهَا: «كَانَ حُرًّا» . وَالْأَوَّلُ أَثْبَتُ.

وَصَحَّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عِنْدَ الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ كَانَ عَبْدًا

931.Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Barirah disuruh memilih antara melanjutkan hubungan kekeluargaan dengan suaminya atau tidak ketika ia merdeka.” (Muttafaq Alaih dalam hadits yang panjang.

[shahih, Al-Bukhari (5430), Muslim (1504)]

Menurut riwayat Muslim tentang hadits Barirah, bahwa suaminya adalah seorang budak. Menurut riwayat lain: suaminya orang merdeka, namun yang pertama lebih kuat.

[shahih, Muslim (1504)]

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma membenarkan riwayat Al-Bukhari bahwa ia adalah seorang budak)

[shahih, Al-Bukhari (5280)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Barirah disuruh memilih antara melanjutkan hubungan kekeluargaan dengan suaminya atau tidak ketika ia merdeka. Muttafaqun Alaih dalam hadits yang panjang. Menurut riwayat Muslim tentang hadits Barirah, bahwa suaminya adalah seorang budak. Menurut riwayat lain: suaminya orang merdeka, namun yang pertama lebih kuat (karena Al-Bukhari menegaskan bahwa ia adalah seorang budak; maka dia berkata) Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma membenarkan riwayat Al-Bukhari bahwa ia adalah seorang budak (dan diriwayatkan juga oleh para ulama Madinah, dan ulama Madinah meriwayatkan hadits, maka hadits itulah yang paling benar)

Diriwayatkan Abu Dawud dari hadits Ibnu Abbas dengan lafazh,

«إنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا أَسْوَدَ يُسَمَّى مُغِيثًا فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَأَمَرَهَا أَنْ تَعْتَدَّ»

“Suami Barirah adalah seorang budak hitam bernama Mughits. Setelah Barirah merdeka, Nabi menyuruhnya untuk memilih, dan dia memilih bercerai dengan suaminya; maka Nabi menyuruhnya untuk menjalani masa iddahnya. [Shahih Abu Dawud (2232)]

Dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dijelaskan,

«ذَاكَ مُغِيثٌ عَبْدُ بَنِي فُلَانٍ يَعْنِي زَوْجَ بَرِيرَةَ»

“Suami Barirah bernama Mughits, seorang budak bani fulan.”

Dalam riwayat Al-Bukhari yang lainnya,

كَانَ زَوْجُ بَرِيرَةَ عَبْدًا أَسْوَدَ يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ

“Suami Barirah adalah seorang budak hitam bernama Mughits.”

Ad-Daraquthni berkata, “Tidak ada perbedaan riwayat dari Urwah dari Aisyah bahwa suaminya adalah seorang budak.” Demikian juga yang disampaikan Ja’far bin Muhammad dari bapaknya dari Aisyah. An-Nawawi menguatkan pendapat yang menyatakan, “Ia adalah budak.” Dan pendapat Aisyah juga menyatakan bahwa dia seorang budak. Barirah juga menceritakan bahwa suaminya seorang budak, dengan banyaknya riwayat yang menerangkan tentang hal itu, benarlah pendapat yang menyatakan bahwa suami Barirah seorang budak.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan adanya hak pilihan yang diberikan kepada budak wanita yang telah dimerdekakan antara melanjutkan hubungan suami istri atau tidak, apabila suaminya tetap seorang budak. Ini adalah pendapat jumhur ulama, namun mereka berselisih pendapat jika suaminya orang merdeka. Menurut jumhur ulama dia tidak memiliki hak untuk memilih, karena alasan ditetapkannya hak untuk memilih bila suaminya masih budak adalah tidak ada kesamaan hukum antara laki-laki budak dengan perempuan yang merdeka, maka jika budak wanita dimerdekakan, dia berhak menentukan pilihan antara tetap melanjutkan hubungan suami istri atau bercerai; karena ketika akad si wanita belum punya hak untuk memilih dengan statusnya sebagai seorang budak.

Pengikut Al-Hadawiyyah dan yang lainnya berpendapat, bahwa wanita yang telah dimerdekakan tersebut berhak untuk memilih walaupun si laki-laki juga merdeka. Pendapat ini didasarkan kepada riwayat yang menyebutkan, “Suami Barirah juga merdeka”, tetapi alasan ini dibantah oleh pendapat sebelumnya, bahwa riwayat tersebut lemah tidak bisa diamalkan. Mereka beralasan, karena ketika budak wanita tersebut dinikahkan dia tidak punya hak untuk memilih, dan tuannya tetap menikahkannya walaupun dia benci, maka jika dia merdeka berubahlah keadaannya dan bisa memilih tidak seperti kondisi sebelumnya.

Ibnu Al-Qayyim berkata, “Dalam masalah hak pilihan bagi Barirah ada tiga pendapat, sudah disebutkan dua pendapat tapi dia melemahkan keduanya, kemudian menyebutkan pendapat yang ketiga dan inilah yang paling kuat, bahwa tuannya menikahkannya dengan status miliknya, memiliki dirinya dan juga manfaat yang ditimbulkannya, ketika dia dimerdekakan maka dia memiliki atas dirinya seutuhnya, di antaranya dia berhak memilih siapa yang diizinkan untuk memiliki dirinya [menjadi suaminya], maka syari’at Islam memberikan pilihan kepadanya.”

Ada juga beberapa hadits tentang Barirah dengan lafazh, “Engkau telah memiliki dirimu sendiri (merdeka), maka pilihlah.”

Saya katakan, “Ini merupakan ketentuan hukum, yakni adanya hak pilih atas kepemilikan dirinya”, ini adalah isyarat tentang alasannya untuk memilih dan menetapkan apa yang menjadi keinginannya, akan tetapi jika dia sebelumnya menikah dengan orang yang merdeka: apakah nikahnya dibatalkan dengan lafazh perintah untuk memilih? Ada yang mengatakan, bahwa nikahnya dibatalkan, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits “diberi hak memilih.”

Ada yang berpendapat, harus dibatalkan terlebih dahulu pernikahan keduanya, dan jika dia memilih berpisah; maka suaminya tidak berhak merujuknya, kecuali bila dia bersedia dengan akad baru, dan dia berhak memilih atas dirinya sendiri setelah dia mengetahui dia merdeka jika belum dicampuri suaminya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan Ahmad,

«إذَا عَتَقَتْ الْأَمَةُ فَهِيَ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَطَأْهَا إنْ تَشَأْ فَارَقَتْهُ، وَإِنْ وَطِئَهَا فَلَا خِيَارَ لَهَا»

“Bila seorang hamba wanita dimerdekakan maka ia punya hak memilih sebelum dicampuri suaminya, jika ia berkehendak maka ia bisa bercerai, dan bila sudah dicampuri; maka dia tidak bisa memilih.” [Ahmad (5/378)]

Ad-Daraquthni juga meriwayatkan dengan lafazh,

«إنْ وَطِئَكِ فَلَا خِيَارَ لَكِ»

“Bila kamu sudah dicampuri suamimu, maka kamu tidak bisa memilih.” [Ad-Daraquthni (3/294)]

Dan juga diriwayatkan Abu Dawud dengan lafazh,

«إنْ قَارَبَك فَلَا خِيَارَ لَك»

“Jika dia mendekatimu maka kamu tidak bisa memilih.” [Dha’if: Abi Dawud (2236)]

Hal ini menunjukkan bahwa bila [wanita yang dimerdekakan] sudah digauli, maka tidak bisa memilih menentukan atas dirinya sendiri, dan inilah pendapat pengikut madzhab Imam Ahmad.

Ketahuilah, hadits yang agung ini sudah banyak disebut oleh para ulama di berbagai judul buku mereka, baik dalam kitab zakat, memerdekakan budak, jual beli dan masalah pernikahan. Al-Bukhari menyebutkannya dalam kitab jual beli. Dan pengarang kitab ini memperluas penjelasannya karena terdapat banyak faedah mencapai seratus duapuluh dua faedah, maka kita sebut beberapa faedah saja yang sesuai dengan apa yang kita bahas.

Di antaranya: boleh menjual salah satu budak pasangan suami istri. Adapun menjual budak wanita yang sudah kawin bukanlah berarti menceraikannya, demikian juga memerdekakannya bukan berarti menceraikannya, apalagi membatalkan pernikahan keduanya. Dan hendaknya para budak berusaha untuk melepaskan dirinya dari status sebagai budak, karena persamaan derajat berlaku bagi yang merdeka.

Saya berpendapat, hadits di atas mengisyaratkan bahwa sebab bolehnya budak wanita yang sudah dimerdekakan untuk memilih, karena kepemilikannya atas dirinya sendiri sebagaimana yang telah kamu ketahui. Namun, tidak cukup sampai di situ saja, karena status merdekanya tidak menghalangi untuk tetap menjadi istri budak bila wanita itu tidak ada wali dan atas kerelaannya. Seperti yang disebutkan dalam kisah Barirah bahwa suaminya berjalan mengikutinya di jalan kota Madinah sambil berlinangan air matanya karena begitu cintanya kepadanya dan berharap jangan ada perpisahan. Dari kisah ini, mereka mengatakan, bahwa cinta bisa menghilangkan rasa malu, dan hal itu dimaklumi bila terjadi tidak seperti keinginannya, sebagaimana dimaklumi orang-orang yang mencintai Allah apabila mereka tiba-tiba bersedih ketika memahami bacaan ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang keadaan mereka, maka dimaklumi jika timbul perilaku tanpa disengaja seperti gerakan tarian dan sebagainya.

Saya katakan, “Sudah diketahui bahwa suami Barirah menangis karena harus berpisah dengan orang yang sangat dicintainya, demikian juga orang yang mencintai Allah menangis karena rindu ingin berjumpa, takut murka-Nya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menangis ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an demikian juga halnya para shahabat dan siapa saja yang mengikuti tuntunannya dengan baik. Sedangkan tarian, tepuk tangan adalah perilaku orang-orang fasik dan yang tidak ada punya rasa malu bukan perilaku orang-orang yang mencintai Allah dan takut pada azab-Nya. Sungguh aneh kesimpulan yang mereka ambil dari hadits ini, ditambah lagi penulis kitab ini menyebutkannya dalam kitab Al-Fath selain yang telah kami sebutkan. Faedah yang paling utama seperti yang telah kami sebutkan, dan di antara faedah-faedah tersebut ada yang tidak jelas dan terlalu diada-adakan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *