[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 242

07. KITAB JUAL BELI – 07.02. BAB KHIYAR (MEMILIH)  01

Khiyar artinya mencari yang terbaik dari dua pilihan, antara meneruskan atau membatalkan jual beli. Dalam bab ini, penulis menyebutkan macam-macam khiyar yaitu khiyar majlis dan khiyar syarat.

0768

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا تَبَايَعَ الرَّجُلَانِ، فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِيعًا، أَوْ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، فَإِنْ خَيَّرَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ، وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ تَبَايَعَا وَلَمْ يَتْرُكْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا الْبَيْعَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

768. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila dua orang melakukan jual beli, maka masing-masing dari keduanya mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan atau meneruskan jual beli) selama mereka belum berpisah atau masih bersama; atau jika salah seorang di antara keduanya menentukan khiyar kepada yang lainnya. Jika salah seorang menentukan khiyar pada yang lain, lalu mereka berjual beli atas dasar itu, maka jadilah jual beli itu. Jika mereka berpisah setelah melakukan jual beli dan masing-masing dari keduanya tidak mengurungkan jual beli, maka jadilah jual beli itu.” (Muttafaq Alaih, dan lafazh hadits ini menurut riwayat Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (2107), dan Muslim (1531)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila dua orang melakukan jual beli (yakni menetapkan adanya jual beli di antara keduanya tidak saling menawar) maka masing-masing dari keduanya mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan atau meneruskan jual beli) selama mereka belum berpisah (yakni berpisah secara fisik) atau masih bersama atau selama salah seorang di antara keduanya tidak menentukan khiyar kepada yang lainnya (yakni bila salah satu dari keduanya mensyaratkan adanya khiyar dalam tempo tertentu untuk meneruskan jual beli sebelum berpisah, maka terjadilah jual beli pada saat itu dan batallah ketentuan berpisah. Hal tersebut ditunjukkan dari sabda beliau): Jika salah seorang menentukan khiyar pada yang lain, lalu mereka berjual beli atas dasar itu, maka jadilah jual beli itu (yakni terlaksana dan sempurna). Jika mereka berpisah (yakni dengan tubuh mereka) setelah melakukan jual beli (yakni mengadakan akad jual beli) dan masing-masing orang tidak mengurungkan jual beli, maka jadilah jual beli itu.”

Tafsir Hadits

Dalam hadits terdapat petunjuk adanya khiyar majlis bagi kedua pihak pelaku jual beli sampai keduanya berpisah badan. Ulama berbeda pendapat tentang keberadaannya menjadi dua pendapat, yaitu:

Pertama, tetap hukumnya, inilah pendapat sekelompok sahabat di antaranya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dan lainnya. Itu juga yang dipegang oleh kebanyakan kalangan tabi’in dan Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan Imam Yahya mereka mengatakan: perpisahan yang membatalkan khiyar yaitu sesuatu yang dinamakan perpisahan secara adat kebiasaan. Seperti dalam rumah yang sempit dengan cara salah seorang keluar darinya, dan dalam rumah yang besar dengan cara berpindah dari tempatnya ke tempat yang lain dengan dua langkah atau tiga langkah. Perpisahan tersebut ditunjukkan dengan perbuatan Ibnu Umar yang terkenal. Bila kedua pihak semuanya berdiri dan pergi bersama-sama maka hak khiyar (pilih) tetap ada. Madzab ini berargumentasi dengan hadits yang Muttafaq Alaih ini.

Kedua, pendapat Al-Hadawiyah, Al-Hanafiyah, Malik dan Al-Imamiyah yang mengatakan tidak ada khiyar majlis. Bahkan saat kedua pelaku akad berpisah secara percakapan, maka tidak ada khiyar kecuali apa yang disyaratkan. Berargumentasi dengan firman Allah:

{تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ}

“Jual beli atas suka sama suka” (QS. An-Nisaa’: 29)

dan firman Allah:

{وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ}

“Dan persaksikanlah saat kalian berjual beli” (QS. Al-Baqarah: 282)

Mereka mengatakan: persaksian bila terjadi setelah berpisah badan tidak sesuai dengan perintah Allah, dan bila terjadi sebelumnya maka tidak tepat pada tempatnya.

Sedangkan hadits:

«إذَا اخْتَلَفَ الْبَيْعَانِ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْبَائِعِ»

“Apabila berbeda pendapat kedua pelaku jual beli maka ucapan yang diterima yaitu ucapan penjual”, belum diperinci.

Pendapat di atas dijawab sebagai berikut:

Ayat tersebut masih mutlak dikhususkan dengan hadits seperti khiyar syarat. Begitu pula halnya hadits dan ayat persaksian dimaksudkan saat akad jual beli. Hal tersebut tidak menafikan adanya khiyar majlis seperti halnya tidak menafikan semua jenis khiyar. Mereka mengatakan: hadits tersebut mansukh (terhapus) dengan hadits:

«الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ»

“Kaum muslimin sesuai dengan syarat mereka.”

Maka khiyar setelah terjadi jual beli akan merusak syarat, tapi dapat dibantah bahwa pada asalnya tidak dinaskh (dihapus) dan tidak ditetapkan dengan sekadar kemungkinan. Mereka mengatakan: karena dari riwayat Malik dan tidak dapat diamalkan. Pendapat tersebut dijawab bahwa perbedaan sikap perawi tidak mengharuskan meninggalkan riwayatnya. karena amal perbuatannya berdasarkan atas hasil ijtihadnya dan terkadang dia melihat hal yang lebih kuat menurutnya dari hal yang dia riwayatkan walaupun tidak kuat dalam hal yang sama.

Mereka mengatakan bahwa hadits ini diperuntukkan bagi kedua pihak yang saling menawar sebagaimana banyak digunakan bentuk penawaran penjual seperti itu. Penulis menjawab bahwa hal tersebut bersifat mutlak dan majazi, sedangkan pada asalnya merupakan kebenaran yang sebenarnya. Disanggah juga, bahwa hal tersebut mengharuskan mengartikan secara majaz sesuai dengan pendapat pertama. Bila hal tersebut dimaksudkan dengan berpisah badan setelah selesai ucapan akad telah lewat sebagai bentuk majaz di waktu lampau. Sanggahan tersebut dijawab, bahwa kami tidak menerima sebagai bentuk majaz waktu lampau, justru merupakan hakekat seperti pendapat Jumhur ulama yang berbeda halnya dengan bentuk masa depan yang merupakan bentuk majaz yang disepakati.

Mereka mengatakan, maksud berpisah dengan perkataan dan maksud berpisah di sini berupa perpisahan antara perkataan penjual “aku jual dengan harga sekian” atau perkataan pembeli “aku beli”. Mereka mengatakan, maka pembeli mempunyai hak khiyar pada perkataannya: “aku beli” atau dia meninggalkannya. Dan penjual mempunyai hak khiyar sampai pembeli mewajibkan jual beli. Tidak dipungkiri lagi kelemahan dan kebatilan pendapat ini. Karena mengabaikan faedah hadits yang sudah diyakini setiap penjual atau pembeli dalam gambaran khiyar ini bahwa tidak ada transaksi dari keduanya. Sehingga khiyar tersebut menghilangkan faedah dan lafazh hadits tertolak. Maka pendapat yang benar adalah pendapat pertama.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *