[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 310

08. KITAB NIKAH – 08.01. BAB KAFA’AH DAN PILIHAN 01

0928

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْعَرَبُ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءُ بَعْضٍ، وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ أَكْفَاءُ بَعْضٍ، إلَّا حَائِكًا أَوْ حَجَّامًا» رَوَاهُ الْحَاكِمُ، وَفِي إسْنَادِهِ رَاوٍ لَمْ يُسَمَّ، وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ وَلَهُ شَاهِدٌ عِنْدَ الْبَزَّارِ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ بِسَنَدٍ مُنْقَطِعٍ

928. Dari Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda, “Bangsa Arab itu sama derajatnya antara satu dengan yang lain, dan kaum mawali (bekas hamba sahaya yang telah dimerdekakan) sama derajatnya antara satu dengan yang lain, kecuali tukang tenun dan tukang bekam.” (HR. Al-Hakim dalam sanadnya ada rawi yang tidak diketahui namanya, hadits mungkar menurut Abu Hatim. Hadits tersebut mempunyai syahid [hadits pendukung] dari riwayat Al-Bazzar dari Mu’adz bin Jabal dengan sanad terputus)

[maudhu’. Lihat, Al-Irwa’ (1869)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bangsa Arab itu sama derajatnya antara satu dengan yang lain, dan kaum mawali (bekas hamba sahaya yang telah dimerdekakan) sama derajatnya antara satu dengan yang lain, kecuali tukang tenun dan tukang bekam.” HR. Al-Hakim dalam sanadnya ada rawi yang tidak diketahui namanya, hadits mungkar menurut Abu Hatim. Hadits tersebut mempunyai syahid [hadits pendukung] dari riwayat Al- Bazzar dari Mu’adz bin Jabal dengan sanad terputus (Ibnu Abu Hatim bertanya kepada bapaknya tentang hadits ini, maka sang ayah menjawab, “Ini adalah hadits dusta tidak ada asalnya.” Dan pada kesempatan lain dia berkata, “Ini adalah hadits batil.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam kitab At-Tamhid. Dan Al-Qurthubi juga berkata dalam kitabnya Al-‘Ilal, “Hadits ini tidak benar.” Hisyam bin Ubaidillah Ar-Razi meriwayatkan hadits ini dengan menambahkan, ‘atau tukang bekam atau tukang samak kulit’, maka berkumpullah di hadapannya para tukang samak kulit dengan menampakkan kesedihan. Ibnu Abdil Bar berkata, “Ini adalah hadits mungkar dan maudhu’, walaupun mempunyai banyak riwayat tapi semuanya dusta).”

Tafsir Hadits

Hadits di atas sebagai dalil bahwa orang Arab sederajat dengan orang Arab lainnya, dan hamba sahaya tidak sederajat dengan mereka tapi sederajat dengan hamba sahaya lainnya. Para ulama berselisih pendapat perihal kafa’ah yang sebenarnya, dan yang paling kuat adalah pendapat Zaid bin Ali, Ibnu Sirin dan Umar bin Abdul Aziz, dan ini menjadi salah satu pendapat An-Nashir bahwa kafa’ah yang mu’tabarah adalah kafa’ah dalam agama; sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaawa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dan juga hadits-hadits berikut,

«النَّاسُ كُلُّهُمْ وَلَدُ آدَمَ، وَتَمَامُهُ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ»

“Manusia adalah keturunan dari Nabi Adam…dan Nabi Adam berasal dari tanah.” (Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Hurairah dengan tidak ada lafazh ‘kulluhum’ [semuanya].

«وَالنَّاسُ كَأَسْنَانِ الْمُشْطِ لَا فَضْلَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ إلَّا بِالتَّقْوَى»

“Manusia itu bagai gigi-gigi sisir, tidak ada kemulian seseorang atas lainnya kecuali dengan takwa.” (Ibnu Laal meriwayatkan hadits yang sama maknanya dengan lafazh yang mirip dari Sahal Ibnu Sa’ad)

Al-Bukhari mendukung pendapat ini, sehingga di awal pembahasan bab kafa’ah dalam agama dia berkata, “Firman Allah Ta’ala, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air.” (QS. Al-Furqan: 54). Lalu, ia mengambil kesimpulan dari ayat ini adanya persamaan derajat sesama keturunan Nabi Adam Alaihissalam, kemudian dia menegaskan penjelasan ini dengan proses pernikahan yang dilakukan oleh Abu Huzaifah. Ia menikahkan Salim dengan anak perempuan saudaranya yang bernama Hindun binti Al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah, sedangkan Salim adalah bekas budak wanita Anshar yang telah dimerdekakan. Telah dijelaskan dalam pembahasan terdahulu tentang perintah mengutamakan agama [dalam pernikahan] daripada lainnya, sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, “Hendaklah kamu memilih [istri] atas dasar agama.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah di hari penaklukan kota Mekah:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ بِضَمِّ الْمُهْمَلَةِ وَكَسْرِهَا الْجَاهِلِيَّةِ، وَتَكَبُّرَهَا يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّمَا النَّاسُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ ثُمَّ قَرَأَ الْآيَةَ، وَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ أَكْرَمَ النَّاسِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ»

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari kalian kesombongan tradisi jahiliyah dan menyombongkannya. Wahai manusia, sungguh manusia hanya terbagi menjadi dua golongan: mukmin yang bertakwa akan mulia di sisi Allah, dan pendosa yang akan sengsara dan hina di sisi Allah” lalu membacakan ayat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan: “Siapa yang ingin menjadi orang paling mulia hendaklah dia bertakwa kepada Allah.”

Rasulullah menjadikan penilaian terhadap seseorang berdasarkan keturunan termasuk kesombongan sekaligus membanggakan tradisi Jahiliyyah, lalu bagaimana seorang mukmin menjadikannya sebagai standar persamaan derajat dan dasar menentukan hukum syar’i? Dalam sebuah hadits diterangkan,

«أَرْبَعٌ مِنْ أُمُورِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُهَا النَّاسُ. ثُمَّ ذَكَرَ مِنْهَا الْفَخْرَ بِالْأَنْسَابِ»

“Ada empat perkara termasuk tradisi jahiliyyah yang tidak bisa ditinggalkan manusia -kemudian disebutkan di antaranya: membanggakan keturunan.” Diriwayatkan Ibnu Jarir dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. [shahih, Muslim (934) dengan lafazh berdekatan [hampir sama], dan saya tidak mendapatkannya dalam kitab Tafsir Ibnu Jarir.]

Dalam banyak hadits disebutkan tentang celaan kepada yang membangga-banggakan keturunan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh Bani Bayadhah untuk menikahi Abu Hindun tukang bekam dan bersabda, “Sungguh dia bagian dari kaum muslimin”, dan beliau mengingatkan tentang persamaan yang dimaksud adalah sama-sama beragama Islam.

Dalam masalah ini, kebanyakan manusia mempunyai pendapat yang aneh-aneh dan tidak ada dalilnya sama sekali, kecuali hanya sekadar untuk untuk kesombongan dan membangga-banggakan diri. Tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Allah semata. Banyak sekali wanita muslimah yang gagal menikah dikarenakan kesombongan para wali yang membangga-banggakan keturunan. Ya Allah kami berlepas diri [pasrah] kepada-Mu dari syarat yang lahir dari hawa nafsu dan dilestarikan oleh orang-orang yang membangga-banggakan diri.

Para wanita keturunan Fatimiyah di daerah Yaman dilarang menikah dengan laki-laki yang halal buat mereka dikarenakan fatwa sebagian pengikut madzhab Al-Hadawiyah yang menyatakan, “Diharamkan bagi wanita keturunan Fatimiyah menikah kecuali dengan laki-laki keturunan Fatimiyah tanpa menyebutkan dalil atas fatwanya, dan itu sebenarnya bukan madzhab Imam Al-Hadi (pendiri madzhab Al-Hadawiyyah) Rahimahullah karena dia menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki keturunan Ath-Thabari. Fatwa tersebut muncul setelah Al-Hadi wafat, pada masa Imam Ahmad bin Sulaiman dan diikuti oleh para pembesarnya, mereka berkata, “Dengan terang-terangan mereka mengharamkan wanita golongan Syarifah menikah selain dengan laki-laki dari golongan mereka, semua itu tanpa didasari ilmu dan tuntunan, baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits, bahkan perkataan mereka bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *