[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 241

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 06

0764

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَشْتَرُوا السَّمَكَ فِي الْمَاءِ، فَإِنَّهُ غَرَرٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَشَارَ إلَى أَنَّ الصَّوَابَ وَقْفُهُ

764. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah membeli ikan dalam air karena ia tidak jelas.” (HR. Ahmad, Ia memberi isyarat bahwa yang benar hadits ini mauquf)

[dhaif, Dhaif Al-Jami’ (6231)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah membeli ikan dalam air karena ia tidak jelas.” HR. Ahmad, Ia memberi isyarat bahwa yang benar hadits ini mauquf (hadits ini sebagai dalil keharaman menjual ikan di air sebab adanya tipu daya (gharar). Hal itu terjadi karena saat dalam air hakekat ikan tidak dapat diketahui sehingga nampak ikan yang kecil menjadi besar dan begitu pula sebaliknya.

Tafsir Hadits

Larangan di sini nampak bersifat mutlak, sedangkan para fuqaha merinci hal tersebut dengan mengatakan; bila ikan berada di dalam air yang banyak dan tidak mungkin mengambilnya, kecuali dengan cara dipancing dan dibolehkan pula tanpa mengambilnya, maka jual belinya tidak sah. Dan bila berada di air yang mungkin diketahui keberadaannya dan mungkin diambil dengan cara dipancing, maka jual belinya sah dan boleh melakukan khiyar setelah barang diterima. Bila mungkin didapatkan tanpa perlu dipancing maka jual belinya sah dan boleh melakukan khiyar penglihatan. Rincian ini terambil dari dalil-dalil yang ada dan mengharuskan (mengkhususkan) sesuatu larangan yang bersifat umum.

0765

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ تُبَاعَ ثَمَرَةٌ حَتَّى تُطْعَمَ، وَلَا يُبَاعَ صُوفٌ عَلَى ظَهْرٍ، وَلَا لَبَنٌ فِي ضَرْعٍ» . رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَالدَّارَقُطْنِيّ. وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد فِي الْمَرَاسِيلِ لِعِكْرِمَةَ، وَأَخْرَجَهُ أَيْضًا مَوْقُوفًا عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ بِإِسْنَادٍ قَوِيٍّ، وَرَجَّحَهُ الْبَيْهَقِيُّ.

765. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah-buahan hingga masak, bulu yang masih melekat di punggung (hewan hidup), dan susu dalam tetek. (HR. Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath dari Ad-Daraquthni. Abu Dawud meriwayatkan dalam hadits-hadits Mursal Ikrimah, ia juga meriwayatkan secara mauquf dari Ibnu Abbas dengan sanad kuat yang diperkuat oleh Al-Baihaqi)

[Al-Ausath (4/101), dan Ad-Daraquthni (3/14), Al-Marasil no. (182,183)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menjual buah-buahan hingga masak (yakni nampak layak dikonsumsi) dan tidak menjual bulu yang masih melekat di punggung -hewan hidup-, dan susu dalam tetek. HR. Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath dari Ad-Daraquthni (dan dikuatkan oleh Al-Baihaqi) Abu Dawud meriwayatkan dalam hadits-hadits Mursal Ikrimah (inilah yang kuat) ia juga meriwayatkan secara mauquf dari Ibnu Abbas dengan sanad kuat yang diperkuat oleh Al-Baihaqi.

Tafsir hadits

Hadits di atas mengandung tiga persoalan, yaitu:

Pertama, larangan menjual buah-buahan hingga nampak kelayakannya untuk dipetik dan dikonsumsi. Pembahasan hal ini lebih jelas akan dibahas pada bab tersendiri.

Kedua, larangan menjual bulu di punggung hewan, terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini.

1) Tidak dibolehkan sesuai dengan makna hadits di atas karena masih terdapat perbedaan tempat memotong sehingga menyakiti hewan tersebut. Inilah pendapat Al-Hadawiyah dan kalangan Asy-Syafi’iyah serta Abu Hanifah.

2) Sah jual belinya karena hal tersebut dapat dilihat dan bisa diserah-terimakan sebagaimana disahkan pula dari hewan sembelihan. Inilah perkataan Imam Malik dan ulama yang sependapat dengannya. Mereka mengatakan bahwa kondisi hadits di atas mauquf pada Ibnu Abbas.

Pendapat pertama paling nampak kebenarannya, sedangkan hadits di atas dikuatkan oleh hadits mursal dan mauquf. Adapun larangan penipuan sungguh benar dilarang, sedangkan sikap gharar terjadi padanya.

Ketiga, menjual air susu di tetek karena terdapat unsur tipuan. Sedangkan said bin Jubair membolehkan hal tersebut dengan mengatakan, sebab Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebut tetek sebagai gudang dalam sabdanya saat menyebut orang yang memerah kambing saudaranya tanpa izin darinya.

«يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إلَى خِزَانَةِ أَخِيهِ وَيَأْخُذُ مَا فِيهَا»

“Seseorang dari kalian sengaja mendekati gudang saudaranya dan mengambil apa yang ada di dalamnya.”

Penulis menjawab, bahwa penamaan tersebut hanya berupa majaz. Kalaupun alasan tersebut dapat diterima maka jual beli yang dalam gudang itu berupa tipuan (gharar) yang tidak dapat diketahui jumlah dan kualitasnya.

0766

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَضَامِينِ وَالْمَلَاقِيحِ» . رَوَاهُ الْبَزَّارُ، وَفِي إسْنَادِهِ ضَعْفٌ

766. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli anak hewan dalam kandungan dan mani ternak jantan. (HR. Al-Bazzar dengan sanad yang lemah)

[shahih, Al-Bazzar (1267) Al-Kasysyaf, dan lihat Shahih Al-Jami’ (6937)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang jual beli anak hewan dalam kandungan (yakni apa yang dalam kandungan unta) dan mani ternak jantan (yakni apa yang di punggung unta jantan). HR. Al-Bazzar dengan sanad yang lemah (karena di dalam riwayatnya terdapat Shalih bin Abil Akhdhar dari Az-Zuhri dia seorang yang lemah dan diriwayatkan oleh Malik dari Az-Zuhri dari Said secara mursal. Dalam kitab Al-Ilal Ad-Daraqutni berkata, “Diikuti oleh Ma’mar dan disambungkan oleh Umar bin Qais dari Az-Zuhri, sedangkan perkataan Malik adalah benar. Dan dalam bab tersebut dari Ibnu Umar dikeluarkan oleh Abdurrazaq dengan sanad yang kuat)

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil tidak sahnya jual beli yang masih ada dalam kandungan (perut) dan sesuatu yang di punggung unta. Ulama sepakat keharamannya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

0767

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «وَمَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا بَيْعَتَهُ أَقَالَ اللَّهُ عَثْرَتَهُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.

767. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membebaskan jual beli seorang muslim, Allah akan membebaskan kesalahannya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (3460)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Makna Hadits

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membebaskan jual beli seorang muslim, Allah akan membebaskan kesalahannya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim) pada lafazhnya disebutkan:

«مَنْ أَقَالَ مُسْلِمًا أَقَالَ اللَّهُ عَثْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Barangsiapa membebaskan jual beli seorang muslim, Allah akan membebaskan kesalahannya di hari kiamat”

Abu Fath Al-Qusyairi berkata, “Hadits tersebut sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim. Dalam bab tersebut terdapat hadits-hadits yang memperkuat keutamaan melakukan pembebasan (Iqalah).”

Tafsir Hadits

Secara syariat Iqalah (pembebasan) artinya menarik kembali jual beli yang telah terjadi di antara kedua pelaku akad. Hal tersebut disyariatkan berdasarkan ijma’ ulama dengan mengharuskan adanya pengucapan lafazh yang menunjukkan pembebasan jual beli (Iqalah) seperti perkataan: ‘aku bebaskan’ atau ungkapan yang menunjukkan hal tersebut secara adat istiadat. Iqalah mempunyai berbagai jenis syarat yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab sub induk karangan para ulama yang tanpa diperkuat dengan dalil. Hadits di atas hanya menunjukkan bahwa hal itu terlaksana dengan dua sisi pelaku akad dengan sabdanya: “jual belinya”. Sedangkan sifat orang yang diberi Iqalah seorang yang muslim bukan menjadi syarat mutlak. Penyebutannya hanya bersifat keumumann hukum, kalau tidak demikian niscaya pahalanya akan menjadi bagian orang kafir. Terdapat pula riwayat yang menyebutkan:

مَنْ أَقَالَ نَادِمًا

‘barangsiapa membebaskan orang yang menyesal’ dikeluarkan oleh Al-Bazzar. [dhaif, Dhaif Al-Jami’, (5464)]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *