[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 309

08. KITAB NIKAH 13

0926

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَنْكِحُ الزَّانِي الْمَجْلُودُ إلَّا مِثْلَهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

926. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Laki-laki pezina tidak boleh menikah kecuali dengan wanita yang seperti dia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dengan perawi yang dapat dipercaya)

[Shahih: Abi Dawud (2052)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Hadits ini menunjukkan haram bagi wanita dinikahkan dengan laki-laki pezina. Penggunaan kata ‘majlud’ [yang dicambuk] dalam hadits hanyalah bentuk ungkapan yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan terus-menerus, yakni laki-laki tersebut adalah seorang pezina. Demikian juga halnya dengan laki-laki, tidak boleh menikah dengan wanita pezina. Hadits ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

{وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur: 3)

Hanya saja kebanyakan ulama menafsirkan ayat dan hadits tersebut dengan makna, laki-laki pezina tidak ingin menikah kecuali dengan wanita pezina, demikian juga wanita pezina tidak ingin menikah kecuali dengan laki-laki pezina.

Hadits dan ayat itu berisi larangan terhadap hal tersebut, bukan sebatas memberitahukan kecenderungan saja, akan tetapi diharamkan laki-laki pezina menikah dengan wanita baik-baik, dan juga laki-laki baik menikah dengan wanita pezina. Saya tidak menjelaskan bahwa makna firman Allah Ta’ala, “Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin”, yakni orang-orang yang sempurna imannya adalah mereka yang tidak berzina, sebab orang yang berzina menurut kebanyakan ulama masih dikategorikan mukmin tapi tidak sempurna keimanannya.

0927

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «طَلَّقَ رَجُلٌ امْرَأَتَهُ ثَلَاثًا فَتَزَوَّجَهَا رَجُلٌ ثُمَّ طَلَّقَهَا قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا، فَأَرَادَ زَوْجُهَا الْأَوَّلُ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا، فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: لَا، حَتَّى يَذُوقَ الْآخَرُ مِنْ عُسَيْلَتِهَا مَا ذَاقَ الْأَوَّلُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

927. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Ada seorang laki-laki mentalak istrinya dengan talak tiga [ba’in], lalu wanita itu dinikahi seorang laki-laki. Lelaki itu menceraikannya sebelum menggaulinya. Ternyata suaminya yang pertama ingin menikahinya kembali Maka ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu beliau menjawab, “Tidak boleh, sampai suami yang terakhir merasakan madunya [melakukan hubungan seksual] sebagaimana yang dirasakan suami yang pertama.” (Muttafaq Alaih, dan lafazhnya menurut Muslim)

[shahih, Al-Bukhari (5260), Muslim (1433)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam mendefinisikan kata ‘usailah’ [manis madu]. Ada yang berpendapat, keluarnya air mani [hubungan seksual], dan wanita tersebut tidaklah halal untuk dinikahi suaminya yang pertama kecuali setelah melakukan hubungan seksual dengan suami yang kedua tersebut, inilah pendapat Al-Hasan. Jumhur ulama berpendapat, itu adalah kinayah dari menggauli istri yaitu memasukkan kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan, yang wajib dijatuhi hukuman dengan zina jika pelakunya belum menikah, dan wajib memberikan mahar. Al-Azhari berpendapat, arti yang benar adalah manisnya berhubungan suami-istri dan itu bisa dicapai dengan memasukkan dzakarnya ke kemaluan istrinya. Abu Ubaid berpendapat, maksudnya kelezatan hubungan suami istri, karena kebiasaan orang menamakan sesuatu yang lezat dan nikmat dengan istilah madu. Dan mungkin demikian maksud dari hadits tersebut.

Sedangkan pendapat Sa’id Ibnu Al-Musayyib, cukup dengan akad yang shahih, maka si istri halal untuk dinikahinya lagi. Ibnu Al-Mundzir membantah, kami tidak mengetahui bila ada seseorang yang berpendapat sama dengannya kecuali kelompok khawarij, dan sangat mungkin hadits itu tidak sampai kepadanya; sehingga dia berpendapat dengan makna zhahir dari Al-Qur’an. Sedangkan riwayat yang menyatakan hal itu berasal dari Sa’id bin Jubair, tidak ditemukan dalam kitab, melainkan bahwa pendapat itu dinukil oleh Abu Ja’far An-Nuhhas dalam kitab Ma’ani Al-Qur’an dan diikuti Abdul Wahhab yang bermadzhab maliki dalam kitab Syarh Ar-Risalah. Ibnu Al-Jauzi telah meriwayatkan bahwa pendapat Sa’id Ibnu Al-Musayyib berasal dari Dawud.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *