[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 240

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 05

0762

وَعَنْ عُرْوَةَ الْبَارِقِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَعْطَاهُ دِينَارًا لِيَشْتَرِيَ بِهِ أُضْحِيَّةً، أَوْ شَاةً، فَاشْتَرَى بِهِ شَاتَيْنِ، فَبَاعَ إحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ، فَأَتَاهُ بِشَاةٍ وَدِينَارٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ، فَكَانَ لَوْ اشْتَرَى تُرَابًا لَرَبِحَ فِيهِ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ. وَقَدْ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ فِي ضِمْنِ حَدِيثٍ، وَلَمْ يَسُقْ لَفْظَهُ. وَأَوْرَدَ التِّرْمِذِيُّ لَهُ شَاهِدًا مِنْ حَدِيثِ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ.

762. Dari Urwah Al-Bariqi Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor hewan kurban atau kambing. Ia membeli dengan uang tersebut dua ekor kambing dan menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Lalu ia datang kepada beliau dengan seekor kambing dan satu dinar. Beliau mendoakan agar jual belinya diberkahi Allah, sehingga kalaupun ia membeli debu, ia akan memperoleh keuntungan.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa’i. Al-Bukhari meriwayatkan hadits tersebut dalam salah satu riwayatnya, namun lafazhnya tidak seperti itu. At-Tirmidzi juga mengeluarkan satu saksi dari hadits Hakim bin Hizam)

[Shahih Abi Dawud (3384)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Urwah Al-Bariqi Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa sallam pernah memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor hewan kurban atau kambing. Ia membeli dengan uang tersebut dua ekor kambing dan menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Lalu ia datang kepada beliau dengan seekor kambing dan satu dinar. Beliau mendoakan agar jual belinya diberkahi Allah, sehingga kalaupun ia membeli debu, ia akan memperoleh keuntungan. (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa’i. Al-Bukhari meriwayatkan hadits tersebut dalam salah satu riwayatnya, namun lafazhnya tidak seperti itu. At-Tirmidzi juga mengeluarkan satu saksi dari hadits Hakim bin Hizam) (Dalam sanad hadits terdapat Said bin Zaid saudara Hamad yang masih diperselisihkan, Al-Mundziri dan An-Nawawi mengatakan sanadnya hasan shahih. Di dalamnya ada banyak catatan: Penulis mengatakan, “Yang benar bahwa hal tersebut tersambung, di dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak diketahui.”)

Tafsir hadits

Dalam hadits terdapat petunjuk bahwa Urwah membeli sesuatu yang tidak dapat diwakilkan dan saat menjualnya pun demikian. Karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya satu dinar untuk membeli hewan kurban. Kalaulah berhenti melakukannya niscaya dia membeli hewan kurban dengan sebagian dinar dan mengembalikan sebagian yang lainnya. Hal ini yang telah dilakukannya dan dinamai oleh para ahli fikih dengan istilah jual beli yang terhenti oleh izin dan hal tersebut telah terjadi pada hadits ini. Dalam masalah ini ulama mempunyai lima pendapat:

Pertama, sah jual beli yang terhenti. Inilah pendapat yang dipegang oleh jama’ah dari ulama salaf dan Al-Hadawiyah sebagai bentuk pengamalan hadits.

Kedua, tidak sah, itulah pendapat Imam Syafi’i dengan mengatakan, “Sesungguhnya izin tidak dapat mengesahkannya dengan argumentasi hadits,

«لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ»

“Janganlah engkau jual sesuatu yang tidak engkau miliki” dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. [Shahih: Abi Dawud (3505)]

Hadits tersebut mencakup barang yang tidak ada dan milik orang lain. Asy-Syafi’i ragu akan keabsahan hadits Urwah dan beliau memberikan catatan akan keshahihan haditsnya.

Ketiga, diperinci seperti pendapat Abu Hanifah, beliau mengatakan, “Dibolehkan menjual bukan membeli. Seakan beliau membedakan antara keduanya. Karena menjual adalah mengeluarkan sesuatu dari kepemilikan sang pemilik barang. Dan pemilik mempunyai hak untuk menyempurnakan miliknya, bila dia mengizinkan, maka gugurlah haknya. Hal tersebut berbeda dengan membeli merupakan penetapan kepemilikan sehingga harus ada penguasaan pemilik atas barang tersebut.

Keempat, pendapat Imam Malik kebalikan apa yang dikatakan Abu Hanifah seakan beliau hendak menggabungkan antara dua hadits. Yakni hadits “Janganlah engkau jual sesuatu yang tidak engkau miliki” dengan hadits Urwah kemudian mengamalkannya selama tidak bertentangan.

Kelima, pendapat Al-Jashshash menganggap sah bila diwakilkan untuk membeli sesuatu tapi dia membeli sebagiannya. Bila hadits Urwah shahih, maka mengamalkan hadits tersebut merupakan pendapat yang kuat.

Dalam hadits terdapat petunjuk sahnya jual beli hewan kurban bila telah ditentukan dengan membeli untuk mengganti barang yang serupa dan tidak layak menambahkan harga sehingga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menyedekahkannya. Dalam doa Nabi kepadanya dengan keberkahan merupakan petunjuk bahwa mengucapkan syukur kepada pelaku kebaikan dan membalasnya merupakan hal yang dicintai walaupun sekadar doa.

0763

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ شِرَاءِ مَا فِي بُطُونِ الْأَنْعَامِ حَتَّى تَضَعَ، وَعَنْ بَيْعِ مَا فِي ضُرُوعِهَا، وَعَنْ شِرَاءِ الْعَبْدِ وَهُوَ آبِقٌ، وَعَنْ شِرَاءِ الْمَغَانِمِ حَتَّى تُقَسَّمَ، وَعَنْ شِرَاءِ الصَّدَقَاتِ حَتَّى تُقْبَضَ، وَعَنْ ضَرْبَةِ الْغَائِصِ» . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَزَّارُ وَالدَّارَقُطْنِيّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

763. Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang melakukan jual beli anak yang masih berada dalam kandungan hewan sebelum dilahirkan, susu yang masih berada dalam teteknya, seorang hamba yang melarikan diri, harta rampasan yang belum dibagi, zakat yang belum diterima, dan hasil seorang penyelam. (HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar. Ad-Daraquthni juga meriwayatkan dengan sanad yang lemah)

[Hadits ini dhaif, Al-Irwa’ (1293)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang melakukan jual beli anak yang masih berada dalam kandungan hewan sebelum dilahirkan, susu yang masih berada dalam teteknya, seorang hamba yang melarikan diri, harta rampasan yang belum dibagi, zakat yang belum diterima, dan hasil seorang penyelam. HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar. Ad-Daraquthni juga meriwayatkan dengan sanad yang lemah (karena dari hadits Syahr bin Huwaisyib. Syahr banyak dikritik oleh berbagai kalangan seperti An-Nadhr bin Syamil, An-Nasai dan Ibnu Adi. Al-Bukhari berkata, “Syahr baik haditsnya dan kuat perkaranya.” Diriwayatkan dari Ahmad, ia mengatakan, “Alangkah baik haditsnya.”)

Tafsir Hadits

Hadits tersebut mencakup enam bentuk larangan yaitu:

Pertama, menjual janin di perut hewan berdasarkan kesepakatan ulama yang mengharamkannya.

Kedua, air susu yang di dalam tetek yang disepakati juga keharamannya.

Ketiga, budak yang melarikan diri karena tidak mampu diserah-terimakan.

Keempat, membeli harta rampasan sebelum dibagikan karena tidak ada pemiliknya.

Kelima, membeli harta sedekah sebelum diterima disebabkan belum sempurna menjadi milik penerima sedekah, kecuali setelah diterima. Para fuqaha mengecualikan menjual harta sedekah setelah dilepas dari pemberi sedekah karena mereka menjadikannya sama dengan serah terima.

Keenam, perilaku penyelam dengan mengatakan: aku akan menyelam di laut dengan bayaran sekian, sedangkan hasil yang kutangkap menjadi milikmu. Alasan keharamannya karena mengandung gharar (ketidakjelasan) dan terdapat unsur penipuan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *