[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 308

08. KITAB NIKAH 12

0924

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْمُتْعَةِ عَامَ خَيْبَرَ»

924. Dari Ali Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shaltallahu Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah pada waktu perang khaibar.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5523), Muslim (1407)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari disebutkan,

“Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai negeri pada waktu perang Khaibar.” Telah lalai siapa yang meriwayatkan “Perang Hunain” yang diriwayatkan An-Nasa’i dan Ad-Daraquthni dengan mengingatkan bahwa itu adalah kesalahan. Kemudian secara zhahir hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari menunjukkan larangan terhadap kedua hal tersebut secara bersamaan, yaitu nikah mut’ah dan [memakan] daging keledai negeri.

Al-Baihaqi menukilkan dari Al-Humaidi yang menjelaskan bahwa Sufyan bin Uyainah mengatakan bahwa hukum yang terkait ketika perang Khaibar adalah berkenaan dengan keledai piaraan, bukan nikah mut’ah. Al-Baihaqi berkomentar, “Hal itu mungkin saja, akan tetapi kebanyakan riwayat menerangkan bahwa hukumnya berkenaan terhadap keduanya.”

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dari Ma’mar lengkap dengan sanadnya menerangkan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma memberi kelonggaran dalam nikah mut’ah, maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai piaraan ketika perang Khaibar.” Hanya saja, As-Suhaili berkomentar atas hadits itu, “Tidak diketahui dari para pakar sejarah dan perawi hadits bahwa Nabi melarang nikah mut’ah dan makan daging keledai piaraan ketika perang Khaibar.” Ia berkata, “Sepertinya hukum yang terkait dengan nikah mut’ah adalah adanya pembolehan di awal dan hukum akhir penentu.” Ibnu Abdil Bar menyebutkan bahwa Al-Humaidi menyebutkan dari Ibnu Uyainah yang menerangkan larangan ketika perang Khaibar hanya terkait dengan makan daging keledai piaraan, sedangkan larangan nikah mut’ah bukan ketika perang Khaibar.

Abu Awanah menerangkan dalam kitab Shahihnya, “Saya mendengar Ahli Ilmu berkata, “Makna Hadits riwayat Ali Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi melarang memakan daging keledai piaraan, sedangkan hukum terkait nikah mut’ah tidak disebutkan, artinya nikah mut’ah diharamkan ketika perang penaklukan kota Mekah. Yang mendorong mereka untuk mengatakan hal demikian bahwa masih berlakunya kelonggaran nikah mut’ah setelah perang Khaibar, dan perkataan Ali Radhiyallahu Anhu kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma tidak bisa dijadikan hujjah kecuali jika di kemudian hari ada larangan, dan mungkin ada tenggang waktu kelonggaran yang tidak diketahui Ali ketika perang penaklukan kota Mekkah, karena dekatnya jarak waktu antara larangan dengan pembolehan. Dan mungkin juga Ali mengetahui kelonggaran itu di perang penaklukan kota Mekah, tapi dipahami waktu itu kondisinya darurat dan hal itu sudah berlalu; karena sudah ada ketetapan hukum setelah itu, maka hukumnya haram dan bisa dijadikan hujjah atas pendapat Ibnu Abbas.

Sedangkan pendapat Ibnul Qayyim, bahwa kaum muslimin belum pernah menikah dengan wanita ahli kitab. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan pendapat bahwa larangan itu bukan ketika perang Khaibar, karena saat itu tidak ada yang melangsungkan nikah mut’ah. Pendapat ini dijawab: mungkin saja di Khaibar ada wanita-wanita Musyrik selain ahli kitab, karena orang-orang Khaibar biasanya mereka berbesanan dengan suku Aus dan Khazraj sebelum Islam datang, dan mungkin saja saat itu ada di antara kaum muslimin yang nikah mut’ah dengan wanita dari Aus dan Khazraj.

0925

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالنَّسَائِيُّ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ وَفِي الْبَابِ عَنْ عَلِيٍّ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ.

925.Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat muhallil dan muhallal lahu.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi. Hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi. Dalam masalah ini ada hadits dari Ali Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat muhallil dan muhallal lahu. Diriwayatkan Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (5101)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat muhallil dan muhallal lahu.” HR. Ahmad, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi. Dalam masalah ini ada hadits dari Ali Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat muhallil dan muhallal lahu. Diriwayatkan Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i (Hadits riwayat Ibnu Mas’ud dishahihkan Ibnu Al-Qaththan, Ibnu Daqiq Al-‘Id atas syarat Al-Bukhari. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih dan diamalkan ahli ilmu, di antaranya: Umar, Utsman, Ibnu Umar, dan itulah pendapat para fuqaha dari generasi Tabi’in)

Sedangkan hadits dari Ali di sanad rawinya terdapat Mujalid, dia dha’if, hadits itu dishahihkan Ibnu As-Sakan dan menurut At-Tirmidzi hadits ma’lul. Ibnu Majah dan Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Uqbah bin Amir dengan lafazh,

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالتَّيْسِ الْمُسْتَعَارِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: فَهُوَ الْمُحَلِّلُ لَعَنَ اللَّهُ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ»

“Maukah kalian aku beritahu tentang perumpamaan domba jantan yang disewa untuk dikawinkan dengan domba betina? Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Yaitu muhallil, Allah melaknat muhallil dan muhallal lahu.”[hasan, Shahih Al-Jami’ (2596)]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang mengharamkan pernikahan rekayasa sebagaimana yang dilakukan oleh muhallil dan muhallal lahu. Pelakunya akan dilaknat oleh Allah. Sesungguhnya laknat tidak akan diberikan kecuali kepada pelaku perbuatan haram, dan setiap yang diharamkan dilarang untuk dilakukan. Larangan dalam hadits ini menunjukkan tidak sahnya akad nikah tersebut, walaupun laknat itu diperuntukkan bagi pelakunya saja, namun bisa dijadikan sebagai alasan untuk memberikan hukum. Di antara bentuk nikah seperti itu adalah; dikatakan kepadanya ketika hendak akad nikah, “Bila kamu telah nikah tahlil maka itu sebenarnya tidak menikah, ini seperti nikah mut’ah karena hanya sementara waktu,” yang lainnya, dikatakan kepadanya ketika akad, “Bila kamu telah nikah tahlil maka kamu harus menceraikannya,” dan juga bentuknya: tidak dilafazhkan ketika akad namun maksudnya sama, yaitu nikah hanya sementara waktu, laknat dalam hadits ini zhahirnya mencakup semuanya dan batilnya akad nikah pada semua bentuk-bentuk nikah tahlil, walaupun masih ada perselisihan hukum pada beberapa bentuk nikah tersebut, namun perbedaan itu tidak didasari dengan dalil yang kuat; maka janganlah disibukkan dengan hal tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *