[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 239

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 04

0758

وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: مَنْ اشْتَرَى شَاةً مُحَفَّلَةً فَرَدَّهَا فَلْيَرُدَّ مَعَهَا صَاعًا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَزَادَ الْإِسْمَاعِيلِيُّ مِنْ تَمْرٍ.

758. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Barangsiapa membeli seekor kambing muhaffalah (yang tidak diperas susunya), lalu ia mengembalikannya, maka hendaknya ia mengembalikannya dengan membayar satu sha’.” (HR. Al-Bukhari dan Al-Isma’ili menambahkan dengan lafazh: [satu sha’] kurma)

[shahih, Al-Bukhari (2149)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dalam hadits ini, penulis tidak menjadikannya sebagai hadits marfu’ dan hanya berhenti pada Ibnu Mas’ud, karena Al-Bukhari tidak menjadikannya sebagai hadits marfu’. Pembahasan tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya.

 0759

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ عَلَى صُبْرَةٍ مِنْ طَعَامٍ. فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا. فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا. فَقَالَ: مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ: أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

759. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati sebuah tumpukan bahan makanan [yang dapat ditimbang atau ditakar untuk dijual]. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut dan ternyata jari-jari tangan beliau basah [karena di dalam tumpukan itu ada bahan makanan yang masih basah]. Maka beliau bertanya, “Wahai penjual makanan, kenapa ada yang basah?” Ia menjawab, “Terkena hujan, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa tidak engkau letakkan pada bagian atas makanan agar orang-orang dapat melihatnya? Barangsiapa menipu maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (102)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

An-Nawawi berkata, “Sesuai dengan kaidah ushul, kata “bukan termasuk golonganku” artinya bukan dari golongan orang-orang yang mendapat petunjukku, serta mengikuti ilmu, amal dan jalanku. Sufyan bin Uyainah tidak suka dengan penafsiran seperti itu seraya berkata, “Kita menahan diri dari penafsiran yang lain agar lebih membekas dalam diri dan efektif sebagai hardikan.”

Hadits ini menunjukkan bahwa berbuat curang [menipu] adalah perbuatan yang dilarang menurut syariat dan pelakunya dicela menurut akal yang sehat.

 0760

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ حَبَسَ الْعِنَبَ أَيَّامَ الْقِطَافِ حَتَّى يَبِيعَهُ مِمَّنْ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا فَقَدْ تَقَحَّمَ النَّارَ عَلَى بَصِيرَةٍ» رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

760. Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menahan buah anggur -dari hasil panen- pada musim panen tiba untuk dijual kepada pembuat minuman keras, maka sesungguhnya ia telah menceburkan dirinya ke dalam api neraka dengan sengaja.” (HR. Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath dengan sanad hasan)

//Dhaif Jiddan: Adh-Dhaifah: 1269. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Buraidah nama lengkapnya adalah Abu Sahl Abdullah bin Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami. Ia adalah seorang qadhi, perawi dan tabi’i.

Penjelasan Kalimat

“Barangsiapa menahan buah anggur -dari hasil panen- pada musim panen tiba (yakni, pada hari-hari musim dipetik) untuk dijual kepada pembuat minuman keras, maka sesungguhnya ia telah menceburkan dirinya ke dalam api neraka dengan sengaja (yakni, dia telah mengetahui sebab dan perkara yang dapat menceburkannya ke dalam neraka dengan sengaja).

Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman dari hadis Buraidah dengan tambahan,

«حَتَّى يَبِيعَهُ مِنْ يَهُودِيٍّ أَوْ نَصْرَانِيٍّ أَوْ مِمَّنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا فَقَدْ تَقَحَّمَ فِي النَّارِ عَلَى بَصِيرَةٍ»

“Sehingga menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani, atau kepada seseorang yang sudah diketahui -bahwa anggur itu- akan dibuat arak, maka sungguh ia telah sengaja menceburkan dirinya ke dalam api neraka.” [Asy-Syu’ab (5/17)]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan haramnya menjual buah anggur kepada seseorang [penjual] yang sudah jelas-jelas diketahui bahwa anggur itu akan dijadikan sebagai bahan pembuat minuman keras. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ancaman api neraka bagi penjualnya, sebagaimana tersebut dalam hadits. Jika penjualan tersebut dilakukan dengan penuh kesengajaan -si penjual sudah mengetahui bahwa si pembeli akan menjadikannya sebagai bahan pembuat minuman keras-, maka para ulama sepakat atas keharamannya. Adapun bila tanpa sengaja, Al-Hadawiyah mengatakan bahwa jual beli tersebut boleh, tetapi termasuk perbuatan yang dibenci. Hal ini jika penjual ragu-ragu apakah anggur itu akan dijadikan sebagai minuman keras atau tidak. Adapun bila mengetahuinya dengan jelas, maka diharamkan. Hal ini diqiyaskan dengan sesuatu yang dapat digunakan untuk melakukan -menolong- perbuatan maksiat. Sedangkan sesuatu yang jelas-jelas digunakan untuk bermaksiat seperti seruling, gendang dan semisalnya, maka telah disepakati para ulama bahwa menjual ataupun membelinya tidak diperbolehkan. Begitu juga menjual senjata dan perlengkapannya kepada orang kafir dan orang-orang yang berbuat aniaya, maka tidak diperbolehkan, karena mereka menggunakannya untuk memerangi orang-orang muslim. Akan tetapi, diperbolehkan apabila menjualnya kepada pihak yang bisa dipertanggungjawabkan, sehingga senjata itu bisa digunakan untuk tujuan yang baik dan semestinya.

 0761

وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَضَعَّفَهُ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ الْجَارُودِ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ، وَابْنُ الْقَطَّانِ.

761. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pengeluaran itu dengan tanggungan.” (HR. Al-Khamsah. Hadits ini dhaif menurut Al-Bukhari dan Abu Dawud. Akan tetapi dianggap shahih menurut At-Tirmidzi, Ibnu Huzaimah, Ibnu Al-Jarud, Ibnu Hibban, Hakim, dan Ibnu Al-Qaththan)

[hasan, Abi Dawud (3508)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pengeluaran itu dengan tanggungan.” HR. Al-Khamsah. Hadits ini dhaif menurut Al-Bukhari (karena di dalamnya terdapat Muslim bin Khalid Az-Zanji yang hilang hafalan haditsnya) dan Abu Dawud. Akan tetapi, hadits ini dianggap shahih menurut At-Tirmidzi, Ibnu Huzaimah, Ibnu Al-Jarud, Ibnu Hibban, Hakim, dan Ibnu Al-Qaththan (hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Asy-Syafi’i dan Ashabu As-Sunan secara panjang lebar. Hal tersebut bermula saat seorang sahabat di zaman Nabi membeli seorang budak dengan kondisi yang ada padanya, kemudian dia meminta dikembalikan karena terdapat aib pada diri budak tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan untuk dikembalikan karena terdapat aib, sedang shahabat yang diputuskan perkaranya -penjual-mengatakan bahwa si pembeli telah menggunakannya. Sehingga Beliau bersabda, “Pengeluaran itu dengan tanggungan.”

Tafsir Hadits

Al-Kharaj artinya penghasilan dan sewa [upah]. Yakni, jika barang dagangan itu dapat mendatangkan penghasilan, maka pemilik budaklah yang menanggungnya, dan dia berhak atas hasil yang dikeluarkan itu berdasarkan tanggungan yang dia lakukan. Bila seorang membeli tanah kemudian memanfaatkannya untuk cocok tanam, atau hewan ternak kemudian menghasilkan, atau hewan tunggangan kemudian ditungganginya, atau budak kemudian dipergunakannya, lalu didapati padanya suatu cacat maka si pembeli berhak mengembalikannya tanpa ada beban tanggungan atas sesuatu yang telah dimanfaatkannya. Karena, bila barang tersebut rusak dalam waktu akad jual beli atau saat membatalkannya maka menjadi tanggungan si pembeli sehingga tanggungannya menjadi kewajibannya. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini menjadi beberapa pendapat, yakni:

Pertama; Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa pengeluaran itu dengan tanggungan, hal ini sesuai yang telah kita tetapkan dalam makna hadits tersebut. Sedangkan mengenai faedah [manfaat] dari barang dagangan itu baik berupa faedah yang utama maupun faedah yang lainnya menjadi hak si pembeli, dan barang dagangan dapat dikembalikan selama tidak berkurang [dalam kondisi yang sama] seperti pada saat dia menerimanya.

Kedua; Al-Hadawiyah membedakan antara faedah-faedah yang utama dengan faedah yang timbul lainnya. Bagi si pembeli berhak atasnya selain faedah yang utama. Sedangkan induknya menjadi amanat yang berada di tangannya, bila pembeli mengembalikannya sesuai hukum yang berlaku maka wajib dikembalikan dan mengganti yang rusak. Bila disepakati dengan penuh kerelaan kedua pihak, maka tidak perlu dikembalikan.

Ketiga, pendapat Al-Hanafiah bahwa pembeli berhak atas faedah dari cabangnya seperti kira’, sedangkan faedah induknya seperti kurma maka bila masih tersisa, dikembalikan beserta induknya dan bila sudah habis maka tidak mungkin dikembalikan sehingga patut menerima ganti ruginya.

Keempat, pendapat Imam Malik dengan membedakan antara faedah induk seperti bulu dan rambut maka menjadi hak milik pembeli dan anak dikembalikan beserta ibunya. Hal tersebut selama tidak berhubungan langsung, dengan barang dagangan saat dikembalikan. Bila berhubungan langsung maka wajib dikembalikan kepadanya sesuai ijma’ ulama. Itulah pendapat orang-orang yang telah disebutkan namanya.

Zhahir hadits sesuai dengan pendapat Imam Asy-Syafi’i. Adapun bila si pembeli telah menyetubuhi budaknya kemudian didapati padanya suatu cacat, maka ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Al-Hadawiyah, ahli ra’yi, Ats-Tsauri dan Ishaq berkata, tidak dapat dikembalikan sebab bersetubuh merupakan tindak pidana karena tidak halal menyetubuhi budak, baik untuk induk pembeli maupun cabangnya, sehingga dia telah mencorengkan cacat dengan perilakunya tersebut. Mereka mengatakan, begitu pula dengan pendahuluan bersetubuh tidak bisa dikembalikan setelah itu. Kata mereka, akan tetapi hal tersebut diserahkan kepada penjual dengan mengembalikan ganti rugi atas cacat yang terjadi. Dikatakan bahwa dikembalikan disertai dengan mahar wanita yang sepadan dengannya. Di antara mereka ada pula yang memisahkan antara janda dan perawan, hal tersebut telah cukup pembahasannya diulas oleh Al-Khathabi yang dinukil oleh pemberi penjelasan (syarih). Semua pendapat tersebut hanya pendapat semata tanpa didasari argumentasi dalil dan anggapan bersetubuh merupakan tindak pidana tidak dapat dibenarkan dan alasan yang mengharamkan induk dan cabangnya merupakan bentuk pidana tersendiri merupakan alasan yang lemah sebab tidak dapat dicakup oleh pembeli pada keduanya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *