[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 238

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 03

0756

وَعَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَحْتَكِرُ إلَّا خَاطِئٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

756.Dari Ma’mar bin Abdullah Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Tidaklah menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa”. (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1605)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ma’mar bin Abdilah, dia juga dipanggil Ma’mar bin Abi Ma’mar, masuk Islam sejak dulu dan pernah hijrah ke Habasyah. Dan dia terlambat hijrah ke Madinah, tetapi dia tetap hijrah dan menetap di sana.

Tafsir Hadits

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidaklah menimbun (barang) kecuali orang yang berdosa” yakni orang yang melakukan perbuatan itu berarti telah melakukan kemaksiatan dan dosa. Di dalam bab ini terdapat beberapa hadits yang menunjukkan haramnya menimbun. Dalam kitab An-Nihayah disebutkan berdasarkan sabda Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Barangsiapa yang menimbun makanan”, yakni siapa yang membeli kemudian menahannya agar barang menjadi jarang lantas harganya jadi membumbung tinggi. Zhahir hadits Muslim ini menunjukan haramnya menimbun makanan dan lainnya, hanya saja ada anggapan bahwa tidak dikategorikan menimbun kecuali pada makanan. Abu Yusuf berpendapat bahwa larangan ini bersifat umum, dia berkata, “Setiap barang yang jika ditahan dapat merugikan orang banyak, maka menahannya dikategorikan penimbunan walaupun berupa emas atau pakaian.” Ada pula yang mengatakan, “Tidak dikategorikan menimbun, kecuali pada makanan pokok manusia dan hewan ternak.” In adalah pendapat yang dipegang oleh kalangan Al-Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah.

Sangat jelas bahwa hadits yang melarang menimbun barang, ada yang mutlak dan ada yang muaayyad (terikat dengan sifat tertentu) dalam hal ini makanan. Jika terdapat hadits-hadits seperti ini, maka menurut jumhur ulama tidak bisa menjadi yang mutlak menjadi muaayyad, karena tidak ada pertentangan antara keduanya. Akan tetapi, hadits yang mutlak tetap pada kemutlakannya. Dan ini menuntut untuk diterapkannya larangan menimbun secara mutlak (yakni pada semua jenis barang) tanpa dipersempitkan menjadi hanya makanan saja. Kecuali menurut pendapat Abu Tsaur yang kemudian dibantah oleh para ulama ushul Seakan jumhur ulama mengkhususkan larangan hanya pada dua jenis bahan makanan, karena mempertimbangkan sisi hikmah yang sesuai maksud dari pengharaman, yaitu mencegah kemudharatan bagi banyak orang. Secara umum, hal yang sering mendatangkan mudharat pada orang banyak adalah pada makanan. Oleh karena itu, mereka mengikat kemutlakan hadits itu dengan sisi hikmah yang sesuai dengan maksud dari pengharaman atau bisa juga mereka mengikatnya dengan pendapat sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut. Imam Muslim mengeluarkan hadits dari Said bin Al Musayyib, bahwa dahulu dia melakukan penimbunan. Kemudian dikatakan kepadanya, kamu telah melakukan penimbunan. Dia menjawab, “Karena Ma’mar perawi hadits itu sendiri telah melakukan penimbunan.” Ibnu Abdil Bar berkata, “Dahulu kedua orang tersebut telah menimbun minyak.”

Dan ini jelas menunjukkan bahwa Said mengikat (taqyid) kemutlakan hadits dengan perilaku sang perawi.” Adapun Ma’mar kita tidak tahu dengan apa beliau mengikatnya? Bisa jadi dia mengikatnya dengan sisi hikmah seperti halnya pendapat jumhur ulama.

0757

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تُصَرُّوا الْإِبِلَ وَالْغَنَمَ. فَمَنْ ابْتَاعَهَا بَعْدُ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ بَعْدَ أَنْ يَحْلُبَهَا، إنْ شَاءَ أَمْسَكَهَا. وَإِنْ شَاءَ رَدَّهَا وَصَاعًا مِنْ تَمْرٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَلِمُسْلِمٍ «فَهُوَ بِالْخِيَارِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ» وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ عَلَّقَهَا الْبُخَارِيُّ «وَرَدَّهَا مَعَهَا صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، لَا سَمْرَاءَ» قَالَ الْبُخَارِيُّ: وَالتَّمْرُ أَكْثَرُ.

757. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sollam, beliau bersabda, “Janganlah menahan susu unta dan kambing (agar terkesan subur susunya -edt.). Barangsiapa membelinya dan sempat memerah susu darinya, maka ia boleh memilih dua hal, jika mau ia boleh menahannya, jika tidak ia boleh mengembalikannya dengan memberi satu sha’ kurma (sebagai ganti dari susu yang telah diperahnya).” (Muttafaq Alaih). Menurut riwayat Muslim, “Ia mempunyai hak pilih selama tiga hari”. Menurut riwayat Muslim yang dita’liq oleh Al-Bukhari, “Ia mengembalikannya beserta satu sha’ makanan bukan gandum”. Al-Bukhari berkata, “Kebanyakan adalah berbentuk kurma.”

[shahih, Al-Bukhari (2148) dan Muslim (1524)]

ــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

At-Tashriyah secara bahasa bermakna menahan air. Imam Asy-Syafi’i berkata, “Makna Tashriyah -dalam hadits- adalah mengikat tetek unta atau kambing dan membiarkannya tanpa diperah sampai terkumpul banyak, sehingga pembeli menyangka itu merupakan kebiasaannya sedangkan dalam hadits kata sapi tidak disebutkan, tapi hukumnya sama.

Tafsir Hadits

Hadits di atas melarang perbuatan tashriyah (menahan susu) pada hewan jika ingin dijual karena terdapat pada riwayat An-Nasa’i hadits yang mengaitkannya dengan lafazh menjual,

«وَلَا تُصَرُّوا الْإِبِلَ وَالْغَنَمَ لِلْبَيْعِ»

“Janganlah menahan susu unta dan kambing untuk dijual” [shahih, An-Nasa’i (7/253), dan lihat Shahih Al-Jami’ (7449)]

dalam riwayatnya yang lain,

«إذَا بَاعَ أَحَدُكُمْ الشَّاةَ أَوْ اللِّقْحَةُ فَلْيَحْلُبْهَا»

“Bila salah seorang dari kalian menjual kambing atau unta, maka perahlah susunya”.

Inilah pendapat paling kuat menurut jumhur. Dan hal ini diindikasikan oleh dalih penipuan dan kecurangan, hanya saja penulis tidak mendapati nash dalih tersebut secara tertulis.

Adapun tashriyah (menahan susu) yang dilakukan bukan karena ingin menjual hewan tersebut, akan tetapi agar susunya terkumpul demi kemaslahatan si pemilik, maka walaupun dapat menyiksa binatang, tetapi hukumnya boleh. Hadits secara zahir menunjukkan tidak ada khiyar (hak memilih) kecuali setelah susunya diperah. Seandainya ketahuan adanya tashriyah walaupun belum memerahnya, maka hak memilih tetap ada. Adanya hak memilih adalah menunjukkan sahnya jual beli hewan yang ditahan susunya (tashriyah).

Dalam hadits terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mengembalikan hewan karena adanya praktek tashriyah pada hewan itu, dilakukan secara langsung, karena huruf Fa’ dalam sabdanya: (فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ) “Maka ia boleh memilih dua hal” menunjukkan kejadian secara langsung tanpa waktu jeda. Itulah yang dipegang oleh sebagian kalangan Asy-Syafi’iyah, akan tetapi mayoritas mereka membolehkan jeda waktu berdasarkan sabda beliau, “Maka ia boleh memilih selama tiga hari”. Mereka yang berpendapat harus langsung tanpa jeda disanggah dengan argumen bahwa hal tersebut bisa ditorapkan jika si pembeli tidak mengetahui bahwa hewan tersebut di tahan susunya, kecuali pada hari ketiga. Karena umumnya hal tersebut tidak dapat diketahui dalam waktu yang kurang dari tiga hari karena susu bisa berkurang karena perbedaan rumput yang dimakannya. Dalam riwayat Ahmad dan Ath-Thahawi,

فَهُوَ بِأَحَدِ النَّظَرَيْنِ بِالْخِيَارِ إلَى أَنْ يَحُوزَهَا أَوْ يَرُدَّهَا

“Maka dia boleh memilih satu dari dua hal terbaik sampai dia membawanya” [Ahmad (2/242) dan Ath-Thahawi dalam kitab Syarh Ma’ani Al-Atsar (4/17)]

Adapun pembatasan tiga hari, maka batas kapan memulainya masih diperselisihkan, ada yang mengatakan, tiga hari Setelah diketahui adanya tashriyah (penahanan susu), Ada juga yang mengatakan, dari semenjak terjadinya transaksi jual beli, yang lain mengatakan, dimulai Setelah dia menguasainya.

Hadits di atas juga menunjukkan kompensasi susu yang telah diperah oleh pembeli adalah satu sha’ kurma. Adapun riwayat yang dikomentari Al-Bukhari dengan menyebutkan, “Satu sha’ makanan”, Al-Bukhari sendiri cenderung menguatkan riwayat yang menyebutkan bahwa penggantinya adalah kurma, karena itulah yang paling banyak dipakai orang. Bila hukum bahwa si pembeli harus mengganti susu yang telah diperah dengan kurma telah ditetapkan, maka dalam masalah ini terdapat 3 pendapat:

Pertama, pendapat jumhur para sahabat dan tabi’in, yakni menetapkan penggantian susu dengan satu sha’ kurma, baik susu tersebut banyak ataupun sedikit, baik kurma sebagai makanan pokok penduduk setempat ataupun tidak.

Kedua, pendapat Al-Hadawiyah, mereka mengatakan hewan yang susunya ditahan itu harus dikembalikan, akan tetapi bersamaan dengan itu mereka mengatakan, bahwa susu yang telah diperahnya itu harus dikembalikan seperti sedia kala jika masih tersisa, atau dengan barang yang senilai bila sudah habis atau diganti dengan uang sesuai harganya saat dikembalikan, jika tidak didapati barang senilai. Mereka mengatakan, sudah menjadi ketetapan bahwa pengganti barang yang hilang, jika barang tersebut ada kesamaannya, maka gantinya adalah harus barang yang sama dan jika barang tersebut merupakan barang yang bisa ditaksir harganya, maka harus diganti dengan uang seharga barang tersebut. Bila susu merupakan barang yang ada kesamaannya, maka harus diganti dengan barang yang sama, dan jika ia merupakan barang yang dapat ditaksir harganya, maka ia harus diganti dengan uang sesuai harganya, lantas bagaimana bisa, susu diganti dengan kurma atau dengan makanan? Mereka juga berkata, penggantinya pun harus disesuaikan kadarnya dengan kadar susu tersebut, tidak bisa diganti dengan satu sha’ tanpa mempedulikan kadar susu tersebut lebih sedikit atau lebih banyak. Hal ini dijawab, bahwa hal tersebut merupakan qiyas yang bersifat umum terhadap semua jenis barang yang harus diganti. Sedangkan masalah ini bersifat khusus, terdapat nash secara eksplisit yang mengaturnya. Dan perkara yang bersifat khusus harus didahulukan daripada perkara yang bersifat umum.

Adapun mengenai kadar satu sha’, ia adalah kadar yang ditentukan syariat untuk menghindari pertikaian, karena sulit untuk memastikan kadar susu tersebut, karena bisa jadi tercampur dengan sesuatu yang lain setelah hewan tersebut dijual. Maka syariat pun memutuskan perselisihan ini dan ia tentukan kadar yang tidak boleh dilanggar, agar tidak terjadi permusuhan. Syariat menetapkan penggantinya dengan sesuatu yang paling dekat dengan susu (yaitu kurma -peny), karena keduanya merupakan makanan pokok kala itu. Hukum-hukum seperti ini banyak sekali padanannya dalam syariat Islam, seperti dalam hal ganti rugi tindak pidana melukai tubuh (muwaddihah). Penggantiannya ditentukan syariat walaupun berbeda besar atau kecil luka tersebut. Begitu pula membunuh janin di perut walaupun berbeda kondisinya. Hikmah di balik itu semua adalah menghindari pertikaian.

Ketiga, pendapat kalangan Hanafiah. Mereka berbeda pendapat pada inti permasalahan, mereka mengatakan bahwa barang yang dijual tidak boleh dikembalikan hanya karena ada cacat tashriah dan tidak wajib mengembalikan satu sha’ kurma. Mereka menyatakan keberatan tentang keabsahan hadits ini dengan berbagai alasan. Di antaranya dengan cara mencela sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut, menganggap hadits tersebut mudthtarib (tidak konsisten), hadits tersebut mansukh (terhapus) dan hadits tersebut bertentangan dengan firman Allah,

{وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (QS. An-Nahl: 126)

Akan tetapi, semua alasan tersebut tertolak. Dan mereka juga mengatakan hadits tersebut melanggar qiyas ushul, jika ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya:

Aspek Pertama; Dari sisi air susu yang terpakai, bila hal tersebut ada pada saat akad jual beli, maka ia adalah bentuk kekurangan dari barang dagangan, sehingga tidak perlu dikembalikan, dan bila hal tersebut terjadi setelah berada di tangan pembeli, maka bukan menjadi tanggung jawab penjual. Pernyataan ini dapat disanggah dengan alasan:

· Pertama, hadits tersebut adalah dalil asal yang berdiri sendiri dan tidak dapat dikatakan bahwa Ia menyelisihi qiyas ushul.

· Kedua, Bahwa kekurangan dapat alasan untuk tidak dibolehkannya mengembalikan barang yang telah dijual, apabila bukan dipergunakan untuk mengetahui adanya aib. Di sini digunakan untuk mengetahui aib sehingga tidak terlarang.

Aspek Kedua, dari sisi penentuan hak pilihan selama tiga hari, padahal hak memilih karena adanya aib (khiyar aib), hak memilih saat penjual dan pembeli masih di tempat transaksi (khiyar majlis) dan hak memilih karena berubah pikiran (khiyar ru’yah) sama sekali tidak ditetapkan dengan tiga hari. Pernyataan ini disanggah dengan argumentasi, bahwa masalah musharrah merupakan kasus khusus yang disebutkan bilangan harinya, karena secara umum hukum tashriyah tidak diketahui, berbeda halnya dengan masalah lainnya.

Aspek Ketiga, dari sisi kewajiban barang jaminan walaupun air susu tersebut masih ada. Pernyataan ini dibantah dengan argumen bahwa dalam hal ini tidak ada bentuk yang lain [berbeda] karena telah tercampur dengan air susu yang baru. Sehingga, tidak dapat dikem-balikan dalam jenis yang sama karena telah bercampur. Maka, dalam hal ini jaminan yang berlaku seperti halnya pada jaminan hamba yang dirampas dan kabur.

Aspek Keempat, dari sisi kewajiban mengembalikan walaupun tidak ada cacat. Karena, bila berkurangnya air susu dianggap adanya cacat, maka harus dikembalikan juga pada kasus lain walaupun bukan masalah tashriyah tanpa perlu ada syarat sebelumnya, karena tidak mensyaratkan untuk dikembalikan. Penulis menanggapi pendapat ini dengan argumen bahwa hal tersebut merupakan hukum khiyar syarat jika dilihat dari sisi makna, karena saat pembeli melihat tetek hewan tersebut penuh terisi susu seakan-akan penjual mensyaratkan hal tersebut sebagai kebiasaannya. Masalah seperti ini sering sekali kita dijumpai, sebagaimana telah dibahas sebelumnya pada bab menghadang kafilah pedagang.

Bila Anda dapat mengetahui adanya kelemahan kedua pendapat tersebut, maka Anda dapat menyimpulkan bahwa pendapat yang kuat ialah pendapat pertama. Anda tentu mengetahui bahwa hadits di atas adalah dalil yang menunjukkan larangan berbuat curang [menipu], dan hukum khiyar bagi orang yang merasa tertipu. Dalam hadits tersebut juga disebutkan bahwa penipuan tidak merusak akad jual beli.

Di samping itu, hadits ini juga menunjukkan larangan untuk melakukan tashriyah dan adanya hak pilih. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits Ibnu Mas’ud secara marfu’,

«بَيْعُ الْمُحَفَّلَاتِ خِلَابَةٌ وَلَا تَحِلُّ الْخِلَابَةُ لِمُسْلِمٍ»

“Jual beli muhaffalah adalah bentuk jual beli yang mengandung unsur menipu [curang], sedangkan seorang muslim dilarang menipu [berbuat curang].” [Dhaif: Ibni Majah (2281)]

Akan tetapi, dalam sanad hadits ini terdapat kelemahan. Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, hadits ini diriwayatkan secara marfu’ dengan sanad yang shahih. [Al-Mushannaf (4/339)]

Yang dimaksud dengan al-muhaffalah adalah hewan yang tidak diperah susunya agar air susunya banyak dan teteknya terlihat besar -untuk menunjukkan bahwa air susunya banyak- sehingga ketika dijual pembeli mengira bahwa hewan itu dapat menghasilkan susu yang banyak.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *