[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 237

07. KITAB JUAL BELI – 07.01. BAB SYARAT-SYARAT JUAL BELI DAN HAL-HAL YANG DILARANG DI DALAMNYA 02

0753

وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ «سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ وَالِدَةٍ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ. وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ وَلَكِنْ فِي إسْنَادِهِ مَقَالٌ، وَلَهُ شَاهِدٌ

753. Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, Allah akan memisahkan dia dari kekasihnya pada hari kiamat”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al Hakim, sanadnya masih dipertentangkan, namun ia mempunyai hadits penguat).

[hasan, At-Tirmidzi (1283)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Sanadnya masih dipertentangkan karena di dalamnya terdapat perawi bernama Huyay bin Abdillah Al-Ma’afiri yang masih diperselisihkan. Namun ia mempunyai hadits penguat, seakan penulis mengisyaratkan hadits Ubadah bin Ash-Shamit,

«لَا يُفَرَّقُ بَيْنَ الْأُمِّ وَوَلَدِهَا قِيلَ إلَى مَتَى قَالَ حَتَّى يَبْلُغَ الْغُلَامُ وَتَحِيضَ الْجَارِيَةُ»

“Tidaklah dipisahkan antara ibu dan anaknya.” Kemudian dipertanyakan, “sampai kapan” Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “sampai anak laki-laki baligh dan anak perempuan haidh”. [Ad-Daraquthni (6813), dan Al-Hakim (2/64)]

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan Al Hakim tapi dalam keduanya terdapat perawi bernama Abdullah bin Amr Al-Waqifi, dia adalah perawi dhaif. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa hadits ini dan hadits setelahnya akan menjadi baik jika digabungkan dengan hadits Ibnu Umar yang telah lalu mengenai larangan menjual ummahatul awlaad atau hadits tersebut diakhirkan ke sini.

Hadits ini, dalil yang jelas mengenai haramnya memisahkan ibu dari anaknya. Dan secara zhahir bersifat umum, baik dalam kepemilikan dan orang yang memilikinya. Hanya saja tidak diketahui seorang ulama pun yang berpegang pada keumuman tersebut, sehingga dipahami bahwa maksud pemisahan adalah dalam hal kepemilikan, ini pula makna yang jelas dari hadits Ali Radiyallahu Anhu berikut ini. Secara zhahir, hadits menunjukkan keharaman memisahkan keduanya walaupun setelah akil baligh, hanya saja pengertiannya terikat dengan hadits Ubadah bin As-Shamit. Dan dalam kitab Al-Ghaits dinyatakan bahwa ijma’ ulama mengkhususkan bagi anak yang sudah besar seperti halnya dalam kasus pembebasan budak. Seakan yang menjadi dasar sandaran ijma’ tersebut adalah hadits Ubadah. Kemudian hadits tersebut adalah nas yang jelas dalam hal haramnya memisahkan ibu dari anaknya, dikiaskan pula dengannya semua jenis kerabat rahim yang haram dinikahi dengan dasar hubungan rahim. Begitu pula terdapat nash berkenaan dengan saudara seperti yang ditunjukkan dalam hadits:

0754

وَعَنْ «عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ أَبِيعَ غُلَامَيْنِ أَخَوَيْنِ، فَبِعْتُهُمَا، فَفَرَّقْت بَيْنَهُمَا. فَذَكَرْت ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ: أَدْرِكْهُمَا فَارْتَجِعْهُمَا، وَلَا تَبِعْهُمَا إلَّا جَمِيعًا» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ، وَقَدْ صَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ الْجَارُودِ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ، وَالطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ الْقَطَّانِ

754. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyuruh saya untuk menjual dua orang budak kecil yang bersaudara. Lalu saya menjual keduanya secara terpisah, kemudian saya beritahukan hal itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka beliau bersabda, “Susullah dan mintalah kembali, jangan kamu jual mereka kecuali dengan bersama-sama”. (HR. Ahmad dengan perawi-perawi Tsiqaat. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Al-Jarud, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ath-Thabrani dan Ibnu Al-Qaththan menshahihkannya)

[Shahih: Abu Dawud (3451)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ibnu Abi Hatim dari bapaknya menceritakan dalam kitab Al-Ilal bahwa Al-Hakam mendengarnya dari Maimun bin Abi Syaibah dan dia meriwayatkannya dari Ali Radhiyallahu Anhu. Sedangkan Maimun sendiri belum pernah berjumpa Ali Radhiyallahu Anhu.

Tafsir Hadits

Dalam hadits terdapat dalil mengenai batalnya jual beli ini. Dan menunjukkan haramnya memisahkan (budak perempuan dari anaknya) sebagaimana yang diisyaratkan hadits yang pertama. Hanya saja hadits pertama menunjukkan haramnya memisahkan mereka secara umum dalam bentuk apa pun, sedangkan hadits ini adalah nash yang menunjukkan haram memisahkan keduanya saat menjual mereka. Dan qiyaskan dengannya semua bentuk pemisahan seperti saat menjadikan mereka sebagai hadiah ataupun nadzar yakni transaksi dimana pemilik bebas untuk bertindak. Adapun pemisahan karena pembagian warisan si pemilik tidak memiliki kebebasan, karena pembagian tersebut bersifat memaksa. Hadits Ali Radhiyallahu Anhu menunjukkan batalnya jual beli ini, akan tetapi ditentang oleh hadits pertama yakni hadits Abu Ayub, karena ia menunjukkan sahnya mengeluarkan hak milik dengan cara jual beli dan hal serupa, yang mengakibatkannya harus menerima hukuman. Karena bila tidak sah mengeluarkan sebagian hak miliknya, maka tidak perihal pemisahannya tidak terealisasi, sehingga tidak perlu ada sanksi. Maka dari itulah para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Abu Hanifah berpendapat jual beli tersebut sah namun pelakunya bermaksiat. Mereka mengatakan, bahwa perintah untuk mengembalikannya dua budak tersebut bisa terjadi dengan akad baru didasarkan atas kerelaan sang pembeli.

Tafsir Hadits

Dalam hal memisahkan hewan ternak dengan anaknya ada dua pendapat, pertama; tidak boleh berdasarkan larangan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menyiksa hewan ternak. Kedua; boleh diqiyaskan dengan masalah penyembelihan, inilah yang lebih tepat.

0755

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: «غَلَا السِّعْرُ فِي الْمَدِينَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ غَلَا السِّعْرُ، فَسَعِّرْ لَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

755. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah terjadi kenaikan harga barang-barang di kota Madinah. Maka orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah, harga barang-barang melonjak tinggi, tetapkanlah harga bagi kami. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allahlah menetapkan harga, Dia-lah yang menyempitkan, melapangkan, dan memberi rezeki. Saya berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun yang menuntutku karena kasus penganiayaan terhadap darah maupun harta benda”. (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban menshahihkan hadits ini)

[shahih, Abu Daud 3451, At Tirmidzi 1314, Ibnu Majah 2200. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah terjadi kenaikan harga barang-barang (yakni naik dari harga normal) di kota Madinah. Maka orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah, harga barang-barang melonjak tinggi, tetapkanlah harga bagi kami. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allahlah menetapkan harga (yakni Allah mampu melakukan hal ini sendiri dengan iradahnya), Dia-lah yang menyempitkan (yakni tidak memberikan rezeki), melapangkan, diambil dari firman Allah, “Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki)”, dan memberi rezeki. Saya berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorangpun yang menuntutku karena kasus penganiayaan terhadap darah maupun harta benda”. (HR. Al-Khamsah kecuali An Nasa’i, Ibnu Hibban mengesahkan hadits ini) Dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Ad-Darimi, Al-Bazzaar dan Abu Ya’la dari hadits Anas bin Malik dan sanadnya sesuai syarat Imam Muslim dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi.

Tafsir Hadits

Hadits tersebut merupakan dalil bahwa tindakan menetapkan harga adalah merupakan kezhaliman, dan apabila termasuk kezhaliman, maka hukumnya haram. Inilah pendapat mayoritas ulama, diriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia berpendapat boleh menetapkan harga bahkan termasuk pada dua jenis makanan pokok. Sedangkan hadits di atas menunjukkan haramnya menetapkan harga bagi semua jenis barang walaupun alur ungkapan tersebut tertuju pada barang tertentu. Al-Mahdi mengatakan, bahwa ulama muta’akhir menganggap baik penetapan harga pada selain dua jenis bahan pokok seperti daging dan minyak samin untuk kemaslahatan masyarakat umum dan menghindarkan mereka dari kemudharatan. Kami telah membahas permasalahan ini secara lengkap dalam kitab Minhatul Ghaffar dan kami telah memaparkan hingga tidak perlu tambahan lagi.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *