[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 307

08. KITAB NIKAH 10

0917

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَيُّمَا عَبْدٍ تَزَوَّجَ بِغَيْرِ إذْنِ مَوَالِيهِ أَوْ أَهْلِهِ فَهُوَ عَاهِرٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَهُ، وَكَذَلِكَ ابْنُ حِبَّانَ

917. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallarn bersabda, “Seorang budak yang menikah tanpa izin tuannya atau keluarganya, maka ia dianggap berzina.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

[hasan, Abi Dawud (2078)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Seorang budak yang menikah tanpa izin tuannya atau keluarganya, maka ia dianggap berzina.” HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban (ia meriwayatkan hadits Ibnu Umar secara mauquf, dan diterangkan bahwa dia mendapatkan budaknya menikah tanpa seizinnya, lalu dia membatalkan pernikahan keduanya dan memberikan hukuman kepada budaknya)

Tafsir hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa pernikahan budak tanpa seizin walinya adalah batil, dan menurut jumhur ulama hukumnya seperti orang berzina, hanya saja dia tidak dijatuhi hukuman kalau tidak mengetahui haramnya pernikahan tersebut, tapi garis keturunan anaknya kelak diberikan kepadanya. Dawud berpendapat, bahwa pernikahan budak tanpa seizin dari tuannya adalah sah, karena pernikahan itu hak setiap orang yang tidak membutuhkan izin dari tuannya, mungkin dia tidak mengetahui hadits dalam bab ini.

Imam Yahya berkata, “Hukum pernikahannya tidak batil dan tidak dihukumi dengan orang yang berzina walaupun dia mengetahui haramnya hukum pernikahannya; karena pernikahan itu dihukumi syubhat [tidak jelas] yang bisa menggugurkan hukuman. Lalu apakah hubungan pernikahan keduanya dilanjutkan setelah mendapatkan izin dari tuannya? An-Nashir dan Asy-Syafi’i berkata, “Tidak dilanjutkan walaupun diizinkan; karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjulukinya dengan orang berzina.” Pendapat ini dibantah, bahwa maksud dari sabda Nabi itu, bila tetap tidak diizinkan tuannya, namun Asy-Syafi’i tidak mengatakan bahwa akad nikah itu sah bila diizinkan tuannya. Maksud dari kata “berzina” bahwa dihukumi seperti orang berzina tapi bukan hukum orang berzina dengan sebenarnya.

0918

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا، وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

918. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak boleh dimadu antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara perempuan ayah), dan antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara perempuan ibu).” (Muttaf aq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1509), Muslim (1408)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak boleh dimadu (dengan menggunakan lafazh mudhari’ al-mabni lil maf’ul, dan huruf lam menunjukkan nafi yang berarti larangan. Ada beberapa riwayat shahih dengan lafazh, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk memadu) antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara perempuan ayah), dan antara seorang perempuan dengan bibinya (saudara perempuan ibu).”

Tafsir hadits

Hadits ini mengharamkan untuk memadu perempuan (dengan bibinya) sebagaimana yang tersebut dalam hadits di atas. Asy-Syafi’i berkata, “Haram memadu perempuan sebagaimana yang tersebut dalam hadits di atas merupakan pendapat para mufti yang tidak ada perselisihan di antara mereka yang telah saya temui. Hal itu sama sejalan dengan apa yang disampaikan At-Tirmidzi. Ibnu Al-Mundzir berkata, “Sampai saat ini, saya tidak mengetahui adanya perbedaan antara ulama dalam menetapkan larangan terhadap hukum tersebut, dan yang membolehkan poligami dengan wanita tersebut di atas adalah kelompok dari orang-orang Khawarij. Ibnu Abdil Bar, Ibnu Hazm, Al-Qurthubi dan An-Nawawi menukil ijma’ ulama dalam menetapkan hukum larangan tersebut,

Sudan diketahui bahwa hadits ini mengecualikan hukum umum dalam firman Allah Ta’aia, “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.” (QS. An-Nisaa’: 24) Ada yang berpendapat: Pengikut madzhab Hanafi membolehkan poligami dengan yang tersebut di atas; karena asas-asas madzhab mereka lebih mendahulukan makna umum ayat daripada hadits ahad. Namun, penulis kitab Al-Hidayah membantah anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa hadits itu adalah hadits masyhur yang mempunyai kedudukan seperti dasar hukum qath’i apalagi sudah kesepakatan ulama yang tidak boleh ditentang.

0919

وَعَنْ عُثْمَانَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكِحُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ «وَلَا يَخْطُبُ» وَزَادَ ابْنُ حِبَّانَ «وَلَا يُخْطَبُ عَلَيْهِ»

919. Dari Utsman Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang sedang berihram tidak boleh menikah dan menikahkan.” (HR. Muslim. Dalam riwayatnya yang lain, “Dan tidak boleh melamar.” Ibnu Hibban menambahkan, “Dan dilamar”)

[shahih, Muslim (1409); Shahih Ibni Hibban (9/433-434)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini telah dijelaskan dalam kitab Haji, kecuali sabda Nabi, “Dan dilamar”, maksudnya anak puteri tidak dilamar.

0920

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «تَزَوَّجَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَيْمُونَةَ، وَهُوَ مُحْرِمٌ»

920. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahi Maimunah ketika beliau sedang ihram.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5114), Muslim (1410)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Banyak sekali perbincangan ulama tentang hadits ini, karena perbedaan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dengan riwayat lainnya.

Ibnu Abdil Bar berkata, “Riwayatnya berbeda-beda tentang hukum dalam masalah ini, akan tetapi riwayat yang menerangkan bahwa Nabi menikahi Maimunah dalam keadaan halal (tidak sedang ihram) datang dari berbagai riwayat, dan hadits riwayat Ibnu Abbas sanadnya shahih, akan tetapi kealfaan dari satu orang sangat mungkin terjadi dari pada jama’ah shahabat. Hal termudah yang dipahami dari berbagai riwayat tentang itu adalah bahwa ada kontradiksi di antara riwayat-riwayat tersebut; maka berpaling mencari hadits lainnya sebagai dalil untuk menentukan hukum yang tepat, dan hadits riwayat Utsman bisa dijadikan pedoman dalam melarang orang yang berihram menikah, karena haditsnya shahih.

Al-Atsram bertanya kepada Ahmad, “Sesungguhnya Abu Tsaur berkata, “Bagaimana menolak hadits Ibnu Abbas yang derajatnya shahih?” Ahmad menjawab, “Hanya Allah tempat meminta pertolongan.” Ibnu Al-Musayyib berkata, “Ibnu Abbas lalai, sebab Maimunah berkata, “Saya dinikahi Rasulullah dalam keadaan halal (tidak sedang berihram).” Maksudnya, keterangan Maimunah dalam hadits yang diriwayatkan Muslim berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *